Tidak Sesuai Ekspektasi

1103 Kata
Setelah sampai di lantai dasar Audrey melihat ayah dan keluarga calon suaminya yang sedang berbincang, tetapi Audrey tidak dapat melihat langsung wajah calon suaminya karena pria itu duduk membelakanginya. "Ayo, kita ikut gabung ke sana," ajak ibunya. Audrey berjalan mengikuti ibunya dari belakang, ia tersenyum kikuk melihat calon mertuanya yang terlihat elegan dan berwibawa, baru saja ia ingin mendudukkan dirinya di sofa tapi suara ayah Audrey menghentikan pergerakannya. "Audrey beri salam dulu sama calon mertua kamu," tegas ayahnya. Audrey menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian menghampiri calon mertuanya seraya mencium tangan keduanya bergantian. "Salam kenal Om, Tante, saya Audrey," ucapnya sopan. "Wahh, kamu cantik banget, ya," ucap Ibrahim–calon ayah mertuanya. "Iya, cantik banget tapi gak heran lagi sih orang Ibunya juga cantik banget," ucap Nilam–istri Ibrahim. "Ah, Jeng bisa saja, malahan Jeng Nilam jauh lebih cantik," ucap ibu Audrey terkekeh geli dan mengundang tawa semua yang ada di sana. Audrey duduk di samping ayah dan ibunya, sedari tadi ia mencuri-curi pandang kepada orang di hadapannya yang terus menunduk memainkan ponsel. Untuk saat ini Audrey bisa bernapas lega, karena calon suaminya ternyata masih muda dan terlihat sehat tidak penyakitan atau apapun itu. Apalagi dari postur tubuh juga terlihat sangat bagus, ternyata pilihan ayahnya itu tidak begitu buruk, pikirnya. Namun, sesaat Audrey dibuat terpukau ketika pria itu mengangkat wajahnya. Calon suaminya itu sangat tampan, bahkan ini semua diluar ekspektasinya. Awalnya Audrey pikir pria itu tidak jauh lebih tampan dari kekasihnya–Faisal. Namun, ternyata dugaannya salah, calon suaminya itu ternyata nyaris sempurna. Berasal dari keluarga kaya raya, tampan, dan juga memiliki tubuh yang atletis. Semua tipe pria idamannya ada pada pria itu. "Udah kali liatnya biasa aja." Audrey tersadar dari kekagumannya pada pria itu ketika ibunya berbisik dan menyikut pelan tangan Audrey. Audrey melirik sekilas ke arah ibunya yang terkekeh geli. Ia mendengus kesal karena ketahuan sedang mengagumi sosok pria yang akan menjadi suaminya. "Oke, kita langsung mulai saja, ya, jadi maksud tujuan kami ke sini itu. Kami ingin melamar Audrey untuk menjadi istri anak saya, Toby Kayamba," ujar Ibrahim menjelaskan maksud dan tujuannya datang kemari. Walaupun sebenarnya tanpa dijelaskan pun Audrey juga sudah tahu, jika mereka semua datang untuk perjodohan ini. Padahal langsung saja katakan apa intinya tidak perlu basa-basi seperti itu. Pakai bilang mau melamar segala padahal ia sendiri dipaksa untuk menerima perjodohan ini dan tidak bisa menolaknya. "Jadi bagaimana, Audrey? Apa kamu bersedia untuk menjadi istri sekaligus menantu di keluarga kami?" tanya Ibrahim. "Kami sangat berharap kamu jadi istri Toby, karena kami yakin kamu bisa menjaga Toby dengan baik," timpal Nilam. Audrey terdiam sejenak, yang benar saja. Apa tadi katanya? Menjaga Toby dengan baik? Apanya yang perlu dijaga? Ini sebenarnya dia akan dijadikan istri atau beby sitter? Lagian pria dewasa seperti Toby tidak perlu dijaga lagi, dia juga pasti sudah bisa menjaga diri sendiri. "Bagaimana, Nak?" tanya ayah Audrey seraya menunjukkan senyum manisnya, tetapi tatapan matanya menyiratkan bahwa 'Kamu harus menerimanya kalau tidak ayah akan sangat kecewa' "Kamu jawab sesuai dengan kata hati kamu saja, Sayang," bisik ibu Audrey di sampingnya. Namun, bagaimana Audrey bisa menjawab sesuai dengan kata hatinya sendiri jika ayahnya saja memaksa ia untuk menerima perjodohan ini. Audrey menghela napas panjang, kemudian mengangguk yakin sebelum akhirnya menjawab, "Iya, Om, Tante. Saya bersedia untuk menjadi istri dan menantu di keluarga kalian." "Alhamdulillah," ucap semuanya serempak, mereka akhirnya bernapas lega dengan keputusan Audrey. "Akhirnya kita jadi juga besanan, ya," ujar ayah Audrey seraya tertawa. Kentara sekali jika ayahnya sangat bahagia dengan keputusan Audrey. "Iya, seneng banget akhirnya tali persahabatan kita menjadi lebih kuat dengan ikatan keluarga," sahut Ibrahim. Sedangkan Nilam dan Ibu Audrey ikut tersenyum senang. Audrey sendiri tidak yakin dengan jawabannya, tetapi apa boleh buat, ia sama sekali tidak berhak untuk menolak 'kan? Apalagi hubungan dengan Faisal pun juga sudah tidak jelas akan berakhir bagaimana. Sudah beberapa hari Audrey mengabaikan semua pesan dan panggilan dari kekasihnya itu. Sekarang pun ia bingung, hubungannya dengan Faisal masih berlanjut atau tidak. Jika dilanjutkan, rasanya percuma karena tidak ada kejelasan apalagi sekarang Audrey sudah akan menikah dengan pria lain. Akan tetapi jika tidak dilanjutkan, mungkin secepatnya Audrey harus menemui Faisal dan memutuskan hubungan mereka. "Toby" "Toby simpan dulu ponselnya, Sayang," ujar Nilam, kemudian mengambil paksa ponsel itu dari genggaman Toby. "Bun! Balikin ponsel Oby," ujar Toby. Audrey yang mendengar suara Toby untuk pertama kalinya itupun memusatkan perhatiannya pada pria itu. Suara Toby terdengar seksi dengan suaranya yang terkesan serak-serak basah, tetapi Audrey merasa geli ketika mendengar pria itu menyebut namanya sendiri dengan sebutan 'Oby' 'Kek bocah aja, ih' bisiknya dalam hati. "Kamu gak mau kenalan sama calon istri kamu?" tanya Ibrahim pada putranya. "Calon istri," gumam Toby bingung. "Calon istri itu apa, Bunda?" tanya Toby polos. Seketika Audrey mengernyit heran, yang benar saja pria seusianya tidak tahu apa itu calon istri? Wow! Selama ini pria itu tinggal dimana? Di hutan 'kah atau di planet? Astaga! Pria macam apa sebenarnya yang akan menjadi suaminya itu. Nilam melirik ke arah Audrey, ia tahu pasti Audrey merasa bingung dengan apa yang terlontar dari mulut putranya itu. "Emm ...," Nilam terlihat bingung mau mengatakan apa. Sampai pada akhirnya Ibrahim berdeham singkat kemudian berkata, "Kalau begitu kami pulang dulu, ya, nanti kita akan bicarakan lagi mengenai pernikahan mereka," pamitnya pada orangtua Audrey dan menatap ayah Audrey mengisyaratkan agar menjelaskan pada Audrey mengenai satu hal. "Apa tidak sebaiknya kita makan malam dulu?" tanya ibu Audrey. "Maaf Jeng, mungkin lain kali saja. Saat ini kami juga tidak bisa lama-lama berada di sini," ujar Nilam dengan perasaan tak enak. "Oh, ya sudah kalau begitu. Mungkin lain kesempatan kali, ya." Ibu Audrey berkata seraya tertawa kecil. "Ah, iya masih ada banyak waktu untuk kita makan bersama, kalau begitu sekarang kami pamit, ya." Kemudian setelah itu Audrey dan kedua orangtuanya mengantar mereka ke depan rumah, setelah mobil mereka pergi meninggalkan perkarangan rumahnya. Audrey memutuskan untuk langsung pergi ke kamar tapi baru saja Audrey ingin melangkah tiba-tiba ayah Audrey sudah memanggilnya. "Audrey, tunggu dulu, Nak. Ada yang ingin Ayah jelaskan padamu." "Besok saja, Yah. Sekarang aku capek mau istirahat," ujarnya. "Tapi ini penting Audrey, kamu perlu tahu sekarang!" tegas ayahnya. "Yah, sudah biarkan Audrey istirahat dulu. Besok juga 'kan bisa kalau ada yang mau diomongin," timpal ibunya. "Ini penting Bu, harus dibicarakan sekarang juga, Ibu pun perlu tahu." Ucapan Ayah Audrey barusan membuat Audrey serta ibunya tertarik untuk mendengarkan. "Apa yang mau Ayah bicarakan?" tanya Audrey penasaran. "Ikut Ayah, kita bicarakan sambil duduk." Ayah Audrey berjalan ke arah sofa diikuti Audrey dan ibunya. "Tapi Ayah minta, setelah tahu semuanya kamu tidak akan membatalkan pernikahan kalian," ujar ayahnya serius. Audrey jadi bertanya-tanya, sebenarnya ada apa? Apakah ini semua berhubungan dengan calon suaminya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN