Sudah diukir
Ditata seindah bukit barisan
Diwarna sepadu pelangi
Bumi pun dipijak
Dientak disentak
Dirusak
***
''Ada satu hal yang tidak bisa manusia tarik meski bisa diperbaiki untuk tidak diulangi lagi: perkataan.''
***
Istirahat kali ini sengaja akan Jihan isi dengan berkunjung ke ruang siaran radio. Sebagai anggota yang pernah menjabat jadi ketua, tentu ia menyimpan kesan yang mendalam di ekstrakulikuler ini. Selama siaran, Jihan pernah sekali menyampaikan ceramah keagamaan, lalu setelah itu ia tidak mau lagi. Tentu hal ini ada sebabnya, yaitu Jihan merasa risih dan malu ketika dipuji jika ceramahnya sangat sampai ke hati banyak pendengar. Ya, hal ini tentunya Hanan ketahui juga.
Tubuh Gadis itu sudah diangkat dari kursi. Sedangkan air mukanya sudah ditekuk mempertunjukkan makna amat tak bersahabat.
''Elu kenapa sih, Han?'' tanya Salsa. Sejenak diabai, Jihan duduk lagi, berdoa dan meneguk air yang tersimpan di botol minumnya. Menyudahi dengan hamdalah dan suasana hati yang lebih membaik.
''Tadi lagi jengkel aja gak ada bacaan yang bagus.''
''Katanya udah beli 7 novel? Tumben-tumbenan elo beli buku tapi gak sesuai ekspetasi?'' Wafa turut terjun jua dalam perbincangan dua sahabatnya itu.
''Entah. Pembaca kecewa kcewa kecewa. Uhh. Bisa-bisanya gue beli buku gak sesuai ekspetasi.''
''Ya udah beli lagi aja.'' Tampaknya saran bernada guyon sedang diluncurkan oleh Salsa. Segaris senyum tengah ia rapatkan baik-baik.
''Yeee apa kata abi sama umi nanti coba? Udah ah, gue kan mau ke ruang penyiaran radio. Ke sana yuk, Fa!''
''Ayo!'' Pada zamnnya, Wafa adalah sekretaris di ekstrakulikuler ini.
''Aye kagak diajak, nih?''
''Mari Nyonya Betawi ikut kami siaran radio!''
''Jihan emang pengertian sama aye.'' Salsa merangkul kedua sahabatnya, lalu nyengir dengan bangga.
Tiba di lantai 1, pada sebuah ruangan berlabelkan 'Ruang Penyiaran Radio Sekolah' Jihan mengeluarkan kunci ruangan. Tentu kunci ini ia pinjam dari ketua yang menjabat saat ini. Diputarnya jua hingga akhirnya pintu berhasil dibuka lebar-lebar. Kosong. Sekadar microphone, headphone, audio mixer beserta kawan-kawannya yang masih tinggal di sana.
''Aye pusing deh liat alat-alat kayak gini. Gimana pakenya lagi.'' Disentuh-sentuh pelan jua oleh jemari Salsa. Seraya ia duduk pada kursinya. Sedangkan Jihan menyapu lantai lebih dulu meski sedikit debu saja yang tertidur di sana. Wafa membersihkan kursi di sebelah Salsa yang masih tampak bersih. Setelah itu, Jihan menghidupkan microphone disusul dengan memakai sebuah benda bernama headphone ia tempelkan di telinga. Beberapa kali ketukan pada mikrofon sudah Jihan lakukan untuk melakukan pemanasan.
''Tes tes. Halo assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.. Apa kabar kawan-kawan RAJ FM? Semoga sehat selalu dan ya semoga merindukan RAJ yang beberapa hari ini off. Alhamdulillah hari ini atas restu Allah insya Allah kita akan seru-seruan lagi, ya! Masih bersama siapa?'' Kalimat Wafa dijeda sejenak.
''Masih bersama gue Jihan Khairunnisa. Jangan bosan dengan gue ya, karena sebentar lagi kawan-kawan semuanya gak akan bisa mendengarkan suara gue dalam siaran ini. Kita akan terbentang oleh jarak dan waktu. Eaaa.''
''Ekhem.'' Wafa menyadarkan Jihan yang kehadirannya seperti dianggap tak ada. Sepasang mata Wafa melirik Jihan dan air muka Jihan meresponsnya seolah mengatakan 'oh iya!'.
''Padahal masih bersama gue juga Wafa Maulida. Jihan kayaknya lagi keasyikan lepas dari buku ke penyiaran, ya. Jadi sampai melupakan partner-nya ini. Hm.''
''Aw iya maafkan gue ya, kawan.''
Keduanya masih jua saling menggulirkan kalimat. Sedikit tertawa dan membahas banyak hal. Sedangkan Salsa memerhatikan mereka dengan saksama dan kadangkala tersenyum. Di segala penjuru sekolah, telinga-telinganya banyak yang asyik mendengarkan siaran yang dibawa Jihan dan Wafa. Pengeras suara kian berisik tetapi terasa lebih tentram dengan kultum indah yang Wafa sampaikan.. Singkat saja, tetapi mengena hingga hati.
''Allah tidak pernah butuh ibadah kita ya, Fa?'' tanya Jihan.
''Karena sebenarnya yang butuh adalah kita sendiri. Di saat kita butuh tiket pesawat untuk bisa merasakan suasana di ketinggian, menikmati keindahan bumi dari atas, menatap awan-awan dalam jarak yang dekat. Maka, jika kita pinta surga kita harus punya tiket masuknya.''
''Nah benar sekali apa kata Ustadzah Wafa.''
''Aamiin. Duh ilmu gue belum seberapa jadi belum pantas disebut ustadzah. Gue cuma bisa menasihati sedikit aja, sih.''
''Terpenting, hadirnya kita di sini untuk berbagi, saling menguatkan iman. Selanjutnya kita mau ngapain nih, Fa?''
''Hmm. Gimana kalau kita dengarkan salawat yang menyejukkan hati dan pikiran?''
''Ide bagus! Kalau gitu, kita open request, ya. Silakan hubungi nomor redaksi ARJ FM 021452396.''
''Sekalian salam-salamnya dari kawan-kawan semua, ya untuk siapa boleh banget!'' timpal Wafa.
Sembari pesan-pesan siswa masuk mengirimkan permintaan lagu dan salamnya, diperdengarkan sebuah salawat yang dilantunkan Nissa Sabyan. Bait-bait lagu bersenandung menyampaikan makna kedukaan di negeri Palestina. Di sana, tak lama kemudian seorang insan asal menyeruakan pintu tanpa salam. Diujarnya saja sapaan seperti biasa. Dan semua itu, sungguh bepotensi mengacaukan suasana siaran.
''Hai semua!'' Lelaki itu menyapa masih dengan gaya penampilan yang sama. Baju kusut sudah sedikit menguning warnanya, celana sudah berjarak cukup jauh dari mata kaki, dan kaos kaki yang membungkus telapaknya berada pada posisi sedikit menurun. Daya karetnya telah melemah diganti dengan karet gelang jua.
Sedangkan Jihan cukup saja tak memedulikan Hanan. Membuka buku catatan yang biasa ia pakai untuk menyimpan ata-kata mutiara dari buku.
''Ada apa, Hanan?'' tanya Wafa.
''Yaaa mau ketemu Jiji lah.''
''Jiji?'' Satu kata yang diserukan bersamaan oleh dua daging tak bertulang. Menunjukkan arti pandangan bergolak tanya.
''Perasaan di sini gak ada yang namanya Jiji.''
''Jijik apa je i je i jadi Jiji, sih? Aye bingung, nih. Lu kagak jelas banget sih, Han? Bikin pusing. Dasar gak jelas!''
''Maksud gue Jihan. Elahh susah amat sih kalian pahamnya.''
Suara Nissa Sabyan masih mengisi kekosongan nada di gedung sekolah. Insan yang Hanan cari mulai terusik dan kini bangkit setelah sebelumnya sempat melepaskan headphone.
''Mau ngapain?'’
''Gue cari elo dari tadi ternyata di sini.''
''Mau ngapain?''
''Mau nagih lah. Tolongin gue, dong!''
''Kenapa elo maksa banget, sih Hanan?''
''Karena gue...'' Hanan membuat pikirannya berputar dengan lambat. ''Karena gue pengen belajar agama lebih dalam sama lo. Waktu itu gue kan udah bilang. Ya, Ji? Plis plis.''
''Maaf gue udah bilang gak bisa.''
''Waktu itu udah dikasih cokelat masa masih gak bisa?''
Lelah hati Jihan. Lelah jua raganya, maka terduduk saja lah Gadis itu di kursi.
''Cokelat kamu gak gue makan. Bahkan udah gue titipin ke temen lo buat naro di tas elo, Hanan.''
Sudah bungkam. Sebabnya bukan karena habis kosa kata yang Hanan punya. Bukan pula ia yang sudah menyerah mewujudkan pertolongan dari Jihan. Ia ingat tentang suatu tragedi saat ia di rumah. Kala itu di kamar kecilnya Hanan melepas lelah di kasur. Ia menaruh tas dengan asal di samping tubuh. Tak berselang lama kemudian, kenyaman lelahnya direbahkan terusik. Sesuatu seperti menggigiti kulit Hanan. Bahkan, tak cukup sekali saja. Tak ayal jemarinya terus bergerak menggaruk bagian yang gatal. Hingga akhirnya Hanan benar-benar bangkit dari alam mimpi.
''Argh! Ini ada apa sih kulit gue jadi gatal-gatal!'' Tangan, kaki, leher, bahkan wajah Hanan sudah tampak bentol-bentol. Urung berhenti ia gerakkan jemari untuk menggaruk. Pandangannya disebar. Bantal-bantal dan guling diangkat untuk menilik hewan apakah yang telah menyiksa Hanan.
''Perasaan gak ada apa-ap-''
''Gila! Semutnya banyak banget di tas gue!'' Spontan juga Lelaki beralis tebal itu berseru kala sudah ditemui akar masalahnya. Segerombolan semut merah hilir mudik dalam barisan yang tertata rapi keluar-masuk tas Hanan. Ia bawa jua tas tersebut dari kamar ke luar rumah. Sedikit berlarian karena semut-semut yang masih berada dalam tas mulai membawa diri ke tangan Hanan.
Lantas, detik ini Hanan akhiri ingatannya tentang kala itu. Tangan kanannya sudah berkacak pinggang, sedangkan tangan kirinya sedikit mengacak-acak helaian rambutnya.
''Pantesan! Tapi waktu itu udah tinggal setengah cokelatnya, Ji. Lo makan sebagian cokelatnya?''
''Waktu itu gue titipin temen ynag sebangku sama elo. Tanya aja sama dia.''
''Oh dia?! Bener-bener ya, tuh anak.''
Hanan sudah hendak keluar ruangan, tetapi Jihan membuat langkahnya tertarik lagi karena mengujarkan suatu hal.
''Gue cuma berpesan sama elo, manusia itu tetap manusia meski lo ganti sapaannya jadi nama hewan. Terkecuali memang hati manusia itu sendiri yang bersikap seperti hewan.''
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Masih hening saja dalam waktu sedemikian. Lantas beberapa kali tepukan tangan memecehannya. Tentu, berasal dari telapak tangan Hanan. Salsa berjingkrak-jingkrak dalam keterpanaan. Sedangkan Jihan jadi bingung sendiri. Ada yang salah dengan ucapannya? Ada yang bagus? Ada yang istimewa? Atau apa?
''Keren keren keren. Lo bisa bikin kata-kata mutiara juga, Ji?''
''Iya elu keren banget, Jihan! Ah aye bangga, deh.''
''Suka baca novel jadi puitis ya Jihan? Hehe.''
Satu embusan napas Jihan buang.
''Maksud gue itu ngasih tau elo, Hanan. Elo lupa? Atau pura-pura lupa? Atau gimana?''
Durasi lagu sudah hampir habis, JIhan hendak memakai headphone lagi melanjutkan siaran radio sekolahnya.
''Jihan,'' panggilan Hanan berhasil membuat tangan Jihan berhenti memasang headphone.
''Gue minta maaf.''
Sempat terdiam, tetapi pada akhirnya JIhan mengangguk dan tersenyum. Hanan keluar sembari terhura-hura suasana hatinya. Bahkan, Hanan tunjukkan jua dengan mulutnya yang tak mau berhenti tersenyum sambil bersiul.
***