Sudah mengerut
Diam-diam olah suara
Dalam-dalam membaca mata yang buta
Sebaris aksara sedang padam
Di mana waktu merebah pejam
Di mana waktu tak suram
***
''Merekalah peluh yang dihitung cinta pada-Nya. Merekalah lelah yang disayang oleh-Nya.''
***
Barang bawaannya sudah dirapikan. Dilipat baik-baik dan didekap dengan baik. Hendak dibawanya lagi jua ke kelas sebelum waktu salat Dzuhur yang satu jam tiga puluh menit lagi bertandang. Ia seorang saja dari kelasnya yang melaksankan salat duha. Salsa dan Wafa diberi jadwal merah yang sama untuk tidak diperkenankan salat. Insan-insan di masjid masih sepi. Aktivitas sekelompok anak dari suatu kelas di lapangan upacara sedang mengasah diri sebagai petugas upacara. Dipandang-pandang jua langitnya dengan rasa syukur dari halaman masjid. Sepasang sepatu telah diikatkan dengan baik.
''Indah banget langitnya,'' katanya seraya masih menerawang gumpalan awan yang tampak manis itu. ''Masya Allah. Tidak ada keindahan yang melebihi ciptaan-Mu ya Rabb.''
Segaris senyum itu merekah dengan baik. Dibuangnya udara dari paru-paru hingga mendesah sebelum akhirnya bangkit. Jihan harus segera beranjak karena usai habisnya waktu istirahat ini ada jadwal olahraga di lapangan belakang. Harusnya sekarang sudah berganti pakaian. Maka, diajak melangkah cepat lah kaki itu dari masjid. Jauh di hadapannya seorang lelaki sudah resah akan bersua dalam jarak dekat. Padahal Jihan tak tahu menahu tentangnya, pun kalau tahu ia tidak akan merasakan angin apa-apa. Lantas dalam sekian langkah, mereka benar-benar dekat. Berpapasan.
''Eh Yusuf. Assalamualaikum.''
''Waalaikumussalam. E-apa kabar, Han?''
''Alhamdulillah baik. Formal banget, sih pakai acara tanya kabar segala.''
''Ya gak apa-apa.''
''Oke. Eh mau ke mana?''
Jihan apakah benar-benar tumpul daya kepekaannya? Hingga tak sampai ia baca air muka Yusuf yang sudah mendidih. Panas menjalar di dalam d**a akibat detak jantungnya yang tak biasa. Peluh tak bisa berdiam diri meringkuk di dalam kulit. Perlahan sudah merembes jua di punggung Yusuf.
''Itu.'' Telunjuk lelaki itu diarahkan kepada seorang insan di masjid yang tengah mengaji.
''Wah masya Allah, alhamdulillah. Kamu berhasil?''
''Berhasil apanya?''
''Itu si Hanan jadi rajin ngaji!''
''Ya gitu deh.''
''Sipp. Kamu emang sahabat terbaikku, Suf. Semoga Allah memberi nilai lebih untuk kamu karena udah bantu Hanan, ya.''
''Aamiin.''
''Ya udah aku mau ke kelas dulu. Duluan, ya. Wassalamualaikum.''
''Waalaikumussalam.''
Oksigen yang sempat terasa tak ada di udara Yusuf sudah hadir lagi. Bekasnya memberikan perasaan kecut sekaligus kesadaraan dia tentang siapa dia saat ini untuk Jihan.
''Aku sahabat terbaik Jihan?''
Di dalam doa dipinta garis perjalanan mereka tak hanya singgah pada tali persahabatan. Di dalam doa Yusuf, perasaan terpendamnya itu kelak bisa berbuah manis. Yusuf tak tahu, apakah namanya jua kerap ditimang dalam doanya Jihan? Kalaupun iya, tentulah itu sekadar doa baik untuk sahabat. Yusuf jadi tersenyum kecut dan malu sendiri memikirkannya. Sedangkan ia sudah diseru sedari tadi oleh Hanan. Tak ayal sahabatnya itu sudah berdiri berkacak pinggang seraya menggeleng-geleng kepala. Berlagak seorang bos besar dan Yusuf adalah anak buahnya.
''Ngelamunin apa sih, lo dari tadi?''
''Maaf, sih. Langsung, yuk! Kita belajar ngaji!''
''Siap laksanakan dengan senang hati!''
***
Mata pelajaran yang identik dengan kegiatan fisik itu harus berjalan dengan mandiri. Guru pengajar berhalangan hadir dengan alasan ada rapat di suatu sekolah. Harusnya sampai di telinga para murid menjadi kabar bahagia, tetapi tetap saja diganduli rasa malas karena dibeti tugas. Dipinta kepada ketua kelas agar mencatat siapa saja yang tak berlatih lay up shoot untuk ditandai nilai minus nantinya.
Kaki-kaki sudah bergerak memutari lapangan basket. Ada langkah yang jadi gontai, ada langkah yang jadi berjalan, ada pula yang berlari dalam jumlah kecepatan seimbang. Sudah jadi nasib jua kelas mereka mendapat jadwal olahraga jam pelajaran kelima. Matahari bervitamin telah memuai habis jadi sosok yang mengerikan. Ingin hati insan-insan itu tak olahraga, tetapi apa mau dikata? Kalau sudah melangkahi aturan, nilai bisa jadi tumbalnya.
Usai melakukan pemanasan, mereka langsung membentuk jadi dua kelompok. Kelompok ring satu dan ring dua. Lantas di dalam sebuah kelompok itu dibagi kembali menjadi dua regu yakni regu kanan dan regu kiri. Nahasnya, bola basket yang diangkut ke lapangan hanya berjumlah tiga buah. Regu Jihan jua yang menjadi tangan kosong. Kendati sebenarnya di ruang olahraga masih terdapat lima bola basket.
''Ambil sih, siapa yang mau ngambil?'' seorang siswi berkerudung mini bertanya.
''Aye lagi mager.''
''Yang merasa cewek, ambil bolanya di ruang olahraga.'' Seorang siswa berambut keriting berujar demikian. Tengah duduk santai jua seraya bersila dan menyobeki daun-daun kering dari pohon kelengkeng di sana.
''Harusnya cowok!'' Seorang siswi lagi berseru.
''Berhubung cuma gue sendiri cowoknya di regu ini ya harus dimanja.''
Entah kapan waktu selesai kekalau tak seorang insan saja yang mengalah. Menumbangkan ego demi kepentingan bersama. Jihan menyadarinya dan ia segera bangkit dari sana. Bersabar diri menghadapi anggota regunya yang saling mendorong untuk bergerak.
''Nah Jihan ambil bolanya lima, ye!''
Merespons seruan Salsa, Jihan cukup melirik malas saja dan berlalu lagi. Setelahnya justru Salsa terbahak-bahak menertawakan sahabatnya itu.
Hanya butuh waktu dua menit saja sudah tiba di depan ruang olahraga. Kekalau tak saling mendaratkan kesadaran diri, maka waktu dua menit itu tak akan cukup dengan saling berkata 'kamu aja'. Sebab kini Jihan sudah hendak memutar kenop pintu. Memang ruangannya tak pernah dikunci sejak aktivitas anak-anak di sekolahan mulai hidup. Pemandangan alat-alat olahraga terdampar di tempatnya masing-masing. Sedangkan keberadaan bola basket di pojok ruangan paling belakang. Namun yang Jihan dapati titik fokus pandangannya kala itu justru kepada seseorang yang sedang memegang sebuah iqra. Wanita itu dikenalinya, bahkan amat ia kenali.
''Mbok Tati?''
Namanya disebut, wanita itu segera berdiri dari matras. Gerakan tangannya cepat-cepat menelusupkan benda yang dicekalnya tadi ke dalam tas selempangan. Ia raih jua kemoceng di sisinya.
''Nduk Jihan ngapain ke sini?''
''Mau ambil bola basket, Mbok. Mbok sendiri ngapain?''
''Eh Mbok duluan, ya. Lupa sampah di halaman belakang belum Mbok masukin ke gerobak. Mari, Nduk! Mbok duluan, ya. Itu bolanya ada di pojok ruangan.''
''I-iya, Mbok.''
Perginya raga insan itu tak bisa membuat perasaan Jihan lega begitu saja. Kondisinya mendapati Mbok sedang membaca Iqra menjadikan sebuah lautan tanya membanjiri pikiran Jihan. Cepat-cepat ia tepis karena Jihan rasa ini bukan urusannya. Lekaslah ia ambil satu bola basket dari sana dan kembali lagi ke lapangan.
***
''Di parkiran masih rame ternyata.'' Jihan menjulurkan kepalanya dari koridor. Sedikit melihat situasi dan kondisi parkiran sekolah yang masih ramai. Diambilnya dahulu sebuah s**u cokelat cair dari dalam tas. Lantas seorang diri saja menikmatinya sambil membuka lembar halaman-halaman tak nyata dari laptop. Kalau dilihat dari jarak jauh, tiap satu halaman hanya berjarak sedikit dan tampak tebal dengan tinta-tinta hitam.
Jihan menggerak-gerakkan kotak s**u cokelat itu. Kekalau masih ada sisanya, tetapi nihil. Dalam sekejap saja ia sudah menghabiskan satu kotak kecil s**u cokelat. Tidak apa-apa, setidaknya mampu menaikkan hasrat dalam jiwa Jihan untuk menulis. Sebelum terjun dalam dunia keduanya, Jihan lempar kotak s**u cokelat tersebut ke dalam kotak sampah. Lantas fokus. Tersenyum.
Ditariknya napas dengan baik kemudian berkata, ''Bismillahirrahmanirrahim.''
Jemari yang panjang dan putih itu bermain di atas keyboard. Pikiran bermain di belahan dunia ilusi. Sebuah novel yang durancangnya pelan-pelan telah dibekaskan tinta sebanyak sembilan halaman kertas ukuran A4.
Insan-insan melintas di hadapannya, tak sampai di telinga pun mata Jihan. Dalam sepasang mata Gadis itu laksana hadir saja tokoh-tokoh yang sedang mengikuti alur cerita. Kisah yang manis, ia jadi tersenyum. Sempat jua tertawa pelan. Insan-insan yang melintas jadi turut tertawa. Hanya saja alasannya karena baru kali itu mendapati Jihan tertawa seorang diru sambil berhadapan dengan laptop. Sebuah benda mati yang bisa menghidupkan tawanya seseorang? Ah ya, di pikiran siswa-siswi itu mungkun Jihan sedang menonton film.
''Ahhh kamu manis sekali,'' monolognya kepada salah satu tokoh.
''Gue emang manis, kok, Ji.''
Pecah! Imajinasi Jihan jadi berantakan dan seketika hilang. Ia sadar lagi tadi sedang berada dalam dunia yang tak orang lain ketahui.
''Hanan!''
''Assalamualaikum, Ji.''
''Waalaikumussalam.''
''Kok belum pulang?''
''Apa urusannya sama kamu?''
''Gue mau laporan, nih. Gue udah bisa ngaji Al-Quran. Ya, walaupun enggak lancar, sih.'' Ia duduk di samping Jihan. Gerak cepat, Jihan membentangkan jarak.
''Terus? Kenapa harus lapor sama aku?''
''Karena lo udah ngirim guru terbaik buat gue yaitu si Yusuf.''
Jihan tak berminat untuk menjelmakan kalimat ke bentuk suara untuk Hanan.
''Terus gue besok mau bolos.''
Hening kembali.
''Kangen nakal, sih. Walaupun nakalnya gue cuma bolos sekali dalam satu semester tapi itu udah jadi hal yang paling buruk di mata banyak orang. Ya, maklum karena gue masuk ke lingkungan yang disiplinnya bagus banget.''
''Bukannya kamu penerima beasiswa sekolah ini? Aku heran, kenapa kamu masih bisa dapet beasiswa itu. Walaupun cuma bolos sekali, seharusnya gak bisa ditoleransi.''
''Maksudnya lo gak suka anak kayak gue sekolah di sini?'' Dihadapkan jua wajah Hanan ke sisi wajah Jihan. Gadis itu tertunduk merasa serba salah.
''Bukan gitu,'' kata Jihan.
''Gak apa-apa, Ji. Karena gue pernah bolos beberapa kali aja selama sekolah gue sering dipandang kayak gitu. Maklum dan udah gak mempan buat gue sakit hati.''
''Hanan aku minta maaf, ya.''
Kecil saja senyum yang Hanan tunjukkan. Ia memalingkan wajah dan berdiri.
''Hanan--'' Jihan turut berdiri.
''Ji!!!'' Suara lelaki itu meninggi. Katanya, ''Gue tau, kok! Gue tau kalo gue ganteng, Ji! Lo gak perlu memperjelas itu. Gue sadar diri kalo gue ganteng. Pokoknya ganteng.''
Rupa-rupanya lelaki itu bertingkah dengan gayanya kembali. Di akhir kalimat, jemarinya disisirkan pada rambut. d**a dibusungkan dan tangan kiri dimasukkan ke saku celana.
''Kegantengan gue udah diakui dunia. Makasih hari ini lo ikut mengakui. Orang ganteng mau pulang duluan. Wassalamualaikum.''
''Waalaikumussalam,'' jawab Jihan pelan. Dihentak-hentakkan jua kedua kakinya ke lantai setelah Hanan pergi. Antara tawa dan salah mampu menaruh perasaannya kepada hal yang tidak tentu. Meski pada akhirnya Jihan tertawa dan tersenyum sendiri dengan tingkah Hanan. Ada-ada saja Allah mengirimkan teman yang aneh untuknya.
Laptop segera ia matikan dan dimasukkan ke tas. Parkiran sudah tak seramai awal bel pulang seperti tadi. Langkah yang cukup berat tersebab beban di punggung cukup terasa. Laptop dan buku-buku tebal hendak menyaingi berat tubuhnya. Insan-insan di koridor tinggal satu-dua saja. Lantas Jihan berbelok ke halaman parkiran, tinggal hitungan jari jumlah motor yang terparkir.
''Eh, apa ini?'' Tak sengaja jua kakinya hampir saja menginjak sebuah buku kecil. Ia raih dan sedikit dibukanya. Bukan apa-apa, sekadar untuk mengetahui siapa sang empunya buku harian tersebut.
''Diva? Oh punya Diva yang misterius itu.'' Terangguk-angguk jua kepala Jihan. Ia simpanlah buku tersebut di dalam tas untuk esok hari akan ia pulangkan.
***