Daging Tak Bertulang

1563 Kata
Sudah dituntun berapa lama? Namun melangkah saja masih tertatih Di bawah alam sadar memerih Memasung suatu jiwa tanpa diguru Kamu lekas hadir Tanpa dipikir Luka-luka tak ayal cepat terukir *** ''Berikan aku pilihan antara sebuah pisau atau lidahnya seorang insan. Niscaya akan kupilih sebilah pisau yang nyata darah lukanya daripada lidah yang tersembunyi arti nyerinya.'' *** Sekarang, Yusuf memang sedang membuang pandangan dari Jihan. Dia tidak tahu, bahwa tadi Jihan sempat menangkap pandangannya. Beberapa detik saja, sebab keburu lelaki itu masuk toilet. Tak ada kecurigaan apa pun di hati Jihan. Awalnya justru ia sempat akan menyapa Yusuf, tetapi keburu ia beranjak pergi. Jihan kembali menikmati makanan bersama Mbok Tati. Sempat absen seminggu, kini wanita paruh baya itu telah kembali bekerja. ''Kapan-kapan boleh dong, Jihan ke rumah Mbok?'' Jihan melirik ke arah wanita di hadapannya yang sedang menyuapkan makanan tanpa sendok. Jauh lebih nikmat rasanya langsung dari jemari. ''Oh ya boleh. Siapa juga yang melarang ta, Nduk? Mbok malah seneng. Apa nanti kuliah mau di Jawa Tengah?'' Jihan urung bicara lagi. Beberpa detik kemudian, ia mengawali jawabam dengan berdehem. Mengunyah makanan seraya dipandangnya penuh makna bunga-bunga di taman belakang. ''Jihan belum tau, Mbok mau lanjut di mana setelah SMA ini.'' ''Lha? Jangan begitu ta, Nduk. Masa depan itu ndak bisa dipikirkan singkat. Butuh waktu, biar prosesnya matang apa-apa yang mau dituju.'' ''Ya, Jihan belum berpikir sampai sana sih, Mbok masalahnya. Buat Jihan, apa yang ada hari ini maka yang harus Jihan jalani. Soal hari esok, toh kita sendiri gak tahu masih diberi kesempatan hidup apa gak.'' Sampai ke gendang telinga Mbok Tati, ia mengerutkan pikirannya menerima cara berpikir Jihan. Sungguh ia yang berpendidikan amat rendah ingin menolak keras-keras terhadap apa yang Jihan katakan. Masa depan memang belum tentu bisa dihisap udaranya, tetapi menciptakan rancangannya akan bagaimana sungguh bukan suatu kesalahan. Kesalahan yang terjadi adalah, menganggap masa depan seolah benar-benar tidak akan bisa dirasakan. Sekarang, Jihan mengemasi kotak makannya. Merapikan dan memasukannya lagi ke tas bekal. ''Alhamdulillah. Berhubung Jihan udah selesai makan, Jihan mau ke perpustakaan. Makasih ya, Mbok udah nemenin Jihan makan.'' ''Lha. Ya Mbok yang bilang makasih, ta.'' ''Ya udah Jihan pergi ya, Mbok.'' Tangannya diulurkan. ''Assalamualaikum.'' ''Waalaikumussalam. Eh, bentar, Nduk.'' Kaki Jihan sudah terhenti, Mbok mengambil sebungkus plastik hitam di sampingnya. ''Ini buat kamu.'' ''Wahh. Apa ini, Mbok?'' ''Sedikit oleh-oleh.'' ''Masya Allah. Makasih, Mbok!'' Riang-gembira hatinya. Sedikit Jihan mengintip isi dalam plastik tersebut meski hasilnya tetap saja: tak terlihat isinya. ''Sama-sama. Ya udah sana! Buku-buku di perpus udah kangen sama kamu. Pengen dijenguk.'' Sedikit tergelak tawa jua Jihan menanggapinya. ''Mbok bisa aja.'' Sedangkan kini, latar tempat yang dipijak sepasang kaki Jihan sudah berganti. Tak lagi halaman belakang sekolah, sudah berada di koridor menuju perpustakaan. Di tangan kiri, masih dicekalnya jua tas wadah bekal. Murid-murid berlalu-lalang ke mana saja sesuai tujuan mereka. Satu-dua insan tak berkerudung meski memakai rok dan baju tangan panjang berada di sana. Bukan sebab mereka non-muslim, melainkan--entahlah apa jua alasannya. Cukup mereka yang tahu, yang sedang mendirikan hak daripada kewajiban dari Allah. Padahal sejatinya, kewajiban adalah sesuatu yang sudah mutlak. Bertanda tak bisa lagi diganggu-gugat. Tiba di depan ruang perpustakaan, ia tuturkan salam. Disambutlah oleh Bu Mala. Wanita itu sedang meneguk air minum dari botol. ''Jihan! Kebetulan sekali kamu datang.'' ''Ada apa emangnya, Bu?'' ''Tolong jaga perpus dulu, ya. Ibu mau ke toilet sebentar.'' ''E--tapi, Bu.'' ''Sebentar.'' Sudah pergi jua Bu Mala dari perpustakaan. Setelah sebelumnya sempat ia tinggalkan kunci perpustakaan di telapak tangan Jihan. Sementara kini Jihan hanya bisa mengerutkan sedikit bibirnya seraya duduk di kursi Bu Mala. Terdapat beberapa buku yang sepertinya masih baru di meja itu. Gatal, Jihan raih jua sebuah buku bersampul dasar putih. ''Yahh.'' Ia kembalikan lagi. Tak sesuai selera. Sebab bukan buku fiksi yang menjadi daya cintanya. Dua orang siswi berjilbab segi empat disingkap tanpa menutup d**a ke mejanya. Membawa buku masing-masing yang hendak di masukkan ke daftar peminjaman. ''Silakan tanda tangan di sini, ya.'' Jihan serahkan buku berisi daftar pinjaman siswa. ''Makasih, Mba,'' kata Siswa itu seraya berlalu. ''Iya, sama-sama.'' Mereka sudah pergi, datanglah yang lain. Seorang siswi bermata sayu dan dihiasi lingkar hitam. Biasanya dinamai mata panda. Masuk sekadar dalam dengan hawa dingin yang membuat Jihan hampir tertegun. Pasalnya, siswi itu adalah si dia di hari yang lalu-lalu sempat menitipkan flashdisk dari Pak Tio. Diva hanya melewati Jihan. Tak ada sedikit sapaan walau garis senyum tipis. ''Astaghfirullah. Mungkin dia gak tau ada gue di sini. Plis, husnudzhon, Jihan! Husnudzhon!'' Dari kursinya, Jihan membuka Alquran yang berada di meja Bu Mala. Membaca terjemahan, seraya pandangan matanya tidak lepas jua dari titik fokus ke siswi misterius itu. Tidak Jihan tahu, namanya adalah Diva. Diva Mahestika. Di sana, Diva fokus membaca novel fiksi yang ketebalannya mampu membuat mata perih. Laksana beratnya lebih berbobot daripada sang empunya. Tak lama kemudian, Diva beralih menyudahi bacaannya. Membuka buku tulis, hendak membekaskan tinta, tetapi ia tutup lagi. Mengembalikan novel fiksi tersebut di raknya yang semula. Lantas bertolak hendak keluar dari perpustakaan. ''Eh sebentar!'' Jihan berseru. Gadis itu sudah diterkam rasa penasaran yang tak main-main rupanya. Nahas, seruan Jihan mampu mengundang banyak pasang mata jadi melihat ke arahnya. Jihan abai. Masa bodo. ''Gue?'' tanya Diva. Memastikan kekalau insan yang diseru Jihan adalah dirinya. ''Nama lo siapa, sih?'' ''Diva.'' Jihan sempat ber-oh ria sambil mengangguk, Diva pergi setelah meninggalkan salam. ''Misterius banget,'' gumamnya. *** Sudah jadi kesekian kalinya botol plastik berisi saus itu dipaksa mengeluarkan isinya. Urung diganti oleh pemilik warung dengan yang baru. Kendati demikian, tetaplah daging tak bertulang Hanan menikmati dengan khidmat. Seusainya Yusuf dari toilet tadi, Hanan segera pergi meninggalkan. Enggan ditanya-tanya lebih dalam lagi perihal Bahasa Indonesia. ''Enakan juga makan cireng daripada gue harus ngerjain soal bahasa.'' Ia bermonolog. Seraya terus mempekerjakan gigi-giginya menghaluskan cireng. Memang lebih enak makan cireng bagi Hanan. Daripada dihadapkan dengan soal Bahasa, IPS apa lagi, terlebih IPA yang sudah dianggapnya laksana monster mengerikan yang bisa membunuh otak dengan rumus-rumusnya. Tiga tahun Hanan beradaptasi di kelas Bahasa, ia pilih karena memang tak merasa mampu bergelut di pelajaran sosial serta alam. Namun, bukan berarti ia masternya di bidang sastra. ''Duh, udah abis dua lagi. Nambah gak, ya?'' Ditatapnya beberapa potong cireng yang masih berbaring di piring. Amat menggoda, tetapi memikirkan kondisi sakunya yang akan jebol kkalau HAnan mengambil lagi. Maka, ia urungkan. ''Perut. Tahan, ya. Lo masih butuh nasi. Bukan cireng. Sampe nanti sore, kudu kuat dulu. Cari duit.'' Di sampingnya, melintas Wafa dan Salsa baru memasuki kantin dan justru memancing pertanyaan di kepala Hanan. ''Eh Wafa, Salsa!'' Otomatis langkah Wafa dan Salsa terhenti. ''Ape?'' Tanpa bersama kesan santai, Salsa bertanya demikian. Berkacak pinggang jua. ''Biasa aja, Sal ya elah. Gue cuma mau tanya, si Jiji kemana?'' ''Jihan maksud lu?'' ''Iya.'' ''Jihan ke mana, Fa? Fans-nya yang satu ini ngejar-ngejar mulu.'' Salsa berpaling ke wajah Wafa. ''Tadi sih pas kita lewat perpus, gue lihat dia ada di sana. Kayaknya lagi jagain perpus disuruh Bu MAla.'' ''Whoaaa siap! Makasih Wafa atas infonya yang akurat, padat, dan terpercaya.'' Di akhir kalimat, Hanan tersenyum lebar. Setelahnya, Wafa dan Salsa cepat beranjak. *** Hanan masih saja membawa langkahnya dengan cepat. Laksana diburu sesuatu yang amat penting dan berakibat fatal kalau tak bisa dicapai. Dari sekian koridor yang lumayan panjang, ia berhasil tiba di perpustakaan. Sudah hadir jua di pandangannya Jihan sedang menumpuk beberapa eksemplar buku Sejarah membantu Bu Mala. ''Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh!'' Kedua tangannya bergerak, nada suaranya bak seorang da'i yang menyapa para jamaah. ''Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh.'' Serempak Bu Mala dan Jihan menjawab. ''Hai Ji---'' ''Jihan, sudah pas jumlah bukunya?'' tanya Bu Mala memotong pembicaraan Hanan tanpa sengaja. ''Udah, Bu. Ada 12, Bu. Pas juga buat murid kelas 11 IPS 5 yang beluum pada dapet.'' ''Hanan tolong antar buku-buku ini ke 11 IPS 5,  ya sama Jihan?'' ''Iya, Bu,'' jawab Jihan. Seusainya, Hanan menjadikan hal ini peluang yang anat besar. Meski ia tak cinta matematika, setidaknya urusan peluang dalam hidup Hanan bisa memperhitungkan. ''Hanan juga siap, Bu!'' Maka tak ayal, sepanjang koridor Hanan terus saja menyamakan posisinya dengan Jihan. Tiada henti jua meletupkan kalimat keinginannya tentang hal yang sama, yakni diajari tentang agama Islam yang lebih oleh Jihan. Sorot mata aneh dari banyak insan di koridor, Hanan abaikan saja. Padahal seharusnya ia paham, dalam kondisi menjadi pusat pandangan sungguh tak membuat Jihan nyaman. ''Pokoknya gue gak akan nyerah buat minta tolong elo. Gak akan nyerah! Titik!'' Masih membisu saja tokoh yang diajaknya bicara. ''Ji, lo jawab dong. Mau, ya? Gue gak akan nyerah.'' ''Gue gak akan nyerah.'' ''Gue gak akan nyerah. Titik.'' ''Pokoknya lo harus mau bantuin gue. Dapet pahala, JI!'' ''Gue masih belum nyerah, Ji. Lo harus--'' ''Hanan! Bentakan Jihan berhsil membut Hanan terkesiap. Gue udah berusaha mati-matian untuk menjaga jarak dengan ikhwan yang bukan makhram gue. Tapi kenapa lo malah seolah-olah pengin ngajak gue berdosa dengan cara terus mendekati gue sih, Hanan?'' Hati Hanan jadi mengerut. Sedikit khawatir. ''Tapi niat gue baik, Ji. Gue pengin hijrah. Gue minta dibimbing sama elo.'' ''Apa harus gue?'' ''Iya.'' ''Ada Yusuf. Lo bisa minta tolong sama dia atau minta tolong sama pembina ekskul rohis di sekolah ini. Bisa juga guru agama. Dan lo harus tahu. Gue masih punya banyak kekurangan. Gue gak sebaik yang lo pikirkan.'' ''Tapi lo juga gak seburuk apa yang lo pikirkan tentang diri lo sendiri, Ji.'' Dibuang lah napas yang sedari tadi memburu di d**a Jihan. Orang-orang yang elo rekomendasiin tadi juga masih punya banyak kurangny, kan? Sama aja kayak elo, Ji. ''Wassalamualaikum,'' tutupnya. Lantas pergi. Jihan belum dibangunkan dari apa yang ia katakan. Sedangkan Hanan sudah dibuat amat terhina karena kalimat-kalimat Jihan. Seburuk itukah ia hingga bisa membuat Jihan berdosa? ''Gue bisa semenyeramkan itu, ya buat Jihan? Bisa bikin dia berdosa? Huh, tapi tadi dia bilang ikhwan apa lagi artinya?'' Pada endingnya, rasa sakit hati itu ditutupi dengan keluguan Hanan perihal islam. Entah berhenti sampai sini, atau tetap berjuang hingga jawaban 'iya' diterima? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN