bc

Lamaran Dokter Cantik

book_age18+
8
IKUTI
1K
BACA
friends to lovers
doctor
sweet
city
crime
naive
passionate
sacrifice
like
intro-logo
Uraian

Hikari Nagai adalah seorang dokter kandungan yang tiba-tiba saja mendapatkan lamaran dari juniornya Risu Kurosaki. Sejak dulu Hikari memang menyimpan perasaan kepada juniornya akan tetapi dia membiarkan perasaan itu bertepuk sebelah tangan. Karena mendapat lamaran tiba-tiba Hikari sadar jika hari itu adalah hari terakhirnya bisa melewatkan waktu dengan pujaan hatinya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1 Lamaran si Naif
Yang kurasakan sekarang bagaikan mimpi yang menjadi nyata. Saat dia menyatakan perasaannya dengan tulus kepadaku. Dalam kepalaku masih kian bertanya-tanya apakah kali ini aku berkhayal lagi. Selama ini aku sudah lama menjalani cinta sebelah tangan dan aku berusaha menerimanya. Karena mau bagaimana lagi. Pria yang kusukai memang terlihat tak mencintaiku. Dia hanya lolicon, yang sering mampir ke ruangan NICU hanya untuk melihat ke imutan bayi mungil untuk menghilangkan rasa stressnya. Karena aku dokter yang menangani persalinan tentu saja kelakuannya yang suka mengintip bayi-bayi kecil itu sering kepergok olehku. Wajahnya memerah bergetar sambil menggigiti bibirnya karena gemas melihat bayi benar-benar lucu. Dia berhenti berekspresi seperti itu saat mendengar suara tawaku. Lalu nyengir ke arahku dengan pipi memerah malu. Dia begitu imut saat itu. Padahal selama ini dia tak pernah menunjukan imej seperti itu. Semua orang mengenalnya sebagai pria yang tangguh dan juga tegas. Namun, selama ini di hadapanku dia hanya memperlakukanku sebagai senior yang sangat dia hormati. Ya itu sih wajar karena kami memang senior dan junior di jurusan kedokteran dan sekarang juga bekerja di rumah sakit yang sama. “Jadi senpai..” Dia memecah kembali lamunan ku dengan suaranya yang halus. Mata beriris hijaunya menatap ke arahku. Sinar matahari sore yang memantul di jendela kaca tempatnya duduk saat itu membias menambah kilauan rambut merahnya. Jantungku berdengung begitu kencang. Hari ini dia tampak indah seperti sosok biasanya yang selama ini aku kagumi. Kali ini dia tampak berharap padaku. Tapi bukan berharap hal yang bagus juga. Tangannya yang besar dan menawan itu juga tampak bergetar. “Risu..” aku menghelah napas. “Senpai maaf.. aku mengatakan hal ini bukan untuk membebani Senpai. Selama ini aku memang mengagumimu. Hanya Senpai satu-satunya wanita yang ada di benakku selama ini. Aku sadar menyatakan perasaanku di saat seperti ini bukanlah hal yang bertanggung jawab. Meski sedari dulu aku ingin mengatakannya pada Senpai.. Tapi aku tak punya keberanian” Aku mendengar suara hidungnya yang mendengus berat seakan-akan menahan kesakitan hatinya. Mata nya menatapku tajam, “Apa Senpai tahu siapa diriku sebenarnya?” Aku mengangguk. Tak mungkin aku berbohong. Sedari dulu aku tahu jika dia bukan hanya sekedar dokter residen yang bekerja di departemen gawat darurat dan departemen forensik secara bersamaan. Dia memiliki latar belakang yang sedari dulu menjadi alasan untuk menyerah pada perasaanku sendiri. Sedari dulu orang tuaku mewanti-wanti agar tidak menjalin hubungan dekat dengannya maupun anggota keluarga lainnya, karena dia cucu dari ketua kelompok yakuza yang amat berkuasa di wilayah barat dan timur. “Senpai.. maafkan aku karena aku lancang. Tapi bisakah kau katakan sesuatu entah itu akan menghancurkanku sekalipun.. itu lebih baik dari pada Senpai diam saja.." Kali ini aku terasa tersadar akan sesuatu. Bagai tertampar dengan tangan yang kuat bertenaga. Membuatku terbangun dari kegilaan romansa yang dibayangkan selama ini. Jadi rupanya dia merasa baik-baik saja memendam perasaannya padaku tapi sekarang dia merasa tidak begitu. Sejenak nafasku menjadi sesak teringat akan kejadian kelam di masa lalu. Kejadian dulu yang pernah dia alami. Dan di situasinya saat ini aku merasakan hal itu kembali. Kali ini dia sengaja mengungkapkan perasaannya karena dia sedang mempersiapkan kematiannya. Matanya terlihat sayup tanpa harapan, itulah yang kurasakan darinya selama beberapa hari ini. Dia terlihat cemas dan juga amat sedih. Sebegitu lamanya gadis bodoh sepertiku memperhatikannya. Dan kali ini aku ingin dia juga bisa mengerti apa yang aku rasakan. “Risu, jika kau tahu selama ini aku juga jatuh cinta padamu. Bahkan hingga saat ini..” Mata beriris hijau itu terbuka lebar menatapku. Bola matanya bergetar. Dia tampak tidak percaya dengan ucapanmu. Tapi dia tersenyum simpul. Seakan-akan beban yang dia pikul telah terangkat hingga tubuhnya terasa ringan seperti bulu. Lalu tiba-tiba saja dia membuang muka dan wajahnya kembali suram. Kali ini aku tak akan melepaskannya lagi. Sekali terjatuh dalam jurang yang curam aku tak akan lagi bisa kembali. Digenggam erat tangannya. Sambil berkata. “Lalu setelah ini apa yang ingin kau katakan? Kau mau mengajakku berkencan?” tanyaku dengan nada santai. “Eh..” Dia tampak kaget. Kulitnya yang putih pucat memerah seperti tomat. “Senpai, maafkan aku. Sebenarnya yang diinginkan lebih dari itu" dia menatapku dengan serius, “apakah Senpai mau melahirkan anakku?” “Emm.. apa maksudmu Risu?” Aku masih bertanya dengan nada santai. Dia tampak malu-malu. “Apa kesannya seperti aku ini.. seperti melakukan pelecehan seksual?” tanyanya. “Tidak.. banyak kakek-kakek dan pria berumur yang mengatakan hal itu kepadaku walaupun tidak menunjukan wajah seimut itu di hadapanku..” “I..imut..!” dia membekap mulutnya. Lalu menghelah napas panjang. “Tapi kau serius?” tanyaku. “Sebenernya aku serius. Tapi anggap saja TIDAK SERIUS!” mendadak suaranya meninggi karena gugup. “Mana mungkin!” penolakan ku membuatnya merasa terjatuh. “Senpai dengan keadaan keluargaku yang seperti ini aku merasa bukan pria yang akan bertanggung jawab pada Senpai nantinya. Aku benar-benar tidak suka situasi ini. Tapi aku juga tak ingin meninggalkan Senpai tanpa tahu hal ini sama sekali. Aku benar-benar egois dan tidak memikirkan keselamatan Senpai sama sekali” ujarnya. “Aku sudah tahu hal itu. Maka dari itu aku berbuat bodoh dengan mengungkapkan perasaanku kepadamu juga, Risu.” Dia tampak begitu terkejut, “Senpai.. Lalu apa kau mau melahirkan anakku?” “Iya" jawabku, “Apa rencanamu?” Dia tersenyum cerah kembali, “tentu saja mengisi formulir pernikahan dan menyerahkannya ke kantor catatan sipil” jawaban yang membuatku sangat terkejut. Aku sempat mengira dia akan kasmaran atau mengajakku ke love hotel. Tapi ini benar-benar di luar dugaan. Aku jadi ingin tertawa. Ugh.. betapa imutnyaa.. “Aku benar-benar menyesal. Jika sempat aku ingin sekali melamar Senpai, menghadap kedua orang tua Senpai dan mengadakan pesta pernikahan. Tapi aku tak mungkin bisa melakukannya. Sudah tidak ada waktu lagi. Jadi setidaknya.. dengan surat nikah Senpai sudah sah menjadi istriku, kan?” ujarnya, “Maaf karena aku tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali!” Tiba-tiba saja dia membungkuk minta maaf. Jadi Risu Kurosaki.. kehidupan indah apa yang menurutmu sangat bertanggung jawab itu. Di situasimu yang seperti pria yang akan mati di medan perang. Bagai narapidana yang nantinya akan di hukum mati. Bagai sapi yang besoknya akan di sembelih. Kau masih memikirkan untuk menikahiku. Di situasi segenting itu.. Sedari dulu kau memang berbeda cara berpikirnya di banding lelaki pada umumnya. Lucunya hal itu membuatku sangat bahagia bisa mencintaimu selama ini. “Jadi kapan kita akan berangkat ke kantor catatan sipil?” tanyaku. “Biasanya jam berapa kantornya buka?” “Emmh.. mungkin jam 8 pagi sudah mulai jam oprasionalnya” ujarku. “Ah.. begitu ya. Kalau kita sudah ada di sana jam 7 pagi mungkin kita bisa dapat nomor antrian pertama. Tapi, besok aku ada janji dengan inspektur Murakami jam setengah delapan..” “Emm.. setelah selesai otopsi kita bisa langsung berangkat, kan?” “Sebenarnya setelah itu jadwalku masih padat. Barusan profesor Murao juga meminta bantuan untuk menggantikannya berjaga di shift pagi karena dia harus mengantar ibunya mengurus pemakaman neneknya..” “Hah.. memang jadwal padat mau bagaimana lagi.. besok juga aku sudah sibuk sedari pagi karena ada jadwal operasi caesar. Dan juga...” “Nagai-Sensei!” tiba-tiba saja perawat Himari memanggilku, “Gawat nyonya Ashihana sudah mengalami kontraksi.. ketubannya sudah pecah...” Aku segera memanggil stetoskopku, “Bagaimanapun dokter yang bekerja di ruang bersalin juga sibuk.. kita bisa lanjutkan obrolannya nanti saat makan malam" ujarku. “Baiklah” dia tersenyum simpul , “semangat, Senpai!” dia berseru sambil menangkup kan tangannya kedepan bibirnya. Sembari berlari keruang bersalin aku tersenyum dan mengacungkan jempol ke udara. Di jam setengah 9 malam bayi kecil itu akhirnya bisa keluar dan menangis dengan kencang. Dia tampak begitu sehat bisa bersuara sekeras itu. Setelah memotong tali pusarnya dan mengambil sisa air ketuban dari mulutnya aku meletakkan bayi itu ke d**a ibunya yang sedari awal sudah berpesan ingin melakukan pra menyusui. “Selamat.. bayi yang sehat sekali..” ujarku. “Terima kasih, sensei.. saya sangat kaget padahal besok pagi sudah di jadwal untuk operasi. Tapi tiba-tiba saja ketuban saya pecah saat ingin buang air..” “Tidak masalah.. hal itu normal terjadi.. Himari-san, tolong siapkan jarum jahit" ujarku. “Lebih baik Sensei makan dulu..” bisik perawat itu, “bukannya tadi Sensei janjian dengan Risu-Sensei untuk makan bersama?” Aku berdeham kencang, “ya.. setelah menyelesaikan pekerjaanku” bisikku. “Kalau menjahit saya juga sudah sering melakukannya..” Entah mengapa perawat Himari bersi keras agar aku segera menghampiri Risu. Memang semua orang yang bekerja di ruang bersalin sudah tahu tentang perasaanku pada Risu. Hanya saja mereka tidak tahu jika bahasan kami tadi itu soal pernikahan. Mereka tak mengerti betapa gugupnya aku untuk menghadapi pria itu lagi. Meskipun aku tak punya pilihan lain. Setelah mencuci tangan dan berganti baju aku melihatnya lagi sedang mondar mandir di depan ruang bersalin. Dia tersenyum melambaikan tangannya saat melihatku. Wajah bersinarnya membuatku kembali tersenyum cerah. Tangannya menyodorkan bento microwave yang terbungkus plastik seven eleven. “Kantinnya sudah tutup" ujarnya tanpa suara. Aku terkekeh menghampirinya dan menerima pemberiannya itu. Kami kembali duduk bersama di dekat kantor staff jaga IGD. Dia menatapku yang sedang mengunyah sambil memasang senyum simpul di bibir menawannya. “Aku barusan sudah bicara pada Yuu-kun untuk menggantikanku melakukan otopsi besok bagi. Dan dia sudah bersedia" ujarnya. “Kalau begitu aku harus menghubungi seseorang juga untuk menggantikanku” kataku sembari melahap telur goreng. “Kenapa tidak menghubungi kakak Senpai? Bukannya dulu dia juga bekerja di ruang bersalin?” “Sebenarnya aku tidak mau.. Tapi baiklah. Aku akan menghubunginya” ucapanku membuat dia tersenyum lega. Dia mengambil box jus jeruk dari plastik seven eleven nya. Dan menancapkan sedotannya untukku. “Anu.. Risu.. Sebenarnya apa aku boleh menginginkan sesuatu untuk hadiah pernikahan?” tanyaku. “Aahh.. apa maksud Senpai mas kawin yang biasanya di berikan kepada mempelai wanita?” Aku mengangguk. “Benar juga hal itu tidak ku pikirkan.. apa yang Senpai inginkan?” tanyanya. “Aku ingin sepasang cincin pernikahan" ujarku, “satu untuk aku pakai dan satu untuk kau pakai. Tapi kalau tidak sempat kau boleh memberikannya kapan-kapan.” “Baiklah” dia mengangguk setuju. “Risu..” entah mengapa rasanya aku tak sanggup berkata-kata, “selama ini.. Aku merasa sangat berterima kasih padamu. Kau sudah banyak membantuku..” Aku benar-benar tak tahu apa yang benar-benar ingin ku katakan kali ini. Pandanganku kabur dan air mataku berlinang. Dan mengapa air mata itu membuatku tak bisa melihat karena terus menerus mengusap mataku. Aku begitu amat frustasi. Dan menangis tergugu. Aku merasakan tangan besar hangatnya membelai lenganku. Dia menempelkan kepalanya ke kepalaku. “Selama ini Senpai lah yang sudah membantuku" ujarnya. Aku berusaha menguatkan hatiku sekali lagi. Bagaimana aku tak bisa sesedih ini. Setelah momen yang kudambakan menjadi nyata, Risu harus pergi dariku. Aku ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi seucap kata saja tak bisa keluar dari bibirku. Tubuhku terasa lemas dan tanpa henti aku menangis dalam pelukannya. Hingga akhirnya aku merasa tenang dan terlelap dalam rengkuhannya. Perlahan tubuhnya mengangkat dan membaringkan di atas tempat tidur pasien. Dia menyelimuti dengan jas snelli nya lalu beranjak pergi. Aku terbangun saat dia pergi. Lalu mengambil ponsel menghubungi rumahku. “Halo..” Ayahku yang mengangkat teleponnya. “Ayah. Ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengan ayah dan ibu. Bisa kah ayah menyalakan speaker nya? Dan panggil lah ibu..” Ayahku terdengar menghelah napas panjang. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan nada datar. “Akan kukatakan jika sudah ada ibu.” “Sayang! Kemarilah! Putrimu mau bicara” ujar ayah sayup-sayup terdengar dari ponselku. Tak lama suara ibu terdengar. “Ada apa, nak?” Kali ini aku pun mencoba menguatkan diriku dan membicarakan apa yang terjadi hari ini kepada orang tuaku. Mereka mendengarkan dengan seksama tanpa menyela ucapanku sama sekali. Hingga aku selesai berbicara mereka memberikan semangat. Jika aku bisa melihat wajah mereka saat itu aku tak kuasa menahan tangis kembali.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.3K
bc

Kali kedua

read
219.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.8K
bc

TERNODA

read
200.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
79.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook