Beberapa hari berlalu, hari itu tanpa sekalipun Deandra bertemu dengan laki-laki asing itu. Padahal biasanya setiap hari ia selalu ada di sana. Dan setidaknya dua kali dalam sehari ia harus melayani kemauan pria itu, yang kini mulai begitu lembut padanya.
Kini hatinya benar-benar lega, walau sesaat ia merasa ada sesuatu yang hilang. Ia menuruti semua perintah dokter dan perawat yang menjaga untuk banyak makan dan minum. Ia tak pernah mengeluh ataupun meminta sesuatu yang merepotkan para perawat jaganya walaupun para perawat itu selalu menawarkan apa pun dengan sopan. Melihat sikap dan tingkah laku Deandra yang baik, membuat semua orang menyukainya.
‘Apa maksudnya aku harus dirawat selama beberapa hari seperti ini? Ini bahkan sudah melewati seminggu, seolah aku seperti seorang pesakitan,' keluh Deandra dalam hati.
Seorang perawat tiba-tiba datang dengan senyum mengembang. Wanita berambut pirang itu mengulurkan sebuah ponsel kepada Deandra.
"Nona, Tuan ingin berbicara dengan, Nona.'' Sang Perawat tersenyum sambil meraih tangan Deandra untuk segera menerima benda itu.
"Untuk apa?'' sahut Deandra pada sang perawat yang perlahan beringsut menjauh.
"Tentu saja untuk komunikasi!'' sergah Sang Tuan dari ponsel yang ternyata telah tersambung melalui panggilan video. Deandra tersentak kaget, namun segera menguasai keadaan dan melambaikan tangannya dengan kaku.
"Kau sudah makan?'' Suara berat pria itu membuka suara.
"Sudah.''
"Minum obat?''
"Sudah.''
Hening.
"Ekhem... Ya sudah. Istirahat saja.''
"Baik.''
Hening lagi.
"Hei! Kalau aku telepon cepat angkat, jangan lambat untuk mengangkatnya. Ingat itu!''
"Baik.''
"Kau harus segera mengangkatnya! Kau paham?''
"Iya.''
Hening sekali lagi.
Pria itu berdehem. “Ya sudah istirahatlah. Hei, tapi, apa kau tak ingin mengucapkan sesuatu padaku?”
“Ti, tidak.”
“Apa? Ya sudah. Bye.”
Tiba-tiba layar pun menghitam berakhirlah telepon video itu.
‘Apa-apaan dia itu? Kenapa tiba-tiba baik lalu tiba-tiba marah begitu? Dasar aneh!’
Gerutu Deandra dalam hati seraya mengernyit bingung menatap layar ponsel yang telah mati itu dan menyerahkannya pada sang perawat yang masih menahan senyum. Perlahan rasa panas menjalari kedua pipinya.
"Ini, Suster.'' Deandra menyerahkan telepon seluler itu kepada sang perawat.
"Ah tidak, kata Tuan telepon genggam itu untuk Nona. Sebagai ganti milik Nona yang hilang. Oh iya, apa Nona butuh sesuatu lagi?'' Sang perawat menawarkan sesuatu sekali lagi kepada Deandra yang masih menampakkan wajahnya yang syok masih sambil memegang ponsel di tangannya.
"Ah ti...tidak, terima kasih.''
Ucapan Deandra membuat perawat itu meninggalkan kamarnya dengan wajah yang masih menyisakan senyum mengembang, walau ia tak berkomentar apa pun.
Perlahan pipi Deandra makin terasa panas karenanya. Ia tahu, perawat itu pasti berpikir ia adalah kekasih Tuannya dan itu membuatnya gelisah tak nyaman.
‘Kenapa juga dia harus menelepon hanya untuk menanyakan hal-hal tidak penting seperti itu? Dasar laki-laki aneh. Menyebalkan.’
Lagi-lagi Deandra menggerutu dalam hati.
Lalu tiba-tiba ia teringat semua sentuhan dan cumbuan pria itu. Bagaimana pria itu bisa membuat ritme itu terasa panas dan lembut sekaligus. Baru kali ini Deandra merasa didambakan dan dibutuhkan orang lain, apalagi laki-laki. Dan pria itu sangat tampan luar biasa.
Wajah Deandra makin panas dari sebelumnya dan membuatnya makin gelisah tak karuan. Bahkan jantungnya berdebar sangat kencang hanya dengan memikirkannya saja. Deandra menutupi wajahnya dengan bantal.
‘Apa-apaan ini? Oh, cukup Deandra! Kenapa aku tak bisa berhenti memikirkan dia terus?’
Rutuknya pada dirinya sendiri yang berpikiran liar gara-gara pria asing yang bahkan ia tak tahu siapa nama dan identitasnya itu, hingga akhirnya membawa ingatannya kepada percakapan laki-laki itu dengan temannya yang ingin membunuhnya, maka semua lamunan indah itu langsung buyar seketika.
‘Oh tidak! Aku baru ingat! Dia melakukan itu hanya untuk membunuhku? Oh astaga! Ini tak bisa dibiarkan! Aku harus pergi dari tempat ini. Benar-benar sial, kenapa aku baru ingat setelah beberapa hari? Dasar Deandra bodoh! Lepas dari si bre***ek Bram aku malah terjebak dengan pria me**m ba***gan! Huh! Ini sama saja aku lari dari kandang buaya masuk ke kandang singa! Aku harus pergi sekarang juga!’
Deandra terus berpikir keras menyusun rencana untuk melarikan diri. Dalam kekalutannya, ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya lalu membuka korden kamar. Ia berada di lantai lima dengan pemandangan yang menunjukkan jalanan kota Jakarta. Gemerlapan lampu malam hari yang hampir menerangi seluruh kota itu membuat hati Deandra merasa tenang sekaligus kesepian.
Deandra selalu teringat masa kecilnya yang besar di panti asuhan sampai ia memasuki usia remaja, setiap menghadapi kegundahan ia selalu memandangi gemerlapnya lampu kota dari loteng kamarnya. Seolah cahaya itu akan menerangi dan memberinya secercah harapan atas apa yang ingin diraihnya.
Ia terkenang kembali pada ibu Madelyn, ibu panti yang sangat menyayanginya seperti putrinya sendiri, bahkan nama Finley miliknya adalah nama belakang Ibu Madelyn, yang sering berpesan padanya.
"Ingatlah Deandra, lampu-lampu itu seperti cahaya yang akan selalu menuntunmu dan menunjukkan jalanmu, Sayang. Jadi jangan pernah kau menyerah, ya.''
‘Ibu Madelyn... Andai Ibu masih ada saat ini,' gumam Deandra dengan sedih. Lalu ia teringat Emely, satu-satunya sahabat yang ia punya saat ini, seolah menggantikan Bu Madelyn untuknya.
‘Andai saja aku menghafalkan nomor telepon Emely, aku yakin dia bisa menolongku. Ah... tidak, tidak! Pria itu sepertinya sangat jahat! Aku takut Emely akan kena getahnya. Oh Tuhan... Aku harus bagaimana?’
Desah Deandra dengan hati gemeresik. Gadis itu menggigit bibirnya dengan bingung.
Seolah Tuhan mendengar doanya, saat itu waktu tiba jam makan malam. Seorang perawat memasuki ruangan dengan nampan yang penuh berisi makanan.
Seperti biasa Deandra makan dengan lahap dengan bantuan perawat itu. Lalu setelah meminum obat dan vitamin ia meminta perawat muda itu mengantarkannya berjalan-jalan.
Malam itu, angin bertiup semilir dan terasa lembap. Kini Deandra duduk di sebuah kursi roda ditemani oleh seorang suster berambut gelap. Serta dua orang memakai jas hitam yang berdiri di belakang tak jauh dari tempat mereka. Wanita cantik itu tersenyum pada Deandra.
"Anda pasti bosan ya, Nona?'' sapa wanita itu mengawali pembicaraan, karena melihat Deandra hanya diam membisu.
"Aaahh... Iya... Suntuk sekali tak melakukan apa-apa selama beberapa hari,'' jawab Deandra sekedarnya, karena ia sibuk mengamati situasi halaman rumah sakit itu dan memikirkan cara untuk melarikan diri dari tempat itu. Dia menimbang-nimbang, seberapa jauh ia bisa berlari dari kejaran dua pengawal itu.
"Ya, tapi lusa mungkin Tuan akan segera kembali dari London, Nona, jadi Nona tak akan sendirian lagi,'' lanjut wanita cantik berambut hitam legam senada dengan warna matanya itu dengan senyum yang masih mengembang.
"Aaaahh... I...iya... Saya malah tak tahu dia akan kembali,'' cicit Deandra yang membuat perawat itu tersenyum lebar dan langsung meminta maaf kepada Deandra karena merasa tidak sopan. Deandra memakluminya dengan senyum yang ia paksakan.
Sekali lagi nasib baik sedang berpihak pada Deandra, saat itu tiba-tiba sebuah mobil ambulans memasuki halaman rumah sakit itu dengan suara yang meraung-raung. Membuat suasana yang awalnya sepi jadi hingar bingar untuk beberapa saat.
Terlihat pengemudi ambulans itu membuka pintu belakang dengan tergesa-gesa dan mengeluarkan seorang wanita yang akan melahirkan. Dengan dibantu seorang perawat laki-laki yang datang mereka membopong tubuh wanita yang kesakitan itu, namun mereka tampak kesulitan.
"Oh Tuhan! Suster, tolong dia. Kasihan sekali! Ooohh... Awas nanti jatuh! Itu bagaimana? Ooohh Tuhan! Astaga! Tolong itu!'' Deandra mencicit panik hingga semua ikut panik dan membuat dua pengawal yang menjaganya langsung menghambur membantu mengangkat wanita hamil itu untuk dipindahkan ke ranjang dorong. Sang perawat pun ikut berlari mendekati sumber kegaduhan. Semua mata tertuju pada keramaian itu.
Melihat mereka teralihkan, Deandra tak menyia-siakan kesempatan itu. Ia segera mencabut paksa selang infusnya dan berlari sekencang mungkin di antara kerumunan orang-orang yang ada di halaman rumah sakit. Ia terus berlari dan berhasil menaiki sebuah taksi.
"Pak! Cepat jalan!'' perintah Deandra sambil melongok ke belakang memastikan ia tak diikuti. Akhirnya ia bisa bernapas lega, sampai taksi berbelok ia tak melihat ada satu pun mobil yang mengejarnya.
Setelah beberapa lama berjalan, Deandra berhenti di sebuah konter ponsel untuk menjual ponsel baru yang ia punya untuk membayar biaya taksi. Dia benar-benar terkejut dengan harga ponsel yang ternyata berharga selangit dan sang pemilik konter sempat mencurigai penampilan Deandra yang hanya memakai piama tidur rumah sakit. Deandra berdalih, ia membutuhkan uang untuk biaya rumah sakitnya.
Walaupun dengan proses yang cukup susah, namun melihat Deandra yang menangis beralasan butuh biaya, ia mengisi alamat di mana dia tinggal sebagai jaminan bahwa ia tak mencuri, akhirnya ia berhasil mendapatkan uang tersebut. Lalu ia bergegas kembali kepada taksi yang menunggunya dan terus membawanya sampai ke apartemen kecilnya lalu menangis sejadi-jadinya. Ia sangat lega telah pulang dengan selamat.
Deandra segera membersihkan diri dan berganti baju dan mengobati punggung tangannya akibat selang infus. Ia menatap sisa uang yang begitu banyak tersebar di ranjang. Gadis itu tak menyangka jika ponsel yang ia jual bukanlah ponsel sembarangan dan ia merasa gugup karenanya.
Betapa terkejutnya ia saat menghitung sisa uang yang berjumlah lima juta empat ratus ribu rupiah. Dengan tangan gemetar, Deandra segera memasukkan uang itu ke dalam tas kecil dan menyelipkannya di dalam lemari. Tangannya tak henti-hentinya gemetar karena secara tak langsung ia telah mencuri uang yang begitu banyak dari seorang Tuan Besar.
Ia ingin segera meninggalkan apartemennya. Ia ingin pergi sejauh mungkin. Namun, saat ini karena rasa lelah yang menderanya membuatnya lebih membutuhkan tidur. Apalagi waktu telah menunjukkan hampir tengah malam.
‘Semalam saja, semalam saja aku ingin beristirahat sejenak. Besok aku akan pergi dari sini. Ya Tuhan...’
Deandra mulai terlelap saat sepasang kaki laki-laki berdiri di depan pintu apartemen kecilnya dan mulai membuka pintunya.