Hanan

1192 Kata
Tiada tercacat Manusianya saja yang membuatnya seolah cacat Terlunta-lunta laksana tak punya jiwa manusia Agama terpajang di sudut puisi yang fana Dianggap di lidah Dimati di hati *** ''Katakanlah kepada hatimu sesungguhnya engkau adalah manusia paling rugi di saat status muslimmu sekadar dibagi pada daftar biodata. Sedangkan agamamu adalah agama yang paling sempurna untuk menyempurnakan hidupmu.'' (Lampung, 11 Maret 2019) *** Sudah dua gelas air jeruk dingin dimasukkan ke perut Hanan. Mulutnya lantas sedikit terbuka dan suara sendawa keluar tiada membuatnya bersalah sama sekali. Lelaki di hadapannya sekadar geleng-geleng kepala menanggapi sikap Hanan. Sedangkan ia sendiri urung meneguk barang satu tetes saja. Hawa panas di luar rumah sekadar dirasa oleh Hanan saja. Makanya, dua gelas air dingin tak bisa memadamkan suhu udara panas. Hendak menuangkan segelas air jeruk dingin lagi. ''Usahakan untuk enggak bersendawa sampai bersuara gitu, Han.'' ''Hehe. Maaf, Suf. Perut gue kembung nih rasanya. Kebanyakan minum.'' ''Tapi hasil belajar agama sore ini belum ada, kan?'' Sekali bersikap, Hanan menunjukkan giginya rapi. Meringis. Sebab memang satu jam berjalan dan ilmu islam yang Yusuf bagi laksana urung bisa ia tangkup sempurna. Seperti angin lalu yang menggelitik pundak saja dan selekasnya tak terasa lagi. ''Paham belum?'' ''Dikit, sih.'' Kali ini sekadar Hanan tuangkan segelas air tanpa meneguknya. Melirik ke arah Yusuf seolah mengerti arti pandangan matanya, ia langsung berkata, ''Buat nanti, Suf. Siapa tau gue haus banget biar gak perlu nuangi air dulu.'' ''Iya. Mau diabisin juga gak apa-apa.'' Yusuf menutup buku kajian kehidupan umat muslim bersampul hijau itu. ''Ah gak. Perut gue kembung, begah nanti kalo diisin minuman mulu.'' Sedikit Yusuf terkikik dan melabuhkan pulpen birunya pelan di kepala Hanan. ''Paham kok, paham,'' katanya. Lawan bicaranya membusungkan d**a seraya ditepuk-tepuknya. Gundukan besar rasa bangga laksana hidup di sana. Sedang Yusuf ke belakang hendak mengambil makanan, Hanan tertarik sendiri membaca buku keagamaan tadi. Diambil dan dibukanya perlahan. ''Islam. Islam adalah agama yang paling sempurna dari yang lain. Sayangnya masih banyak manusia yang enggan tahu sudut-sudut yang sempurna itu.'' Hanan membacanya dengan lirih. ''Segala sisi dan sudut tentang islam tidak ada yang dilalaikan walaupun hanya sebesar pasir di lautan. Kehidupan yang mencangkup urusan hati, takdir, aktivitas sehari-hari, dan sejenisnya sungguh sudah dalam pandangan Allah. Tidak ada aturan yang tidak bertujuan demi kebaikan dan demikianlah Allah ingin menunjukkan cara cinta-Nya kepada manusia. Meski banyak manusia yang enggan menegakkan titahan-Nya.'' Ruang di dalam dadanya mendadak mekar hampir sempurna. Sepersekian detik tertegun dan mengulang potongan kalimat indah tadi. ''Dan demikiamlah Allah ingin menunjukkan cara cinta-Nya kepada manusia. Meski banyak manusia yang enggan menegakkan titahan-Nya.'' Hatinya jadi melebam usai mengulang aksara-aksara tersebut. Namun setelahnya, air muka Hanan terkesan menyedihkan dalam sandiwara. Bibirnya melengkung ke bawah dengan teramat sangat seperti anak kecil. ''Huaaa gue dong salah satu dari manusia itu? Ampunilah hamba ya Allah.'' Di ujung kalimat seraya diangkatnya jua kedua tangan itu. Yusuf kembali dan mendapati Hanan demikian jadi ingin tertawa keras-keras. Namun ditahan saja hingga akhirnya menaruh sepiring bolu karamel dan setoples kecil berisi biskuit kelapa. ''Kayak gitu caranya minta ampun sama Allah? Gak sopan banget, Han.'' Pelan-pelan air muka Hanan kembali seperti semula. Tangannya diturunkan seraya mencomot sepotong bolu karamel dari piring. ''Gue bercanda kali.'' ''YAhh cemen.'' ''Cemen gimana?'' tanyanya seraya melahap bolu berwarna hitam kecokelatan itu. ''Tuhkan! Gini kalo belajarnya main-main! Udah baca doa sebelum makan emangnya? Udah main masukin makanan ke perut aja. BAru aja tadi. Sejam yang lalu dikasih tau.'' Sungguh, berdoa sebelum makan urunglah masuk ke dalam kebiasaan lelaki bercelana sekolah cutbrai itu. Masuk tanpa dikawal basmalah dan usainya tanpa disyukur hamdalah. Maksimal selama hidupnya yang paling taat cukup salat lima waktu saja. ''Gue lupa. Maaf-maaf. Nanggung udah di mulut juga kasa mau gue muntahin? Kan mubadzir.'' ''Ya udah pokoknya PR buat kamu hafalan doa-doa. Doa mau makan, mau ke kamar mandi, mau masuk masjid, dan sejenisnya. Tuh bawa pulang aja buku itu. Tapi harus dipelajari. Dihafalkan. Diamalkan. Paham?!'' ''Busett. Biasa aja, Suf. Tumben lo cerewet gini. Tanda hari menjelang malam jadi cerwet, ya? Terus mangkal di perempatan sambil nyanyi 'aku tak mau jikalau aku dimadu'.'' Kalaulah tak terikat niatan karena Allah serta sebagai permintaan bantuan dari Jihan, sudah engganlah Yusuf melakukannya. Baru menjelaskan macam-macam doa saja kerepotan laksana mengatur benang kusut. Maka kali ini ia hanya istighfar menghadapi Yusuf. Mendidik anak TK sepertinya lebih menyenangkan daripada mendidik Hanan. *** Kalau malam hari seperti saat ini Jakarta tampak sekali kehidupan mewahnya. Cahaya-cahaya dari gedung pencakar langit saling menarik perhatian. Tak luput jua dari lampu kendaraan yang tetap sibuk memenuhi jalanan Ibukota. Bus masih bekerja walau malam hari. Naik-turunnya penumpang tak habis-habis kalau urung pengendara bus itu sendiri memutuskan istirahat. Pemandangan paling khasnya di dalam bus ialah para pengamen mulai berdatangan. ''Dengan cinta-Mu ya Rabbi Damaikan hati ini Saat salahku melangkah Gelap hati penuh dosa Beriku jalan berarah Temui-Mu di surga... .'' Suara si gadis kecil berusia 11 tahun itu terus terlantun seraya tak lepas jemarinya dari senar kentrungan. Bus menepi mendapat penumpang baru serta seorang penjual cangcimen. Kernet melepaskan suaranya lagi keras-keras untuk menitah sopir agar melaju. Maka kini, suara antara penjual cangcimen dan si pengamen gadis kecil itu memenuhi bus. Namun sekian detik kemudian lantunan Ya Maulana ditutup. Berganti menyerahkan sebuah kaleng kecil kepada masing-masing insan. ''Kacang kuaci permen. Cangcimen tahu sumedang, telur puyuh, keripik, tisunya-tisunya.'' Turunnya gadis kecil dari bus membuat lelaki berbaju cokelat penjual cangcimen tadi bergerak. Tak sekadar tubuhnya diam di belakang seraya berteriak barang dagangannya, kini telah membawa langkah kaki ke hadapan para penumpang. ''Kacangnya atau minumnya, Mba?'' tanyanya. Insan yang ia tawari tersenyum tipis seraya mengangkat sedikit telapak tangan sebelah kanan. Tanda menolak. ''Tisu, kacang, s**u--'' Urung selesai, sudah ditolak lagi. ''Keripiknya--'' Dari depan sopir mobil itu menyeru nama si penjual cangcimen. Sudah terlalu sering menumpang di bus tersebut hingga hafal jua sang pengemudi itu. ''Hanan! Ada tahu sama cabenya?'' ''Ada, Bang.'' Bergegas ia ke depan. Tak lama kemudian diterimanya lah selembar uang lima ribu ditukar dengan sebungkus tahu sumedang beserta cabai rawit. ''Makasih, Bang.'' ''Sama-sama.'' Lagi, ia tak lelah menawarkan dagangan kepada insan-insan yang belum sempat ia tawarkan. Beberapa lembar uang sempat diterima meski mayoritasnya lebih banyak yang menolak. Pandangan lelaki itu sekarang sedang menerawang ke luar jendela. Berdiri di bagian paling belakang dalam bus. Tak lama kemudian, bus menepi tanpa titah Hanan. Lagi dan lagi, sang sopir sudah hafal di mana tempat Hanan turun. ''Makasih, Bang!'' Cukup dibalas dengan suara klakson bus. Sejenak, ia duduk di tepian jalan dekat pangkalan ojek usai turun dari terminal bayangan. Rasa panasnya  suhu udara mulai hinggap di tubuh Hanan. Tak ada lelah yang menggantungi otot-ototnya sebab telah terbiasa seperti ini. Diusaplah keringat yang sempat menitik di pelipisnya. Sambil menunggu tukang ojek tetangga sebelah kosnya pulang swhingga ia bisa menebeng, diputuskanlah Hanan untuk membuka buku yang Yusuf pinjamkan. Beberapa doa yang harus ia hafal guna lebih terarahnya hidup serta merta keberkahan terus menyiram kalbu. Cara hafalan Hanan dengan membaca objek hafalan, dipejamkan, dilantunkan tanpa suara. Beberapa kali sempat ia garuk kepala karena tak hafal-hafal. Padahal biasanya jika soal pelajaran menghafal ia tak sesulit ini. ''Susah ternyata. Huh.'' Ditutup, dimasukkan tas, dan digantilah dengan sebuah buku tulis. Esok juga ia ada jadwal ulangan harian. Mempertahankan nilai adalah salah satu cara mempertahankan beasiswa kendati banyak dikenal dengan gaya  sebutan playboy. Sebutan yang sekadar dipandang dari hobinya menggombal banyak wanita. Lagi pula, siapa yang mau dengan Hanan? Ia cukup sadar diri dengan segala kekurangan. ''Hanan! Mau balik kagak, lu?'' Beberapa meter di depannya seorang bapak tua memanggil Hanan. Cepat-cepat ia masukkan buku ke tas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN