Seribu satu napas
Engkau satu napas yang berbeda
Dia satu napas yang lain
Jangan disama
Jangan diserupakan
Engkau lain
Dia beda
***
''Di suatu ketika identitas memang patut disembunyikan. Untuk dalam hal berbagi kebaikan, misalnya.''
***
Usai 4 jam pelajaran pertama itu mengundurkan diri, gedung sekolah jadi ramai lagi. Di kelasnya, Wafa mengeluarkan perbekalan berupa beberapa potong bakwan goreng. Kol dan wortel tenggelam di dalam tepung matang itu mampu membuat Salsa merengek-rengek.
''Wortel sama kol?'' tanya Salsa polos. Wajahnya sedang memajang arti yang cukup pahit.
''Ini bakwan.''
''Iya aye tahu, Wafa. Ini wortel sama kol dibikin jadi bakwan.''
''Bagus ding, Fa bawanya yang bertema wortel dan kol aja. Biar pipi Salsa gak makin jatuh,'' celetuk Jihan.
''ENak aje. Pipi aye biasa, ya. Lagian mana bisa pipi jatuh?''
''Iya, maaf. Lagian masih tembeman pipinya Wafa, kok.'' Seperti biasa, Jihan meminta maaf lagi. Seraya melirik ke arah Wafa setelah mengatakan kalimatnya yang kedua.
''Maaf juga. Lagian elu bahasanya tinggi amat. Dimajas-majasin gitu.''
Perbekalan Salsa sudah mendarat jua di atas meja. Usai ia ambil dari loker yang terletak di belakang kelas. Sederhana saja, tampak dari wadah bekalnya yang transparan Salsa membawa nasi beserta sebutir telur rebus yang digoreng. Iya, maksudnya direbus terlebih dahulu lantas digoreng. Tanpa pernak-pernik sambal guna penambah cita rasa, demikian saja makannya. Porsi nasi dan telur tak sesuai. Jika dibandingkan dengan angka, cukup bernilai 3 banding 1. Maka Salsa dan Wafa memutuskan untuk bertolak ke kantin walau sekadar menumpang tempat makan, bukan bernaksud nembeli makanan. Sedangkan Jihan memilih menyegarkan pikiran dengan duduk di bangku depan kelas. Dirasa-rasa sepertinya akan asyik mendengarkan irama dan celotehan suara banyak murid sambil hanyut di sungai lakon yang dibuat manusia.
Tak berselang lama jua, irama dari suara kaki itu bagai tak sampai. Lima halaman pertama dari buku karya Aksa Buana sedang dijelajah oleh Jihan dan sudah membuatnya hilang kontrol dari dunia yang sesungguhnya. Padahal, buku tersebut sudah ia baca. KAli ini adalah kali kedua JIhan mencernanya lagi tanpa bosan. Bukan karena kehabisan buku bacaan.
Jemari Jihan bergerak membuka halaman berikutnya. Bersama dengan sudut bibir yang masih terangkat dan tak lekas merosot. Imajinasi bisa membuat segila itu dalam berbahagia dan berduka yang fana.
''Jika aku tak punya banyak waktu, aku ingin mengabdikan sisa waktuku untuk menulis. Menebarkan cinta yang di suatu saat kekalau aku tak sempat menebarkannya.''
Kalimat itu datang lagi ke dalam kepala Jihan. Dicerna baik-baik. Menutup buku tersebut tanpa melipat halamannya. Lantas berdiri dan merasa kali ini, ia jatuh cinta untuk yang kedua kepada kegiatan tulis-menulis. Di dalam dadanya jadi menggebu-gebu ingin menjadi seorang penulis. Jatuh cinta di dalam rangkaian kata yang penuh cinta.
Gadis itu bangkit. ''Aku butuh s**u cokelat!''
Bukannya butuh pena untuk menulis, tetapi ia justru butuh cokelat. Menenangkan diri saja sejenak dengan meneguk s**u cokelat.
''Aku butuh cokelat cair hangat!''
''Aku butuh cokelat batangan!''
''Aku butuh es krim coklat!''
Tersenyum membayangkan betapa nikmatnya di saat perasaan sedang jatuh cinta untuk menulis itu lantas menikmati segala cokelat dari produksi makanan atau minumannya. Jihan hendak pergi ke kantin untuk menyelesaikan keinginannya itu. Lantas nanti, akan menanggapi perasaan jatuh cintanya.
''Ke kantin dulu, deh--''
''Waktu itu aja, lo nolak gue kasih cokelat.'' Suara ini tak asing, tetapi beberapa hari ini asing singgah di pendengaran Jihan. Barulah kali ini lagi datang mengetuk gendang telinganya.
''Hanan? Ngapain kamu?''
''Assalamualaikum, Jihan.''
''Waalaikumussalam.''
''Eh gue udah mulai belajar ke si Yusuf, lho. Belajar hafalan doa-doa gitu. Gue mau praktekin, nih. Dengerin, ya.''
Sekarang Hanan yang terduduk di bangku panjang itu. Membuka sebungkus roti usai dikeluarkan dari saku celana. Sudah melempem pula ukuran rotinya.
''Bissmillahirrahmanirrahim.
Alloohumma innii auudzu bika minal khubutsi wal khobaaits.''
''Hanan, jorok!''
''Kok?''
''Itu doa mau masuk WC! Ish. Assalamualaikum.'' Pergilah Jihan dari hadapan Yusuf. Antara ingin tertawa dan kesal membuatnya kebingungan sendiri hendak merespons bagaimana.
''Waalaikumussalam. Eh, makasih udah nyuruh Yusuf bantuin gue!''
Tak ada jawaban dari Jihan. Posisinya kian menjauh saja menuju kantin. Hanan bergumam sendiri. ''Kok gue bisa salah, sih? Eh gue salah gak, sih? Apa Yusuf yang salah ngasih doa ke gue? Elah, kagak mungkin. Ini gara-gara semalem gue hafalan dalam keadaan ngantuk!''
***
Desah napasnya masih terdengar cukup berat. Lelah hari ini cukup berarti sebagai penyebab kesulitan bernapas. Perlahan mulai membaik karena telah ia istirahatkan. Dengan posisi kaki dipanjangkan di atas lantai beralas tikar itu, puterinya--Wafa--memijit pelan. Kalau sudah seperti ini membuatnya kian tak tega jua untuk meminta melanjutkan sekolah. Sungguh, menjelang usainya SMA yang tinggal 7 bulan ini Wafa terus kepikiran dunia kuliah.
Ibu menarik napas dan terbatuk-batuk. Kedengarannya amat perih karena berebut jua dengan mencari oksigen. Bergegas lah Wafa mengambil segelas air untuk Ibu. Setidaknya bisa meredakan kerongkongan wanita yang sedang dipelintir rasa perih karena batuk yang tiada henti sejak lama.
''Ibu istirahat, ya.''
Ia mendesah lega. ''Makasih ya, Nak. Ibu udah baik-baik aja, kok. Ya sudah Ibu mau anterin baju-baju yang udah dicuci punya pelanggan.'' Kakinya sudah diajak bangkit.
''Enggak-enggak. Ibu istirahat, ya. IBu harus bener-bener sehat. Wafa aja yang anter pakaian itu.''
''Ya udah. Hati-hati, ya.''
Diambillah tiga plastik besar merah itu dari meja. Wafa kecup jua punggung tangan Ibu seraya mengucap salam. Ia pergi dan mulai mendatangi satu-persatu sang empunya pakaian tersebut. Meelewati g**g sempit, lantas berganti nama g**g yang penghuninya rumah pribadi dan kos. Di sana, di bawah terik matahari yang sedang menguji ketahanan Wafa untuk terus berjalan.
''Assalamualaikum,'' ujarnya sambil menekan bel gerbang rumah. Tak cukup sekali, kali ketiga baru lah tuan rumah menampakkan batang hidungnya. Bersama segaris senyum menyambut Wafa.
''Udah selesai?'' tanyanya.
''Iya, Bu. Ini pakaiannya.''
''Nah. INi uangnya. Makasih, ya.''
''Iya, sama-sama, Bu.''
Baru satu kantong plastik yang sudah selesai amanahnya. Sepasang mata Wafa menyipit melihat ke arah jalanan. Belum melangkah lagi barang satu langkah saja, sebuah motor berhenti di hadapan GAdis itu.
''Assalamualaikum, Wafa!''
''Waalaikumussalam. Jihan? Mau ke mana atau dari mana?''
''Mau ke mana.''
''MAu ke mana emang?''
''Mau pergi ketemu Aksa Buana! Huah dia mau launching buku baru, Fa! Dan ini kali pertamanya dia launching buku! Berarti kejutan buat penggemarnya tahu wajah dia!!!''
''Ya Allah semangat banget, sih ngomongin penulis satu itu.''
''Iya, dong. Mau ikut?'' tanya Jihan tanpa ia tahu apa yang sedang Wafa bawa dan apa yang sedang dikerjakannya.
''Lagi dapet amanah, Han. Anterin baju ke pelanggan.''
Setelah perbincangan itu tak membuat pertemuan mereka hari ini usai. Sebabnya Jihan memangkas waktu untuk Wafa sebelum benar-benar pergi ke lokasi acara Aksa Buana. Tidak masalah jua, sebab acaranya akan berlangsung setelah dua jam mendatang. Jihan saja terlalu disetrum segunung energi jadinya lekas pergi. Setelah mengantarkan Wafa menyelesaikan amanahnya, Jihan berniat akan mengajak Wafa ke acara tersebut. Namun, Wafa berdalih kekalau ia amat tak bisa karena mengingat kondisi Ibu di rumah sedang tak baik.
''Ya udah. Salam buat Ibu ya duhai anak baik. Semoga lekas sembuh.''
''Aamiin. Makasih ya, Han.''
''Sama-sama. Assalamualaikum.''
''Waalaikumussalam.''
Setelahnya mereka mulai berbeda arah. Wafa yang memasuki rumah susun, Jihan yang mulai meluncurkan niatnya ke Gramedia. Aksa Buana, Jihan datang!!!
***
Buku-buku lebih menggoda daripada satu set pakaian. Buku-buku lebih dicinta daripada bunga-bunga di taman. Serta buku hiburan lebih disayang daripada buku pelajaran sekolah. Kali ini saja Jihan diam menatap pemandangan indah di ruangan tersebut. Biasanya gatal tak bisa barang sejenak tak memegang buku. Sebab kali ini berbeda, isi kepalanya sedang tak berkelana pada skenario manusia. Mencatat puisi-puisi yang jadi cinta di hatinya di atas buku catatan kecil. Sebenarnya, hobi menulis puisi sudah sejak lama. Terbukti, kala ia menjadi penyiar radio sekolah lagi sempat membawa buku tersebut. Sayang, isinya sudah berdebu. Sayang pula, isinya hampir membuat Jihan mual sendiri.
''Bismillah. Bikin puisi yang jangan kayak anak SD ya, Han.'' Ia menegakkan tubuh di punggung kursi untuk peserta yang hadir dalam acara launching buku Aksa Buana. Baru Jihan seorang yang hadir dan berminat menjadi salah satunya. Insan-insan lain masih berdiri di antara rak buku dan pergi dengan buku-buku yang sudah dibeli.
''Untuk jiwa yang sempat hilang. Kapan waktu lagi datang. Menyembuhkan hati yang hampir mati. Diculik sang---''
Ujung pena itu diketuk-ketuknya pada dagu. Sedang memutar isi kepala keras-keras.
''Yang apa, ya?''
Satu detik. Lima detik. Dua puluh dua detik.
''Ya Allah susah banget, ya mau buat puisi. Kayak gitu tapi para penulis kok royaltinya kecil? Para penyair disepelekan? Banyak buku dibajak juga. Ah gak adil, memang. Cuma Allah yang adil.''
Lantas setelahnya Jihan kembali pada jiwa yang asli. Sekadar jatuh cinta pada tulis-menulis tidak cukup untuk membuat titik-titik tinta itu lancar dtorehkan. Kadang imajinasi luas, keinginan kuat, tetapi kemampuan urung tajam adanya.
Sejam tiada terasa bagi Jihan menelusuri rak-rak buku fiksi islami. Namun sejam setelahnya itu acara yang dinanti sudah siap dimulai. Ia segera mengambil kursi terdepan usai melewati para peserta yang jumlahnya tak lebih dari 15.
''Alhamdulillah. Ya Allah gak sabar banget mau ketemu Aksa!'' Ia eratkan tangannya penuh harap. Yang hadir kaum wanita saja. Di sebelahnya seorang insan berkerudung pashmina sedang memainkan ponsel.
''Maaf, Mba. Penggemarnya Aksa Buana juga, ya?''
Wanita di sebelahnya itu memalingkan wajah dari ponsel. Meringis malu ke arah JIhan. Katanya, ''Saya cuma ikut-ikutan siapa tau dapet doorprize.''
''Tapi kenal Aksa Buana?''
''Enggak.''
***