Bram menciumi wajah dan leher perempuan itu dengan penuh gairah. Sesekali mereka terpekik dan tertawa diselingi erangan dan desahan.
Dengan tubuh bergetar hebat, Deandra hanya bisa berurai air mata. Hingga di detik tertentu perempuan itu melihat sosok Deandra yang berdiri mematung di tengah pintu membuatnya terkejut bukan kepalang. Perempuan itu histeris tak karuan seraya mendorong Bram menjauh.
Sempat kebingungan dengan apa yang terjadi, Bram yang awalnya memprotes, akhirnya ikut membeku saat menatap sosok Deandra yang berdiri di depan pintu kamar.
Mereka saling menatap untuk sesaat sampai akhirnya Deandra bisa menggerakkan kakinya yang bergetar hebat dan terasa lumpuh.
“Dea, Sayang...” sahut Bram melompat dari ranjang seraya membungkus tubuh polosnya dengan celana pendek selutut yang teronggok di lantai kamar.
Deandra tertatih menuju pintu depan dan beranjak pergi, namun Bram menarik tangan Deandra dan mendesaknya di dinding.
“Lepas. Aku mau pergi,” isak Deandra mencoba berontak.
“Dengarkan dulu Dea, ini tak seperti yang kau lihat, kami hanya bermain-main dan ....” elak Bram dengan santainya memberi alasan.
“Ya, semua perempuan memang bisa kau permainkan, dasar ba***an!” pekik perempuan berambut pendek itu dari atas ranjang. Kini ia menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Apa? Diam kau Viona! Kau yang merayuku!” sahut Bram mengalihkan pandangannya dari Deandra ke perempuan itu.
Viona makin meradang dan berteriak histeris memaki-maki Bram.
Fokus Bram teralihkan pada Viona. Hingga tanpa sadar ia melepaskan tangan Deandra begitu saja. Hal itu Deandra manfaatkan untuk melarikan diri dari tempat itu. Tanpa memedulikan keduanya yang saling berteriak dan memaki satu sama lain.
Deandra pergi dengan perasaan hancur tanpa memedulikan panggilan Bram yang mencoba menyusulnya. Deandra terus berlari meninggalkan bangunan megah itu melalui jalan utama untuk langsung menuju jalan raya agar mudah mencari taksi.
Betapa sempurnanya saat ini, seolah Tuhan mengetahui isi hatinya yang hancur. Hujan deras menyambut Deandra yang telah sampai di halaman parkir depan dan membuat air matanya yang mengalir deras tertutup oleh hujan. Entah berapa jauh ia berlari, Deandra hanya ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Walau napasnya terengah dan sesak karena isaknya yang tertahan, Deandra terus berlari di tengah guyuran air hujan yang sangat deras. Hingga ia tak melihat ada sebuah mobil mewah yang melintas dengan kecepatan tinggi dan menabraknya. Deandra terjatuh hingga terpental beberapa langkah.
"Apa-apaan perempuan itu? Seenaknya saja berlari menyeberang!'' gerutu sang sopir, “oh Tuhan! Apa dia mati?” lanjutnya terlihat kebingungan.
Melihat apa yang terjadi, pria yang duduk di kursi penumpang segera membuka pintu mobilnya karena melihat keadaan Deandra yang begitu mengenaskan dengan kakinya yang berlumuran darah.
Laki-laki itu segera berlari menuju di mana Deandra tergeletak tanpa menghiraukan panggilan sopirnya dan hujan lebat yang membasahi tubuhnya.
"Hei, Nona? Lihat kakimu berdarah! Kau mau ke mana?'' sahut laki-laki itu setengah berteriak untuk mengalahkan suara hujan yang sangat deras, agar terdengar oleh Deandra yang berusaha bangkit.
Melihat Deandra yang terus berjalan dan mengabaikannya, laki-laki itu menarik lengan Deandra untuk menghadapnya dan mendapati gadis itu sedang terisak.
Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Deandra mendorong lemah lengan laki-laki berbadan kekar itu sambil terus terisak hingga napasnya terasa sesak.
“Nona? Ayo ikut aku, aku akan mengobati lukamu. Kau dengar aku?” pekik pria itu setengah berteriak.
Dengan keadaan yang sangat kacau dan berantakan, tanpa sadar Deandra masih saja menggenggam erat dua bungkusan yang berisi kue ulang tahun dan kado untuk Bram dan membuat laki-laki itu seolah paham akan permasalahan yang menimpa perempuan di hadapannya.
“Ayo kuantar ke rumah sakit? Kau terluka, Nona,” bujuknya dengan suara keras agar Deandra mendengarkan.
Namun Deandra tetap tak bergeming, ia terus memaksa berjalan walau tertatih-tatih.
Hingga baru beberapa jengkal ia melangkah, tiba-tiba ia terhuyung dan langsung ambruk di tangan laki-laki asing yang dengan sigap menangkap tubuh lemahnya.
Sambil menggendong Deandra yang tak berdaya, laki-laki asing itu memeluk kepala Deandra untuk melindunginya dari derasnya air hujan yang mengguyur. Ia bergegas menuju mobil.
Sang sopir segera membukakan dan menutup pintu tersebut. Walaupun ia terpaksa ikut basah kuyup, ia lebih mengkhawatirkan keadaan Tuannya yang tiba-tiba bertingkah aneh.
"Jalan Josh, kita putar balik kembali!'' perintahnya sambil tetap memangku tubuh Deandra yang sedingin es.
"Baik, Tuan!'' sahut laki-laki bertubuh kurus itu dengan gugup. Lalu mobil bergerak menembus derasnya hujan dengan kecepatan tinggi.
"Cepat!'' suara berat laki-laki itu makin tak sabar karena mendengar suara Deandra yang mulai mengigau dan menggigil dalam pelukannya.
Laki-laki itu memandang dua bungkusan yang masih melekat dalam genggaman Deandra. Lalu memaksa melepaskannya dari tangan Deandra.
Ia mendapati sebuah kue ulang tahun yang telah hancur berantakan dan sebuah bungkusan kado panjang yang mulai basah. Walau melihat dengan enggan, namun ia mengurungkan niatnya untuk membuang benda-benda itu setelah menatap keadaan Deandra yang terlihat menyedihkan.
***
Mobil mewah berwarna hitam legam itu memasuki pelataran rumah yang sangat megah. Dengan langkah panjang dan tergesa-gesa, pria berbadan kekar itu membawa Deandra menuju kamar tamu yang ada di lantai satu rumah itu.
Seorang pelayan wanita setengah baya datang tergopoh-gopoh dari dalam rumah dengan wajah terkejut.
“Tuan, Anda basah kuyup! Apa Anda baik-baik saja? Oh! Apa yang terjadi dengan Nona ini, Tuan?’’ tanyanya beruntun dengan penuh kekhawatiran.
“Tidak apa-apa. Siapkan saja makan malam dan letakkan di meja samping kamar. Biar aku sendiri yang mengurusnya,’’ sahutnya sambil terus membopong tubuh lemah Deandra.
“Baik, Tuan! Baik, saya akan segera membuatnya,’’ jawab wanita itu setelah membukakan pintu kamar tamu yang berada paling ujung lantai itu.
Lalu setelah menutup kembali pintunya rapat-rapat wanita itu bergegas menuju dapur untuk melaksanakan perintah tuannya.
Sementara sang Tuan meletakkan tubuh dingin Deandra yang basah kuyup di atas sofa. Laki-laki itu segera melucuti pakaiannya sendiri dan mengguyur tubuhnya yang dingin karena hujan.
Setelah membilas dirinya, ia yang masih mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuh kekarnya memandang Deandra yang mulai bergerak dan meringkuk menahan dingin akibat air hujan ditambah dengan suhu kamar yang dingin karena AC walau masih belum sadar sepenuhnya.
Sesekali terdengar isak tangisnya yang tersisa dan mengigau tak jelas.
Laki-laki itu mendekati Deandra dan membuka paksa sweter yang melekat ditubuhnya. Dan pria itu baru menyadari sweter lusuh itu telah robek di bagian siku dan lengannya akibat kecelakaan yang ia alami.
Dan betapa terkejutnya pria itu saat membuka sweter merah lusuh dan usang itu yang ternyata menutupi kecantikan dan kemolekan tubuh Deandra.
Merasakan hawa dingin yang menyeruak seolah menyergap pundak dan lengannya yang terbuka, Deandra menggigil dan memeluk pundaknya.
Perlahan ia mengerjapkan mata lentiknya yang sembab oleh air mata dan hujan. Betapa terkejutnya ia saat mendapati seorang laki-laki yang setengah telanjang berdiri dengan tatapan mata buas seolah ingin menerkamnya.
Deandra terpekik dan beringsut menjauh, namun tangan kekar itu menghentikannya. “Oh... Siapa kamu? Mau apa kamu?’’
“Hei! Jangan bergerak! Kau membuat semuanya jadi basah! Diam atau kau akan tahu akibatnya!’’ ancam laki-laki itu yang membuat tubuh Deandra makin menggigil karena ketakutan.
Walau berontak namun ia tak bisa melawan saat laki-laki itu mengangkat dan membawanya masuk kamar ganti dan mendudukkannya di sebuah meja kecil yang ada di ujung ruangan itu. Pria itu menatap rok Deandra yang telah koyak dan memperlihatkan luka di lutut Deandra dan hendak mengobatinya.
“Mau apa kau?” elak Deandra marah.
Deandra menolak dengan cara menendangkan kakinya untuk menghindari sentuhan tangan pria tampan berjambang tipis itu.
“Aku hanya ingin membersihkan lukamu,” sahut pria itu mulai kesal. Lalu melemparkan kapas bersih yang ia genggam ke tong sampah kecil.
“A...aku bisa sendiri,” sahut Deandra terbata-bata dan tak enak hati. Lalu menatap kotak obat yang ada di sebelahnya.
Akan tetapi, semua usahanya hanya membuat alkohol pembersih luka itu tumpah berceceran dan berantakan karena tangannya yang masih gemetaran. Lagi-lagi Deandra menangis. Dan membuat laki-laki itu mulai tak sabar.
“Sudahlah. Mandilah dan bersihkan badanmu! Jangan macam-macam!’’ ancam pria itu sekali lagi sambil meletakkan Deandra dalam bak mandi panjang yang telah diisi air hangat oleh pria itu. Deandra tersentak saat kulitnya menyentuh air hangat tersebut.
Sepeninggal pria asing itu, tanpa melepas baju yang masih melekat ia hanya terdiam menikmati sensasi air hangat dan minyak esensial beraroma lavender yang menenangkan saraf.
Namun tiba-tiba Deandra terkenang kembali akan perbuatan Bram yang baru dilihatnya. Lagi-lagi ia terisak dan kembali menangis sejadi-jadinya, karena mengira pria itu telah meninggalkan kamar ia bahkan mengacak-acak air dalam bak mandi hingga menimbulkan suara berkecibakan.
“Bram bre***ek! Dasar laki-laki ba***gan! Bre***ek!’’ umpatnya dengan tangis sejadi-jadinya. “AAAAAGGHHHKKK....! LAKI-LAKI BRE***EK!” raungnya sekeras mungkin.
Deandra tak menyangka jika pria asing itu kembali dalam sekejap dengan wajah menahan jengkel, ia masih mengenakan handuk di bagian bawah tubuhnya.
“Apa-apaan kau?”