"ARRRGGHHHH!" Audrey berteriak kencang seraya menjambak kedua sisi rambutnya, untung saja di kamar ini kedap suara hingga orangtuanya tidak akan bisa mendengar teriakannya.
Keadaannya sangat kacau, Audrey mengobrak-abrik semua barang yang ada di kamar hingga berceceran di lantai, sekarang Audrey merasa begitu kesal, bagaimana tidak? Ayahnya sudah menjelaskan semuanya dan Audrey dipaksa untuk tetap melanjutkan pernikahan mereka.
Apa ayahnya tidak peduli dengan perasaan dan masa depan anaknya? Bagaimana bisa ayahnya memilihkan calon suami seperti Toby.
Audrey menangis tersedu-sedu menumpahkan semua kesedihannya. Ia merasa begitu kacau setelah mendengar penjelasan ayahnya tadi.
Audrey pun kembali mengingat penjelasan ayahnya beberapa jam yang lalu.
"Apa yang mau Ayah bicarakan?" tanya Audrey penasaran.
"Ikut Ayah, kita bicarakan sambil duduk." Ayah Audrey berjalan ke arah sofa diikuti Audrey dan ibunya.
"Tapi Ayah minta, setelah tahu semuanya kamu tidak akan membatalkan pernikahan kalian," ucap ayahnya serius.
Audrey jadi bertanya-tanya sebenarnya ada apa? Apakah ini semua berhubungan dengan calon suaminya?
Karena rasa penasaran yang begitu besar akhirnya Audrey mengangguk mengiyakannya.
"Kamu harus janji kalau kamu akan tetap melanjutkan pernikahan kalian,"
"Iya, Yah," ujar Audrey sedikit ragu.
"Ayah serius!" tegas ayahnya ketika mendengar jawaban Audrey yang terdengar tidak begitu yakin dengan ucapannya sendiri.
"Sabar, Yah. Santai aja bicaranya," ujar ibu Audrey sembari mengusap punggung ayahnya lembut.
"Iya, Bu. Ayah cuma gak mau kalau setelah tahu semuanya justru Audrey akan membatalkan pernikahan ini, Ayah gak enak sama keluarga Ibrahim kalau hal itu terjadi," tutur ayahnya.
Audrey jadi merasa bersalah melihat raut sedih dari wajah ayahnya, begitu ingin 'kah ayahnya itu melihat putrinya menikah dengan pria itu?
Walaupun ragu tapi Audrey mencoba meyakinkan ayahnya, jika ia tidak akan membatalkan pernikahan ini. Karena bagaimanapun Audrey sangat menyayangi ayah dan ibunya, dia tidak ingin melihat mereka bersedih ataupun kecewa.
Ayahnya kembali menatap Audrey seraya bertanya, "Kamu tahu Autisme?"
Audrey mengerutkan keningnya seraya berpikir, sepertinya ia pernah mendengar kata itu.
"Maksud Ayah Autism Spectrum Disorder?" tanyanya.
"Iya" jawab ayahnya singkat.
"Tahu sih, Yah, sedikit tapi gak tahu secara detail. Kenapa emangnya?"
"Lho, Yah. Autisme itu bukannya kelainan perkembangan saraf gitu 'kan, ya?" tanya ibunya ikut menimpali.
"Iya, Bu. Makanya Ayah mau membicarakan hal ini. Sebenarnya Toby ... dia itu memiliki kelainan perkembangan yang menyebabkan gangguan perilaku dan interaksi sosial. Jadi, Ibrahim mempercayai anak kita untuk menjadi menantunya karena mereka yakin bahwa Audrey bisa menerima keadaan putra mereka apa adanya," ujar ayahnya menjelaskan.
Seolah waktu berhenti, Audrey tidak dapat berkata apa-apa, ia syok mengetahui fakta ini.
"Yah," lirih Audrey.
"Maaf ya, Nak. Ayah baru bicara soal ini sekarang, Ayah cuma tidak mau mengecewakan sahabat Ayah tapi kamu gak perlu khawatir, Toby normal kok, hanya saja mungkin kamu perlu banyak bersabar menanggapi Toby yang kadang masih bertingkah seperti anak kecil. Namun, di lain sisi dia adalah pria dewasa yang baik hati," ucap ayahnya, ada sedikit penyesalan ketika melihat raut wajah Audrey yang terlihat tertekan.
"Tapi ... arghh! Udah deh, aku mau ke kamar, kita bahas ini besok lagi aja, selamat malam."
Audrey berjalan cepat menuju kamarnya, ia merasa kecewa dengan apa yang diketahuinya malam ini.
"Audrey, tunggu!" panggil ayahnya seraya beranjak dari duduknya.
"Sudah, Yah. Biarkan saja." Ibunya ikut merasa sedih mengetahui fakta ini, bagaimana bisa hal seperti ini harus di hadapi oleh putrinya, dijodohkan dengan pria yang memiliki kelainan itu tidak akan mudah. Ya, walaupun kelainan itu tidak akan menjadi masalah. Akan tetapi, takutnya yang bermasalah itu malah Audrey, karena masih labil dan belum bisa berpikir dewasa. Ia hanya berharap Audrey bisa sabar dan ikhlas untuk menerima semua ini.
***
Audrey mengambil lagi selembar tisu dan mengelap air mata serta cairan bening yang keluar dari hidungnya, entah apa yang sebenarnya ia tangisi. Entah karena perjodohan ini, atau tentang calon suaminya yang ternyata memiliki kelainan, mungkin juga karena memikirkan hubungannya dengan Faisal?
Entahlah rasanya malam ini Audrey merasa sangat kacau, padahal malam ini pertama kali dia bertemu dengan Toby, walaupun perjodohan ini bukan hal yang ia inginkan tapi tak bisa dipungkiri ia tertarik dengan Toby saat pertama kali melihatnya. Namun, fakta yang ia ketahui dari ayahnya membuat pikiran Audrey berkecamuk.
Padahal tadinya ia akan mencoba menerima perjodohan ini dengan ikhlas, ia akan berusaha untuk tidak mengecewakan orangtuanya.
Namun, sekarang ia tidak tahu harus berbuat apa ia terlanjur menerima lamaran dari keluarga Toby, dia tidak mungkin membatalkannya begitu saja telah mengetahui semuanya.
Seketika ia ingat dengan pertanyaan Toby tadi pada bundanya. Bahkan pria itu bertanya 'calon istri itu apa?' Sekarang Audrey baru sadar bahwa calon suaminya itu memang memiliki kelainan atau lebih tepatnya telat dalam berpikir. Ia juga baru mengerti dengan apa yang dimaksud Nilam yang meminta agar dia bisa menjaga putranya itu dengan baik.
Pertanyaan yang sempat berputar-putar di otaknya kini terjawab sudah.
Audrey meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur. Kemudian menggerakkan jari-jarinya untuk mengetikkan sesuatu, ia mencari informasi tentang Autisme lebih jelas di internet.
"Autisme atau Autism Spectrum Disorder adalah kelainan perkembangan saraf yang menyebabkan gangguan perilaku dan interaksi sosial ...," Audrey membaca semua informasi yang terkait tentang Autisme hingga selesai.
Ia menghembuskan napas lelah, akankah ia bisa menjalani hari-harinya dengan suami seperti Toby. Seperti yang barusan ia baca di internet, bahwa menghadapi orang seperti Toby itu harus memiliki kesabaran ekstra. Apalagi dengan usianya yang sekarang sudah dewasa. Namun, ia memiliki cara berpikir seperti anak-anak berusia lima tahun, tetapi Audrey hanya mengharapkan kemungkinan positifnya, semoga Toby adalah pria autism yang cerdas dan tidak kekanak-kanakan seperti beberapa contoh yang ia baca barusan.
Audrey tidak bisa membayangkan akan seperti apa kehidupannya setelah menikah nanti.
***
Audrey menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia melihat dirinya yang begitu cantik dengan gaun pengantin yang melekat indah di tubuhnya. Ya, setelah satu minggu berlalu, dimana malam itu adalah hari pertama mereka bertemu kini tibalah saatnya dua keluarga yang tadinya bersahabat kini akan dipersatukan dalam sebuah ikatan keluarga.
Audrey masih tidak menyangka ia akan menikah secepat ini apalagi karena perjodohan.
"Nak, ayok turun. Tamunya sudah pada nungguin dari tadi," ucap ibunya yang tiba-tiba masuk ke kamar Audrey.
Dengan cepat Audrey mengusap linangan air mata yang hampir menetes sebelum ibunya melihat kesedihan di wajah Audrey, ia membalikkan badannya dan mencoba untuk tersenyum, "Iya, Bu."
"Kamu cantik sekali," puji ibunya tersenyum senang. Kemudian menuntun Audrey berjalan di sampingnya untuk melaksanakan akad pernikahan.
Audrey duduk di samping Toby yang terus tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang putih bersih.
"Tante cantik," puji Toby tersenyum polos.
Sedangkan Audrey membulatkan matanya antara terkejut dan tidak percaya, yang benar saja apakah dia terlihat setua itu sampai Toby saja yang jelas lebih tua darinya malah menyebutnya tante.
Audrey mendengus kasar dan tidak mempedulikan apa yang diucapkan Toby setelahnya.
Ia menatap ke sekelilingnya, melihat acara pernikahan yang hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekatnya saja. Ya, Audrey meminta agar pernikahan mereka tidak diadakan secara mewah, karena jujur saja Audrey tidak ingin semua orang tahu bahwa dirinya akan menikah apalagi dengan pria seperti Toby.
Sampai pada saatnya kini penghulu sudah duduk dihadapan keduanya.
"Mempelai pria apakah anda sudah siap?" tanya penghulu pada Toby.
Dengan antusias dan anggukan di kepala Toby menjawab, "Siap, Pak penghulu! Oby, siap!"
Semua orang menahan tawa melihat Toby yang begitu antusias, kini penghulu beralih bertanya pada Audrey.
"Mempelai wanita apakah anda sudah siap?"
Audrey terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk singkat. "Siap, Pak," cicitnya pelan.
"Oke, kalau begitu untuk mempersingkat waktu kita langsung saja mulai sekarang."
"Tunggu dulu, Pak penghulu ...,"