Sudah keras
Dilupa dan lepas
Hilang kadang tak lekas merasa bernoda
Lenyap saja di ujung persembahan
Mengaku-ngaku cinta
Di hadapan-Nya masih diikat dunia
***
''Pada kenyataannya, ada cinta dituturkan pada sebatas kata saja. Bilang cinta kepada Yang Mahaesa, tetapi di hadapannya masih terikat tali-tali dunia. Hingga bertanya, 'duh ini rakaat berapa, ya?' duh seburuk itu.''
***
Tentang cinta yang menjadi buah tanya tetapi mudah dikata-kata 'saya cinta'. Sekarang kalimat itu sedang terpekur di pikiran Jihan. Alangkah indah hidup ini kalau yang dibicarakan tak sekadar singgah di lidah. Namun ada muaranya yakni di hati. Samudera terluas yang pantas dimiliki tiap manusia dan dihuni oleh masing-masing haknya. Sekarang, Jihan sedang memasang pendengarannya terhadap penjelasan cinta kepada Rabb. Sedari tadi, sekiranya lima bepas menit usai melaju.
Ia duduk di samping Lusi, tepatnya di halaman panti tempatnya taman bermain. Sedang belajar seraya menikmati alam yang tak pantas disia-siakan keindahannya. Pun tak pantas dikufuri keberadaannya.
''Hayoo di sini siapa yang gak cinta sama Allah?'' sepasang mata Lusi sedang bergerak menyisir wajah anak-anak didiknya. Tiada barang satu tangan saja yang terangkat ke udara. Sedangkan wanita di samping Lusi mengulum senyum seraya dilemparkannya pandangan bertanda tanya kepada anak-anak.
''Gak ada yang gak cinta sama Allah di sini?''
''Enggak!!!'' Gadis-gadis kecil itu berseru dientakkan api semangat.
''Coba Umi pengin tanya, nih sama anak-anak kesayangan Umi di sini. Yang bisa jawab, seperti biasa acungkan tangan dulu, ya?''
''Iya, Umi.''
Umi bangkit dari duduknya di atas tikar. Sengaja sepasang kaki dibawa melangkah kecil jua mengelilingi anak-anak. Sembari pertanyaan itu ia lemparkan bahwa, ''Nah tadi Umi udah jelasin tentang cinta sama Allah. Tapi masih sedikit. Coba Umi tanya untuk menambahkan apa yang sudah Umi jelaskan tadi. Jadi, apa bukti cinta kita kepada Allah?''
Cepat-cepat tangan saling diangkat. Berebut menjawab tak ingin kekalau tak kebagian.
''Aku Umi.''
''Aku tahu-tahu.''
''Ara tahu, Mi.''
''Mi aku tahu.''
''Aku dong, Mi. Aku.''
Langit-langit jadi ramai dengan suara mereka. Jihan sekadar geleng-geleng kepala saja melihat tingkah menggemaskan di depan matanya itu. Ujung belakang kerudung hijaunya sempat berayun sedikit dibawa angin. Akhirnya cekal agar tak sampai tersingkap.
''Anak Umi yang pinter gak bakalan berisik. Biasanya kayak gimana?'' Kesepuluh jemari tangan Lusi saling dikaitkan, berposisi di belakang badannya. Lantas mulut-mulut yang tak ingin kalah itu jadi saling mengalah. Tangan masih tetap diacungkan.
''Nah, kalau begini kan pada cantik, ganteng, dan pinter. Tadi Umi udah tahu siapa yang lebih cepat mengacungkan tangan untuk menjawab. Silakan, Arya jawab pertanyaan Umi.''
Dan, menguaplah harapan banyak insan itu. Mengembuskan napas. Berkata, ''Yahh.''
''Bukti cinta kita kepada Allah harus ditunjukkan dengan cara beribadah, Mi,'' kata Arya.
''Mantul! Mantap betul! Beri tepukan dong untuk Arya. Selanjutnya ada yang mau bertanya?''
Satu tangan saja yang diangkat tinggi-tinggi. Semangat tiada kiranya. Setelah Lusi mempersilakan gadis kecil itu bertanya, maka bertanyalah ia.
''Bagi Umi, cinta kepada Allah itu apa? Beda gak cinta sama manusia?''
Manik matanya menatap Umi yang sudah duduk di depan lagi dengan lurus-lurus. Berada di antara anak yatim seperti mereka, memanglah amat sensitif terhadap pertanyaan apa-apa jua yang berhubungan dengan Ibu dan Ayah. Pertanyaannya memang tak amat kentara, tetapi sudah menjurus kepada hal yang selalu tentang ayah dan ibu.
Sedang Umi tata kalimatnya baik-baik. Diredakan kegugupannya dengan memberi lafadz basmallah di kalbu beberapa detik saja.
''Bagi Umi Lusi, cinta kepada Allah itu sebuah keindahan yang tiada duanya. Sebuah cinta yang utuu dan sempurna. Cinta yang bisa membuat kita, bahwa dunia ini tidak ada apa-apanya. Maksudnya, keindahan di dunia seperti alam yang hijau, pagi yang sejuk, senja yang indah, bangunan yang megah, semua itu masih kalah dan gak akan bisa menjadi yang terpenting bagi manusia yang sangat-sangat mencintai Allah.
Terus, cinta kepada manusia. Urutan cinta itu yang paling utama adalah kepada Allah. Kalau kita mau cinta kepada manusia, cintailah ia karena Allah. Maka, cinta kita kepada manusia itu gak akan melebihi cinta kita kepada Allah. Bedanya apa? Jelas bedanya adalah, kalau kita cinta kepada Allah gak akan pernah dibuat sedih. Pokoknya akan dibuat seneng aja sama Allah. Itu menurut Umi, ya.''
''Tapi, Mi kenapa Allah bikin kita sedih dengan mengambil orang tua kita?''
Alhasil, banyaklah kepala yang mengangguk menyetujui. Jadinya hati Jihan dibuat mendung seketika. Nanti bisa saja menjelma gerimis. Sedang kini ditahan dulu. Mereka butuh manusia yang lebih kuat untuk bisa dikuatkan. Maka, haram hukumnya bagi Umi untuk sedih di hadapan mereka.
''Begini, putera-puteri Umi ini tahu, gak siapa yang menciptakan kita?''
''Allah.''
''Yang memiliki kita?''
''Allah.''
''Yang memberi kita kehidupan?''
''Allah.''
Lusi lebih menegakkan tubuhnya.
''Misal Umi minjem buku gambar kalian. Buku gambarnya dikembalikan lagi ke kalian. Nah, Umi pantes gak buat sedih dan pinjem buku gambar itu lagi ke kalian? Sedangkan buku gambarnya bukan punya Umi.''
''Enggak pantes, Kak.''
''Kalian cinta kan sama bukunya sampe gak bisa minjemin ke Umi lagi? Tapi kalian juga cinta ke Umi, kan?''
''Iya, Mi.''
Terangkatlah telunjuk Lusi ke udara. ''Dan akhirnya setelah kalian ambil buku itu dari Umi, Umi malah dapet tawaran pinjeman buku dari banyak teman.''
''Nah. Begitu. Jadi, Allah ngambil Ibu dan Ayah kalian bukan karena gak cinta sama kalian, tapi Allah lebih berhak untuk mengambil ibu dan ayah. Allah selalu punya cara yang berbeda dan indah untuk menunjukkan bukti cinta kepada hamba-Nya. Pokoknya, kalau kita cinta sama Allah, ikhlas dengan apa yang Allah takdirkan, yakin gantinya pasti lebih baik.''
Semua itu sampai kepada banyak hati yang berada di sana. Jihan jadi terpekur sendiri tentang cinta kepada Allah. Allah mencintainya dengan cara memberi kedua orang tua di sampingnya, sedangkan mereka anak-anak yatim-piatu dicintai Allah melalu banyak hati manusia serta mudahnya doa yang diijabah untuk ibu dan ayah mereka.
Materi masih berlanjut dengan bahasa yang kanak-kanak. Supaya mudah dicerna otak dan hati mereka. Perlahan, suasana yang sempat membiru itu jadi pudar jua. Hilang dibawa tawa yang mampu Umi ciptakan untuk mengganti warna abu-abu di hati mereka.
''Hayo cinta sama Allah tapi salat masih lupa rakaat? Ada gak ya, di sini?''
''Umi-Umi,'' panggil Lia.
''Kemarin Ara bilang lupa rakaat pas salat Dhuha, Mi.'' Berakhir gelak tawa dari mulut Lia, sedanf Ara menahan senyum saja. Malu jua jadinya.
''Pokoknya kita harus khusyuk kalo salat. Ini juga salah satu bukti cinta kita sama Allah dengan tidak membawa-bawa urusan dunia saat kita beribadah.''
''Caranya khusyuk saat salat gimana, Mi?'' tanya Ara pada akhirnya.
''Kapan-kapan kita bahas ini, ya. Sekarang udah waktunya makan siang terus kita sakat dzuhur berjamaah.''
''Yah Umiii.''
''Salat lebih penting, Sayang. Iya gak, Kak Jihan.''
Segaris senyum lembut terbit di bibir Jihan. Kemudian mengangguk tanda mengiyakan.
***
Aku tak semenyedihkan itu
Hidup dalam rangkulan cinta
Bertabuh dalam gelisah bisa dibagi pada dua dada
Aku kepala yang dibelai
Hati yang dijaga
Dicinta tolong jangan melupa
Dipandanglah sekali lagi dua bait puisi yang sekian detik lalu dituntaskan di atas kertas. Tentang hari ini yang menjadi lebih berarti. Bahwa posisinya tak lebih menyedihkan daripada banyak manusia di luar sana. Kendati ada yang patut dibawa berduka, tetapi mensyukuri dan berbahagia terhadap apa yang ada itu lebih mulia. Niscaya Allah akan kian cinta.
Dari jam-jam yang cukup padat hari ini, Jihan merasa sedang isi kepalanya masih bisa dibagi. Sudah satu minggu jua ia rasakan. Perihal Hanan, yang tak lagi tampak batang hidungnya untuk memaksa Jihan. Aneh saja rasanya dan ya, terutama perasaan bersalah sedang meluas di sabana yang Jihan punya. Tak tenang. Nahasnya perkataan JIhan kepada Hanan pada hari terakhir bertemu itu tak bisa ditarik lagi.
''Ya Allah Jihan salah gak ya sama Hanan? Jihan cuma takut jadi menyesatkan karena ilmu Jihan yang belum banyak untuk dibagi.'' Usai mengusap air muka yang sedang risau itu, Jihan bergumam demikian.
''Kayaknya kata-kata aku waktu itu nyakitin hati Hanan, deh. Makanya sekarang dia gak lagi nyamperin aku.''
Diam sejenak.
''TApi. Ih kenapa aku jadi mikirin Hanan, sih? Astaghfirullah.''
Pukul delapan lebih sepuluh menit, ditutup lah buku yang menjadi rumah puisi-puisi Jihan itu. Ia membaringkan diri di atas kasur usai sebelumnya semlat berwudu dan berdoa.
Malam tak sesingkat itu untuk dilalui oleh hati yang sedang dilanda gelisah. Jadi kian panjang laksana diulur-ulur hingga kesulitan menemui ujungnya. Tentram Gadis itu terlelap di mimpinya. Waktu bergesar enam jam saja jadi pukul 2 dini hari. Lantas kelopak matanya tak lagi mengatup. Dikira matahari sudah bangkit dari persembunyian. TErnyata kegelapan di langit masih mendominasi. Terlihat hampir jelas dari tirai jendela kamarnya yang putih.
''Masih jam dua ternyata.'' Berat suara Jihan keluar. Ia bergegas ke kamar mandi guna mengambil air wudu. Kemudian membentangkan sajadah dan bersujud diri itu sendirian saja. Jadinya sedang berduaan dengan Allah laksana mampu menghadirkan suasana romantis. Mencurahkan segala gundah-gulana yang sedang mengganduli d**a Jihan, Allah mendengarkannya dengan seksama. Bersujud, tanpa mencari pundak lain dahulu untuk dijadikan pendengar cerita.
Seusainya salat Tahajud dan Istikhara, sudah mantaplah hati Jihan untuk menggerakkan tangannya menghubungi seseorang. Yusuf. Iya, Yusuf bukan Hanan.
''Bismillahirrahmanirrahim,'' ujarnya.
Aplikasi hijau dalam ponsel dibukanya. SEgera dicari kontak atas nama YUsuf di sana.
Jihan:
''Assalamualaikum. Yusuf, maaf ya malem-malem ngeganggu. Jadi gini, aku mau minta tolong sama kamu.''
Sengaja tak Jihan langsung utarakan maksudnya. Sebab tiba-tiba jadi takut niat baiknya menjelma kesalahpahaman yang berfokus pada hubungannya dengan Hanan. Pasalnya ia tak pernah memiliki masalah dengan lawan jenis. Akhirnya usia Jihan kirim ke kontak Yusuf ia putuskan untuk membaca Al-Quran. Sebagai syifa yang artinya obat. Guna menenangkan hati JIhan.
Di dalam atap rumah yang berbeda, cowok bernama Yusuf itu masih mematikan ponselnya. Ia baru saja mengakhiri salat tahajud. Melipat sajadah dan menaruh peci di tempat asal. Hendak mengaktifkan ponsel, setelah sebelumnya duduk di tepian kasur dan memutar ulang doanya tadi. Doa yang dipintanya bisa dijodohkan bersama seorang gadis yang hingga kini urung beranjak dari hati.
''Aku masih SMA tapi udah minta dijodohkan sama Jihan oleh Allah. Astaghfirullah. Fokusmu ke kebahagiaan Ibu sama Ayah dulu, Yusuf!''
Dan malam itu kembali berjalan bersama debaran dalam d**a Yusuf yang tak mau diam usai menghidupkan ponsel. Nama Gadisbyang disebutnya dalam doa muncul di daftar notofikasi chat w******p.
***