menatap kenangan

1502 Kata

Abe termenung. Menghampiri pelataran taman belakang yang sepi dan sunyi. Sesaat dirinya hanyut, memandang kolam ikan bersama air mancur yang menghiasi taman belakang bersama lampu bundar taman. Rumahnya terlampau besar. Untuk ukuran pria lajang sepertinya. Rumah ini cukup untuk diisi beberapa orang. Namun Abe tidak pernah berpikir sampai ke sana, untuknya sendirian adalah jawaban yang paling tepat. Ia tidak suka mendengar suara bising. Mencoba berdamai dengan suara berisik yang ada di rumah sakit. Kemudian membayangkan Bianca duduk di sampingnya, menceritakan harinya dan Abe akan mendengarkan. Menjadi pendengar yang baik untuk gadis itu. Napasnya berembus kasar. Ekspresi gadis itu yang terluka belum mau pergi dari ingatannya. Abe terpaku, memandang permukaan kolam yang tenang. Ia tidak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN