Jikalau kau dekap
Tiadalah fana
Menggigil pada sebuah rumah
Dihangatkan langit yang amat cinta
Dia
Mereka
Buntung--kau beruntung
***
''Di tengah-tengah kehidupanmu yang masih dianggap duka, percayalah di belakangmu ada seseorang yang merasa hidupmu sempurna dan jauh lebih beruntung darinya.''
***
Simbol merah ataupun hijau sudahlah bisa masuk ke dalam pandangan para murid. Hijau sebagai pertanda diberi kesempatan mendaftar ke Perguruan Tinggi Negeri jalur undangan dan merah yang sudah kalah telak diharuskan melalui jalur tes SBMPTN. Kemarin lah hari yang bersaksi menjadi awal harapan baru bagi mereka yang berkesempatan dan menjadi hari yang perlu diobati bagi mereka dipatahkan. Jihan lah salah satu insan yang mampu mengembangkan senyum mendapat simbol warna hijau meski kini pikirannya mendadak jadi meradang. Dipakai berpikir tanpa jeda tentang langkah yang hendak dituju menjadikannya kebingungan jua. Diberi kesempatan mendaftar, Jihan bingung. Kalau tak diberi kesempatan, tersayat lah hatinya yang semula baik-baik saja. Dasar Jihan.
Kini sedang dipijitnya pelan pelipis itu. Seraya tak melepaskan pandangan dari layar komputer. Sedangkan mayoritas insan-insan lain yang mendapatkan kesempatan sama seperti Jihan senyum semringah saja. Berapa sama halnya jua dalam jalan kebingungan. Bercabang-cabang pikirannya tak tau akan ke mana.
''Bengong terus, Han. Udah selesai belum?'' tanya Wafa. Mereka duduk berdampingan di dalam laboratorium komputer itu.
''Aku--''
''Bingung?''
''Iya, Fa. Hah kenapa begini, ya?''
''Karena kamu gak mempersiapkannya dari dulu.''
''Terus gimana, dong? Kamu pilih univ dan jurusan apa?''
''Alhamdulillah aku pilih salah satu univ di Jogja jurusan Pendidikan Agama Islam sama Pendidikan Bahasa Arab.''
Sebuah hati menciut di sana. Bagaimana jua ia bisa menyepelekan hal seperti ini?
''Jadi, kamu mau ninggalin Ibu kamu?'' Jihan memastikan.
Udara yang seharusnya diembuskan dengan baik oleh Wafa jadi tak baik. Kasar dan bersuara. Laksana sedang mempertontonkan hatinya yang lebam usai ditinju banyak hal yang perlu pengorbanan.
''Ibu tiap malem selalu bilang sama aku, Han. Dia sayang sama aku, cinta sama aku, tetapi bukan berarti dia ingin selalu hidup bareng aku. Ibu tau, dunia bisa bersikap jahat sama aku kalau aku jadi orang yang miskin ilmu.'' Suara Wafa terdengar cukup berat. ''Soal biaya--'' Lidahnya mendadak kelu sebab ingatan pesan dari Ibu terus mendobrak. ''Bahkan Ibu bilang, aku jangan takut. Ibu bakalan berusaha walaupun siang malam harus kerja. Ibu juga bilang, kalo aku punya Allah yang Mahakaya.''
Kedua mata Wafa sudah berembun. Ditundukkan jua kepalanya. Tak ingin air mata itu tampak di pandangan Jihan.
''Aku sayang sama Ibu. Aku punya cita-cita bisa memakaikan toga aku nanti di kepala Ibu. Sebagai makna, kalau beliau lah guru terbaik yang aku punya. Tanpa perlu punya gelar S.Pd, Doktor, atau MAster sekalipun. Aku berharap bisa dapat beasiswa, Han.''
Punggung Wafa sudah bergetar. Sedangkan Jihan? Jihan malu! Malu teramat sangat. Tanpa perlu menjamah kondisi air muka Wafa, suaranya saja telah menyetrum ruang hati Jihan. Mengabarkan bahwa hati Wafa sedang basah. Sampai-sampai hujan jatuh membasuh matanya.
''Makasih udah memberi aku sebuah pelajaran yang amat berharga,'' kata Jihan sambil merengkuh tubuh Wafa.
***
Koridor jadi ramai setelah bel istirahat disuarakan. Sejenak pikiran yang diberi asupan ilmu itu dihibernasikan. Meskipun begitu, masih jua banyak siswa ataupun siswi yang bergelut dengan buku pelajaran. Namun, Jihan bukanlah salah satunya. Telah ia rasakan denyutan kecil di kepala akibat pelajaran Ekonomi. Maka, ia putuskan untuk disudahi dulu. Sekarang niat hatinya sedang hendak dinyatakan. Mencari Mbok Tati sambil menenteng dua bekal makanan yang isinya sama.
Dua hari kemarin Mbok izin tak bekerja. Sekadar Jihan tahu dari salah satu TU di sekolah. Sedangkan hari ini Jihan rasa wanita paruh baya itu tak lagi absen. Hatinya berkeyakinan penuh kalau Mbok sudah masuk. Sebab jujur saja, Jihan merasa kehilangan jika sekadar tak menyapa Mbok barang sekali.
Setibanya di halaman belakang, jawabannya nihil. Kembali Jihan telusuri tempat-tempat yang biasanya menjadi tempat kerja Mbok. Ruang olahraga, toilet, dan halaman depan, tetapi masih tak kunjung membuat segaris senyum tercetak di bibir Jihan. Ia bergumam, ''Mbok masa gak berangkat lagi, sih?''
Lelah sudah bergelayut memaksanya duduk, maka duduk lah ia di tepi taman. Menerawang bebas murid-murid yang lalu-lalang di hadapannya. Dua kotak bekal itu ditaruh di samping Jihan. Rasa lapar telah lenyap seiring dengan perasaan tak minatnya yang berkunjung. Kehadiran Mbok sungguh menjadi sebuah teka-teki bagi Jihan. Hendak menghubungi Mbok, tetapi nomornya di 3 hari ini tak aktif. Hendak dilontarkan pertanyaan kenapa Mbok tiga hari berturut-turut ini tak terlihat batang hidungnya kepada sanak keluarga, tetapi Jihan tak tahu apakah wanita itu memiliki keluarga di sini?
Pandangannya benar dilepas pada insan-insan sebaya Jihan. Namun tak bisa dipungkiri kalau pikirannya aman-aman saja menetap sejalur dengan apa yang dipandang. Hingga datang dua insan menghampiri Gadis yanh sedang murung itu, ia tak sadar jua.
''Assalamualaikum!!!''
''Assalamualaikum.''
Salam dari dua daging tak bertulang itu lain intonasi, tetapi disuarakan bersamaan. Sedikit tersentak lah denyut jantung Jihan. Kesadaran kembali menyelimuti.
''Waalaikumussalam. Kalian ini jangan ngagetin, dong!''
Hanan dan Yusuf lah yang kini bersama Jihan. Sang penyeru salam tentu Hanan hingga membuat Jihan sedikit terkaget. Sedang Yusuf lidahnya tak lagi berkutik.
''Jangan ngelamun, Ji! Gak baik! Eh ini bekal lo kok ada dua? Yang satu buat gue, ya?'' Tanpa ditunggu hadir dahulu jawaban dari Jihan, jemari lelaki itu sudah bergerak cepat menyambar salah satu bekal Jihan. Dibukanya.
''Gak sopan, Hanan,'' tegur Yusuf seraya diambilnya wadah bekal itu dan ia taruh pada tempatnya lagi.
''Makan aja sama kalian berdua kalau mau. Aku mau ke kelas.''
''Serius, lo?! Ah syukron Ukhti Jihan!!! BAik banget sih, lo. Tiap hari kek kayak gini.''
''Harus diabisin, ya.''
''Kamu, emang gak laper, Han?'' Syukurlah, setelah menormalkan kondisi yang kerap Yusuf timbun itu akhirnya bisa bicara jua. Tak perlu lagi diperjelas gerak jantungnya bagaimana, sebab jawabannya selalu sama: abnormal--jika di dekat Jihan.
''Aku gak laper. Kalian makan aja. Wassalamualaikum.''
''Waalaikumussalam.''
Hanan lekas duduk dan bedoa sebelum menikmati makanan dari Jihan. Setidaknya untuk makan siang uangnya tak perlu ditukarkan dengan makanan.
''Jihan!'' Yusuf berseru. Pada sekian langkah yang telah gadis itu bawa, badannya balik menghadap ke arah sumber suara.
''Makasih,'' kata Yusuf sambil diangkatnya jua bekal pemberian Jihan itu. Sudah meletup-letup senang di ruang d**a Yusuf bisa menikmati makanan dari Jihan. Terlebih, ia menang lagi dalam bersandiwara menyembunyikan asmara. Di matanya bisa memangkan kalau Jihan sudah mengiyakan dengan gerak tubuh--menganggukkan kepala.
Duduk jua lah Yusuf di samping Hanan. Namun nyatanya ganti Hanan yang mengangkat diri dari posisi duduk.
''Jihan!''
Sedikit geram, tetapi karena bekal kesabaran Jihan urunglah kandas, ia berbalik badan lagi. Hanan yang menyerunya tadi lantas berkata, ''Sekarang penampilan gue berubah juga, Ji! Lebih rapi!''
Satu desahan napas dilepaskan, sekadar simpul senyum saja yang ditunjukkan. LAgi, ia mengangguk menanggapinya. Biarlah cukup pikiran dan hati JIhan yang sedang memperdebatkan kata 'kenapa' tentang Mbok. Bak sebuah nada kacau sampai di gendang telinga, awan kelabu tiba di mata, dan petir merisaukan hatinya.
Dalam langkah yang gontai itu terus dibawa laksana tak menapak. Menyapa insan-insan yang bersua dengannya pada sebuah drama lengkungan bibir ke atas. Padahal sejatinya pemandangan lengkungan bibir ke bawah tengah disimpan di ruang hati.
Dari arah belakang, seseorang tak sengaja menabraknya.
''Awww!''
Insan itu tak menyertakan barang kata maaf saja dan sudah hendak berlalu tanpa peduli. Dicekal jua pundak Jihan oleh dirinya sendiri dan menyeru insan tersebut yang tak lain ialah Diva.
''Diva!!!''
Diva tak menjeda langkahnya.
''Diva!!!'' seru Jihan lagi.
Masih tak bisa membuat Diva merespon seruannya.
''Diva!!!'' Setelah JIhan berhasil menghadang Gadis itu, barulah Diva berhenti. Napasnya yang memburu mampu sampai di pendengaran Jihan.
''Maaf aku salah. Tolong minggir, Kak!''
''Kamu ngapain bawa tas?''
''Plis ini bukan urusan Kakak. Aku cuma minta Kakak minggir.''
''Kamu mau bolos? Sejak kapan kamu suka bolos, Diva?''
''Sejak kapan Kakak peduli sama aku? Kita sekadar kenal.''
Benar. Jihan membenarkan perkataan Diva. Kala itu jua Diva meloloskan diri dari Jihan. Berlalu dan lagi sedikit menabrak tubuh kakak kelasnya itu.
Diva membawa langkah yang tak bisa dibilang santai bersama hati dan pikiran yang kalut. Tak lama kemudian pipinya sudah basah, ia memikirkan seseorang yang kabarnya menuju hal tak baik.
''Mbok, Diva mohon--''
***