76. Pagi yang Mencekam

1409 Kata

Haris memperhatikan sang putri dengan tatapan tajam. Ia ingin agar sang putri berkata dengan jujur. Murni ikut mendengarkan dari balik pintu sekat antara ruang tamu dan ruang samping rumah mereka. Murni jelas tampak sangat ketakutan. "Aku sudah berusaha, Pa. Hanya saja, Tuhan belum memberikan kepercayaan padaku juga Mas Revan. Apalagi kondisiku saat ini belum benar-benar fit. Aku masih memikirkan agar kembali sehat dan bisa berjalan dengan baik dulu," kata Ara memberikan penjelasan setenang mungkin pada sang papa. "Baiklah. Hanya saja, sampai kapan?" tanya Haris yang mendesak dan memojokkan Ara. "Aku tidak bisa menjawab karena semua ini adalah kuasa-Nya. Aku dan Mas Revan hanya berusaha saja." Ara tidak salah mengatakan hal itu. Andai Haris tahu jika sang putri masih perawan, maka aka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN