Bab 1 Kejutan Besar
‘Ah! Memalukan! Ini berlebihan! Kenapa aku harus memakai gaun seseksi ini? Emely! Kenapa Emely meminjamkan gaun yang seperti ini? Walau ini sangat indah tapi aku malu!’
Deandra menatap dirinya di cermin yang memantulkan bayangan dirinya dengan gaun setengah resmi milik Emely dengan potongan yang memperlihatkan pundak cantiknya karena bergaris leher sabrina dan siluet tubuhnya yang sintal karena bentuk gaun itu yang benar-benar melekat di tubuhnya dan mengembang di bawah.
Gaun merah sepanjang lutut itu tampak pas di tubuh mungil Deandra. Namun ia mengelus kedua pundaknya yang terbuka dengan tak nyaman.
Deandra menutup wajahnya yang memerah. Seumur hidupnya ia belum pernah menyentuh gaun yang begitu indah dan feminin. Namun kini demi mendapatkan hati kekasihnya, ia sepenuhnya rela membuang rasa malunya.
“Sudah, tidak apa-apa. Ini kejutan setahun sekali untuk Bram. Selama ini dia tidak pernah melihatmu pakai rok dan berdandan, ‘kan? Ini hari spesial dia, tidak apa-apa, Dean.”
Ucapan Emely masih terngiang-ngiang di ingatannya. Deandra menggigit bibirnya karena malu.
Sekali lagi Deandra menatap dirinya di cermin dan memutar badannya untuk melihat punggungnya yang terekspos terbuka dengan memesona. Walau terlihat pas dan cantik, namun ia tetap meraih sweter merah favoritnya untuk menutupi pundaknya yang terbuka sebelum akhirnya beranjak pergi.
‘Ya, begini lebih baik. Agar tidak terlalu mencolok. Oh, rasanya gaun ini serasa menyatu dengan kulitku karena terlalu melekat.’
Deandra merasa sangat malu saat Emely memilihkan gaun dan sepatu senada miliknya untuk dipinjamkan kepada Deandra yang tomboi dan hampir tak memedulikan apa pun selain buku dan kuliah. Namun kini sejak ia mengenal Emely, lebih-lebih setelah berpacaran dengan Bram yang tampan itu membuatnya sedikit demi sedikit memperhatikan penampilannya.
"Halo, Emely?'' Deandra menelepon Emely.
"Hai, Dean? Apa ada masalah? Maafkan aku tidak bisa menemanimu, Sayang. Aku harus ke acara kantor Papaku, acaranya sungguh membosankan.'' Emely membuka percakapan dengan keluhannya.
"Iya tidak apa-apa. Aku cuma gugup saja.'' Emely terkekeh mendengar ucapan Deandra yang kaku.
"Tenang saja. Aku jamin Bram akan terkesima padamu. Jangankan Bram, bisa-bisa semua laki-laki yang melihatmu akan melahapmu kalau kau tak hati-hati,'' ucap Emely tergelak menghibur sahabatnya. Mereka tertawa bersama.
“Kau ini. Kau malah membuatku semakin takut. Rasa-rasanya gaun ini terlalu terbuka untukku Emely,” keluh Deandra dengan bimbang.
"Tidak! Aku yakin kau pasti sangat cantik, Dean! Setelah berdandan di salon Tante Sarah, kau harus kirim fotomu untukku, ya? Ingat apa pesanku kemarin. Kali ini kau harus membuat Bram bertekuk lutut dan buktikan pada perempuan-perempuan sok cantik sialan itu, bahwa kamu lebih pantas untuk Bram daripada mereka,” lanjutnya dengan kesal membicarakan beberapa perempuan yang suka mencibir Deandra tak pantas menjadi kekasih Bram yang populer di kampus.
"Thanks ya Em... Aku sangat bersyukur punya kamu.'' Emely terkekeh mendengar suara Deandra yang pasrah.
"Jangan begitu, semua orang berhak bahagia. Apalagi kamu! Dan entah kenapa aku sangat yakin kebahagiaanmu akan diawali hari ini.'' Emely berkata dengan mantap dan bersemangat. Lagi-lagi mereka tertawa.
"Nah begitu, kamu harus semangat, Dean. Sekarang bersiaplah menyambut kebahagiaanmu, Sayang. Aku tunggu kabar darimu, ya!''
''Iya Em. Ah, ini aku sudah sampai salon kecantikan Tante kamu, nanti aku telepon lagi, ya.'' Deandra segera turun dari taksi setelah membayar sesuai tarif. Deandra mematikan teleponnya setelah mendengar jawaban perpisahan penuh semangat dari Emely.
Dengan berdebar-debar, Deandra memasuki salon kecantikan itu atas rekomendasi Emely. Bahkan sehari sebelumnya Emely sudah membawanya ke sana dan memperkenalkannya kepada tantenya yang merupakan pemilik salon tersebut.
Setelah melalui proses yang panjang dalam merias wajah dan rambutnya yang panjang dan ikal, Deandra menatap dirinya di cermin dengan pandangan terkejut. Ia terlihat sangat berbeda dan... Cantik. Ia tak percaya dirinya bisa secantik itu.
“Kau sangat cantik, Dean! Kau benar-benar luar biasa, Sayang! Seharusnya kau lebih sering berdandan seperti ini, Dean,” puji Sarah dengan tersenyum puas atas hasil kerjanya.
“Ini karena Tante Sarah yang sangat ahli dalam merias saya. Terima kasih, Tante,” sahut Deandra merendah serta merona malu dan membuat Sarah terkekeh senang.
“Sebentar aku akan memfotomu untuk Emely. Dia pasti akan sangat senang. Ah, mungkin aku juga akan memajang foto-fotomu di salonku ini, boleh, 'kan Dean?” ujar Sarah semakin membuat Deandra tersenyum malu namun mengangguk setuju.
Bahkan beberapa pengunjung salon melihatnya dengan takjub dan tak segan-segan memuji kecantikannya yang tersembunyi. Dengan hati riang, Deandra meninggalkan salon kecantikan itu.
Melihat beberapa pria yang kebetulan berpapasan dengannya menatapnya terpesona, membuat hati Deandra makin berbunga-bunga dan bersemangat sambil menuju toko kue. Tak lupa ia juga membeli kado kemeja putih untuk Bram.
‘Aku yakin Bram akan sangat tampan memakai kemeja itu. Untungnya tabunganku cukup untuk semua kejutan ini. Kuharap Bram juga akan senang menerima semua hadiah ini,' harap Deandra dalam hati seraya menerima bungkusan kado di tangannya.
Dan kini dengan hati yang berdebar-debar semakin kencang ia telah berdiri di depan apartemen Bram. Walaupun tak terlalu mewah, namun bagi Deandra yang gadis kutu buku dan kuliah dari beasiswa, tempat itu merupakan tempat yang sangat mewah.
Walau ia telah beberapa kali mengunjungi tempat itu dengan beberapa teman kampus, ia tak pernah segugup ini. Bahkan saat ia terakhir datang hanya berdua dengan Bram ia juga tak segugup ini.
Bram memberinya akses untuknya bebas keluar masuk. Namun setelah beberapa bulan berjalan Deandra baru berani melakukannya sekarang, walau Bram terus membujuknya untuk sering datang berkunjung.
Deandra memasuki pintu apartemen yang telah terbuka. Ia menyalakan lampu ruang depan yang gelap. Jam menunjukkan pukul lima sore. Deandra mengatur napasnya yang makin gugup.
‘Setengah jam lagi Bram akan kembali. Aku harus buru-buru menghias ruangan ini. Semoga belum terlambat.’
Batin Deandra karena ia tahu setiap minggu sore adalah jadwal Bram ke gimnastik. Namun, baru saja ia melangkah lebih jauh, ia melihat beberapa baju berserakan di lantai ujung ruangan.
Sambil mengernyit bingung Deandra menelusuri dengan tatapannya, hingga ia melihat tumpukan baju dalam di depan kamar Bram yang pintunya setengah terbuka. Bra! Benar, ia melihat sebuah Bra!
‘Bra? Ini Bra perempuan, kan? Oh ya ampun! Tentu saja Bra perempuan! Mana mungkin Bram memakai Bra ....’ hati Deandra mencelos dengan tiba-tiba dan jantungnya berdebar sangat kencang.
Belum sempat ia memikirkan lebih jauh dengan apa yang dilihatnya. Tiba-tiba Deandra mendengar suara desahan dan erangan yang terdengar.
Dengan napas tercekat, Deandra mematung di tempatnya berdiri. Kakinya terlalu gemetar untuk berjalan. Lagi. Ia mendengar erangan lagi, dan lagi.
'Suara apa itu?' pikir Deandra dengan wajah bingung.
Kini suara itu makin keras dan menggelora. Sambil menahan getaran di sekujur tubuhnya, Deandra memaksa berjalan menuju kamar Bram dan mendorong pintu yang setengah terbuka itu hingga terbuka lebar.
Deandra sangat syok dan tercekat dengan apa yang dilihatnya.
Bram sedang bercinta dengan seorang wanita. Keduanya dalam keadaan polos dan bergerak bersama-sama dengan penuh semangat dan gairah yang menggebu.
Erangan mereka yang lepas diselingi ranjang yang berdecit membuat gaduh kamar sepi itu. Bram yang tak menyadari kehadiran Deandra terus saja menggempur wanita yang berada di bawahnya dengan penuh semangat.
“Bram?”