Menjelang sore, Deandra berusaha menahan serangan mual yang terus menderanya. Ia yang bahkan belum makan apa pun seharian itu hanya bisa terduduk lesu tanpa bisa berbuat apa-apa.
‘Oh iya, seharusnya aku ke kampus dan menemui Emely. Sepertinya karena aku hampir dua minggu tak ke kampus pasti Emely mencari-cariku. Ya, aku harus menemuinya lebih dulu sebelum aku pergi dari sini.’ Deandra bergegas bangkit dan bersiap-siap.
‘Tapi sekarang aku merasa kelaparan sekali, sebaiknya aku makan dulu di sekitar sini, sebelum bertemu Emely. Toh dia juga pasti belum selesai kelas.’
Pikir Deandra seraya menuju sebuah warung makan yang ada di seberang jalan kampusnya. Deandra memesan makanan dan minuman hangat seraya melihat situasi. Gadis itu memakai jaket kerudung serta masker wajah untuk menutupi wajahnya agar ia tak terlihat oleh Bram atau teman-temannya.
‘Ah tapi bagaimana aku harus menemui Emely tanpa ketahuan orang lain?’ pikir Deandra mencoba mencari cara. Melihat beberapa teman sekelasnya telah membubarkan diri, Deandra segera menulis sebuah pesan dalam sebuah kertas dan meminta tolong pada salah seorang pegawai warung makan tersebut.
Setelah membayar makanannya, Deandra segera bangkit dan berlari keluar saat ia melihat Emely yang sedang menatap ke arah warung bersama dengan salah satu pelayan warung itu.
“Emely!” pekik Deandra dengan senang. Sementara Emely melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Bahkan gadis itu terlihat dengan lari kecilnya ingin segera menjumpai Deandra yang berjalan ke arah Emely.
Namun langkah Deandra terhenti saat melihat dua buah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari situ dan beberapa lelaki berpakaian serba hitam sedang berpencar bahkan hingga ke pelataran kampusnya.
‘Oh tidak! Sepertinya itu para pengawal pria asing itu? Oh tidak, mati aku! Bagaimana mereka bisa ada di sini? Mati aku!’
Deandra segera menenggelamkan wajahnya dalam kerudung bajunya. Namun, salah seorang dari mereka sempat melihat wajah Deandra dan lelaki itu terlihat menunjuk ke arah Deandra kepada temannya yang terdekat dengan posisi Deandra.
‘Oh tidak! Mati aku! Semoga mereka tadi tak melihat Emely yang melambaikan tangan padaku. Oh tidak! Aku harus pergi, maafkan aku Emely!’
Mau tak mau Deandra segera meninggalkan tempat itu dengan berlarian sekencang mungkin dan menghilang dalam gang-gang kecil yang ia tahu. Ia sengaja mengambil jalur melawan arah agar mereka tak bisa menyusulnya dengan mobil dan itu akan menyusahkan mereka.
Dengan napas tersengal-sengal, Deandra yang telah memasuki gang-gang kecil perumahan itu berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. Ia benar-benar kewalahan, apalagi tiba-tiba gejolak dalam perutnya mulai menyerangnya.
Deandra segera mencari tempat tersembunyi untuk memuntahkan isi perutnya yang lebih berisi cairan hingga membuatnya lemas dan berurai air mata.
Gadis cantik itu terduduk di bawah sebuah pohon rimbun di belakang rumah seseorang. Dengan susah payah dan menahan tubuhnya yang gemetaran, Deandra kembali bangkit dan mencoba untuk berjalan. Walau tertatih-tatih ia mencoba untuk terus berlari.
‘Oh syukurlah, aku akan sampai. Ini mengerikan! Bagaimana orang-orang itu tahu kampusku? Siapa mereka sebenarnya? Oh tidak! Mereka pasti benar-benar akan membunuhku! Aku harus pergi dari sini.’
Deandra melangkah dengan gontai seraya mengusap peluh serta air mata yang mulai membasahi pipinya. Gadis itu memasuki kompleks apartemen sederhana yang disediakan oleh kampusnya bagi para mahasiswa yang berasal dari luar kota.
Namun lagi-lagi langkah Deandra harus terhenti, karena ia melihat di depan pintu masuk gedungnya, dua laki-laki berbadan kekar dan berpakaian serba hitam berdiri menunggu.
‘Oh tidak! Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mereka mengetahui apartemenku? Ini benar-benar mengerikan! Aku harus bagaimana ini?’ keluh Deandra berdebar-debar tak karuan, bersembunyi di balik gedung apartemen yang berada di samping gedungnya.
‘Tunggu. Mungkin saja mereka tak tahu di mana kamarku. Setidaknya aku akan mengambil koperku dulu lalu pergi,' pikir Deandra bergegas menaiki tangga di gedung itu.
Dengan berjalan mengendap-endap, ia kini sampai di lantai yang sama dengan lantai kamarnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat dua orang sedang berada di depan kamarnya yang terbuka.
Deandra bersembunyi di balik pagar beranda yang hanya setinggi perutnya. Dengan hati-hati ia mengintip ke arah lorong kamarnya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Bram ada di sana dengan seorang laki-laki yang keluar dari kamarnya.
‘Kenapa ada Bram? Kenapa dia ada di sana? Apa yang dia lakukan? Bram bre***ek! Apa dia yang menunjukkan semua alamatku kepada mereka? Dasar Bram jahat! Masih tak cukupkah ia setelah menyakitiku seperti itu? Sekarang dia masih tega melakukan ini padaku?’
Deandra menahan isaknya, saat melihat Bram terlihat bersitegang dengan mereka sebelum akhirnya para laki-laki itu pergi meninggalkan kamar itu. Deandra tetap bersembunyi sampai mobil-mobil hitam itu meninggalkan pelataran parkir apartemen.
Seraya mengatur napasnya, gadis itu kembali berlari ke arah gedung di mana kamarnya berada. Dengan bernapas lega, Deandra mencoba membuka pintu kamarnya. Namun pintu apartemen itu tak bisa terbuka. Dengan mengernyit bingung gadis itu mencoba mengulang untuk yang ketiga kalinya.
“Halo, Sayang. Apa kabarmu?”
Jantung Deandra serasa lompat keluar saat mendengar suara laki-laki menyapanya.
“Oh...Bram....” ucap Deandra terlontar terkejut namun seketika lega karena ternyata Bram yang berdiri di hadapannya bukan para pengawal itu.
“Dasar perempuan ja***g! Apa maksud ucapanmu? Kenapa kau bersikap begitu padaku?” umpat Bram tersinggung dengan sikap Deandra yang tak terkejut atau ketakutan seperti yang ia harapkan.
“Apa-apaan kau! Buat apa kau kemari lagi? Toh kita sudah putus!” sergah Deandra dengan ketus, “Pergi kau!” usirnya dengan kesal.
Hal itu membuat Bram sangat kesal dan mengimpit Deandra di dinding, “Dasar ja***ng! Ternyata di belakangku kau bermain gila dengan laki-laki lain! Berani-beraninya kamu! Ternyata kau perempuan yang paling munafik yang pernah kukenal!” maki Bram seraya merenggut wajah Deandra dengan kasar.
“Hentikan! Bram! Aku akan berteriak!” ancam Deandra mulai ketakutan.
“Teriak saja! Agar para laki-laki tadi akan menangkapmu!” desis Bram dengan marah.
“Jadi kau yang memberitahukan alamatku pada mereka? Kau juga yang mengganti password kamarku?” Deandra mulai menangis.
“Aku tak tahu menahu urusan kalian! Tiba-tiba mereka mendobrak pintu saat aku di dalam! Aku benar-benar kesal! Ternyata selama ini kau berpura-pura lugu, cupu dan naif! Tapi ternyata kau perempuan jalang pe***ur!” umpat Bram mendorong Deandra dengan kasar dan menggebrak dinding dengan emosi.
Deandra memekik menahan takut dan gemetar tak karuan. Apalagi melihat Bram yang berjalan mondar-mandir dengan blingsatan di hadapan Deandra.
“Terserah apa katamu! Aku sudah tak peduli! Ini semua gara-gara kamu! Kau yang tukang selingkuh, tapi kau menuduhku macam-macam!” bantah Deandra dengan berurai air mata.
“Sekarang buka kamarku! Kau tak berhak mengganti password kamarku! Kau pikir kau siapa?” lanjut Deandra tak mau kalah.
“Hei, dengar ya! Aku tak akan membuka kamar ini sebelum kau meminta maaf dan memohon padaku di hadapan semua orang atau aku akan menyebarkan kelakuanmu yang sebenarnya di luar sana! Bahwa kau seorang pe***ur ja***g simpanan konglomerat tua!”
Sebuah tamparan keras mendarat dengan telak di wajah tampan Bram.
“Baj***an kau Bram!” pekik Deandra tak kuasa menahan emosinya.
Dengan kesal Bram segera menangkap tangan Deandra dengan kasar dan melakukan sebuah panggilan kepada seseorang, “Halo, Tuan, aku sudah menangkap perempuan yang kau cari ....”
“Apa?”
Serta merta Deandra segera menendang alat vital Bram yang langsung membuat Bram tersungkur kesakitan dan membuat panggilannya terhenti.
Melihat kesempatan di depan matanya, Deandra segera melarikan diri dari tempat itu. Gadis itu tak memedulikan panggilan Bram yang diliputi dengan kemarahan itu menggema di seluruh gedung. Deandra segera berlari sejauh mungkin dengan berurai air mata.