Ulah Hanan

1665 Kata
Masih melenggang Kau regang jantung yang luluh Disimak tapi diabai Dilaku tapi dibeku Kau kusam dalam kaca Laksana bukan siapa-siapa Nanti saja Ada saatnya *** ''Menjadi bagian dari perjalanan seseorang hanya tinggal memilih di antara dua hal: menuntunnya atau menjerumuskannya.'' *** Jumlah Kursi-kursi di gedung olahraga SMA Negeri Angkasa Raya Jakarta sudah tak tersisa barang satu saja. Beberapa insan di pojokan lapangan sudah melenturkan otot-otot mereka sebelum berperang dalam memperebutkan sebuah bola dan memasukkannya ke gawang lawan. Di bawah stand khusus para pemain dan pelatih terjadi diskusi jua. Perhitungan logika dengan segala taktik dalam menguasai bola, lapangan, dan mencari celah di antara banyak pasang kaki yang berebut. Tidak memakan waktu yang lama jua, suara peluit sudah melengking mempekerjakan gendang telinga mereka. Para pemain utama serta merta wasit sudah terjun ke lapangan. Keramaian pun tak butuh waktu lama sudah tercipta. Hampir seluruh sudut tempat duduk penuh dengan wajah-wajah yang antusias. Hanya saja, tidak bagi seorang gadis pencinta ruang imajinasi. Perayaan ulang tahun sekolahnya tak lebih menarik daripada cerita-cerita yang sedang ia baca. Padahal, sudah jelas jua seluruh murid SMAN ARJ bukan lagi disunahkan untuk menonton pertandingan, melainkan diwajibkan. Maka kali ini, Jihan bersembunyi di belakang kelasnya. Susah payah ia tarik kursi dari kelas dibawa ke belakang demi terciptanya kenyamanan dalam membaca. Posisi ruang-ruang kelas 12 yang memang berada di lantai paling atas memudahkan mereka menjumpai semilir angin yang membawa asap ibukota. Jihan sudah mengantisipasinya dengan memfilter udara menggunakan masker. Dalam keadaan memakai masker itulah nanti tawa, senyum, dan lengkungan pilu dari bibir Jihan tak tertampakkan selain dari cahaya dan redup bola matanya. Buku bersampul warna dasar putih itu ia robek pelan-pelan bajunya yang berbahan plastik transparan. Takut kalau-kalau menciderai sampulnya meski sebuah sobekan kecil atau lipatan saja. Sang bayu berkurang kecepatannya. Jemari Gadis itu menarik masker dan sebuah garis senyum puas tertampakkan. ''Buku baru yang--'' Sengaja kalimatnya digantungkan. Melakukan ritual yang sudah mendarah daging dan menjadi bagian yang disukai: menghirup aroma buku baru. ''Ah wangi banget. Jadi pengin makan kertasnya, kan. Kayak ada manis-manisnya.'' Dijejalkan jua plastiknya ke saku almamater karena tak ada satu pun kotak sampah di sana. Karena memang tempat belakang kelasnya tidak difungsikan sebagai lorong lalu-lalang, tempat mengurai bahasa suara, dan apalagi tempat membaca seperti yang Jihan lakukan kini. Sebelum memakai masker lagi, Jihan merogoh saku almamaternya. Mengeluarkan s**u kotak rasa cokelat lalu menyedotnya sedikit. Di antara bisingnya pekikan para penonton futsal dan suara-suara dari aktivitas kendaraan di jalanan seolah tak hinggap di telinga Jihan. Negeri barunya sedang ia jelajahi dari karya penulis lain lagi. Stok novel di rumah tinggal satu yakni yang sedang ia cekal. Entah di pukul berapa hari ini atau di hari kapan ia akan memijakkan lagi kaki di toko buku. Secepatnya. Tentu, Jihan ingin memangsa buku karya Aksa Buana kembali. Semoga memang ada karya lain dari Aksa. Sudah telanjur menyimpan perasaan cinta terhadap karyanya, Jihan tak kuasa untuk tidak membaca karya Aksa lagi dan lagi. Kendati gadis itu tak tahu sudah berapa karya yang Aksa ciptakan. Kalau baru satu, Jihan setia menanti dan meneror penulisnya lewat-- ah nanti akan ia pikirkan lewat apa. Hingga kini ia urung mencari seluk-beluk tentang Aksa. Tidak ada daftar biodatanya jua di dalam buku. Pelan-pelan matahari naik dan menempa hingga tubuh Jihan. Sedangkan permainan futsal pria di lapangan telah diganti dengan futsal wanita. Tiga puluh menit lagi azan dzuhur tapi Gadis itu masih berenang-renang pada skenario yang manusia ciptakan. Tingkat suhu di tubuhnya terasa panas. Jihan kembali pada skenario Allah. ''Ah pantesan panas. Ternyata matahari udah naik.'' Ia menyelipkan pembatas buku di halaman terakhir yang dibacanya. Susah payah gadis beralmamater biru itu memegang novel di tangan kiri dan bangku di tangan kanan. “Aduh.” Jihan meringis saat sesuatu terasa membasahi saku almamaternya. Tiga detik kemudian ingatannya baru bangkit. Jihan lupa tadi menaruh s**u kotak yang sudah dibukanya di almamater. Sekarang, almamaternya sudah pucat oleh warna s**u cokelat. Amarah Jihan sedikit disepuh. Sementara itu, di lapangan permainan futsal juga kian memanas. Antara cuaca dan dua kubu yang berebut bola. Tak ayal hingga banyak jemari yang mengerut dengan sendirinya. Gemas dan tak sabaran serta merta ingin turut terjun ke lapangan. Suara operator futsal tidak berhenti bersuara mengiringi jalannya permainan. Sedangkan kala itu sebuah tim Multimedia Jurnalistik sekolahan sibuk memotret dan merekam aksi mereka. Bahan baru untuk tugas ekskul. ''Yusuf, bawa peci gak lo?'' ''Kalau bawa udah gue pakai lah, Han.'' Lelaki berambut rapi itu tidak jua mengenyahkan pandangannya dari kamera yang berdiri dicekal tripod. Memerhatikan lamat-lamat gambar yang sedang ia abadikan dalam bentuk video. Sedangkan Hanan mengabadikannya dalam bentuk foto. ''Gile-gile bakat fotografer andal makin andal aja, Suf.'' ''Makasih. Gak usah muji berlebihan gitu ke gue, Han.'' ''Hah? Pede! Padahal gue bilangnya fotografer bukan videografer. Ini nih.'' Hanan jatuhkan telapak tangan kanannya di dada.'' Seorang Hanan sudah andal jadi makin andal. Apa gak keren tuh?'' ''Iya deh.'' ''Suf, liatin mereka jangan pake nafsu ya. Istighfar.'' ''Astaghfirullah. Siapa juga yang pakai nafsu? Insya Allah aku selalu berusaha menjaga hati dan pandangan.'' “Lah itu tadi malah istighfar,” goda Hanan. “Gue lempar tripod juga lu, Han.” Hanan terbahak-bahak jua menanggapinya. Ia melemparkan sebotol minuman dingin ke arah Yusuf, hanya saja tak sampai di tangan lelaki itu. “Pesona cewek yang main futsal aduhay banget ya, Suf.” Hanan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kan, kan. Lo emang gak bisa dibiarin liar di tempat beginian.” Salah dua kursi penonton dibebani oleh tubuh Salsa dan Wafa. Wafa tersenyum singkat kala didapati pandangannya sosok Yusuf di sana. Memakai kostum ala seorang tim kreatif pertelevisian besar. Yusuf terasa begitu meneduhkan hati Wafa. *** Dua piring nasi putih di dalam wajan telah dicampur bumbu dapur dan kecap secukupnya. Mereka diaduk-aduk menggunkan spatula oleh seorang bapak berjanggut tipis. Suaranya terdengar nyaring menyaingi suara lalu-lalang para murid di koridor. Baunya yang harum dan terasa menusuk hidung berhasil membuat perut mana pun minta jatah meski tidak lapar. Lima menit kemudian aromanya semakin tajam di penciuman dua orang gadis yang memesannya. Dua piring nasi goreng disajikan. “Nah, silakan disantap, Nak Jihan, Nak Wafa nasi gorengnya.” “Makasih, Pak Joko.” Jihan tersenyum sambil menggeser satu piring nasi ke hadapan Wafa. ''Sedap, hm. Terima kasih, Pak Joko.” “Sami-sami. Pecel lele, pecel-pecelaan, selamat makan, semoga enak tenan.” Jihan dan Wafa hanya tersenyum kecil menanggapinya. Mereka sudah berlangganan makan di warung Pak Joko, jadi sudah sering mendengar pantunnya. “Eh, Han lanjut obrolan tadi. Gue kan taunya elo cuma sering belanja buat anak yatim, Han. Waktu itu kali kedua gue ikut elo.'' Gadis di hadapan Jihan mengulum senyum lembut. Parasnya yang kalem dipakaikan kerudung instan ber-pet tebal. Ia melirik ke arah Jihan yang sedang membuka bungkus plastik berisi kerupuk. ''Seru ya, kan bisa berteman sama mereka?'' ''Seru banget. Kehangatan kekeluargaannya terasa, Han. Walaupun mereka gak punya keluarga yang lengkap, tapi tampaknya mereka gak mempermasalahkan hal itu.'' ''Apa yang kita lihat belum tentu sama dengan apa yang mereka rasa, Fa.'' ''Ehhh asyik banget sih elu-elu pada kalo ngobrol? Aye ditinggal di antrean paling belakang tadi.'' Kedatangannya membawakan aroma baru di meja. Lain menu dari Wafa dan Jihan, Salsa sengaja hendak menjamu perutnya dengan siomay goreng saja. ''Aku mau lihat dong foto-foto kita kemarin di panti, Han.'' ''Ngapain manggil-manggil?'' tanya seorang Lelaki yang baru saja menampakkan batang hidungnya seraya membawa segelas es. ''Heh Hanan gak ada yang manggil elu ye, '' celetuk Salsa. ''Tadi pada nyebut namak gue 'HAN' begitu. Itu kan nama panggilan gue 'Hanan'. '' ''Maksudnya nama gue keles. Jihan.'' Sepasang bola mata Jihan berkilat jengah menanggapi Hanan. ''Eh nama lo Jihan? Lo yang waktu itu nolak permintaan gue buat berbagi ilmu kan? Aih, betapa senangnya gue bisa tau nama lo. Sekarang ajarin dong. Gak usah pelit-pelit lah.'' Di samping Jihan keadaan bangkunya masih lengang. Pada akhirnya tak lagi ada alasan untuk tidak ditempati oleh Hanan. Lelaki itu menarik minumannya ke mulut menggunakan sedotan. Jihan menggeser diri untuk sedikit membentangkan jarak. ''Aku kan udah bilang gak bisa! Hih ngeyelan banget, sih jadi cowok.'' ''Yahelah. Hampirrrrrrr seluruh manusia di muka bumi ini tahu kalau ilmu agama lo udah T-O-P.' ''Lebay,'' desis Jihan. Ia bingung sendiri dengan orang-orang yang menilainya seperti Hanan, tak mengerti memandangnya dari sudut mana. Ia sekadar tahu beberapa hal. Jadi, JIhan enggan-engganan untuk berbagai. Jika salah beri, maka urusannya bukan berhadapan dengan insan bernyawa melainkan Sang Pencipta-nya. Usai dikatakan 'lebay', Hanan kian mendekat saja. Jihan mendengkus kesal dan bergeser lagi. Hanan memangkas jaraknya lagi. Jihan memperpanjang lagi. Hanan menarik diri lebih dekat pada Jihan lagi. Sedangkan gadis itu sudah berada di ujung bangku. Sementara Wafa dan Salsa bungkam jua mulutnya. Daging tak bertulang mereka tak sanggup membntu Jihan. Ada keseruan menjadi penonton utama tingkah Jihan dan Hanan. Wafa menguap ingatannya. Sedangkan Salsa, ah ia adalah insan pencinta drama korea dan Turki. Maka kalau-kalau adegan ini ia lewatkan barang sedetik saja, Salsa akan menyesal berat. ''Han, ayo kita balik ke ruang Multimedia!'' Seorang Lelaki bertubuh jangkung mencekal botol minuman. Diajaknya jua partner selama dua tahun menjelang dua tahun setengah ini. Di semester dua kelas 12 nanti mereka tak lagi berkecimpung di dalam ekstrakulikuler sekolah. Sudah habis masa tugas. Jihan dan Hanan menyambut seruan insan bernama Yusuf itu. Merasa sama-sama terpanggil. ''Ayo!'' Tubuh Hanan diangkat jua. Lantas yang terjadi akhirnya ia cukup kaget dengan suara sesuatu yang jatuh diiringi dengan jerit kesakitannya. ''Awww. Astaghfirullah Hanan!!!'' Jihan sudah berada di lantai kantin. Bangku yang ditempatinya berat sebelah hingga membuat Jihan jatuh. Ya, akibat Hanan mengangkat diri dari bangku biru panjang itu. Sedangkan Wafa dan Salsa hanya meringis seolah mereka turut merasakan sakitnya Jihan. Beberapa detik kemudian, dibantulah Jihan oleh mereka untuk bangkit. Hanan tersenyum seraya diangkatnya pelan-pelan telunjuk dan jari tengahnya. Lantas melarikan diri. “Duh, Han maafin Hanan, ya. Dia orangnya memang gitu.” Sebelum pergi, Yusuf mengatakan kalimat tersebut. “Biar Hanan yang minta maaf, Suf. Bukan elo.” Spontan, mulut Salsa terbuka sedikit lebar. Adegan-adegan dalam drama Korea dan Turki yang pernah ditontonnya seolah siap direalisasikan oleh Jihan. Akan ada pertempuran apa antara Jihan dan Hanan? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN