Akan seribu pintu
Sembunyi disembunyi
Tak disampai mata manusia
Seribu kaki seribu hati
Seribu waktu seribu rindu
Seribu kasih seribu cinta
Ada kala dikurung cerita
***
''Tidak ada yang pantas menghakimi dosa manusia. Namun tidak ada yang lebih pantas lagi tak mengingatkan bahwa jalan yang ditempuhnya berdosa.''
***
Hujan mendadak jatuh dari langit yang baik-baik saja. Awan hitam tak sempat menunjukkan jati dirinya lebih dulu. Tahu-tahu, menangis begitu saja di antara gerombolan awan yang putih. Untung tak jadi buntung bagi Jihan. Sebabnya tatkala ia sudah beratapkan langit kafe, hujan langsung bertandang. Ia syukuri dan kini sedang menunggu dua gelas cokelat hangat. Dipandangnya jua rinai air yang kecil itu. Kedua tangan diusap-usap mencari kehangatan lantas sedikit ditengadahkan melantunkan doa.
Allahumma shoyyiban nafian
[Ya Allah turunkanlah pada kami hujanyang bermanfaat]. (HR. Bukhari no. 1032)
Usai di-aminkan, bergeraklah ia membuka buku terbaru karya Aksa. Menjamah nama sang penulisnya ternyata cukup membuat Jihan sedikit kesal. Bagaimana pula sosok yang menginspirasinya untuk menulis itu tak bisa dikenali wajahnya. Dari mana asal dan seluk-beluk kehidupannya bak dikurung pada ruang tertutup tanpa sebuah lubang sedikit saja untuk bisa ditilik dunia. Diraba sejenak jua sampul buku tersebut. Tersenyum dan mulai membuka halamannya. Dibaca dengan telaten mulai dari kata pengantar. Sebab sungguh Jihan menyukai susunan bahasa dari relung hati Aksa di bagian tersebut. Biasanya kekalau membaca buku setelah bagian kata pengantar maka ia akan berlari ke halaman paling belakang guna mengetahui tentang penulis, terkhusus Aksa saja tidak berlaku. Halaman belakang cukup disambut dengan sebuah kertas bertuliskan 'catatan' disertai titik-titiknya yang panjang. Ah, Gadis itu amat menyayangkan kalau tak bisa tahu sosok Aksa. Pun lebih disayangkan kekalau buku Aksa tak masuk jajaran best seller. Padahal dari bibit bebet dan bobotnya saja sudahlah melebihi kriteria terbaik.
''Selamat menikmati.'' Pelayan berbaju putih dengan celemek motif kotak-kotak itu datang membawa dua gelas cokelat panas di nampannya. Berhasil merebut titik fokus Jihan dari buku.
''Terima kasih, Mba.''
''Sama-sama.''
Didorongnya jua seglas cokelat itu sedikit menjauh dari Jihan. Tentu ia lakukan karena sengaja memesan dua gelas tak sekadar untuknya saja. Jihan tak sememalukan itu di hadapan umum hingga 2 gelas cokelat ditampung sendiri. Sudah ada jadwal pertemuan dengan seseorang sejak beberapa hari yang lalu. Tak pernah jumpa di sekolah, maka ia putuskan berjumpa di tempat ini.
''Lama banget, ya? Jangan-jangan kejebak hujan lagi.'' Ia bermonolog. Sambil diputar-putarnya jua sendok kecil di dalam genangan air cokelat itu. Asapnya bergerak membumbung sampai di ujung hidung Jihan. Harum dan nikmat.
Di meja paling ujung, seorang wanita memerhatikannya baik-baik. Keraguan sedang menarik ulur rasa percaya terhadap apa yang dilihatnya. Di nomor meja yang sama ada seorang anak kecil dalam pangkuan seorang lelaki seusia anak SMA.
''Yusuf, itu Jihan, kan?''
Cukup disebut namanya saja Yusuf telah merasakan sedikit kehangatan yang berdesir di dalam d**a. Diabai dan memainkan peran lain pula yang ia lakukan kala itu dengan segera. Meski benar-benar tak tahu ada Jihan atau tidak, pandangan mata Yusuf mengikuti arah yang Mita tunjukkan dari gerakan bola matanya jua. Pada sebuah meja, dengan sebuah buku, dua gelas minuman, dan seorang insan bergamis mocca terjamah mata Yusuf.
''Iya, Mba itu Jihan.''
''Kita ajak ke sini aja, yuk! Kasian dia sendirian.'' Mita sudah bangkit dari tubuhnya.
''Eh jangan, Mba.''
''Kenapa? Biar ngobrol bareng di sini kan seru.''
Berpikirlah berpikirlah berpikir Yusuf! Jawaban sudah tak perlu digali keberadaannya. Alasan pemandangan dua gelas minuman di meja Jihan sudah transparan memberi jawaban. Disayang-sayangkan jua ia terlanjur kalut memikirkan apa yang akan terjadi kekalau sampai Jihan berlama-lama di dekatnya. Ditambah si kecil Akmal tak mau diam. Tangan mungilnya bergerak-gerak jua mengusap wajah Yusuf.
''Anu, Mba--''
Mita sekali berdecak lantas diikuti tindakan yang beranjak pergi menghampiri Jihan. Sungguh Yusug enggan membuntutinya. Biatlah doa ditugaskan sampai ke langit supaya Jihan tak mengikuti ajakan Mita. Tak berselang lama, Yusuf diam-diam mendapat asupan udara yang melegakan. Air muka Mita yang sedikit masam dan memaklumi teoah menjadi kemenangngan bagi Yusuf.
''Ternyata dia ada janji sama temennya. Padahal kan seru ya, Suf kalau ngobrol sambil minum bareng di sini,'' katanya seraya mengambil alih Akmal dari pangkuan Yusuf.
''Iya maksud Yusuf melarang Mba nih ya itu. Karena itu.''
''Ya kamu kelamaan ngomongnya.''
P
enghuni dua meja itu sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Jihan telah kedatangan tamu yang ditunggu-tunggunya. Memulai obrolan yang tak sesuai ekspetasi di dalam kepala Gadis itu. Sempat mengembang akan dinyalakan oleh tawa dan dieratkan oleh panjangnya jalur perbincangan. Namun, kini ia sedang menatap Diva, si gadis misterius itu mengaduk cokelatnya. Tadi Diva datang bersama seorang tukang ojek online bertamengkan jas hujan.
''Hm, maaf nih baru ngembaliin buku kamu.''
Kepala Diva dianggukkan saja. Ia tak balas menatap Jihan usai meneguk sedikit cokelat cair itu. Disisirnya jua pandangan kepada rinai-rinai air di luar yang kian tipis. Tampak akan jatuh dengan malas dari atap kafe dan dedaunan.
''Ini buku kamu. Lain kali hati-hati, dong. Ini kan buku privasi kamu.''
''Iya.''
''Tenang aja aku gak baca isinya lebih dalam, kok. Hanya membuka di halaman awal untuk tahu siapa pemiliknya. Dan ternyata, punya kamu.'' Jihan sodorkanlah buku kecil itu di atas meja kepada Diva.
''Makasih, Kak.'' Sudah merangkak jemari Diva hendak mengambil buku tersebut. Pelan-pelan, tetapi seorang pengunjung melintas di belakang kursinya dan tak sengaja menyenggol punggung kursi Diva. Jatuhlah benda berisi lembaran-lembaran kertas itu di lantai. Jihan bergerak hendak membantu, tetapi Diva bergerak lebih cepat memungutnya. Gelagat yang tak biasa hadir jua pada diri Diva. Tergesa-gesa dimasukkannya buku itu ke tas. Tadi buku tersebut jatuh dalam keadaan membuka isi beberapa halamannya. Beruntungnya Diva lah yang beruntung. Sesuatu hal jangan sampai menjadi makanan publik. Dunia Diva seorang diri ada di dalam sana.
''Aku duluan, Kak. Makasih cokelat dan bukunya.''
''Eh kok buru-buru balik?''
''Gak apa-apa. Assalamualaikum.''
''Waalaikumussalam. Ada-ada aja.''
Hilanglah gadis berlingkar mata panda itu dari hadapan Jihan. Kursi di hadapannya kembali kosong. Waktu bergulir urung panjang. Sekadar 45 menit di sana dan sekarang Jihan akan pulang. Hujan usai. Matahari masih tak tampak cerah. Pelangi menarik banyak pasang mata di luar sana.
***
''Waktu yang berjalan tak lagi lambat. Aku bekerja dengan cepat.'' - Jihan-
Ditutup lah benda berbaju hijau itu. Disemayamkan jua pada sebuah tas yang selalu Jihan gendong guna menuntut ilmu. Waktu yang tak lagi lambat telah membawa napasnya di detik ini pada semester enam di SMA. Diikat dengan baik tali sepatu itu supaya tak menjuntai--mengganggu langkah yang dibawa.
''Umi doakan ya, Mi. Semoga Jihan bisa daftar SNMPTN dan lolos!''
''Aamiin ya Allah. Doa terbaik Umi selalu untuk kamu, Sayang.'' Wanita berjilbab hitam itu menjatuhkan kecupannya pada puncak kepala Jihan. Telah dilisankan oleh puteri semata wayangnya kekalau di bulan Januari ini akan diketahui siapa saja yang berhak mendaftar SNMPTN. Kabarnya siang nanti web SNMPTN sudah bisa diakses yang kemudian tiga hari selanjutnya dijadwalkan untuk memilih universitas dan prodi.
Jihan Khairunnisa namanya. Malam panjang akhir-akhir ini kerap ia lahap sampai pukul sebelas dan dua belas. Meregangkan pikiran dari hafalan ilmu Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan mata pelajaran lainnya dengan cara melepaskan sayap kehidupan ke dalam khayalan. Ia hidupkan sumbu kecil dari genangan minyak tanah yang tertumpuk: ide. Pelan dan kecil-kecil saja dahulu. Barangkali kelak disuakan pada garis yang membawa ke jalan besar.
Sebuah novel sudah selesai dalam kurun waktu 3 bulan. Hanya saja masih terdampar di file laptop. Pokok kehidupannya kini sibuk mengkhayal dalam lorong yang tak unfaedah.
Sempat jua di beberapa hari yang lalu hatinya dibuat meleleh oleh Mbok Tati. Jadwal salat Dzuhur kala itu Jihan laksanakan seperti biasanya bersama murid lain. Ia lebih dulu selesai berwudu daripada Wafa dan Salsa. Dipakai lah mukena putihnya menutupi tubuh kecuali wajah. Tak jauh dari posisi Jihan, ia disuguhkan pemandangan Mbok Tati tengah salat Tahyatul Masjid. Kepalanya tertunduk. Wajahnya tentram. Hal-hal dari Mbok Tati mampu menarik ke atas kedua sudut bibir Jihan. Hingga selesai diperhatikan dengan baik, sebab Jihan sedikit merasa peduli pun tak peduli mengingat sewaktu ia memergoki Mbok sedang membuka Iqra.
Di akhir usai salam, Mbok tertunduk. Dalam hitungan detik pipinya sudah basah jua. Sungai kecil telah menciptakan alurnya sendiri di sana. Sedangkan Jihan? Hatinya mengerucut dan bersyukur. Sungguh sejak mendapati Mbok membuka Iqra sedikit saja ia sempat dijamu pikiran negatif lantas dienyahkan karena urusan ibadah dengan Yang Maha Esa bukanlah urusan Jihan. Ya, Jihan berpikiran seperti itu.
Ia bersyukur setidaknya perasaan tidak peduli terhadap ibadah seseorang itu sikap yang 'baik'. Sesungguhnya Jihan sedang disesatkan pada jalan yang tak menyerupai kesesatan.
***