"Kau pasti hanya sedang menggoda." Raut datar itu belum berubah, atau tidak sama sekali berubah. Bianca menanamkan antisipasi di dalam dirinya sendiri, mengamati mimik itu lekat dengan ringisan kecil. "Kalau begitu ini hanya lelucon," mendapati dirinya sendiri tersipu. Yang memprihatinkan adalah ia yang tidak sanggup berpaling dari rupa sang dokter di hadapannya. "Kau hanya sedang melucu. Aku terkesan." "Begitukah yang ada di pikiranmu?" Bianca tidak tahu, mengapa bayangan Chayim memudar dan nyaris tidak bisa ia genggam saat bersama Abe? Sebelumnya bersama lelaki lain, ia merasa mampu bertahan karena terus mengenang Chayim dengan cara baik. Tapi dengan pria ini? Bianca merasa dirinya seperti layangan putus, terombang-ambing dalam ketidakpastian bersama angin. "Kau akan menikah," ucapn

