Ia yang membawa sebuah kemeja putih di tangannya terlihat menahan kesal. Ia langsung membuang kemeja itu di luar kamar mandi dan melemparkan kotak P3K yang ia bawa dengan kasar yang membuat seluruh isinya berhamburan.
Tanpa berkata apa-apa ia menarik tubuh Deandra dari bak mandi untuk berdiri dan melepas paksa gaun yang gadis itu kenakan. Deandra histeris sambil menutupi aset kembarnya yang terpapar cantik karena ia tak mengenakan Bra dibalik gaun yang memang dengan model Bra menempel itu.
Melihat keindahan yang ada di depan matanya membuat laki-laki itu gelap mata. Dengan kasar ia membuang gaun Deandra ke lantai dan menarik Deandra ke dalam dekapannya. Wajah mereka sangat dekat hingga napas mereka saling beradu.
"Apa kamu bisa diam? Kalau tidak, aku akan mendiamkanmu dengan paksa!'' tanya pria itu dengan suara yang berat dan dalam. Deandra yang ketakutan spontan makin terisak tanpa bisa menjawab yang membuat laki-laki itu langsung melahap bibir merah Deandra yang ranum.
Deandra hendak melawan, namun dengan tangan yang sedang menutupi d**a, ia hanya bisa mendorong lemah d**a pria itu. Berkali-kali ia terus mencoba, yang ada, bukannya melepas pagutannya, pria itu justru membuka kedua tangan Deandra dengan paksa.
Deandra terpekik saat ciuman pria itu mendarat di leher dan bergeser ke dua aset kembar miliknya secara bergantian.
Deandra menggelinjang lemas, hampir membuatnya terjatuh jika saja lengan pria itu tak segera menangkap pinggangnya dan langsung mengunci bibirnya kembali.
Deandra tersentak saat tubuhnya tiba-tiba kembali menyentuh air hangat dalam bak mandi. Dan dengan lengan kekar laki-laki itu yang mengungkungnya dari atas, tanpa sadar Deandra mengalungkan kedua tangannya pada leher kekar pria itu. Sekali lagi lelaki itu mencumbu aset kembar Deandra yang indah.
“Kumohon jangan berhenti,” desah Deandra meluncur begitu saja.
Merasakan penerimaan Deandra, sesaat pria itu menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah Deandra yang merah merona.
“Kau yakin?” bisik pria itu dengan suara parau dan berat. Suara yang terdengar maskulin di telinga Deandra yang tak pernah mendengarnya dan merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Deandra membuka mata dengan terkejut seolah baru menyadari pertanyaan dari pria itu. Akan tetapi semua telah terlambat, pria itu kini telah bergabung kembali dan mengunci bibirnya bahkan sebelum Deandra memprotesnya.
“Lakukanlah Tuan, lakukanlah sesuka hatimu,” racau Deandra bergetar hebat. Ia tak pernah merasakan sentuhan pria sedahsyat itu. Ia tak pernah merasa begitu diinginkan seperti itu. Bahkan selama ini ia selalu menginginkan dari Bram yang hanya mengecupnya sekilas lalu. Seolah Bram tak benar-benar menginginkannya.
“Dengan senang hati, Nona,” bisik pria itu di bibir Deandra yang lalu membenamkan bibirnya ke bibir Deandra dan menjelajahi isinya dengan penuh gairah.
Deandra terangah saat pria itu melepas ciumannya. Namun kini bergeser ke lehernya yang jenjang dan panjang serta memberinya tanda merah di sana.
Tanpa sadar Deandra mendesah dan mengerang karena sentuhan pria itu. Hingga ia merasakan gemeletuk giginya yang menahan dingin. Pria itu menghentikan cumbuannya dan menatap wajah Deandra yang mulai memucat.
“Apa kau kedinginan? Tenang saja Sayang, aku akan menghangatkanmu lebih dari yang kau inginkan,” ucapnya di bibir Deandra, mengecupnya lembut lalu mengangkat tubuh Deandra dan membungkusnya dengan handuk lalu kembali membopongnya dan meletakkannya di atas ranjang.
Pria itu segera menindih tubuh Deandra yang telah polos seluruhnya, serta mengunci kedua pergelangan tangannya.
“Tolong... Aagghh... Dingin...’’
Pria itu terkekeh mendengar suara Deandra yang mulai meracau menahan dingin.
“Rupanya kau sangat tak sabar, ya,’’ ucap pria itu tanpa basa basi melumat bibir indah Deandra dengan rakusnya sambil jari jemarinya menyusuri kulit lembut Deandra yang putih.
Gadis berambut legam panjang itu menggelinjang dan mengerang di tenggorokannya merasakan setiap jengkal sentuhan pria itu.
Sambil terus mencumbunya, tanpa Deandra sadari ada sesuatu yang melesak memasuki pusat tubuhnya. Gadis itu tersentak kaget namun bibir pria itu membungkam teriakannya.
“Aaahhkkg... Henti... Aaagghh...’’
Kepala Deandra berdenyut-denyut bersamaan dengan denyut aneh di perutnya yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tanpa sadar ia mengerang dan mendesah dengan pasrah di bawah kungkungan pria asing itu.
Mereka bergerak bersama dengan harmonis dan tak terburu-buru. Seolah mereka punya banyak waktu untuk melakukannya. Deandra terisak sekaligus mengerang. Ia benar-benar lepas kendali.
‘Sakit! Ah tidak! Jangan berhenti! Kumohon, jangaaann!’ pekik Deandra dalam hati. Air mata menetes dari sudut mata indahnya.
“Ingat aku saja, Lupakan laki-laki bre***ek itu. Dan jadilah wanitaku mulai malam ini,’’ ucap pria itu dengan nada memerintah di bibir Deandra yang hanya bisa mengerang.
Pria itu tersenyum puas saat melihat wajah Deandra yang terpejam menikmati permainannya.
Erangan demi erangan menghiasi kamar temaram itu.
Entah sudah berapa kali mereka sempat mencapai puncak dan beristirahat sejenak, namun seolah tak pernah puas, pria kekar itu terus menghunjam Deandra hingga keduanya terengah kelelahan dan tertidur.
***
Deandra membuka matanya dengan berat. Ia merasakan tubuhnya remuk redam dan sakit yang luar biasa.
Gadis itu mencoba bergerak dari tidurnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok pria yang terbaring di sampingnya dengan tubuh polos dan tengkurap. Wajahnya tertutup oleh lengan yang sedang memeluk pinggangnya.
Dalam kebingungan, gadis itu berusaha berpikir tenang. Dengan degup jantung yang tak karu-karuan Deandra memindahkan lengan kekar itu dari pinggang kecilnya.
Dan seketika ia menitikkan air mata tatkala melihat apa yang ada di hadapannya saat ia membuka selimut yang menutupi tubuh polos mereka, ia melihat bercak darah tercecer di beberapa tempat di seprei putih itu.
Ya! Kesuciannya telah terlenggut!
Bergegas Deandra bangkit dari ranjang dan menjauhi pria asing yang masih tertidur pulas dalam dengkurnya. Deandra menggigit bibirnya untuk menahan isaknya. Ia menutupi tubuh polosnya dengan bantal dan mencari baju serta barang-barangnya.
Namun, ia tak menemukannya di mana pun. Di bawah remangnya cahaya lampu kamar, dengan perasaan putus asa dan menahan sakit Deandra segera meraih seonggok kemeja putih yang ada di atas sofa lalu memakainya.
‘Ini pasti kemeja laki-laki itu! Biar saja yang penting aku harus keluar dari kamar laki-laki ba***an ini!’
Rutuk Deandra dalam hati menahan kegugupannya karena memakai kemeja yang kebesaran, bahkan panjang kemeja itu menutupi hingga separuh pahanya seperti gaun yang ia pakai sebelumnya. Tatapan Deandra terus menyusuri kamar itu berharap menemukan tas tangan atau bajunya.
Deandra yang sempat putus asa, akhirnya menemukan celana panjang laki-laki itu yang teronggok dilantai kamar. Cepat-cepat ia meraih dan memakainya.
‘Aghk! Dingin sekali! Kenapa beda dengan kemejanya? Apa ini celana semalam yang ia pakai saat hujan? Masa bodoh! Yang penting aku harus lari dari sini!’ gerutunya dalam hati.
Setelah memakai pakaian lengkap, ia memakai sendal rumahan yang sangat tipis namun nyaman dan membuka pintu dengan perlahan. Beruntung baginya, rumah itu masih dalam keadaan sangat sepi.
Namun masalahnya, rumah itu terlalu besar dan dengan penerangan yang temaram ia harus segera menemukan pintu utama. Deandra mengendap-endap menyusuri rumah itu.
Beberapa menit ia hanya berputar-putar tak tentu arah, hingga akhirnya ia kembali di depan kamar yang ia tinggalkan dan mengamati keadaan serta posisi rumah.
‘Ya ampun, kenapa besar sekali sih? Di mana pintunya?’ keluhnya hampir putus asa.
Ia terlonjak kaget saat mendengar jam dinding berdentang empat kali menunjukkan waktu pukul empat pagi dini hari. Deandra segera mempercepat pencariannya. Dan akhirnya ia menemukan pintu utama rumah itu saat ia berjalan menyusuri korden rumah.
Dengan napas lega, Deandra berlari meninggalkan rumah, namun ia terlalu lemah untuk berlari terus menerus untuk sampai ke jalan raya karena rumah itu mempunyai halaman yang sangat luas untuk mencapai pagar rumah tak seperti yang ia pikirkan.
Beruntung baginya, saat ia mendapati petugas jaga sedang tertidur di dalam posnya. Deandra memanjat pintu pagar dan melewati pagar hingga ke seberang jalan yang mulai membuatnya makin kelelahan.
Dengan napas terengah, ia bergegas bangkit dan kembali berlari menuju jalanan kompleks perumahan elite itu untuk menuju jalan raya.
'Oh tidak. Apa yang terjadi? Aku...aku...'
Akan tetapi Deandra merasakan tubuhnya makin terasa remuk redam dan limbung. Dengan napas tersengal-sengal ia tetap memaksa berlari yang akhirnya malah membuatnya jatuh tersungkur di jalanan.