Deandra mengerjapkan kelopak mata indahnya dengan lemah. Gadis itu melenguh menahan sakit sambil menggerakkan tangannya, namun ia merasakan sesuatu yang menyakitkan di punggung tangannya yang terasa berat.
Deandra membuka matanya dengan meringis menahan sakit dan betapa terkejutnya ia saat melihat keadaan di sekelilingnya yang serba putih. Lalu ia melihat tangan kirinya yang telah terpasang selang infus. Gadis itu mendesah dengan lemah.
‘Ya Tuhan apalagi ini? Kenapa aku ada di rumah sakit? Apa yang terjadi?’
Batin Deandra berkecamuk bingung dengan apa yang telah terjadi. Ia memandang sekeliling ruangan kosong itu. Ia makin bingung karena tempat ia dirawat adalah ruang khusus pasien VIP. Melihat kamar yang hanya ada dirinya lengkap dengan perabot seperti sebuah kamar hotel.
Gadis itu makin kebingungan saat ia menyadari baju rumah sakit yang melekat di tubuhnya. Dia berpikir keras dari mana ia bisa membayar semua biaya rumah sakit.
Deandra pura-pura tertidur saat mendengar suara pintu terbuka dan memperdengarkan beberapa langkah kaki yang terasa mengeruduk kamar yang semula hening jadi riuh karena pembicaraan mereka yang tegang.
"Iya, Tuan Eliot, saya menemukan gadis ini di jalanan sekitar perumahan tempat tinggal Anda. Saya juga menemukan dompet Anda, makanya saya segera menghubungi penjaga rumah Tuan,'' suara seorang laki-laki paruh baya yang bernada bariton terdengar gugup.
"Oke, saya mengerti. Terima kasih Tuhan Smith. Anda sangat cepat dalam bertindak,” sahut Eliot dan beralih kepada seorang lagi.
“Lalu bagaimana kondisi gadis ini, Dokter Clayton? Apa dia akan mati atau bagaimana? Jaga dia jangan sampai dia mati lebih dulu sebelum aku memberinya pelajaran!'' sahut suara berat Eliot yang terdengar akrab ditelinga Deandra.
Mendengar itu jantung Deandra seolah akan mencelos keluar dari tempatnya dan membuat hampir bergerak karenanya.
‘Oh tidak. Oh, ya ampun, bagaimana ini?’ pikir Deandra dalam hati mulai gugup.
Deandra menahan degup jantung yang menderu tak karuan mendengar suara berat pria yang tiba-tiba terasa akrab di telinganya. Ia menahan gemetar ketakutan yang menderanya.
"Iya, Tuan Eliot, tentu saja Nona ini akan baik-baik saja. Dia hanya dehidrasi dan kelelahan serta sepertinya kekurangan asupan makanan. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Nona ini sebelumnya, walau kondisinya sangat lemah tetapi tak ada masalah berat yang harus dikhawatirkan, Tuan Eliot. Tetapi entah kenapa sampai sekarang pun ia belum siuman sejak ia ditemukan Tuan ini,'' Dokter Clayton menjelaskan dengan perlahan namun pasti dengan suara yang enak di dengar.
“Oke. Kalau begitu saya akan menunggunya sampai ia bangun. Saya harus memberi pelajaran pada pencuri cilik ini. Dan satu lagi, jangan sampai berita ini tersiar keluar, kalaupun gadis tak bernama ini hilang, toh tak akan ada yang tahu. Jadi, saya harap Anda sekalian juga tak-pernah-melihat-a-pa-pun!"
Suara berat pria itu menegaskan kata terakhirnya yang mengindikasikan nada ancaman yang terselip kepada dua pria paruh baya itu yang segera menjawab dengan suara patuh menahan gugup dan bergegas meninggalkan kamar itu.
Deandra menunggu, namun tak ada suara apa pun. Gadis itu tetap berusaha tenang.
Hening.
Benar-benar sunyi. Hingga Deandra merasa suara degup jantungnya akan terdengar nyaring hingga ke penjuru kamar itu.
‘Ke mana orang itu? Kenapa tak ada suara apa pun? Apa dia sudah pergi? Oh, ya ampun suara jantungku keras sekali, rasa-rasanya membuat telingaku tuli mendadak,' keluhnya dalam hati.
Deandra menunggu sampai beberapa saat tapi tetap tak ada suara apa pun. Rasa penasaran mendera dirinya untuk membuka mata.
Jantung Deandra berdegup sangat kencang, ia ingin mengetahui di mana pria itu berada. Mata Deandra bergerak-gerak, gadis itu perlahan memicingkan matanya untuk mengintip di sebelah kirinya.
Kosong!
Hingga pelan-pelan ia membuka mata lebar-lebar dan tiba-tiba wajah pria berjambang tipis itu mendekat ke wajah Deandra yang langsung terpekik kaget.
Namun, teriakannya terbenam oleh bibir sensual laki-laki kekar itu yang melumat bibir mungil Deandra. Untuk beberapa saat Deandra hanya bisa melenguh pasrah di ranjang rumah sakit saat bibir pria itu melesak sangat rakus menjelajah bibir dan isi mulutnya.
Deandra terengah setelah pria asing itu melepaskan bibirnya dari dirinya. "Kau pikir aku tak tahu kau berpura-pura tidur, dasar kau Nona Pencuri,” ucap pria berjambang tipis dan beralis tebal itu.
“Apa...maksudmu?” Deandra menelan salivanya dengan susah payah.
Pria itu memutari ranjang Deandra dan kini duduk di sebelah kiri, di atas ranjangnya yang lega.
Kini Deandra bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu yang sangat dekat di hadapannya. Ternyata sosok itu sangat tampan dengan rahang yang tegas, hidung lancip mancung dan tegas, serta mata biru gelap yang memancarkan aura mendominasi. Ada sedikit bekas luka di alis kirinya yang membuat alis tebal itu terbelah.
Namun, hal itu justru menambah aura ketampanan pria asing itu makin sempurna tanpa cela. Dan dengan jambang tipis yang membingkai wajahnya makin mempertegas keindahan pahatan Tuhan tersebut. Hingga membuat Deandra membeku untuk sesaat dan tangan Deandra tergerak ingin meraupnya.
“Siapa yang mengirimmu?” tanya suara berat itu mendekatkan wajahnya dan membuyarkan lamunan Deandra.
"Aku... Aku bukan pencuri!'' sahut Deandra dengan gugup karena tatapan mata pria asing itu yang seolah membuat jantungnya akan terlompat keluar setiap sorot tajam itu menatapnya dalam-dalam.
Dengan menyunggingkan senyum miringnya, pria tampan yang terlihat makin menyilaukan dengan rambut bersurai coklat terang, lebih terang dari rambut Deandra itu menunjukkan sebuah dompet laki-laki berwarna coklat kulit.
"Lalu bagaimana ini bisa ada di tubuhmu?'' ungkapnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Ap... Apa? Aku... Aku... Mana aku tahu!” sergah Deandra kebingungan. Ia benar-benar tak tahu menahu dengan dompet itu.
Lalu pria itu duduk di tepian ranjang gadis itu dan membuka dompet itu untuk menunjukkan isi di dalamnya. Beberapa kartu berwarna emas dan hitam berjajar di atas selimut yang menutupi tubuh Deandra. Lalu beberapa kartu yang lain dan beberapa lembar uang berwarna merah dan kurs asing dari berbagai negara.
Deandra menatap tak mengerti, ‘kartu apa itu, banyak sekali?’ pikirnya teralihkan walau tetap memperhatikan semua tindakan pria itu.
Gadis itu mengernyit bingung. Lalu pria itu mengeluarkan sebuah chip kecil dari saku tersembunyi di dalam dompet itu.
"Mungkin kartu-kartu itu dan uangnya tak terlalu penting, walau isinya berjumlah tak terbatas untuk membeli apa pun kebutuhanmu. Namun saat kamu memakainya, aku akan langsung mengetahui keberadaanmu dan menangkapmu. Ya, kalau itu juga aku mengizinkannya. Apa kau mau memakainya?'' Pria itu menawarkan kekayaannya yang tak terhitung jumlahnya. Deandra menelan ludah dan menggeleng cepat.
"Ini. Kau tahu apa ini?'' Sorot mata tajam itu terlihat makin mematikan seolah bisa menembus jantung Deandra. Lagi-lagi Deandra menggeleng cepat dengan gugup.
"Jika benda ini hilang atau jatuh ke tangan orang lain. Apa kau bisa menanggung akibatnya jika puluhan ribu orang kehilangan pekerjaannya sekaligus? Berapa banyak keluarga yang terlantar karena kehilangan penghasilan?” papar pria itu dengan suara beratnya.
Deandra membelalakkan matanya karena terkejut bukan kepalang. Ia semakin gemetar ketakutan membayangkan semua yang akan terjadi.
“Dengan hilangnya benda kecil ini, pertahanan negara bisa terbobol karenanya, apa kau tahu itu? Itulah kenapa benda ini banyak diburu oleh para mafia dunia hitam. Dan... Dompet ini ada di celanaku yang kau pakai semalam,'' pungkasnya menatap Deandra lurus-lurus.
Deandra menelan ludahnya dengan susah payah.
“Ap...apa?”