Nomor Asing

1361 Kata
Dia kelam jejak napasnya Dia suram untuk dibaca Sudah digandrungi Diam-diam saja Habis kata Habis suara Iya, laksana lah demikian *** ''Pada kenyataannya di muka bumi ini bisa kita temui beraneka sifat dan sikap manusia. Kenapa? Karena Allah bisa menciptakan yang demikian itu dan ingin mengajarkan segala hal dari seribu bentuk perbedaan.'' *** Akhirnya menepi jua kendaraan beroda dua itu usai melalui jalanan sempit di antara g**g-g**g. Awan-awannya sedang tersingkap yang antah berantah berlayar di bagian langit yang mana. Gadis berjilbab putih lebar itu mendongkak. Dipandangnya jua surya yang sedang sedikit melipat diri dari kecerahan cahayanya. Di belakang, seseorang yang diboncengnya turun. ''Makasih, Jihannnnn.'' Kesepuluh jemari Wafa dibiarkan mencekal sepasang tali tas ungunya. Bangunan berlantai empat itu sudah ada di hadapan dan salah satu ruangannya akan menjadi tempat pelepas letih Wafa. ''Mau mampir dulu?'' tanya Wafa. Jihan tampak berpikir sebelum menjawab pertanyan Wafa. Ah, sebenarnya Jihan hanya bercanda. Tentu ia akan menolak karena sudah benar-benar ingin melepas letih. Gadis berbulu mata lentik itu menarik dua sudut bibir ke atas dan jemari tangan kanannya bergerak ke pipi Wafa. Mencubitnya dengan setitik energi dan perasaan gemas. ''Aku langsung pulang aja ya, Wafa mbeeemm.'' Jihan main-mainkan pipi Wafa. Sang empunya hanya memajang wajah masam bukan karena Jihan tidak mampir, tetapi karena Jihan mencubit pelan pipinya . ''Assalamualaikum.'' ''Waalaikumussalam. Makasih, Jihan!'' Wafa menyerukan suaranya karena Jihan telah menjauh beberapa meter. Lalu dijawab oleh Jihan dengan suara klakson dua kali. Wafa menarik diri dan mulai masuk ke bangunan rumah susun Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Sudah suram warna bangunan itu. Serta merta kekokohannya telah dimakan usia dengan tanda kerapuhan kayu. Di antara empat lantai dan sekian banyak ruangan, Jihan masuk ke salah satu ruangannya di lantai dua. Di sana, salah seorang wanita sedang membersihkan beras sambil duduk di kursi plastik. ''Assalamualaikum, Bu.'' ''Waalaikumussalam. Pulang sama Jihan?'' ''Iya. Ibu kok tau?'' ''Keliatan dari sini.'' Wanita berjilbab hitam itu terkekeh dan menepuk-nepuk pundak Wafa. Dipintanya jua sang anak masuk untuk lekas mengisi perut dengan makanannya yang alakadar saja. Pelan angin berembus menempa wajah ibu. Menciptakan gerakan pada helai-helai baju yang tergantung dipapar sinar matahari. Sedangkan kini sudah terbuka jua tudung saji hijau di dalam ruangan berukuran kecil itu. Lima potong tempe masih hangat ketika ia comot satu, tumis kangkung semangkuk, dan nasi yang sisa untuk sekali makan saja. Wafa taruh dan ganti sejenak pakaiannya setelha menghbaiskan sepotong tempe. Lalu menghampiri ibu yang sudah terduduk di kursi. ''Ibu udah makan belum? Ini nasinya tinggal segini.'' ''Tinggal dihabiskan aja. Nanti kan bisa masak nasi lagi apa susahnya?'' *** Buku-buku di tas telah meneriaki Wafa sedari tadi. Segala jenis tugas usai dijamukan dari guru-guru untuk konsumsi di rumah. Wafa lela. Ia sedikit memiijit tengkuknya. Tepat di sebelah tumpukan bukunya terdapat foto ibu dan ia, Wafa tak sengaja melirik ke arah benda mati itu. Kemudian seberkas api penyemangat mulai hidup di dalam d**a Wafa. Siap melahap pekerjaan rumah dari bapak dan ibu guru di sekolah. Sementara itu masih pada suasana langit yang sama, Jihan sedang melajukan motornya di keramaian ibukota. Bus trans Jakarta, kendaraan pribadi, taksi, dan ojek online menjadi semut-semut yang terjamah kalau dari ketinggian ribuan kaki. Jihan menepi di pertamina untuk mengisi bensin dan buang air di toilet. Ia tidak bisa menahannya untuk sampai rumah dulu. Sekembalinya Jihan dari toilet, ia menangkap sosok seorang lelaki berseragam sama dengannya. Lelaki itu sedang mengenakan sepatu di pelataran mushala pertamina. Menatapnya beberapa detik, sedikit membuat Jihan sadar terhadap suatu hal. Garis senyumnya lantas membingkai indah. Ia berlalu tanpa tahu ada sepasang mata lagi yang sedang mengekori gerak-geriknya dengan pandangan. Jihan pergi, lelaki itu balik memandang kepada insan yang dipandang Jihan tadi di mushala. ''Yusuf, cepetan!'' serunya tanpa peduli reaksi banyak muka dan hati insan di sana. Pusat pandangan pun tak ayal jatuh kepada Hanan si lelaki berpakaian sedikit berantakan. Mungkin mereka terheran-heran jua ketika menatap Hanan lantas menatap Yusuf di pelataran mushala. Keduanya dari luar saja amatlah berbeda. Kerapian berpihak kepada Yusuf. Saat dipandang, indah, dan menghangatkan. Biarlah demikian Hanan tak acuh saja. Ia bahkan kini sudah melaju mengemudi motornya membonceng Yusuf. Kembali membelah jalanan ibukota dengan tujuan ke kediaman Yusuf di kompleks Pekan Raya. Ada suatu hal yang perlu mereka bereskan sama-sama sore ini jua. Tak lama kemudian mereka sudah tiba di lokasi tujuan. ''Tunggu di sini dulu ya, Han. Gue mau ngambil minum.'' ''Ohh ya harus. Harus itu. Minuman yang seger sama makanannya ya!'' ''Yusuf berdecak. “Emang Cuma lo tamu yang begini. Insya Allah kalau ada.''' ''Haha. Sipp.'' Perginya Yusuf ke belakang guna mengganti seragam dan membuatkan minum untuk Hanan. Sementara itu di ruang tamu Hanan sudah mulai membuka laptop. Serentetan video memenuhi sebuah file bernama 'Kerja keras kita bro!'—sedang Hanan amat-amati. Ia tampilkan dan perhatikan baik-baik. Memang, kalau sudah begini, berhadapan dengan bagian dari hobinya, Hanan si amburadul akan hilang title-nya. Ia menjadi sosok yang tampak ambisius dan serius. Ia memasangkan earphone ke telinga agar suara yang bertandang dari tiap-tiap video bisa lebih fokus ia dengarkan. Video-video yang terkumpul sekarang adalah hasil pengabadian momen seminggu ini atas perayaan ulang tahun sekolah. Niatnya, akan ia buat jadi sejenis film dokumenter dengan instrumen original hasil kerjasama dengan anak-anak ekskul musik. ''Minum, Han. Cemilannya cuma ada kacang bawang. Umi sama Abi belum pulang jadi belum ada makanan yang lain juga.'' Hanan berdehem. ''Gak apa-apa.'' Sudah bisa ia simpulkan jua, sekarang Hanan tidak terlalu peduli dengan permintaannya barusan karena fokusnya pada video. Keduanya dihadapkan pada laptop yang berbeda tetapi dengan file yang sama. Dibagi dua jua tugas memotong durasi video yang tidak penting. ''Ini menurut lo gimana, Suf? Kalo menurut gue gak penting.'' Hanan putar laptopnya ke hadapan Yusuf. Di sana sebuah video penampilan lomba tari kreasi sedang ditampilkan. ''Kebanyakan video yang kita ambil emang masih sia-sia. Pokoknya kita ringkas dengan kumpulan video penting.'' ''Setuju. Gue setuju dengan pendapat lo. Film dokumenternya kan sebentar tuh durasinya, jadi kita harus bikin yang singkat tapi ngena. Gitu kan maksud lo, Suf?'' ''Cerdas.'’ ''Hanan.'' Segaris senyum lebar sambil ditepuk-tepuk jua d**a Hanan. Lantas setelahnya terbahak-bahak usai Yusuf memukulkan pelan pulpennya ke pelipis Hanan. Pelan-pelan minuman dingin dingin yang dihidangkan Yusuf pun semakin habis. Baik dalam gelas maupun teko. Cemilannya sisa sedikit saja dan semua itu bersamaan dengan hampir usainya tugas mereka sore ini yang sekadar memotong video. Esoknya, akan mereka edit. “Nanggung. Jadi, mending gue makan aja, ya sisanya.” “Makanlah, Han.” “Eh, gue tadi liat Jihan di pertamina.” Yusuf menelan ludahnya susah payah. “Terus?” tanyanya. “Dia ngeliatin elo.” *** ''Jihan udah makan?'' ''Udah, Mi.'' Mulutnya masih diisi keripik singkong. Sepasang mata Jihan yang bening itu sedang memerhatikan baik-baik sebuah video ceramah di youtube. Jam dinding seukuran piring di rumahnya bertengger di dekat figura kaligrafi khas Arab. Terus berdetak dan saat Jihan lihat, sudah mengarah pada pukul setengah enam lebih tujuh menit. ''Jadi apa yang perlu kita takutkan? Kita punya Allah tapi kenapa dengan ketakutan itu kita jadi merasa gak punya siapa-siapa? Sebenarnya kita gak minta perlindungan dan bantuan ke Allah, Allah aja udah tahu. Tapi setidaknya sebagai manusia yang menghamba pada-Nya sedikit sadar dirilah. Tunjukkan bahwa kita sangat menbutuhkan Allah. Tunjukkan bahwa kita hamba yang selalu mengutamakan-Nya. Kalau kita percaya Allah mau bantu kita. Ya udah, kita positif thinking. Bantuan yang Allah kasih bukan hari ini mungkin di hari lain. Karena Allah pengen nguji hamba-Nya yang sabar, tawakal, dan ikhlas. Jadi, jangan takut.'' Tiba pada akhir durasi video tersebut, Jihan mematikan ponselnya. Sebelum ia letakkan di meja, ponsel berbunyi membawa chat masuk. ''Nomor asing. Bales gak, ya?'' Ia menimbang-nimbang chat yang masuk mengirim salam itu. Lantas beberapa detik usai Jihan jamahkan melalui matanya, satu chat masuk lagi masih dari nomor yang sama. Dituturkan dengan kalimat yang terdiri dari tiga kata saja 'ini urusan ekskul'. Sedangkan Jihan cukup membalas salam dan satu kata 'iya'. Gadis itu benar-benar menyudahi terjun dalam dunia maya sore ini. Lalu ia pergi ke kamar dan menyambut sebuah buku saku berisi dzikir pagi dan petang. Di balkon kamar, Jihan membuat lidahnya bekerja membaca dzikir petang dan hatinya diperintahkan untuk mendalami makna tiap-tiap kosa kata arab. Jihan tenggelam seiring dengan surya yang perlahan merunduk. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN