Tetap dengan tatapan tajamnya, laki-laki itu menjelaskan dengan kalimat yang sangat tegas dan dalam.
Bibir Deandra bergetar hebat mendengar apa yang telah diungkapkan pria asing di hadapannya. Ia tak mengira perbuatan sepelenya bisa mengakibatkan hal sefatal itu. Mata bulat Deandra mulai berkaca-kaca hingga tanpa sadar ia merasakan gemetar di pundaknya.
"Sekarang mari kita hitung berapa kerugian kehilangannya.'' Pria itu meletakkan satu persatu kartu itu di atas ranjang dan mulai memperkirakan jumlah uang yang tersimpan di dalamnya.
"Tapi...tapi...semuanya, masih...masih utuh! Dan tidak ada yang hilang sama sekali, ‘kan? Aku bahkan sama sekali tak tahu menahu tentang dompet itu?'' potong Deandra membela diri. Gadis itu mengerjap gugup menahan ketakutannya. Sementara otaknya berpikir keras pekerjaan apa yang dilakukan orang tersebut.
"Ada satu! Dan itu sesuatu yang paling berharga untukku. Sudah sejak lama aku menginginkannya, tetapi begitu aku menemukannya ia malah tiba-tiba...menghilang...''
Jantung Deandra serasa mencelos. Dan ia benar-benar menggigil membayangkan apa yang telah ia hilangkan tanpa sengaja.
"Ap...apa?'' tanya Deandra dengan takut-takut dan mulai berkaca-kaca.
Pria itu terdiam menatapnya dalam-dalam.
Deandra menahan napasnya. Bulir-bulir keringat dingin membasahi pelipisnya di tengah ruangan dingin AC tersebut.
"Canduku! Dia melebihi opium! Dan hanya ada satu-satunya,'' Pria asing itu menatap Deandra seolah ingin menelannya hidup-hidup dan membuat Deandra tercekat tak bisa bergerak. Ia mendekat dan meraup wajah mungil Deandra yang ketakutan, hingga membuat matanya semakin membulat indah.
Deandra mengerjap kebingungan, namun sebelum ia melayangkan protesnya, laki-laki itu sudah mengungkungnya dan mencumbunya dengan penuh gairah, “Kau! Kaulah canduku, Sayang.”
“Tunggu ....” ucapan Deandra terpotong oleh pagutan bibir pria itu. Deandra mengerang tanpa bisa melawan hingga untuk beberapa lama Deandra terengah.
"Berani-beraninya kau melarikan diri dariku,'' ancamnya sambil terus mencumbui leher jenjang Deandra hingga membuat gadis itu mengejang kegelian. Apalagi saat tiba-tiba jari-jemari pria itu menyusuri kedua aset kembarnya yang terpapar dengan indahnya, Deandra tak bisa lagi mengendalikan dirinya untuk mengerang dan mendesah.
"Heeenn...tikan....Aaghkk...Janga...nnn...'' Deandra menggelinjang menahan geli di atas ranjang rumah sakit yang bergoyang akibat pergerakannya yang frontal.
Namun pria asing nan memukau itu tetap menikmati d**a Deandra yang mulai mengencang. Deandra menjambak rambut pria itu yang membuatnya kembali mendekat padanya untuk melumat bibirnya, namun tangan Deandra dengan cepat menampar pipi laki-laki itu.
Keduanya saling memandang dengan terkejut. Deandra segera menutupi bagian tubuhnya yang terbuka, sementara pria itu mengusap sudut bibirnya bekas tamparan Deandra.
"Dasar laki-laki m***m bre***ek! Apa kau tak melihat ini di rumah sakit!'' bentak Deandra seolah tak peduli akan ketakutan yang ia rasakan sebelumnya.
Dengan menahan kesal laki-laki itu beringsut dari posisinya. "Asal kamu tahu, rumah sakit ini adalah milikku,'' ucapnya dengan angkuh sambil berdiri dan menggulung ujung lengan kemeja putihnya hingga ke siku kekarnya. Pergerakan maskulin itu semakin membuatnya terlihat menyilaukan dimata Deandra.
Deandra mendekap mulutnya mendengar ucapan pria itu.
“Jadi, semua yang kulakukan itu adalah urusanku. Tak akan ada yang bisa melarangku,” imbuhnya dengan senyum mengembang dan membuat jantung Deandra lagi-lagi tak karuan dibuatnya.
Pria itu meraih ponsel dari saku celananya dan menelepon seseorang dan berbicara dengan bahasa asing. Deandra yang masih tersihir dengan pesona pria itu hanya bisa menatap segala tingkah angkuhnya yang memancarkan aura kejam dan mendominasi sekaligus seksi.
Pria itu mengakhiri pembicaraan dan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu beralih kembali pada Deandra yang langsung membuang muka, menutupi rona merah yang merambat di pipinya. Pria itu mendekat dengan perlahan membuat jantung Deandra semakin berdegup sangat kencang.
Pria itu meraup wajah Deandra dengan kedua tangannya dan mendaratkan kecupan di bibir gadis itu. Lembut. Hal itu membuat Deandra menggigil seketika, ada perasaan berdesir aneh dalam dirinya.
"Cepatlah pulih, aku akan menjemputmu pulang,'' ucapnya dengan lembut lalu mencumbu bibir Deandra dengan rakus dan menghisapnya cukup lama dan membuat Deandra mengerang gelisah.
"Sial! Aku menginginkanmu saat ini!'' gumam pria itu di bibir Deandra. Deandra mendorong d**a bidang laki-laki itu.
"Aku sakit!'' ucap Deandra dengan kegugupan yang terlihat jelas. Pria itu terkekeh.
"Mulai saat ini kau hanya akan menikmatinya, Sayang. Kujamin itu. Karena aku sudah merenggut paksa rasa sakitmu semalam,'' bisik pria itu di telinga Deandra, yang membuat memerah telinga dan wajah gadis itu.
Dan tanpa basa basi pria itu menarik leher Deandra untuk mencumbunya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Dan tak berapa lama kemudian, mereka telah larut dalam gelora cinta dan kepemilikan yang membara.
“Jangan...” mohon Deandra dengan wajah ketakutan. Namun bukannya kasihan, pria itu justru semakin tergoda menatap wajah Deandra yang memohon dengan polos.
“Kalau kau memasang wajah seperti ini lagi, aku tak akan bisa mengendalikan diriku lagi, Nona,” sahut laki-laki itu meraih dagu Deandra.
“Oh sial! Sudah kubilang jangan seperti itu! Jangan salahkan aku jika aku harus menelanmu saat ini juga,” desisnya dengan tatapan dingin menusuk.
Akan tetapi Deandra yang masih tak memahami hal itu semakin memasang wajah bingung dan polosnya yang membuat pria itu serta merta memaki di ujung bibirnya, sebelum akhirnya ia mencumbu kembali Deandra yang ada dalam kungkungannya dengan penuh gairah.
Entah sudah berapa kali pria itu menggeram karena melakukan pelepasannya, namun ia terus menggempur Deandra hingga gadis itu lemas dan kelelahan.
Deandra memejamkan kelopak matanya dengan berat, dan mulai tertidur, walaupun begitu ia masih bisa merasakan pria itu menyelimuti tubuhnya setelah ia merapikan baju Deandra. Terdengar langkah kaki pria itu menjauh dan melemparkan dirinya di atas sofa sambil sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Tak lama seseorang memasuki ruangan itu.
"Jadi dia orangnya? Cantik sekali. Tak seperti perempuan pada umumnya yang biasa 'merayumu'. Kau tahu maksudku, ‘kan? Kira-kira siapa yang mengirimnya?'' sahut laki-laki yang baru datang dan bersuara agak merdu, begitu cepat mengeluarkan komentarnya panjang lebar.
"Itulah yang sedang aku selidiki, walaupun aku sudah menghajarnya habis-habisan tetapi dia tetap tak mengatakan apa-apa.''
"Oh, aku jadi penasaran dan bertanya-tanya, metode menghajar seperti apa yang kau terapkan, hingga membuatnya seperti ini.'' Laki-laki itu tertawa kecil.
"Sialan! Jika dia memang terbukti salah satu dari komplotan mereka, maka aku harus segera membunuhnya. Padahal aku mulai kecanduan menyentuhnya. Gara-gara melihatnya menangis aku jadi tak tahan dan menjadikannya wanitaku.''
"Ah, kau selalu seperti itu setiap melihat perempuan menangis. Kurasa kau harus membuang sifat melankolis mu itu, kau tahu!''
"Sial! Kau pikir apa aku selalu begitu? Enak saja! Aku tidak serendah itu, Sam!”
“Oh, benar! Ya, kau benar. Kau selalu tahu walau hanya sekali melihat wajah para perempuan itu. Berarti, dia bukan jenis wanita sembarangan karena dia bisa membuatmu gila seperti ini. Selain dia memang cantik memikat tanpa polesan, apa yang bisa membuatmu begitu lepas kendali, Morgan?”
“Sialan! Lagi pula apa kau bisa membuang rasa ingin menyentuh wanita jika dimatamu ia terlihat sangat menggairahkan?”
"Sial! Kau benar!''
“Dan apa kau tahu, Sam? Dia masih perawan! Ini gila! Aku bisa gila!”
“Oh sial. Kurasa kau benar-benar sial kali ini, Morgan Luis Eliot. Berurusan dengan perawan itu sangat merepotkan. Kau harus berbuat sesuatu sebelum semuanya semakin runyam. Maaf, aku hanya mengingatkanmu, Sobat.”
"Kau benar, Sam. Baiklah, aku harus pergi, jaga ketat tempat ini, aku tak mau dia melarikan diri lagi.''
"Kau tak ingin dia melarikan diri atau kau takut kehilangan dia? Itu sangat berbeda, Sobatku, hahaha...''
"Ah sialan! Dia akan jadi wanitaku! Lihat saja! Aku akan memilikinya seutuhnya!''
"Bukannya sudah?”
"Aaahh... bre***ek!''
Kedua laki-laki itu melangkah pergi diselingi tawa renyah laki-laki bersuara merdu itu. Walaupun otak Deandra sangat ketakutan mendengar pembicaraan kedua laki-laki asing itu, namun raganya terlalu lelah agar menuruti perintah otaknya untuk melarikan diri, hingga akhirnya ia benar-benar terlelap.