Dia tak apa
Sungguh pun tak mengapa
Baik-baik saja
Laksana penari topeng yang bersahaja
Sekuntum mawar di mata
Duri-duri padahal meluka
***
''Tentang seseorang yang tak suka membagi duka itu memang ada. Dia yang mengelak kala ditanya. Dia yang mencari jalur lain untuk memecah keingin tahuan si penanya. Kembali pada diri sendiri, peka dan peduli atau peka dan jadi abai?''
***
Seberkas suara sedang direkam baik-baik hingga sebentuk file hadir. Di sanalah pada banyak kepala dijejalkan dari sebuah mulut yang tiada henti berlantun. Materi berbau makhluk hidup hingga seluk beluknya didongengkan dengan suara merdu. Guru Biologi itu dijadwalkan pada waktu yang salah bagi anak-anak muridnya: kelas IPS 1. Kalau jamnya siang antara usai zuhur maka tak bisa dipungkiri banyak pasang mata yang ingin dikatupkan. Sedangkan pagi-pagi seperti saat ini justru menghadirkan rasa bosan karena suhu kelas yang cukup dingin bisa meringkukkan jemari para murid di saku almamater. Sedangkan air dari mesin pendingin ruangan itu mulai menitikkan diri di belakang gedung sisa dari bekasnya mendinginkan ruangan.
Sebuah spidol ditarik jua tutupnya. Guru berkumis tebal itu sejenak mengusap hidungnya yang tampak memerah tomat menggunakan sapu tangan.
''Nah, jadi Perbedaan antara respirasi aerob dan anaerob yaitu terletak pada oksigennya. Jika areob membutuhkan oksigen sedangkan anaerob tidak.''
Dibukanya lagi lembar halaman selanjutnya.
''Bisa kalian baca sendiri untuk proses respirasi aerob yang terdiri dari dua jalur yaitu jalur siklus krebs dan jalur pentosa fosfat. Baca juga yang respirsi anaerobnya--'' Kalimatnya mengambang di udara. Untuk kesekian kali ia bersin lagi.
''Maaf, ya. Bapak memang lagi flu.''
Hening. Langit-langit kelas masih lah hening tiada satu mulut saja yang merespons pernyataan guru berbaju batik itu. Diam-diam hati seorang insan di sana merasa meradang. Lintas Peminatan Biologi memang menjadi pelajaran yang cukup digemari. Namun, tidak untuk kelas 12 ini.
''Pak Aji kasian, deh, '' gumam Jihan. Kawan sebelahnya mendengar, lantas mendekatkan mulutnya ke telinga Jihan.
''Kadang gue juga merasa gitu, Han.''
''Iya, Fa. Liat tuh ada yang main HP, baca novel, keliatan banget gak minatnya sama cara didikan dari Pak Aji.'' Sempat sepasang mata berbulu lentik itu bergerak-gerak akibat lirikan bola matanya. Menunjuk dengan pandangan ke arah aktivitas murid di kelas, kepada Pak Aji yang sedang menulis sesuatu di papan tulis, dan terakhir ke arah Wafa.
''Kalian ngobrol apa, sih?'' tanya Salsa dari arah belakang. Ia merekahkan jarak antara Jihan dan Wafa. Membuat mereka sedikit menciptakan ruang untuk Salsa nimbrung dalam keluh kesah.
''Kasian Pak Aji,'' bisik Jihan. Jemarinya lanjut membidik tulisan PAK Aji ke bukunya dalam bentuk tulisan tangan yang beda.
''Aye tanya elu-elu pada ngobrolin apa kok malah bilang kasihan Pak Aji? Kagak nyambung, nih.''
Wafa menahan senyum, Jihan menahan perasaan mangkel serta merta ia siratkan dengan sebentuk senyum jua. Tak seharusnya Jihan menjawab dengan kalimat sependek itu kalau tak ingin mendapatkan respons menyebalkan dari Salsa.
''Maksud gue, kita ini lagi ngobrolin tentang Pak Aji. Kasihan ngeliat Pak Aji yang sering dicuekin anak muridnya.''
''Owalah. Ngomong, dong! Elu kalo ngomong singkat-singkat bikin orang bingung aje.''
''Iya, maafin gue ya, Salsa.''
''Iya, aye maafin, Han.''
Tak berselang lama Salsa undur diri usai membaur bersama Jihan dan Wafa. Sebuah telapak tangan jatuh menepuk-nepuk pelan pundak Jihan. Wajahnya yang teduh menggariskan senyum geli. Jihan hanya menarik sebelah alisnya ke atas.
Beberapa tulisan sudah terpampang amat rapi di papan tulis. Gambarnya cukup jelas. Nahasnya, penjelasannya tak bisa memperjelas. Telinga-telinga bagai tersumpal apa-apa jua yang ada. Ilmu Biologi hampir terpental kalau tak ditahan dengan baik.
''Buka latihan 2 Bab satu. Kerjakan sekarang, ya.''
''Pak.'' Seorang siswi mengangkat tangannya.
''Iya?''
''Soalnya ditulis gak, Pak?''
''Tulis.''
''Keterangan pilihan gandanya ditulis juga, Pak?''
''Tulis.''
''Langsung ke jawaban yang menurut kami benar atau pilgan A, B, C, D, dan E ditulis juga?''
''Tulis.''
''Iya, makasih, Pak.''
''Iya. Kerjakan sekarang, Bapak tunggu di kantor bukunya. Sampai jam istirahat, ya.''
Serentak hampir menahan napas karena siksaan berkedok tugas. Tiga puluh menit lagi bel istirahat akan membunuh mereka. Sedangkan jumlah soalnya tak main-main: 15, dengan panjang soal dan jawaban yang tak main-main pula.
''Bapak akhiri, wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.''
''Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh.''
Guru itu sudah hilang dari pandangan dan jejak suara kakinya di pendengaran, datanglah segala jenis keluh-kesah. Kelas mulai berisik dengan kertas yang dibolak-balik, meja-meja berderit, dan semua suara itu balapan dengan mulut masing-masing yang mengomel.
''Woy bagi tugas, woy!''
''Barisan kita nomor 1 sampai 5.'' Seorang siswi berdiri dan berkata keras.
''Barisan dua nomor 6 sampai 10.''
''Nomor 6 sampai10 barisan tiga! Enak-enak ini soalnya.''
''Udah di-booking barisan dua!!!'' Salah seorang siswa dari barisan 2 tidak terima.
''Pokoknya milik barisan tiga! Titik.''
''Pinjem pulpen, sih. Yang punya pulpen lebih?''
''Haduh gak bawa buku tugas Biologi lagi! MAmpus!''
Kalimat ini, kalimat itu, kalimat sini, kalimat sana, sudut sini, sudut sana, sudahlah berhasil menbuat Jihan jsedikit jengkel. Ia tidak peduli. Cukup bersama Wafa dan Salsa 15 soal bisa selesai tanpa beradu argumen. Mereka sudah sama-sama merapatkan meja dan kursi masing-masing. Kelas masih ribut, alhasil di ujung pelajaran menjelang bel 5 menit lagi mereka hilir-mudik mencari jawaban. Buku Wafa sasarannya.
''Fa, pinjem.''
Ponsel-ponsel diarahkan ke buku, dibawa ke meja. Sinar-sinar flash-nya saling bertubrukan, Wafa bingung sendiri. Pada akhirnya buku Jihan dan Salsa pun turut diculik entah oleh tangan siapa. Sedangkan di antara keramaian di meja Wafa, Jihan yang duduk paling tepi bisa bersandar di dinding dikagetkan sesuatu.
''Stttt.'' Dari luar jendel, suara ini datang.
Urung tiba di pendengaran Jihan. Ia hendak melihat suasana luar kelas dari jendela.
''Sttt. Woy, Ji!''
“Astaghfirullah.” Jantungnya seperti didorong keras-keras saat berhadapan dengan wajah seseorang. Ah, kenapa juga harus tepat ketika Hanan menunjukan wajahnya?
''Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah!'' Jihan menjauhkan wajahnya dari kaca jendela. Di sana sudah terpampang jelas sebuah wajah yang melotot dan mulutnya yang ditarik lebar-lebar menggunakan telunjuk kanan dan kiri.
''Hai, Ji.''
''Ngapain sih, lo di sini?!'' Usai menyerukan ke kesalannya dengan kalimat tanya, Jihan menarik lagi bola matanya setelah beberapa detik melihat ke arah lelaki itu. Hanan.
''Nyari monyet. Ada gak ya di kelas ini?''
Ditabahkan-tabahkan jua hati Jihan oleh diri sendiri. Sudah berkicau tanpa nyata di telinga. Cukup ia dan Allah yang tahu.
''Eh gue lupa. Monyetnya ada di depan gue.''
Pura-pura tak mendengar sepertinya jauh lebih baik bagi Jihan.
''Yahhh monyetnya nyuekin gue. Jahat banget.''
Jihan mengemasi alat tulisnya.
''Gue punya makanan buat lo, Nyet.''
Susah payah, Hanan menarik jendela kaca yang menjadi penyekat di antara mereka. Setelah sedikit terbuka, ia masukkan jua sebuah cokelat batangan yang akhirnya tiba di meja Jihan.
''Semoga lo mau bantuin gue! Kalo lo udah mau bantuin gue, temuin gue ya. Di KUA.”
Jihan melotot.
“Eh maksud gue di kelas Bahasa 3!''
Hanan pergi, Jihan hanya mampu mencebikkan bibir. Segumpal bara api sudah akan berada di hatinya. Ingin hati ia lemparkan sebungkus cokelat itu. Namun mengingat bahwa isinya makanan, ia urungkan. Kesabarannya sedang diombang-ambing untuk Jihan pertahankan. Dan sungguh akhirnya Jihan beristighfar seraya mengingat-ingat lagi surah dalam Al-Quran tentang kesabaran. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, maka Jihan bersabar karena selalu ingin bersama Sang Pemilik-nya. Meski ada satu hal yang jelas-jelas seperti sebuah penghinaan: mengatakan hewan kepada orang lain yang jelas-jelas adalah manusia. Ya, bukannya Jihan baperan. Namun, tentu ini tak sopan menurutnya.
***
Daun-daun yang telah menguning itu tak lagi terkapar dalam kondisi berserakan. Kendati nantinya satu-dua helai akan turun lagi ke tanah karena sang bayu yang menggelitiknya di tangkai. Lalu seikat sapu lidi harus digerakkan lagi oleh sang empunya untuk membersihkan sampah daun. Wanita itu membuka topi hitamnya yang telah memudar. Kemudian duduk di salah satu akar yang lumayan besar dari salah satu pohon. Di sana sepi. Hanya ada ia seorang saja.
Matahari yang tak terlalu membara cukup terasa panas memanggang raga. Di bawah pohon yang lumayan rindang itulah sedikit kenyamanan dapat ia rasa.
''Assalamualaikum.''
''Waalaikumussalam. Nduk Jihan lagi.''
''Ih Mbok bosen ya Jihan sering nyamperin Mbok?'' Diciumnya jua punggung tangan wanita itu.
''Ndak. Mbok seneng, tapi yang Mbok pikirkan malah sebaliknya. Kirain Mbok Nduk yang bosen.''
''Enggaklah. Jihan seneng malahan. Hehe.''
''Mbok kayaknya mau pulang kampung dulu, Nduk minggu ini.''
Jemari Jihan hendak mengeluarkan sebuah bekal dari tas wadah kecilnya, tetapi sejenak ia urungkan dulu. Menatap manik mata wanita lanjut usia yang berasal dari Solo itu.
''Kenapa pulang, Mbok?''
''Mbok Tati kangen aja sama keluarga.'' Ia lepaskan desaah napas lelahnya ke udara. Tubuhnya yang lumayan berisi dibawa bangkit dari posisi duduk untuk bekerja kembali.
''Ini Jihan bawa makanan buat Mbok.''
''Lha kan. Kebiasaan.''
''Terima aja, Mbok.''
''Ya sudah. Tapi Mbok makan nanti ndak apa-apa kan?''
''Iya. Yang penting Mbok makan.''
''Kamu udah makan?''
Sekali garis bibir Jihan diangkat dan diiringi dengan gelengan kepalanya.
''Lha?''
''Ya udah. Jihan mau salat duha dulu. Mbok makan, ya. Wassalamualaikum.''
''Waalaikumussalam.''
Selangkah kakinya sudah dibawa, Jihan tarik lagi.
“Mbok mau ikut salat duha?”
“Mbok masih banyak kerjaan. Jihan duluan, ya.”
Lalu Jihan pergi. Kepergiannya masih ditatap lamat-lamat oleh Tati. Lantas wanita paruh baya itu meraih sapunya lagi. Meringis menahan perasaan malu. Sedangkan langkah kaki Jihan sudah semakin menjauh.
“Masa mudaku ndak dipakai sebaik mungkin. Jihan beruntung tenan.”
***
Setibanya Jihan di masjid sekolahan, ia segera bergegas jua ke tempat wudu wanita. Di sana bersua dengan Salsa dan Wafa yang sudah hampir usai berwudu. Selepasnya mereka berada pada saf yang sama untuk melaksanakan salat duha. Mereka sibuk mengadukan isi hati kepada Allah sementara itu kawan-kawan di kelas sudah tenang hatinya karena usai menyalin jawaban. Buku tugas sudah diangkut ke ruangan Pak Aji. Jihan, Wafa, dan Salsa usai salat duha 6 rakaat. Sejenak Jihan dan Wafa menyempatkan diri menarikan daging tak bertulangnya terhadap bacaan ayat-ayat Alquran. Salsa bersandar di tiang masjid sambil memainkan kuku jemari tangan yang tak seberapa panjang.
Tiba di penutup, Jihan dan Wafa mengecup serta meletakkan lagi Alquran di lemari masjid. Ketiganya kini melipat mukena.
''Gue titip LKS Sejarah ya, Han. Soalnya pulang sekolah buru-buru mau pulang. Di rumah harus beberes sama masak, karena ibu gue kerjanya lembur . Takut di jalan macet,'' kata Wafa.
''Iya, gampang, Fa. Tapi uangnya langsung dari elo, kan? Soalnya gue cuma bawa uang pas buat beli LKS.''
''Gue bawa uangnya, kok. Nanti di kelas, ya.''
Satu di antara ketiga mulut masih membisu. Masih setia menjadi pendengar percakapan dua sahabatnya. Hingga akhirnya usai menaruh mukena di lemari masjid, mereka mengenakan sepatu lagi. Jihan berdehem pelan.
''Salsa, lo mau titip sekalian atau mau beli sendiri aja?''
''Kalian beli duluan aja. Aye mah nanti-nanti belinya.''
''Apa mau pinjam uang gue dulu?’' Wafa menawarkan bantuannya.
''Eh bentar lagi masuk. Ayo cepetan!'' Salsa mengalihkan topik pembicaraan. Wafa yang sudah mengerti terhadap Salsa mengapa ia tak turut serta membeli buku hari ini. Memang, ia niat membantu, hanya saja sedikit memberi bekas yang tak mengenakan di akhirnya untuk Salsa. Ia jadi merasa bersalah karena seolah-olah menganggap Salsa berbohong dan tak mampu. Walau sesungguhnya, Wafa ingin membantu bukan karena ia sangat mampu. Di luar sana saja ada yang sangat mampu tetapi hatinya sudah membeku. Kesusahan orang lain tak bisa membuatnya meleleh.
***