Bab 7 Bram Oliver

1071 Kata
Deandra terbangun dengan gelisah, ia merasa ada sesuatu yang menjalar di tubuhnya. Dari kaki hingga ke perutnya. Sambil mengerjap-kerjapkan matanya yang masih terasa berat, ia memaksa membuka matanya. Namun ia seketika terlonjak dari tidurnya saat melihat Bram sedang menciumi perutnya. "AAAAKGGHH! APA YANG KAMU LAKUKAN!" pekiknya histeris dan beringsut menjauh dari jangkauan Bram. "Hei, Sayang. Ke mana saja kau selama hari ini. Aku sangat merindukanmu,'' sahut Bram menatap Deandra dengan tatapan yang sudah berkabut. "Tidak! Dasar pengkhianat! Laki-laki Bre***ek! Bagaimana kau bisa masuk?'' Deandra segera merapikan gaun tidurnya dan berusaha mencari jalan untuk turun dari ranjang. "Kau lupa? Bukankah kita saling bertukar password kamar kita?'' Bram meraih tangan Deandra yang langsung ditepiskan oleh gadis itu. "Pergi Bram! Kau sudah mengkhianatiku! Jadi kita putus saja! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!'' pekik Deandra berusaha menjauh dari Bram. "Apa maksudmu, Sayang? Aku dan perempuan itu tak ada hubungan apa-apa. Ayolah, ini hanya salah paham, Dean. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Aku sampai berpikir kamu bunuh diri. Aku sangat takut jika itu terjadi. Maafkan aku,' bujuk Bram mendekati Deandra. "Dasar bre***ek! Bisa-bisanya kamu berkata begitu setelah apa yang kamu lakukan? Kau gila Bram! Dasar laki-laki tak bermoral! Pergi dari sini! PERGI!" bentak Deandra sambil mendorong d**a bidang Bram. Akan tetapi, Bram malah menangkap kedua tangan Deandra dan membuat gadis itu jatuh terlentang. "AAGGKH BRAAAAM! LEPAAAASSS! TOLONG! TO..." Bram membenamkan bibirnya ke bibir Deandra untuk mengunci mulutnya. Deandra menggeliat untuk berontak. Kedua kakinya berusaha menendang-nendang Bram. Walaupun usahanya sempat mengenai kaki Bram, namun laki-laki itu tetap tak bergeming. Ia terus mencumbu bibir ranum Deandra yang terengah di tenggorokannya. Bram mengunci tubuh Deandra dengan kasar, ia membuka ikat pinggangnya dan mengikatkannya pada kedua pergelangan tangan gadis itu. "Braaaamm! Apa yang kamu lakukan! Braaamm lepas! Sakiiiit! Dasar laki-laki jahat!'' pekik Deandra histeris. Dan detik berikutnya Bram telah merobek paksa gaun tidur tipis Deandra. "Jangaan! Braaaam! Kumohon... Braaam! Tidaaaaakkk....'' jerit Deandra memohon dengan berurai air mata. Akan tetapi, Bram yang telah gelap mata tak mengacuhkannya. Bram seperti seorang kesetanan. "Kau pikir kau siapa Dean, berani-beraninya menolakku! Selama ini aku sudah terlalu lama dan terlalu sabar menunggu hanya untuk hal ini!'' Bram mencumbu leher dan kedua aset kembar Deandra. Gadis itu memekik dalam tangisannya, namun Bram membekap mulutnya dengan sebelah tangannya dan tangan yang lainnya bebas menjelajah kulit Deandra. Deandra menggeliat berontak dan menendang-nendangkan kakinya sebisanya. Namun, hal itu malah membuat Bram makin b*******h dan langsung menghunjam Deandra dengan kasar. "EEEMMMHHHPP...!" pekikan Deandra tertelan oleh tangan Bram yang dengan kuat membekap mulutnya. Air mata Deandra terus mengalir membasahi kedua pelipisnya. Ia terisak dalam tenggorokannya saat Bram terus menerus menghunjamnya. Bram melepaskan tangannya setelah puas dengan pelepasannya. Sementara Deandra terisak di bawah kungkungannya. Gadis itu meludahi Bram dan menatapnya penuh kebencian. Merasa terhina Bram menampar Deandra. "Sialan! Berani-beraninya kau meludahiku! Dasar perempuan rendah! Asal kau tahu ya, selama ini aku tak pernah mencintaimu! Aku mau berpacaran denganmu itu karena aku melakukan taruhan dengan teman-teman. Kalau aku bisa menaklukkanmu maka mereka akan membayarku. Kau paham?'' papar Bram dengan wajah puasnya. "Terkutuk bre***ek kau Bram! Dasar ba***an!'' maki Deandra sambil beringsut menjauh dari tubuh Bram. "Aku tak menyangka menyenangkan juga harus pacaran dengan perempuan senaif dan sepolos kamu. Hahaha... Yang benar saja, aku harus berpura-pura jatuh cinta padamu. Tapi aku sadar hanya kamu yang bisa membuatku sabar menunggu selama berbulan-bulan untuk ini,'' ucap Bram sambil menarik leher Deandra dengan kasar dan menciuminya. Deandra menggeliat marah. “Kau jahat!” pekik Deandra dengan terisak. "Asal kamu tahu, mereka bisa menyerahkan dirinya padaku tanpa kuminta, apalagi memaksa sampai seperti ini. Dan itu tak butuh waktu lama. Tapi kau! Bisa-bisanya kau sok suci denganku! Haaahh... Tapi lihat dirimu sekarang! Kau akan menjadi milikku dan memohon-mohon padaku mulai sekarang! Sama saja seperti para ja**ng itu! Kau pun akan sama seperti mereka! Tetapi ternyata menaklukkan perempuan pemberontak itu lebih seru,'' oceh Bram tak ada henti-hentinya seraya terbahak-bahak. Hal itu dimanfaatkan oleh Deandra mengambil kesempatan untuk melompat dari ranjang dan membuka ikatan di pergelangan tangannya. "Dalam mimpimu!'' bantah Deandra sambil menjauh seraya membenahi bajunya yang telah koyak berantakan. "Heh, mau ke mana kau!'' Bram berusaha meraih Deandra dan mengungkungnya sekali lagi, namun Bram mundur seketika saat Deandra berhasil meraih pisau dan menyabetkannya pada Bram. Bram menghindar tepat waktu. "PERGI KAMU! PERGI!" ancam Deandra dengan menyabetkan pisau di tangannya dengan membabi buta. "Wow, wow! Hei! Oke, aku pergi! Jangan kau sampai melukai dirimu sendiri, Dean! Oke! Oke, aku pergi!'' pekik Bram berusaha menenangkan Deandra yang nekat. Wajah Bram terlihat panik dan ketakutan. Deandra terus menyabetkan pisau itu di sela isaknya. Lalu setelah merapikan bajunya, Bram meletakkan segepok uang di ranjang Deandra yang membuat gadis itu tertegun. "Ini, jika kau sampai mengandung karena perbuatanku tadi sebaiknya gugurkan saja, karena aku tak mau bertanggung jawab apalagi harus menikahimu, NOPE! Anggap saja ini kompensasi. Walau kita sama-sama menikmati. Yah, karena aku sangat terburu-buru, aku tak membawa pengaman. Aku tak tahu kalau kau sudah pulang, setelah beberapa hari kau menghilang.'' Lagi-lagi Bram mengoceh tanpa henti. “Dasar laki-laki jahat!” Deandra segera meraih uang itu dan melemparkan uang itu ke muka Bram yang sedang menatapnya penuh keangkuhan, membuat uang itu bertebaran ke mana-mana. "Bre***ek kau Bram! Ba***an! Bawa kembali! Ambil kembali! Kau jahat! Bre***ek!'' cicit Deandra yang hanya bisa mengumpat melihat penghinaan laki-laki yang beberapa hari lalu adalah kekasih pertamanya yang sangat ia cintai. "Baiklah, seperti katamu. Kita putus. Bye Deandra, Sayang. Terima kasih atas kenikmatan yang kau berikan hari ini,'' kata Bram sambil tersenyum penuh kepuasan. Bram melenggang seolah tak memedulikan ucapan Deandra. Sepeninggal Bram, Deandra jatuh terduduk dengan tangis yang meraung. Hidupnya telah hancur luluh lantak. Hancur tak menyisakan apa pun. Ia memandang pisau dalam genggamannya. Dengan wajah getir ia meletakkan pisau itu di atas pergelangan tangan kirinya. Ia ingin menyayatnya dan mengakhiri hidupnya saat ini juga. Akan tetapi tiba-tiba ia merasakan gejolak aneh dalam perutnya. Semakin lama semakin terasa kuat, Deandra berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang kosong. Berkali-kali rasa itu terus menderanya dan membuat kepalanya berdenyut-denyut. ‘Oh tidak! Aku tak mau ke rumah sakit lagi! Aku takut bertemu pria itu. Sebaiknya aku segera berkemas!'' ucap Deandra dalam hati segera bangkit dan kembali menuju kamarnya. Ia melirik jam dinding yang terpajang di dinding kamar menunjukkan pukul dua belas siang lebih dua puluh lima menit. Deandra segera mengemasi semua barang-barangnya yang hanya cukup menempati dua koper besar dan kecil. Namun, lagi-lagi perutnya terus bergejolak tak karuan dan merasakan mual yang luar biasa. "Tidak! Aku harus kuat! Aku harus bisa!''
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN