Berbagi

1344 Kata
Manusia-manusia itu terekam di kesunyian Kau biarkan lagi di jalan sendirian Lambung biar naik kadar asamnya Lautan dan sabana tak bisa menanggungnya Dia seorang tanpa kamu Dia mencari siapa peduli? *** ''Bersenang-senanglah ketika kau membagi kesenangan itu kepada insan yang diradang kesedihan.'' *** Segelas cokelat sudah ditunjukkan jati dirinya di meja bernomor 5. Serta merta bersama dua gelas kopi ginseng. Dari ketiganya sama-sama mengirimkan asap kecilnya ke udara di dalam ruangan bersuhu dingin. Sebuah laptop sedang menyala dan diterkam jari-jari yang bergerak di meja tersebut. Layarnya hidup menunjukkan serentetan gambar dan tulisan. Sedangkan beberapa buku berada di tangan seorang lagi. Tampak bibirnya bergerak sedang mendikte sesuatu.  Hadirnya Wafa dan Salsa di sana, atas permintaan Jihan yang sama sekali tidak mau ditolak. Keadaan kantong Wafa dan Salsa amat mereka sayangi walau sekadar untuk meneguk segelas kopi di kafe karena harganya tak bersahabat. Pikir mereka, lebih baik untuk uang makan sehari-hari. ''Bentar,'' ujar seorang gadis berjilbab pasmina hitam. Bola matanya bergerak lagi ke arah laptop sebelahnya.  ''Gak jadi. Bener, kok. Hehe.'' Jihan hanya menggeleng pelan, sedangkan Salsa mengerucutkan bibir sambil menatap Wafa.  ''Jihan, lo nanti pulangnya langsung ke rumah atau ada acara dulu?'' Wafa menatap dan membawa harapan dari sorot matanya kepada Jihan. Gadis yang ditanyanya justru masih menggali ruang ingatan.   ''Ada, sih. Kenapa?'' ''Gue mau nebeng pulang nih, Han. Boleh?'' ''Ya Allah, Wafa gue pikir ada apa. Boleh, dong. Gue gak punya alasan untuk gak nolong elo. Tapi lo gak keberatan kalau gue pulangnya mampir ke banyak tempat dulu?'' Jihan memastikan. Silih berganti pandangannya ke monitor dan wajah bulat Wafa.  ''Insya Allah enggak masalah. Lagian gue suka jalan-jalan, kok.'' Jihan menganggukan kepala jua. Sedikit ia teguk cokelatnya yang sudah bertransformasi menjadi dingin karena suhu udara. Ia masih fokus kepada tugas power point Geografi yang sudah dijadwalkan besok oleh guru agar tampil mempresentasikan. Satu jam kemudian, di meja lain banyak yang sudah silih berganti insan yang menempatinya. Sedangkan pada meja nomor lima masih ditempati Jihan, Wafa, dan Salsa. Selama mengerjakan tugas, sesekali mereka tertawa ringan karena sikap polos Salsa.  ''Nonton drakor dulu, yuk! Pusing nih aye udahan ngerjain Geografi.'' Tubuh Salsa telah disandarkan di punggung kursi.  ''Baru juga ngerjain sejam, Sal,'' kata Wafa. Ia sendiri masih mendikte untuk dipindahtugaskan pada huruf-huruf digital di laptop bersama Jihan.  ''Selesai. Alhamdulillah. Siniin buku yang udah kamu rangkum, Sal. Nanti di rumah aku lanjut ngetik.'' ''Noh. Aye capek. Pusing. Lelah, letih, lesu.'' Salsa menaruh bukunya di atas keyboard membuat Jihan berdecak. ''Eh eh tau gak?'' tanya Wafa. ''Kagak.''  Jihan sekadar menahan tawa yang hampir membeludak karena jawaban Salsa.  ''Aye beneran kagak tau, Han. Kenape elu nahan tawa gitu, sih? Jihan tau apa yang ditanyain Wafa?''  ''Salsa, Wafa kan belum cerita sama kita. Itu jenis pertanyaan retorik tau, cuma untuk memancing penasaran kita.'' ''Yang jelas dong, Fa kalau tanya. Ih kagak asik. Gini nih kebiasaan Wafa, bikin aye bingung.'' Perasaan Salsa diganjal sedikit kekesalan. Ia tambatkan jua perasaan itu dengan meneguk isi minuman di gelas. Nahasnya, sudah tak berisi. Gelas Salsa kering kerontang sedari tadi. Ia nyengir menahan malu. ''Yahhh. Kok habis, ye? Salsa baru mau minum perasaan.'' ''Udah dari tadi kan elo minum!'' seru Wafa.  ''Udah udah. Wafa mau cerita apa?'' tanya Jihan. Ia tutup jua laptop di hadapannya. ''Besok hari Senin ada murid baru di sekolah kita!'' Kedua sahabatnya saling berpandangan. Sungguh ini hanya kabar biasa.  *** Pelan-pelan Jihan menepikan motor, masuk ke halaman swalayan. Di sana, motornya dibariskan dengan kendaraan lain. Asap kendaraan membuat Wafa yang tak memakai masker jadi mengibaskan tangan di depan hidung. ''Mau beli apa sih, Han?'' tanya Wafa. Suara gadis itu sedikit tertahan karena menahan polusi udara supya tidak dihirupnya. ''Mau beli makanan.'' ''Ohh.'' Wafa sudah bisa menerka tujuan Jihan setelah ini hendak ke mana. Keduanya telah berada di antara rak-rak berisi makanan ringan. Membawa sebuah keranjang dan tak lupa sudah Jihan pinta jua agar Wafa membawa sebuah keranjang untuk membantunya. Jihan memilah dan memilih sesuai ukuran isinya. Ia raih yang besar-besar tanpa memperhitungkan banyaknya. Wafa tak kebingungan, ia langsung mengambil segala jajanan tanpa perintah dan izin Jihan. Bahkan, tiada satu rak saja yang sempat terlewat untuk tak ia cacati jumlah jajanannya yang sempurna. Berakhir di meja kasir, Jihan menyerahkan dua keranjang belanjaannya. Petugas mulai bekerja menghitung totalnya.  ''Kalo seandainya gue gak ikut, lo yakin bisa bawa belanjaan ini, Han?'' Wafa jelas menunjukkan wajah ingin tahunya. Siku tangannya ditaruh di meja kasir. Memandang ke arah Jihan.  ''Gampang kali, Fa. Tinggal pesan Bang Ojol dateng buat bantu bawa kan bisa.'' Wafa mengangguk membenarkan. Zaman sekarang kebutuhan dan permintaan tidak lagi dipersulit. Modernisasi dunia kian terasa. Media online marak dimanfaatkan dan diciptakan. Dengan santunnya petugas kasir menyatakan keseluruhan total belanjaan Jihan. Tersenyum indah. Disambut oleh beberapa lembar uang mawar merah oleh Jihan. Beberapa lembar mawar merah lagi masih terselip di sana. Kondisi uang bulanannya kian menipis, tetapi tidak ada kekhawatiran yang menjalar di jiwa Jihan.  ''Kembaliannya dua puluh empat ribu lima ratus, terima kasih dan selamat belanja kembali.'' ''Sama-sama, Mba.'' Jihan tersenyum manis. Wafa dan Jihan masing-masing membawa satu kantong kresek belanjaan. Dari wajah keduanya sama-sama menguarkan bahagia. Lelah mengerjakan tugas, menyusuri rak swalayan, sudah hilang tanpa permisi. Jihan membawa motornya menembus jalanan ramai. Di sana sempat Jihan menyalip kendaraan beroda empat dengan santai. Tiba di perempatan, Jihan berhenti di belakang taksi menunggu lampu lalu lintas berpindah dari warna merah.  Setibanya di sebuah tempat berhalaman luas dengan bangunannya yang banyak dan bertingkat dua, Jihan berhenti. Anak-anak berlarian sambil bercanda menuju mushala asrama. Dari dalam d**a mereka laksana terpancar cinta yang amat benderang terhadap Pencipta-nya. Menyambut seruan Allah untuk menunaikan perintah-Nya. ''Ayo, Fa kita ke ruangan ibu asramanya dulu.'' ''Ayo!''  Tanpa mereka tahu, seorang anak di ujung koridor memerhatikan mereka seraya mendekap mukena.  ''Eh ada Kak Jihan!'' serunya. ''Mana mana?'' tanya dua orang gadis kecil bersamanya itu.  ''Itu.''  ''Kak Jihan!!!'' Mereka serempak berseru. Samar-samar seseorang yang diserunya itu mampu menangkap suara mereka. Mencari sumber suara. Lantas melambaikan tangan ke arah anak-anak. ''Kak Jihan bawa apa, ya? Pasti jajan lagi. Ah Kak Jihan baik banget.'' ''Lia mah jajan terus. Gak boleh gitu tau!'' tegur si kecil yang pertama melihat Jihan tadi. Namanya, Ara. ''Iya, ih. Ya udah ayo kita ke mushala. Nanti kalo telat salat dimarah Allah lagi.''  Keduanya menyetujui. Melangkah lagi menyusuri koridor menuju rumah Allah. Siap bersujud pada Sang Pencipta. Meminta surga untuk kedua orang tua mereka yang sudah tinggal nama. Ya, di sana mereka satu garis takdir. Hidup tanpa kasih sayang yang nyata dari dekap peluk hangat dan lembutnya usapan sosok ayah dan ibu kandung. Tinggal mimpi yang mustahil untuk mereka rasakan di dunia. Surga adalah buah yang diharapkan adanya pertemuan mereka terjadi, sebab di dunia rindu sudah tumbuh sangat rindang. Dan kini, Jihan sudah bersama barisan jamaah salat Asrama Panti Asuhan Al Baroqah. Salat Ashar berlangsung khidmat. Hati Jihan sedikit basah dengan suasana seperti ini yang sudah sering ia rasakan ketika berkunjung ke panti. Betapa posisinya masih sangat beruntung daripada anak-anak kecil itu. Di ujung salatnya, Jihan mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Membuat sedikit tangisnya terseka. Usai dzikir, anak-anak mencium punggung tangannya. Mendadak, dari arah belakang seorang gadis kecil memeluk Jihan.  ''Kak Jihan apa kabar? Ara kangen tau.'' ''Eh ini siapa, ya? Kita pernah kenal?'' Coba-coba Jihan menciptakan suasana menggelitik. Menegangkan urat wajah Ara. Membuat bibirnya berkerucut dengan kondisi pipi yang berisi.  ''Ah Kak Jihan ini aku Ara!'' ''Ara siapa?'' ''Kakak kenal aku, kan? Aku Lia, Kak.'' ''Kenal, dong. Ini Lia yang suka makan tapi gak gendut-gendut. Benar, kan?'' ''Bener, Kak! Seneng deh Kak Jihan masih inget aku.'' ''Ihh. Ara ngambek, nih. Ara sama Kak Wafa aja. Ya Kak Wafa, ya? Mulai hari ini kita kaka adikan ya, Kak?'' ''Iya, dong,'' jawab Wafa.  ''Ya udah Kak Jihan sama Lia aja. Iya gak?'' Jihan memalingkan wajahnya ke arah Lia. Gadis kecil itu menarik dua sudut bibirnya jua. Mendarat di dekapan Jihan. Sedangkan Ara justru memeluk Wafa dan dibalas hangat olehnya.  *** Sebuah ayunan di belakang rumah, menahan beban dari sang empunya. Air kolam mampu membelah purnama malam ini. Jelas menyamakan posisi, ukuran bahkan sinar bintang yang malu-malu menunjukkan jati diri. Segelas cokelat masih utuh tiada lagi membekaskan bercak uapnya. Pun demikian dengan asapnya yang mati dan habis dimangsa angin malam.  ''Ya ampun ternyata tokohnya kayak begini?'' Suara Jihan bergetar tak bisa ditahan. Lautan siap tumpah menjadi sebentuk tsunami yang besar. Sedangkan sebuah media pencegahnya sudah diarahkan ke sudut mata. Tisu. Jihan sesegukan sambil menghabiskan segelas cokelatnya yang telah dingin. Berulang-ulang megusap sudut mata. ''Novelmu bagus banget, Aksa! Sangat menginspirasi,''' ujarnya kepada benda mati yang Jihan pandang-pandang dengan bercak air di matanya yang urung kering. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN