Alquran dan Buku

1987 Kata
Aku berpeluk hangat Di dalam selimut bernyawa Jalan di trotoar tuntunan Menyebrang diapit dua kasih Aku berada di puncaknya Keluarga adalah yang paling istimewa *** ''Jangan ajak aku! Ajak dia. Utamakan dia. Jadikan aku yang kesekian. Ingat-ingat jika kau lupa! Aku hanya bacaan dunia pemuas ruang kata. Sedangkan dia titipan dari Allah yang pantas dibaca, dipahami, dan diamalkan.'' *** Di jalan Medan Merdeka Selatan lah mobil berbadan hitam itu membawa keluarga Jihan menepi. Abi yang mennjadi sopirnya. Dimasukinya jua kawasan parkir area monas tepat berada di depan gedung Perpustakaan Nasional. Saat keluar dari langit-langit mobil, hawa sejuk dari pendingin mobil tak membuntuti mereka. Siang dan malam udara di Jakarta sama saja terasa panas. Malam hari, matahari memang tak menampakan dirinya, tetapi panasnya masih bisa memeluk raga. Inilah bekas dari aktivitas manusia yang tak jauh-jauh dari kendaraan, pabrik, dan aktivitas lain. Ya, metropolitan. Sejenak, sepasang bola mata Jihan memandang bintang yang bertakhta di puncak gedung perpustakaan. Di dalam gedungnya tiada cahaya yang bersinar. Perlahan pandangannya turun kepada hilir mudik delman dan mobil-mobil pribadi di sana. Tak sekadar satu pun dua insan saja, insan-insan melintas dari trotoar satu ke trotoar seberang. Jihan sedikit tersentak saat pergelangan tangannya ditarik lembut oleh umi. ''Mau ke perpustakaan?'' ''Tutup, Mi perpustakaannya.'' ''Kenapa dilihatin terus perpustakaannya?'' Mereka masih melangkah bersamaan di samping Abi. ''Cuma liat, Mi. Masa gak boleh?'' ''Iya iya, Sayang. Ampun deh kamu cinta banget, ya sama buku.'' Tawa Jihan sedikit terkikik menanggapi. Sungguh ia juga merasa sedikit heran. Membaca di awali dengan coba-coba dan nyatanya menjadi candu yang sulit disudahi. Laksana air yang mengalir di kerongkongannya yang kering tak ingin disudahi dan selalu merasa kehausan. Tiba di halaman Monas ketiga insan itu sekadar duduk-duduk manis saja. Menghadirkan dialog-dialog hangat. Jihan menikmati sebuah es krim cokelat. Menjalar jua rasa sejuknya di kerongkongan. Lidahnya seolah gembira tidak berhenti menjilati es krim. ''Jadi Abi serius mau bangun rumah tahfidz di daerah umi di Lampung?'' ''Insya Allah, Mi. Doakan aja, ya.'' ''Rencananya mau kapan, Bi?'' tanya Jihan. Ia palingkan wajahnya benar-benar di hadapan wajah abi. Antara bicara dan menerjemah rasa es krim itu di mulutnya saling berbaur. Dua sudut bibir abi terangkat sedikit dan jemarinya bergerak ke wajah Jihan. ''Putri Abi ini masih kayak anak-anak ternyata.'' Ibu jarinya berjalan ke sudut bibir Jihan. Menghapus bercak-bercak cokelat yang tertinggal di sana. ''Padahal udah kelas 3 SMA ya, Bi? Umi aja heran.'' ''Sampai kapanpun, Jihan tetap jadi anak-anak kalau ke Abi sama Umi. Lagian Jihan jadi yang satu-satunya ini. Kan bebas.'' ''Jadi yang satu-satunya berarti harus bisa diandalkan. Jadi yang bermanfaat,'' kata Abi. ''Iya, Abi. Insya Allah.'' Tiga puluh menit saja waktu yang dipangkas untuk menyegarkan mata melihat keramaian di pusat kota Jakarta. Kini saatnya mereka kembali undur diri. Meninggalkan banyaknya pasang kaki yang melangkah atau turut duduk-duduk santai jua di sekitar Monas. Namun tak sampai di sana, langkah kaki keluarga kecil itu dibawa singgah lagi di sebuah warung makan dekat monas. Di bawah tenda-tenda putih yang menaungi insan di sana tak kalah banyaknya dengan di monas. Kendati masih satu ruang lingkup. Dipilihnya jua sebuah warung yang berada paling sisi dekat jalanan menuju mushala monas oleh Jihan. Pemiliknya seorang wanita berbadan cukup gemuk bersama dua pelayannya lelaki semua. Menu makanan berada di meja sedangkan minumannya tertempel di dinding warung. ''Umi sama Abi mau pesan apa?'' ''Jihan aja dulu yang pesan.'' ''Iya nanti Jihan sampaikan ke mba yang punya warung ini, Mi.'' ''Sekalian dibayarin Jihan?'' goda Umi. Tanpa butuh waktu lagi, mengerucut jua bibir buah hati semata wayangnya itu. Perlahan kembali seperti semula dan ia bergegas memesan makanan dan minuman tanpa menunggu jawaban umi dan abi. Sekembalinya Jihan ke kursi, Abi menodong pertanyaan padanya. ''Jihan pesan apa?'' ''Pesennn apa ya?'' Laksana berdiri di panggung sandiwara, Jihan mendramatisasikan air mukanya kala itu jua. ''Pesan makanan kesukaan Jihan dong. Nasi goreng.'' ''Umi sama Abi udah dipesenin juga?'' Kali ini Umi yang bertanya. Nahasnya Jihan hanya mengulum senyum tidak membawa kata dari suaranya. Umi beranjak seraya menggeleng-geleng kepalanya dan Jihan diam saja. Alhasil, tiga menit sekembalinya umi usai memesan makanan, tiga piring nasi goreng sudah tersaji di sana. Serta merta dengan tiga gelas es teh. ''Perasaan Umi tadi gak pesan nasi goreng, deh, '' kata Umi. ''Memangnya Umi pesan apa?'' Sesendok nasi sudah disantap Abi. Sedang melalui proses penghalusan di dalam mulut. ''Pesan sayur sop. Sebentar ya, Umi mau tanya lagi ke penjualnya. Jangan-jangan dia salah orang lagi ngasih nasi ini ke kita.'' Wanita itu sudah bangkit, Jihan membuatnya nengurungkan niat. ''Ehm gak perlu deh, Mi kayaknya.'' ''Kenapa?'' ''Udah Abi makan juga, Mi nasi gorengnya.'' ''Iya tapi kalau sop-nya dikasih ke orang yang salah terus orangnya nolak, kan kasihan pedagangnya. Mubadzir dan mereka rugi.'' Suarnya lembut. ''Mba, ini sop-nya.'' Jihan sungguh ingin cepat-cepat jua membawa diri. Meski ocehan-ocehan panjang dan letupan api tak akan ia dapatkan dari abi dan umi. Maksimal ia akan diberi pesan-pesan saja untuk tak mengulangi. Ini memang salah Jihan. Jihan mengakui. Sedangkan umi dan abi air mukanya tampak kebingungan. ''I-iya tadi Umi saya, kan Mas yang pesan?'' ''Iya, benar.'' ''Iya. Taruh di meja aja. Makasih, Mas.'' ''Iya, sama-sama.'' Diputarnya jua pandangan itu ke muka Abi dan Umi. Mereka sudah membentangkan makna yang tersirat di sana bahwa Jihan menyengajai semua ini. ''Untuk apa sih, Nak kamu kayak gini?'' Umi memandangnya sedikit muram. ''Tadi tuh pikir Jihan Umi cuma bercandaan mau pesan ke mbanya lagi. Ya udah Jihan bilang belum pesenin buat Abi sama Umi.'' Jihan tersenyum kikuk. ''Eh gak taunya beneran ya, Mi?'' Sudah dijadikan korban jua siku Jihan yang tak gatal itu ia usap-usap. Kepalanya tertunduk dan katanya, ''Maafin Jihan ya, Umi, Abi.'' Sampai di sana dialog mereka. Dua mangkuk sop dan dua piring nasi putih terkapar jua urung tersentuh. Sedikit di ruang hati Jihan menyesali semua itu. Hendak ia ciptakan malam yang penuh gurau nyatanya harus bersimpangan dari semua itu. Perasaannya jadi tak nikmat untuk mendukung suasana mulut dan perut yang lapar. Abi dan umi menikmati nasi goreng dengan tenang. Lantas mereka letakkan lah sendok serta garpu dalam posisi terbalik di piring, setelah menghabiskan makanannya hingga tak bersisa. Jihan yang terakhir mengkandaskan nasinya. Diusapkan jua sehelai tisu ke sudut bibir masing-masing. Barang satu-dua sisa makanan tertambat di sana. Abi menatapnya dan membuang karbondioksida baik-baik. ''Lain kali jangan kayak begitu, ya? Jadinya mubadzir kan makanannya?'' Jihan mengangguk. ''Ya udah Jihan sekarang minta tolong ke mba-nya biar bungkusin sop sama nasi ini.'' Pelan, Abi mendorong mangkuk sup tersebut. ''Iya, Bi.'' Dan malam itu setelah dari warung makanan, mereka melangkah menuju mobil seraya abi memencarkan pandangannya ke segala sudut. Mobil dan motor masih ramai menyesakki tempat parkir. Kaula muda ada yang duduk-duduk di sana. Abi mencari setidaknya seseorang saja yang bisa menerima makanannya dan Allah ganti dengan pahala. Istri dan anaknya melangkah lebih dulu ke mobil, sedangkan abi berlari menghampiri seorang wanita pedagang asongan. Di pungungnya ia menggendong sang anak yang masih kecil sedangkan di perutnya ia membawa dagangan cangcimen yang masih utuh. ''Mba,'' panggil abi. ''Iya, mau beli apa? Rokok? Atau kopi?'' Wajahnya sudah merekah sempurna. Ada yang berbicara dari ekspresinya kalau sedari tadi inilah yang sedang ia cari. Seorang pembeli. Abi dapat membacanya. Hati lelaki itu terenyuh, tak tega, maka ia mengambil sebotol air putih dan ia serahkan uangnya. ''Alhamdulillah. Kembali lima belas ribu ya, Pak.'' Ia memasukkan selembar uang bernilai dua puluh ribu itu dan hendak mengeluarkan sejumlah sisanya. Namun, lelaki di hadapannya menyerahkan dua plastik putih berisi makanan. Samar-samar terjamah mata si pedagang di antara penerangan lampu parkir yang ada. ''Ini buat Mba dan keluarga. Kebetulan tadi saya beli tapi gak dimakan.'' ''Eh-'' ''Terima ya, Mba.'' ''Ya sudah. Makasih ya, Pak. Kalau begitu ini uang Bapak saya kembalikan aja. Gak perlu bayar.'' Abi tersenyum. Sedikit mengangkat telapak tangan kanannya di hadapan wanita itu. Isyarat menolak. ''Kembaliannya Mba ambil aja. Makasih ya, Mba.'' Abi pergi, wanita itu mencium makanan pemberiannya tadi. Terduduk jua dirinya di bibir parkiran. Lantas membangunkan buah hatinya untuk mengisi perut. ''Harusnya saya yang bilang makasih, bukannya Bapak baik itu. Masha Allah semoga Allah membalas kebaikannya. Aamiin.'' Sedangkan umi dan Jihan mendadak dibuat sedikit bingung dengan kehadiran Abi yang mendadak tak ada. Tak berselang lama, lelaki berpeci bulat itu datang. ''Abi darimana, sih? Tiba-tiba ngilang.'' Jihan menutup ponselnya lagi. Sempat berniat menghubungi abi tetapi ia itu sudah keburu menunjukkan batang hidungnya. ''Abi tadi--'' ''Eh terus makanannya mana, Bi? Abi buang? Ya Allah padahal Abi yang selalu bilang ke Jihan jangan buang-buang makanan.'' ''Abi belum selesai ngomong, Jihan. Udah main motong omongan aja.'' Ditekannya jua remot pengontrol mobil agar tak lagi terkunci. Hingga sebuah suara khas-nya keluar. ''Abi darimana? Tadi Umi sama Jihan sempat bingung lho, Bi.'' ''Tadi Abi beli minum dulu.'' Sebotol air minum ditunjukkannya. ''Terus Abi kasih makanannya ke pedagang asongan yang jual minum ini.'' ''Seriusan, Bi?'' tanya Jihan. ''Abi gak ngajarin Jihan buat bohong dan riya, ya. Abi cuma memperjelas aja.'' ''Ahhhh!!! Abi memang the best father!'' Jihan. mengacungkan dua ibu jarinya ke hadapan Abi. Sedangkan abi hanya tersenyum. *** Gedung berlabelkan sebuah huruf G itu sudah dipijaki Jihan, umi, dan abi. Sebuah pintu kaca terbuka lebar-lebar dengan sendirinya acap kali tiap-tiap insan hendak masuk dan keluar gedung. Halaman parkirannya penuh dengan kendaraan beroda empat. Sementara itu sepeda motor bisa dihitung jari saja. Langit malam sedikit lebih pekat dari sebelumnya. Taburan beberapa bintang masih utuh di sana. Sedangkan Jihan sudah berada di antara rak-rak buku fiksi Islami. Terpisah dengan umi yang mengutatkan diri pada rak buku-buku resep makanan dan abi yang sibuk membaca isi belakang sampul buku nonfiksi Islami. Abi dan umi memang bukan maniak buku, tetapi hanya sedikit menyenangi. Tak seperti putri mereka yang tidak tahan barang sehari saja tak menjenguk dunia khayalannya karena susunan cerita dalam novel. Jihan mendapati buku karya Aksa Buana. Sekadar ia pandang penuh cinta karena masih sama dengan buku yang sudah ia baca. Letaknya berada di pojok rak paling bawah. Maka jarang sekali bisa ditemukan para pembaca yang berkunjung. ''Eh, Mba buku karya Aksa Buana cuma ini ya, di sini?'' Jihan menunjukkan buku tersebut pada seorang insan berkaus hitam dengan logo G di d**a kirinya. ''Memang hanya itu, Mba setahu dan seingat saya. Sepertinya dia penulis baru.'' Ditambatkan jua kelima jemari tangan kanan Jihan ke mulutnya. Antara malu dan perasaan tak menyangka sudah bertuan di hatinya. ''Oh. Oke makasih, Mba.'' ''Iya, sama-sama.'' Buku pertama. Penulis baru. Namun, karyanya sudah luarbiasa? Sebagus itu alurnya? Seindah itu diksinya? Laksana sang pengembara yang sudah berguru kepada banyak latar tempat lantas melahirkan sebuah tempat yang amat memukau. Dan Jihan sudah terpukau sangat dalam. Dikembalikan jua buku tersebut ke rak-nya. Jihan menelusuri buku-buku yang lain. Menjamah blurb di punggung buku, lalu ia kembalikan ke rak. Berulang-ulang jua Jihan lakukan demikian. Lantas usai melalui perjalanan panjang itu, ia sudah memeluk banyak buku. Novel, kumpulan puisi, kumpulan cerpen, diambilnya jua. Sekali terpesona, memang ia tak akan main-main. Di sana ia berpapasan dengan umi yang ternyata sudah terpikat dengan sebuah majalah islami. Bukan buku resep masak. Ditatapnya jua Jihan baik-baik. Bola matanya meringis melihat jumlah buku yang tak main-main Jihan bawa. ''Berapa buku itu, Han?” ''Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.'' Jemarinya gesit menandai buku yang sudah masuk hitungan, lidahnya yang menjulurkan suara, sedangkan matanya yang mengawasi buku-buku yang usai dijumlahkan. Ia beralih menatap Umi. ''Ada tujuh, Mi. Yuk ke kasir!'' ''Itu banyak banget, Sayang. Kamu yakin?'' ''Yakin dong, Mi. Kenapa, sih?'' ''Buku yang kamu beli udah benar?'' Ini bukan suara umi. Suaranya sedikit besar dan sangat khas sebagai seorang lelaki. Iya, ini abi yang mengatakannya. ''Eh ada Abi. Insya Allah benar, Bi.'' ''Seluruh anggota tubuh kita akan diperhitungkan apa saja yang sudah kita kerjakan terhadapnya. Jangan lupakan ini.'' ''Iya, Abi. Jihan ingat dan selalu ingat, kok.'' ''Terpenting jangan abai sama Alquran juga, ya?'' Tangan umi mengusap pundak Jihan. Gadis itu tersenyum dan mengajak kedua malaikatnya ke meja kasir. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN