Dediksi

1344 Kata
  Di jamah netra Jangan pahit sampai hati Barang sekali salah Sedang sampai dipandang kamu Kemarin pun esok Indahnya tiada tampak Diterkam memori Sampai ke hati *** ''Jika hari ini dia salah, barangkali kamu yang berargumen dia salah. Jika kemarin dan esok dia benar, barangkali kamu yang sedang tidak melihat kebenarannya.'' *** Buku saku kecil itu sedang berada di atas telapak tangan seorang gadis. Tak sekadar tertambat di sana, isinya pun dilantunkan dengan suara bervolume rendah. Di pagi buta sudah menjadi penghuni bernyawa pertama yang datang ke kelas. Hal ini, bukan termasuk sejarah bagi Jihan. Kendati tak setiap hari jua. Ia tiba tepat saat penjaga gerbang membuka gemboknya. Insan-insan pekerja saja, bahkan sempat bertatap muka jua dengan Mbok Tati yang sedang memarkirkan sepeda. ''Assalamualaikum, Mbok,'' sapa Jihan. Sengaja sepasang kakinya diajak melangkah, mendekat kepada wanita yang tengah melepas sweater mocca-nya. Dihampiri Jihan bibirnya pun tersenyum jua. Menjawab salam dan mengulurkan tangan guna dikecup Jihan. Suara hilir-mudik kendaraan masih tipis menyentuh langit kota Jakarta. Gedung sekolah sudah dipadamkan lampunya. ''Berangkat pagi buta lagi ta, Nduk? Ada urusan apa?'' ''Enggak ada apa-apa sih, Mbok. Ya, pas dikasih kesempatan pagi aja sama Allah.'' Mbok Tati keluar dari parkiran bersisian dengan tubuh Jihan. Melangkah menyusuri koridor yang langsung disambut ruang kantor. Semua itu, usai Mbok Tati sedikit menyusutkan haris senyumnya. Ada kegelisahan yang tetiba hinggap di ulu hati usai Jihan melontarkan kalimat terakhirnya tadi. Tak jauh dari halaman parkir, Jihan harus berbelok dan naik ke lantai atas untuk menuju kelas. Berpisahlah mereka sampai di sana. Tum dengan urusannya, Jihan dengan tujuannya. Dan sekarang, Jihan sudah mengakhiri bacaan dzikir pagi. Anak-anak kelas telah berdatangan. Sedang Mbok Tati di sudut kamar mandi guru, seraya mencekal alat pembersih lantai, dadanya naik-turun. Setitik air mata sempat berlabuh usai disekanya dengan cepat. Namun, cepat jua hidungnya merespons hingga sudah terisak-isak. Selama ini, hanya dia, cukup dia dikurung dalam permainan panggung sandiwara. Terasa berat. Amat berat untuk bisa dilalui sebenarnya. Lonceng pertanda jam pelajaran dimulai sudah menjerit. Kaki-kaki bergerak ke lapangan guna melaksanakan upacara hari Senin. Barisan langsung ditata dan mereka menyesuaikan diri. Sedikit tampak kecil di penglihatan, Jihan menangkap sosok Hanan yang sedang memasang topinya. ''Buluk banget topinya.'' Ia menahan tawa. Menunduk dan ditatap aneh oleh Salsa. Tiada Jihan tahu, Yusuf barus saja memasuki barisan. Posisinya hanya tersekat beberapa anak kelas saja dengan Jihan. Yusuf melihat Jihan, sedang wanita itu melihat sekejap ke arah Hanan lagi. Menahan senyum. Yusuf menarik bibir ke atas. Pagi yang indah, insan yang diam-diam telah digariskan pada hatinya tersenyum. Sadar jua Yusuf pada akhirnya. Semalaman sudah tak bersama hati yang tenang karena dihubungi Jihan, akibatnya kelopak mata tak kunjung bisa diajak terpejam. Terbawa-bawa ingin selalu membaca ulang chat dari gadis itu. Maka hari ini, ia hampir saja berdiri di barisan anak-anak terlambat. Kurang satu menit tiba di sekolah, maka hal buruk itu terjadi. ''Tumben berangkat agak siangan?'' tanya seorang lelaki di sebelahnya. ''Iya. Pas gak berangkat pagi aja.'' Jawaban yang tak mencerminkan alasan sesungguhnya. Tak mungkin jua Yusuf berkata jujur jika semalam pikirannya disita oleh nama seorang Jihan saja. Upacara hari Senin berlangsung khidmat meski banyak mulut masih jua berbisik kepada kawan bicara. Senin ini pembina upacaranya adalah Pak Aji. Si guru Biologi yang datar dan garing segaring-garingnya. Tiba kala dipersilakan mencetuskan apa jua pidato yang hendak disampaikan oleh pembawa acara. Mikrofon itu diketuk-ketuk beberapa kali. Percobaan jika fasilitas berfungsi dengan baik. Tenggorokannya melakukan pemanasan dengan berdehem beberapa kali. ''Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.'' ''Waalaikumussalam warrahmatullaahi wabarakatuh.'' PAndangannya disebarkan ke sekililing lapangan. Pembuka pidatp usai disampaikan, kini berada pada isinya. ''Sebagai makhluk hidup yang sudah seharusnya peduli dengan kesehatan, kita semua harus menjaga kebersihan dengan baik. Ya, selain itu juga kan kebersihan adalah sebagian dari iman.'' Dari barisannya, Salsa tak tahan membungkamkan mulutnya. ''Guru Biologi, bahasanya kagak jauh-jauh juga dari Biologi ye, Han?'' Jihan mengangguk dan tersenyum saja. ''Sebentar lagi akan UTS. Jangan lupa kewajibannya dilaksanakan, ya. Sudah tahu, kan apa kewajibannya?'' ''Bayar uang komite, Pak!!!'' Basi memang. Sudah tak lagi menjadi bagian yang langka bagi para murid. Kewajiban menjelang ujian di samping belajar adalah membayar uang komite. ''Jangan lupa belajarnya juga. Paham?'' ''Paham ...'' ''Yang kelas 12,  dipersiapkan dari sekarang setelah lulus mau lanjut ke mana. Jangan sewaktu pendaftaran jadi gelisah, bingung. '' Topik perencanaan usai kelas 12 hendak ke mana, tak bertepi di bibir Pak Aji saja. Jadi menyebar cepat ke murid-murid. ''Eh, Fa ngomong-ngomong elu mau lanjut kuliah di mana?'' ''Belum tentu bisa lanjut atau enggak, Sa.'' ''Kenape? Kok begono?'' Wafa menarik napas dan diempaskannya ke udara. Tak sampai sepasang bola mata Wafa digerakkan ke arah Salsa. ''Kuliah enggak murah, Sa. Ilmu kan mahal.'' Pikiran Salsa jadinya berkeruh atas jawaban Wafa. Sebab, perbandingan kondisi ekonominya dengan Wafa amat tipis perbedaannya. Hendak mendung, hanya saja Salsa tutup-tutupi dengan ganti bertanya kepada Jihan di sebelah kanannya. Ia gerakkan sedikit siku tangan ke pinggang Jihan. ''Nanti lulus SMA mau lanjut kuliah di mana?'' Urung hadir jawaban. Sekian detik yang terasa cukup lama lantas Jihan ringkus pertanyaan Salsa dengan jawabannya. ''Aku belum berpikir sejauh itu, Sa. Biar lihat nanti aja.'' Di bawah topi abu-abu berlogo khas pendidikan SMA itu, sebagian wajah Jihan ditampar matahari. Kelopak matanya mengerut. Tak menaruh langkah hendak ke mana usai SMA dalam ruang lingkup pikiran yang berat. Santai saja, menurutnya. Mengikuti arus waktu akan lebih baik daripada menyusun rencana yang bisa mematahkan seisi jiwa dan raga. Padahal cara pemikirannya yang seperti itu sebenarnya amat berantakan. *** Semalam memang tak disangka-sangka ternyata Yusuf dengan gesit membalas chat-nya. Padahal di waktu dini hari, tetapi cukuplah tanpa perlu ditelisik sampai mendalan. Yusuf sudah Jihan pahami, lelaki itu kian waktu kian saleh. Waktu dini hari terlebih sepertiga malam terakhir bagi manusia seperti Yusuf bukanlah waktu lengang. Di sana waktu yang teramat sibuk.  Membicarakan segala macam, mengungkapkan segala keinginan, dan berharap dikabulkan kepada Allah. Tentang salat tahajud yang kini sedang Jihan susun aksaranya dari buku ke hati. Di masjid sekolah, yang memang kasih pukul delapan pagi. Usai upacara mendapat kabar guru-guru akan rapat dan seharian ini jam sekolah kosong, gerak cepatlah Jihan ke masjid. Ia tertarik untuk membaca sebuah buku dari salah satu lemari kaca masjid yang memang khusus untuk buku bacaan nonfiksi islami. Sudah mengambil air wudu, lantas Jihan khusyuk membaca. Bola matanya berputar menelusuri paragraf-paragraf di hadapannya. Terkagum, mengangguk, ber-oh paham, dan takjub jadi hingar-bingar di ruang hati. ''Masya Allah. Ini baru beberapa manfaat dari salat tahajud? Mencerahkan wajah sehingga tampak kesalihannya, salat sunnah utama yang dilakukan nabi, waktu mustajabnya untuk berdoa, dan--.'' Rasa haru dan malunya melesak dalam. Sejarah salat tahajud yakni sebenarnya salat wajib pada zaman Rasulullah. Sejarahnya yang baru Jihan ketahui sekarang, sedang selama ini ia hanya mendirikannya. Tak tahu-menahu dan tak coba mencari tahu. Sungguh, Jihan kian merasa keriput kekalau ditanya urusan agama. Usai dibacanya buku tersebut meski tak sampai habis, Jihan beristighfar tiga kali. Menyadari ilmu keislamannya masih banyak yang berlubang. Lantas mengenakan mukena dan salat duha 12 rakaat. Hari-hari puasa yang dijalaninya lebuh semangat untuk dipadati dengan segala macam ibadah kepada Allah. Ingin segala harapan menjadi berwujud nyata. Sebab, selama seorang insan berpuasa, kala Allah berkehendak, makbullah doanya. Salat dan doa telah dilepaskan ke langit pukul sembilan lebih tiga belas menit, ia lanjut membaca Quran. Pukul 10 kurang dua puluh menit, ia memutuskan untuk kembali ke kelas. Seraya mendekap mukena, Jihan berjalan santai saja. Sesekali menyapa para insan yang sempat bersitatap dengannya. Hendak menaiki anak tangga, langkahnya sempat tercekat. Pemandangan ramai di depan mading laksana magnet bagi Jihan. Turut penasaran dengan isi mading. Tak jauh dari sana, pintu ruang redaksi menyeruak. Diva keluar seraya membawa selembar amplop dengan wajah bersinar. Angin bahagia laksana menyapu muka, menciptakan garis senyum yang sederhana sejuta makna. Jihan abai, ia pergi menghadap mading. ''Assalamualaikum. Permisi, boleh gantian bacanya?'' Mereka mendengarkan permintaan Jihan. Lekas pecah menjadi dua bagian lah kerumunan itu. ''Ada apa sih memangnya?'' tanya JIhan kepada seorang siswi karena tak mendapati hal menarik apapun dari sana. ''Itu di kolom puisinya. Ada puisi karya murid sekolah ini. Nama penanya masih asing, sih.'' ''Ohh.'' Tak sekadar demikian, Jihan penasaran dengan puisi yang disebut bagus itu. ''Hinggaplah di tamanku Kumbang merayu Aku melayu Engkau sedu salahku katamu Untuk laksana darah yang kita tuang Bergenggam bertiga Meretak sakit Malam-malam sunyi tak ada taman yang harum lagi _Dediksi ''Dediksi,'' gumam Jihan. Selekasnya, ia tersenyum. Iya, puisi yang indah. Siapa penyairnya? Nama pena memang kerap membuat gemas. Sudah Aksa Buana, akankah hadir lagi nama pena baru, Dediksi? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN