Kabar Duka

1251 Kata
Sekadar titipan Jiwa laksana segala punya Sekadar titipan Hati terbius aroma surga Segala titipan Diambil biarkan *** ''Dari segala skenario yang telah Allah ciptakan, tidak ada yang tahu cerita apa yang akan terjadi barang sedetik nanti.'' *** ''Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.'' ''Waalikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh.'' Satu insan yang membuka salam dijawab oleh puluhan insan dalam ruangan itu. Buku-buku sudah berada di meja siap dijadikan pemandu pelajaran atau hiasan agar nyaman dipandang saja oleh Pak Aji. Sedangkan di mejanya, Pak Aji mengeluarkan sebuah buku Biologi saja. Kendati demikian, ketebalannya tak main-main. Belum apa-apa pun bagi murid yang alergi terhadap pelajaran atau cara penyampaiannya sudah meraaa perih di mata. Lelaki bermata empat itu sejenak melepaskan sepasang mata kacanya. Dibersihkan dengan sehelai kain dari dalam kotak kacamata. Lantas digunakan lagi biar lebih jelas apa-apa yang dilihat. Tak lama kemudian tanpa bahas sana bahas sini yang tak ada uratnya dengan pelajaran Biologi, Pak Aji sudah berdehem hendak mengawali pembelajaran. Spidol di tangan kirinya sedikit diketuk-ketukkan pada meja. ''Untuk materi minggu sebelumnya sudah paham, ya?'' ''Paham, Pak.'' Lisan benar-benar tak sepaham dengan kenyataan. Sedangkan salah seorang penghuni bangku di sana hendak mengacungkan tangannya agar materi minggu lalu diperjelas lagi. Namun, baru saja hendak di angkat, teman-teman di samping kanan dan kirinya memberi isyarat. ''Mau tanya apa, Fa?'' tanya Jihan dari mejanya di belakang Wafa. ''Gak jadi. Nanti aku tanya personal aja sama Pak Aji.'' ''Cie cie cie.'' Salsa turut jua berbaur dalam perbincangan. Tubuhnya sedikit didekatkan kepada Wafa sebab mejanya berposisi di samping Jihan. ''Mau pe-de-ka-te, Lu sama Pak Aji?'' ''Astaghfirullah, Salsa. Udah ah kita dengerin aja materi hari ini.'' Kadang memang demikian. Sekadar satu insan yang bisa dikatakan cukup mengerti di antara mereka bertiga. Namun yang demikian itulah langit berpoles seribu warnanya persahabatan mereka. Sedangkan di depan, keadaan papan tulis putih itu sudah tak lagi bersih. Sebuah angka diikuti kata-kata bermakna soal terpampang di sana. Sedikit membuat mata perih jua sebab tulisan Pak Aji yang kurang apik. ''Aye baru sadar, '' kata Salsa kepada Jihan. ''Apa?'' ''Ternyata Pak Aji itu seorang guru yang awalnya mau jadi dokter tapi gagal. Abis tulisannya bikin pala cenut-cenut.'' Barangkali Jihan merasa cukup menarik napas dalam-dalam saja laksana memadamkan percikan api di jiwanya karena Salsa. Melirik malas ke arah Gadis di sebelahnya itu dan serta merta dibalas segaris senyum yang amat ringan. Merasa tak berdosa telah menuangkan percikan api dalam jiwa Jihan. Kondisi kelas pun tak bisa tenang. Tangan-tangan saling diangkat menanyakan suatu kata yang ditulis Pak Aji. Mulut-mulut berbisik saat mengerjakan soal Bab Hereditas. Namun demikian Pak Aji masih setia di mejanya mencerna isi buku Biologi. Sedangkan Jihan melihat sejenak ke arah lelaki itu. Dibawa jua langkah kakinya ke meja Pak Aji. ''Pak,'' sapa Jihan. ''Iya.'' ''Izin ke toilet.'' ''Iya.'' Sekali ini lagi Pak Aji menjawab 'iya' saja kemudian Jihan berlalu. Meninggalkan kelas yang insannya masih sibuk mengeluh. ''Ngapain, sih persilangan bawang merah besar sama bawang putih kecil aja dihitung buat nentuin keturunannya? Plis  cukup Tuhan Yang Maha Esa yang mengatur ini.'' Seorang siswa di sebelah kiri Salsa mengatakan demikian. Tentu tanpa volume suara yang tinggi agar tak sampai di telinga Pak Aji. Salsa mengerucutkan bibirnya seraya berkata, ''Orang pinter pasti menganggap cara ini penting.'' Sebuah panah laksana menancap di hati siswa yang sempat menyepelekan pelajaran tersebut. Dilihatnya ke arah Salsa dan mengentakkan kaki ke lantai. Jadi, maksudnya Salsa menganggap jika dirinya yang menyepelekan materi Biologi hari ini adalah orang yang bodoh? Sebuah suara mendadak hadir dan sempat mencuri perhatian murid. Setelahnya tahu asal suara dari ponsel Pak Aji, mereka kembali menghadap buku, tetapi kalimat dalam hati telah menari-nari penuh harap ada sesuatu yang membuat Pak Aji pergi dari kelas. Sedang Pria berkemeja putih dengan setelan celana dasar itu merogoh saku celananya. Sepersekian detik layar ponsel dipandang dengan khusyuk, ia geser jua gambar hijau di sana. ''Halo Assalamualaikum.'' Banyak hati telah berdebar-debar siapakah gerangan yang menelepon Pak Aji? Sungguh kekalau saja si penelepon bisa membuat Pak Aji pergi saat ini jua, maka bahagia lah mereka. Tiada kira tiada batas. Napas bebas akan mengudara. Sepasang bola mata Pak Aji sedikit membesar. Kabar yang tiba di pendengarannya barusan berhasil jua mendaratkan keringatnya di dahi. Segera ia usap dengan sapu tangan. ''Innalillahi wa'innailaihi roji'un. Iya, Bu saya segera ke kantor.'' Kabar duka. Banyak pasang telinga di sana jelas lah mendengar apa yang diujarkan Pak Aji barusan. Telah mereka rasakan kabar duka dan jadi tahu harus kah berbahagia jua karena Pak Aji sudah mengemasi bukunya, hendak pergi. ''Silakan dilanjut dulu mengerjakan soalnya. Hari ini sekolah berduka, Mbok Tati--tukang bersih-bersih di sekolah kita sudah pergi untuk selama-lamanya. Barangkali kalian diajak takjiah hari ini, tetapi tunggu keputusan dari sekolah dulu. Bapak akhiri, wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.'' ''Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh.'' Lemas. Pita suara mereka laksana hilang. Jawaban salam dengan nada rendah dan sedikit bergetar. Wajah-wajah pias penuh ketidaksangkaan dengan kabar duka hari ini. Alhasil, ramainya kelas bukan lagi karema kebebasan mereka ditinggal Pak Aji atau mengoceh merutuki materi Biologi. Topiknya berganti tentang Mbok Tati. Sedang di pintu, Jihan sudah tampak batang hidungnya. Mengujarkan salam dengan air muka santai. ''Jihan cepet sini, lu!'' Salsa menepuk-nepuk kursi Jihan. Dimintanya Gadis itu agar segera duduk. ''Ini kenapa sih, Fa, Sal, kok mukanya pada pias gitu? Sedih juga.'' PAndangan Jihan diedarkan melihat kawan-kawannya. ''Duduk dulu, Han!'' titah Wafa. JIhan segera nurut. ''Ini akan jadi kabar duka yang gak akan kamu sangka-sangka, Han.'' Jihan menelan ludahnya. Menatap mata Wafa sedalam mungkin. ''Manusia memang gak tau kapan umurnya habis di dunia. Sekarang, kita semua, termasuk kamu yang sangat dekat dengan beliau, harus kehilangan dia untuk selama-lamanya--'' Wafa jadi merasa lidahnya berat untuk digerakkan. ''Mbok Tati pergi, Han.'' Pergi? Jihan jadi bertanya-tanya seraya kedua alisnya mengerut. ''Pergi?'' ''Pergi ke sisi Allah,'' tambah Wafa. Pergi ke sisi Allah. Tubuh Jihan mendadak terasa lemas. Kepalanya yang semula berdiri tegak menghadap Wafa jadi layu. Kian menunduk hingga akhirnya suara isakan terdengar cukup perih di pendengaran Wafa dan Salsa. Diraih lah kepalanya oleh Wafa. Didekap. ''Mbok--'' Mbok Tati, sosok wanita yang sudah Jihan anggap sebagai Ibunya sendiri. Kini pergi dan tak kembali. Namun apakah kisah ini sedang tercatat dalam mimpi saja? Biar tak perlu Jihan menangisinya. Wanita itu pergi. Tak ada lagi waktu istirahat bersamanya. Sudah selesai pembicaraan mereka di tiga hari yang lalu. Selesai tanpa ingin Jihan anggap selesai. Kenapa Mbok Tati secepat itu dipanggil ke surga? Batin Jihan. Setelah pencarian yang cukup melelahkan tadi, detik ini berada di ujungnya. Melebih-lebihi rasa lelah. Melebih-lebihi hingga air mata jatuh dan perasaan laksana mati jua. *** Sedari tadi tangan itu menyeka air sungai yang deras di mata buah hatinya. Masih memakai mukena usai salat Isya. Dipeluk dan diberi jamuan nasihat agar menjadi pengobat luka akibat kehilangan. ''Umi, berarti Jihan gak bisa lagi makan siang di sekolah bareng, Mbok?'' ''Jihan gak bisa lagi liat Mbok, Mi?'' ''Istirahat, Jihan gak bisa ngobrol sama Mbok lagi, Mi?'' ''Nanti yang gantiin Mbok di sekolah siapa, Mi? Pasti gak bakalan sebaik Mbok Tati lagi.'' Hangat peluknya seorang Ibu sedang Jihan rasakan. Di d**a Umi ia bersandar. Tersedu-sedu amat pilu. Pintu kamarnya terbuka, Jihan abai. Seorang lelaki bersarung lengkap dengan koko dan pecinya masuk ke kamar JIhan. BAru saja ia pulang dari masjid. ''Puteri Abi kok nangis terus, sih? Hm?'' Tangannya diusap-usapkan ke punggung tangan Jihan. ''Abi,'' tegur sang istri. Memberi makna tersirat dari pandangan matanya agar tak menanyai apapun. Mereka cukup tahu Jihan baru saja ditinggalkan insan yang disayanginya. ''Kalau Jihan belum ikhlas dengan kepergian Mbok, apa JIhan akan menangis seperti ini terus? Kehilangan apapun harus bisa kita terima, Nak. Allah yang memiliki kita semua, jadi Allah berhak ambil kita kapan saja. Kita gak biaa menolak dan meminta kesempatan waktu lagi.'' Tangis Jihan sedikit mereda. ''Abi tahu Jihan anak yang mengerti. Jihan pasti tahu apa yang harus dilakukan untuk orang yang telah menghadap Allah.'' ''Doa.'' Jihan mendongak menatap Abi. ''Iya itu Jihan tahu. Menangis secukupnya aja. Tapi doa sebanyak-banyaknya.'' ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN