Bab 9 Pulang ke Panti

1329 Kata
‘Ya Tuhan, terima kasih....’ doa Deandra dalam hati. Gadis itu terengah-engah seraya mengusap peluhnya yang bercucuran. Kini ia duduk dalam sebuah bus. Ia memeluk erat tas ransel kecil yang ada dalam pelukannya. ‘Untungnya aku sudah membawa semua uang-uang itu. Jadi aku bisa pergi dari tempat ini dengan uang itu. Maafkan aku Tuan Tampan, aku tidak bermaksud mencuri uang-uangmu, tapi aku terpaksa melakukannya karena aku tidak mau terbunuh olehmu. Sekali lagi maafkan aku,' batin Deandra merasa sangat bersalah. Akhirnya setelah menempuh perjalanan berjam-jam lamanya dan harus berganti bus dua kali dan satu angkutan umum, Deandra menapaki sebuah jalan setapak kecil yang diapit pemandangan bukit dan lembah. Gadis cantik itu tersenyum bahagia menikmati langkah demi langkahnya menuju ke sebuah bangunan yang menjulang di ujung jalan. Tak terasa bulir-bulir air mata mengalir di pipinya, terlintas semua bayangan masa kecilnya dulu sebelum ia mengenal Jakarta karena Bu Madelyn. Deandra segera mempercepat langkahnya tatkala melihat seorang wanita yang berusia sekitar empat puluh tahunan itu keluar dari halaman utama dengan menjinjing sebuah kantong plastik berwarna hitam dan melemparkannya ke dalam bak sampah. Wanita itu membungkuk mencuci tangannya di air keran yang ada tak jauh dari tempat itu. “Ibuuuuu... Bu Melinda...!” pekik Deandra dengan senang dan membuat wanita berperawakan kurus itu mendongak dengan terkejut. Deandra segera berlari dan memeluk wanita itu yang menyambutnya di luar pagar depan. Deandra menangis dalam pelukan wanita itu. “Dean? Kau pulang? Kenapa tak memberi kabar terlebih dulu?” sambut wanita itu dengan wajah penuh haru. Deandra mengusap air mata dan peluhnya, membuat Melinda tampak khawatir, “Ayo masuk, sepertinya kau sangat kelelahan,” ajaknya membawa Deandra masuk. “Apa kau sedang liburan? Kenapa mendadak sekali? Kau bahkan sudah sebulan terakhir memberi kabar, sekarang tiba-tiba kau muncul. Kau selalu penuh kejutan, Dean,” cecar wanita itu masih menyisakan rasa terkejutnya pada Deandra yang telah menghabiskan segelas air putih dingin di atas meja. “Lihatlah, kau membeli kue banyak sekali. Oh terima kasih, adik-adikmu pasti akan senang,” ujar Melinda yang kini duduk di hadapan Deandra dengan tangan penuh kue-kue di piring. Gadis itu tersenyum dengan tulus. “Dean, ingin pulang dan tinggal di sini lagi, Bu. Boleh, 'kan?” tanya Deandra yang membuat Melinda membeku. “Ada masalah apa? Jika kau ada masalah, bicaralah pada Ibu, Dean. Bukankah kau di sana harus kuliah? Lalu bagaimana dengan kuliahmu?” cecar Melinda menatap Deandra yang tertunduk diam. “Baiklah, mungkin kau butuh waktu untuk membicarakannya, ya sudah sebaiknya kau membasuh dirimu dan beristirahatlah, kau pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Lagi pula ini sudah menjelang malam,” ucap Melinda dengan wajah penuh pengertian. Wanita itu mengelus pundak Deandra dengan sayang lalu membawanya ke sebuah kamar yang ada di ujung lorong lantai dua. “Maafkan aku, kamar ini agak berdebu, karena jarang dipakai,” ujar Melinda seraya mengambil lap dan sapu. Deandra meminta keduanya dari wanita itu. “Tidak apa-apa biar saya saja, Bu. Terima kasih, Ibu sudah mengizinkan saya tinggal,” sahutnya dengan lembut, lalu bergegas menyapu dan mengelap pinggiran ranjang kayu itu. Lalu ia pun membasuh diri dan berganti pakaian rumahan yang ia beli saat membeli kue-kue itu di pasar. Malam telah larut saat akhirnya Deandra merebahkan tubuhnya di atas pembaringan tua itu. Entah dulunya milik siapa, yang jelas kamar itu mungkin saja milik anak-anak panti yang kini mendapatkan orang tua angkat yang baru. Tak seperti dirinya waktu itu. Hanya dirinya yang tersisa tanpa ada yang ingin mengangkatnya menjadi keluarga, itu dikarenakan Deandra yang mulai memasuki usia remaja. Tetapi dengan begitu ia bisa menjadi sangat dekat dengan Bu Madelyn. Yang mengasuhnya seperti putrinya sendiri, karena Bu Madelyn divonis tak bisa mempunyai anak karena kanker yang menggerogoti rahimnya sejak ia sebelum menikah. ‘Ibu Madelyn, Dean pulang, Bu. Dean rindu Ibu. Andai Ibu masih ada, pasti Dean tak akan kesepian sekarang ini,' jerit hari Deandra seraya berkaca-kaca. Kini ia bangkit dari rebahnya dan berjalan ke arah dapur yang ada di lantai bawah. Akan tetapi langkahnya langsung terhenti tatkala mendengar pembicaraan dua orang di bawah. Deandra mengintip melalui celah-celah tangga yang terbuat dari kayu. ‘Bu Melinda dan Pak Adam? Bukankah Pak Adam itu suami Bu Madelyn?’ pikir Deandra mengernyit bingung. “Kenapa dia tiba-tiba kembali ke mari? Harusnya kau melarangnya saja,” ucap laki-laki paruh baya dengan rambut yang berusia sebaya dengan Melinda, duduk bersebelahan dengan wanita itu. “Aku harus bagaimana lagi, Sayang. Aku tak bisa dengan serta merta mengusirnya, ‘kan? Lagi pula kenapa kau harus bersikap seperti itu? Deandra itu dulu anak kesayangan, Madelyn. Ya, Madie memang penyayang, sayangnya dia mati lebih cepat,” keluh Melinda dengan ucapan yang tanpa perasaan. Adam merangkul pundak Melinda dan mengecup pipinya dengan penuh cinta, “Kau juga penyayang. Lihatlah kau, begitu menyayangi laki-laki seperti aku yang harus bersabar karena istrinya yang mandul namun sangat terobsesi dengan anak-anak. Itu benar-benar menyiksaku.” “Tetapi kalau dia tak mandul, mana mungkin kau mau berpaling darinya saat kau melihatku waktu itu. Dan dengan bodohnya, Madie masih mempertahankan pernikahan kalian, aku benar-benar kesal,” sela Melinda yang membuat keduanya terkekeh seolah menceritakan pengalaman lucu. Lalu mereka saling mencium dengan penuh gairah. “Ah. Gara-gara melihat Dean aku jadi teringat semua itu. Aku jadi kesal,” imbuh Melinda menata rambutnya dengan gugup. “Sebaiknya usir dia. Aku tak mau dia membongkar semuanya. Aku rasa dia pasti tahu warisan yang ditinggalkan Madie untuknya. Makanya dia tiba-tiba datang. Kalau dia tahu semuanya, dia bisa merebut rumah ini dan kepemilikan uang itu. Aku tak mau bersusah payah mencari pekerjaan untuk saat ini,” keluh Adam meraih pundak Melinda dengan kuat, “Kurasa kau pun tak ingin hidup di jalanan, ‘kan?” Deandra membekap mulutnya dengan terkejut. Degup jantungnya bertalu-talu mendengar semua kenyataan yang selama ini tak pernah ia dengar sebelumnya. “Lalu apa alasanku untuk mengusirnya?” elak Melinda terdengar kesal. “Kalau tidak, biar aku yang akan membungkam gadis itu untuk selamanya, seperti yang pernah kita lakukan pada Madelyn dulu!” ucap Adam dengan suara berat dan geraman yang dalam. “Tidak. Lebih baik bersikap seperti biasa saja selama beberapa hari. Aku akan mencari cara untuk mengurusnya diam-diam. Sekarang tugasmu buat dia bicara apa tujuannya kemari. Semoga saja bukan karena warisan Madie. Agar aku tak perlu repot-repot membunuhnya.” Adam meneguk minuman yang ada di hadapannya. “Ya, kau benar. Aku juga tak mau menambah risiko dan membuat semua ketenangan kita hancur. Karena sebentar lagi rumah ini sudah bukan lagi menjadi panti asuhan. Melainkan rumah pribadi kita. Sungguh merepotkan mengurus anak-anak nakal itu. Aku benci anak-anak.” Ucapan itu membuat Adam terkekeh dan membisikkan kata-kata yang membuat Melinda cekikikan senang. “Tetapi kau harus pelan-pelan. Rumah ini terlalu reyot untuk mendengarkan suara-suara kita. Aku takut dua anak itu dan Deandra mendengarnya,” elak Melinda merona malu dengan suara parau. “Sekali lagi kau menolak, aku akan menginap di tempat lain saja.” Adam bangkit berdiri dengan agak sempoyongan dan menimbulkan keributan kecil karena tubuhnya menabrak kursi dan meja. Hal itu membuat Melinda gusar dan menariknya dengan paksa memasuki sebuah kamar terdekat dan membanting pintunya dengan nyaring. Deandra masih membeku di tempatnya berdiri. Ia benar-benar takut untuk bergerak hingga beberapa saat yang lalu. Dengan lutut dan tubuh gemetar ia mencoba melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamar. Ia benar-benar ketakutan. Apalagi saat ia mendengar sayup-sayup terdengar suara-suara aneh dari kamar Melinda. Suara desahan diiringi suara ranjang yang beradu dengan tembok membuat Deandra spontan berlari menuju kamarnya dan menangis tersedu-sedu. ‘Bu Madelyn... Ibu... Bagaimana ini? Ternyata mereka yang membunuh Bu Madelyn, bahkan setelah mereka mengkhianatinya? Dan sekarang mereka berencana ingin membunuhku? Oh, Tuhan, aku harus bagaimana? Aku tak punya tempat tinggal lagi ....’ pekik Deandra dalam hati. Di saat Deandra mulai menguasai diri, tiba-tiba ia mendengar langkah-langkah yang menapaki lantai dengan pelan-pelan dan berhenti di depan kamarnya. Deandra menggigit bibirnya untuk menahan isaknya dan berpura-pura tertidur. Terdengar ketukan tiga kali di pintu, membuat degup jantung Deandra benar-benar berdegup tak karuan. Apalagi suara laki-laki itu terdengar berat saat memanggil-manggil namanya. “Deandra... Apa kau sudah tidur, Nak?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN