Mataku bengkak parah di hari pernikahanku. Entah rasa malu apa yang ku bendung. Aku begitu lama menangis sampai wajahku berubah bak ikan mas koki.
Aku hanya menutupinya dengan make up seadanya. Lalu mengenakan mantelku. Di depan toilet dia sudah menungguku dengan penampilan seadanya namun tetap menawan. Dia memakai kemeja putih biasa dan dasi hitam. Lalu menutupinya dengan coat abu-abu dan syal motif kotak-kotak.
“Sudah lama menunggu?” tanyaku.
Dia menggelengkan kelapa sembari tersenyum kepadaku. Tangannya terbuka untukku. Dia menggandeng tanganku. Mengajakku keluar dari rumah sakit bersama-sama.
Matahari pagi ini tak sebegitu menyengat. Kami berjalan di jalan yang sepi dan juga naik kendaraan yang sangat luas karena belum masuk jam padat. Hingga akhirnya kami sampai di kantor catatan sipil yang masih tertutup. Sambil menunggu di luar kami menyantap roti isi dan kopi hangat dari minimarket sebagai sarapan.
Tak berapa lama beberapa orang juga ikut menunggu di sebelah kami dan juga beberapa orang lagi. Syukurlah kami benar-benar menjadi pengantri pertama.
Kadang bosan menunggu aku sempat bertanya kepada orang lainnya yang mengantri, kira-kira mereka mau punya urusan apa. Dan kebanyakan menjawab mau menikah.
Entah kenapa aku jadi ingin tersenyum sendiri. Banyak juga yang menjalani proses ini selain diriku.
Setelah kantornya buka Risu telah mengambil nomor antrian terlebih dulu dengan gesit. Dia memang bisa diandalkan saat berkemurun dalam kepadatan. Tak lama setelah pegawai kantor siap di meja mereka kami segera maju di meja layanan. Setelah menjelaskan maksud dan keperluan kami mereka menanyakan pertanyaan sederhana lalu menyodorkan formulir. Kami langsung mengisinya bersama-sama. Dan setelah di beri stempel surat itu pun di sahkan dengan cepat.
Begitu cepatnya proses kami menjadi suami istri. Aku keluar dari gedung sambil membaca surat nikah kami. Aku begitu heran membaca nama asli suamiku yang ternyata cukup panjang saat di tulis dalam huruf katakana.
“Ra.. raisi.. zi.. antoni..” Aku cukup bingung mengejanya.
“Agak sulit jika di tulis dalam huruf katakana, memang?” ujarnya tertawa.
“Lalu jika ada orang yang bertanya ‘siapa nama suami anda?’ Aku harus menjawab apa?” tanyaku tersenyum sambil menaikan alisku.
“Jadi nama asliku. Risey Antonio Del La Cruz Malkovitz. Lalu nama naturalisasiku Risey Kurosaki. Cara mengucapkannya seperti nasi dalam bahasa inggris ‘rice' dan ‘rise' terdengar homfon. Kadang ada yang menyebutnya terdengar seperti kismis dalam bahasa inggris ‘raisin’, kalau sulit Risu saja juga tidak apa-apa” jelasnya.
“Astaga..” Aku jadi ingin tertawa, “karena namamu terlalu panjang dan sulit diucapkan saudara-saudaramu memanggilmu Risu-Nii-chan” ujarku.
“Hanya ayahku saja yang memanggilku Risey. Ibuku memanggilku Ricky. Lalu teman-temanku dan juga anggota keluarga lainnya memanggilku Risu. Kalau kakekku memanggilku Ritsu” cerita tentang dirinya membuatku tertawa.
“Jadi kau lebih suka di panggil seperti apa?” tanyaku.
“Tentu saja di panggil dengan nama asliku” jawabnya memalingkan wajah sambil menggaruk pipinya.
“Baiklah, Risey” ucapku tersenyum padanya, “mulai sekarang aku akan memanggilmu Risey. Jujur saja bahasa inggrisnya tidak buruk-buruk amat. Aku tidak akan kesulitan menyebutkan namamu” ujarku agak sombong.
“Ya.. yah.. aku tahu itu" ujarnya tersenyum miring.
“Hmm.. kau sampai mengurus dokumen naturalisasi yang merepotkan. Memang sebenarnya kau orang kebangsaan mana?” tanyaku lagi.
“Jadi ibuku orang Amerika Latin. Lalu ayahku setengah Jepang setengah Rusia” jelasnya.
“Rusia? Aku mengira Christian-san orang Irlandia. Ternyata dia punya darah Jepang juga..”
Aku cukup heran karena keluarga suamiku ini sebagian besar berambut merah dan bermata hijau seperti ayahnya. Yah, kecuali Yuuta anak yang nomor dua yang wajahnya lebih seperti orang Jepang.
“Ibuku lahir di Brazil. Ayahku lahir di Rusia. Sedangkan aku lahir di Kanada. Tapi di akte kelahiranku aku di tulis lahir di Osaka" dia menjelaskan lagi.
“Hah? Benarkah?”
“Ya.. agar bisa mengelabui orang custom protection saat ingin keluar negeri kadang aku berbicara logat Osaka” bisiknya membuatku tertawa.
“Memang kalau dilihat dari riwayat kelahiranmu akan sulit mengurus naturalisasi” ujarku.
“Ya.. hanya demi sebuah buku paspor.. bagaimanapun Aku juga harus bisa keluar negeri, kan?” ujarnya tertawa.
“Lalu sebenarnya apa pekerjaan ibumu? Kenapa kalian tidak tinggal bersama?” tanyaku membuatnya diam berhenti berjalan.
“Jadi..” Dia berkata sambil menatapku serius, “Ibuku itu pimpinan kelompok tentara bayaran yang reputasinya cukup baik dan profesional. Dia sering berkeliling dunia demi uang. Dan begitu juga aku waktu masih kecil dulu.”
Mendengar kisah hidupnya dadaku terasa nyeri. Betapa berat hidup yang selama ini dia alami. Sambil memasang senyuman aku mengusap lengannya. Aku sudah mengerti sebenarnya tentang kisah hidupnya. Hanya dulu memang aku merasa tidak percaya. Namun sekarang tak apa pilihan lain karena aku telah mendengar langsung darinya.
“Dan juga ayahmu itu anak haram dari pimpinan yakuza, bukan?”
“Iya” jawabnya.
“Lalu bagaimana ayah dan ibumu bisa bertemu?” tanyaku.
“Jadi saat itu ayahku di kirim ke camp pelatihan tentara bayaran di Argentina setelah dia lulus SMA. Mereka bertemu di sana. Dan.. ya aku di buat di sana..” dia begitu imut saat dia agak malas menjelaskan hal itu.
“Jadi kau lahir saat ayahmu masih..”
“Ya.. masih usia 19 tahun. Maka dari itu dia terlihat masih muda meskipun sudah punya anak berusia 30 tahun" ujarnya agak kesal.
“Lalu berapa usia ibumu waktu itu?” tanyaku.
“Hah..” Dia tampak malas menceritakannya, “Ibuku berusia 30 tahun saat melahirkanku.”
“Wow.. Aku benar-benar takjub betapa berbahayanya pesona Christian-san saat itu. Lagi pula dia juga punya banyak anak dengan wanita yang berbeda-beda..”
“Maka dari itu aku tidak mau meniru kebiadaban mereka" ujar Risey menutup wajahnya.
Sejenak dia terdiam menatapku, “Tapi menikahi Senpai seperti ini membuatku merasa biadab juga..” ujarnya.
“Lalu sekarang kau menyesal?” tanyaku membuat bibirnya bergetar.
“Tidak.. Aku hanya tidak ingin menelantarkan Senpai. Aku benar-benar ingin menjadi suami yang baik..”
“Tapi situasinya tidak mungkin, kan?” selaku membuat mulutnya terkatup.
“Boleh aku tahu mengapa Senpai mau menikah denganku?” pada akhirnya dia bertanya seperti itu.
“Risey, kau tahu aku benar-benar sangat mencintaimu. Aku sudah mencintaimu sejak lama. Saat aku tahu siapa dirimu sebenarnya aku juga sempat ingin menyerah. Aku pernah berkencan dengan orang lain agar bisa melupakan dirimu. Tapi ternyata sampai sekarang aku masih belum bisa melakukannya. Saat kau bilang menginginkan anak tentu saja aku akan melakukannya. Jika kau tidak berniat mengajakku untuk mengurus pernikahan aku juga akan melakukannya. Aku benar-benar sudah gila saat ini. Jika kau tahu apa yang sedang kurasakan sekarang. Aku merasa mungkin saat ini aku sedang bermimpi. Mimpi yang sangat indah sekali..”
Aku melihat air mata berlinang mengaliri pipinya. Begitu juga air mataku. Kami saling mendekap erat. Telingaku mendengar jelas suara tangisannya dan air mataku meleleh membasahi kemeja putihnya itu. Di saat situasi kami mulai tenang sepanjang jalan tangan kami saling terpaut. Kami diam membisu tanpa mengatakan hal apapun.
Sebelumnya kami mendapatkan pesan yang meminta kami segera datang kerumah sakit.
Bagaimanapun pekerjaan kami masih berlanjut. Karena dia menginginkan anak aku harus berkerja dengan semangat hari ini hingga memiliki waktu luang untuk melakukan itu.. ah, sejenak aku teringat betapa berantakannya apartemenku setelah tidak dikunjungi selama tiga hari. Cucianku mungkin sudah membusuk karena tidak segera aku jemur. Mungkin saja tempat sampah ku sudah menjadi sarang tikus. Sepanjang perjalanan pikiranku benar-benar kacau karena hal itu.
Sesampainya di rumah sakit kami cukup kaget saat melewati kantor staff. Semua orang berbaris disana dan melepaskan konfeti di wajah kami.
“Selamaaat!” mereka berseru demikian.
“Heh?” Aku dan Risey saling memandang.
Tak ada satupun dari kami yang bicara soal rencana hari ini pada orang di rumah sakit.
Hingga akhirnya aku melihat ayah dan ibuku, saudara laki-lakiku yang c***l juga ayah mertua yang hot dan juga adik-adik ipar itu muncul dari mes ruang IGD. Ibuku jalan berhati-hati dengan membawa kue dengan tulisan “Happy Wedding” beserta lilinnya.
Lalu Yuuta membawa sebotol wine, Christina membawa buket bunga mawar. Kakakku dan Gion meniup terompet bak hari ini adalah perayaan tahun baru.
Entah apa yang aku rasanya. Aku memandangi mereka dengan mata melotot dan mulut menganga. Ibuku menghampiriku memintaku dan Risey meniup lilin kue itu. Aku dan Risey benar-benar malu.
Bersama-sama kami meniup lilin itu dan semua staff di rumah sakit bertepuk tangan. Yuuta langsung mengocok keras botol wine. Tapi Risey segera merebut botol itu dan mencoba membukanya dengan tangan. Dia mengomeli adiknya untuk tidak mengotori lantai rumah sakit. Hal ini membuat semua orang tertawa.
Christina menyerahkan buket bunga untukku lalu memasang bando yang di jahit kain brokat putih seperti kerudung pernikahan di kepalaku. Dia mengatur posisi tiap anggota keluarga lalu mengeluarkan kamera SRL nya dan mengambil foto. Setelah itu semua anggota keluarga memeluk dan mencium pipi kami.
Mendadak lorong rumah sakit menjadi tempat pesta. Selain dokter dan perawat, banyak pasien yang memberi selamat kepada kami. Banyak juga dokter-dokter bujang yang menyumpah serapahi Risey.
“Huuu.. berani-beraninya b******n sepertimu menikahi Nagai-San!”
Aku dan Risey hanya tertawa geli diatas kebingungan kami. Ternyata semua ini adalah rencana ayah ibuku dan juga ayah mertuaku. Mereka sengaja mengeluarkan uang untuk memesan makanan begitu toko buka di pagi hari.
Ya tidak kupungkiri pada akhirnya aku berkata jujur pada Risey kalau mengabari orang tuaku yang sebenarnya. Sedangkan Risey sendiri juga telah mengabari ayah dan saudara-saudaranya. Dan aku benar-benar tidak menyangka akan ada pesta seperti ini saat kami sibuk.. oh tidak.. tak lama pesta bubar karena pasien berdatangan di IGD dan ruang bersalin. Tapi ternyata kami tidak diizinkan masuk merawat pasien. Ayahku yang sudah pensiun sepuluh tahun yang lalu sekarang dia maju membantu persalinan pasienku. Lalu ayah mertuaku.. sedari pagi dia sudah membantu kepolisian menggantikan Risey melakukan otopsi. Sekarang dia merawat pasien yang datang ke IGD.
Meskipun kami berdua masih bingung mengapa kami tidak boleh merawat pasien kami kami duduk di tepi lorong melahap pizza melihat orang sibuk mondar mandir sambil menyesap wine. Saat semua pekerjaan mereka selesai kami berkumpul di mes sempit dekat ruang IGD.
“Sudah lama rasanya tidak kembali bekerja. Kangen juga rasanya Christian-kun!” ujar ayahku menepuk bahu kekar ayah mertuaku.
“Iya sudah lama sekali. Rasanya seperti sepuluh tahun yang lalu. Dulu Risey masih jadi mahasiswa baru jurusan kedokteran” ujar ayah mertua.
“Oh.. kalau si sapi ini menikah apa aku boleh meremas oppainya?” kakakku berkata m***m dengan santainya.
“Tentu saja tidak!” seruku dan ibuku kompak.
“Sampai kapan kau mau membully adikmu, Mitsu?” geram ibu menjewer telinga kakakku.
Suasana mes yang sempit itu menjadi ramai kembali.
Ayahku merangkul Risey dan mengusap bahunya.
“Jadi kapan kau akan berangkat ke Iran?” tanya ayah membuat wine yang ada di mulutku tersembur.
Apa? IRAN?
“Apa yang kau lakukan disana?” tanyaku membuat semua orang heran.
Jadi semua orang di mes ini sudah tahu jika Risey akan pergi ke daerah konflik sedangkan aku tidak!
“Ibuku tertangkap sebagai tahanan saat sedang bekerja disana. Saat itu ibuku bekerja sebagai pasukan bantu dari Amerika dan lalu dia tertangkap oleh kelompok Syiah. Aku harus membantunya lari atau kalau tidak nyawanya terancam” jelasnya dengan nada yang amat berat.
Situasinya benar-benar jelas sekarang. Dia benar-benar berencana menelantarkanku. Setelah apa yang selama ini kulakukan. Dihabiskan waktuku untuk memikirkannya bagai orang gila. Rasanya aku benar-benar kecewa tapi aku telah menyadari situasi ini sedari awal.
Aku pergi meninggalkan tempat itu. Aku sadar kakiku berlari kencang menuju lift. Saat menekan tombol aku melihat beberapa orang mengejarnya termasuk Risey. Pintu lift tertutup sebelum mereka sampai. Di dalam lift tubuhku melemah aku tersungkur didalam dan kembali menangis.
Saat pintu lift terbuka aku berjalan perlahan menaiki tangga darurat. Naik keatas tempat pemberhentian helikopter. Aku duduk di tepi melihat pemandangan kota yang luar. Merasakan angin yang kencang menerpa wajahku.
Aku mendengar suara terengah-dengan dari tangga darurat. Ada Risey yang muncul menyusulku. Kami saling menatap. Aku segera memalingkan wajahku.
“Senpai! Apa kau marah karena menyesal telah menikahiku?” tanya Risey berseru kencang mengalahkan suara angin.
“Tidak! Aku menyesal karena aku bodoh! Sedari awal aku sudah tahu kalau kau berkata seperti itu karena menyiapkan kematianmu!” seruku.
Aku bangkit menghampirinya lalu memukul dadanya, “Iran? Kau Sudah gila, ya!”
“Maafkan aku, Senpai..” Sudah berapa kali aku mendengar hal itu darinya.
Dia sudah menyesal sedari awal telah membawaku kedalam lubang jurang yang curam ini. Aku bisa mengerti kepedihan hatinya saat ini.
Tanganku mengusap wajahnya. Kulitnya yang mengering dan lengket karena air matanya. Aku berjinjit mengecup pipinya yang asin.
“Bisakah kau menciumku sekarang?” ucapku saat bibirku berada dekat dengan telinganya.
Mata hijaunya menatapku begitu dalam. Tangannya mengusap pipiku. Dia mendekatkan wajahnya mengecup bibirku. Menghisap bibirku dan lidahku begitu kencang.
Tanganku melingkari lehernya, aku membalas ciumannya yang memabukan itu. Aku ingin dia berada di rengkuhanku selamanya. Tapi hal itu memang tak mungkin jika keadaan yang kami alami memang seperti ini.
“Mungkin besok aku akan sadar kembali dan memaki-makimu. Maka dari itu jadikan aku milikmu sekarang juga” ujarku berbisik ketelinganya.
Saat aku akan mengecupnya lagi. Dia menjauh. Wajahnya tampak gugup memerah.
“Senpai bisakah kita tidak melakukannya disini?” tanyanya.
Aku lagi-lagi tak bisa menahan tawaku. Dia masih saja membuatku gila.
“Lalu dimana kau ingin membuat anak, Risey?” tanyaku.
“Misalnya di apartemen Senpai...”
Astaga kamar kotor itu..
Aku harus segera pulang untuk bersih-bersih tapi masih ada halangan pekerjaan. Begitu kami berdua kembali kami tetap tidak boleh melayani pasien. Ayah-ayah kami yang menggantikan pekerjaan kami.
“Ayah.. bukannya ayah sudah sepuluh tahun pensiun. Bagaimanapun aku tak bisa meninggalkan pasienku!” seruku.
Ayahmu hanya mengerang sambil mengipas-ngipasi dirinya dengan kipas plastik, “Lebih baik kalian segera pergi untuk membuat anak. Suamimu akan ke Iran besok siang. Aku juga tak sabar melihat wajah cucuku yang rupawan seperti orang skotlandia!”
“Ngomong-ngomong Christian-san itu berdarah rusia..” ujarku.
“Oh..”
“Jadi ayah akan menggantikan pekerjaanku?” tanyaku.
“Hanya khusus hari ini untuk honeymoon istimewamu, sayang.”
Aku memeluk ayahku dan mencium pipinya. Rasa terima kasih amat besar kepadanya.
Di ruang IGD aku melihat Risey yang juga terdapat dengan Ayahnya dan adiknya Yuuta. Saat aku menghampirinya dia menghelah napas panjang. Dia tersenyum mengangkat bahunya.
“Ayo kita pergi" ujarku.
“Ah.. Nagai-chan..” Christian-san merangkulku, “ayo kita berbicara sebentar..”
Dia mengajakku keluar dari ruangan dan kami berbicara berdua disana, “Aku akan berjanji padamu. Aku tak akan membiarkan suamimu mati.”
“Hah?” Aku cukup terkejut.
“Jadi dia berangkat siang hari agar bisa bergerilya dimalam hari. Tapi Risey tidak berangkat kesana sendiri. Dia membonceng pasukan khusus milik Imai Yuki. Aku berencana menyelinap kedalam pasukan khusus itu. Aku tidak perlu cemas karena aku juga tak ingin kehilangan putraku dan melihatnya dalam bahaya seperti beberapa waktu yang lalu. Kau masih ingat, kan?”
Aku mengangguk, “terima kasih" ujarku.
Dia mengusap wajahku, “Aku benar-benar kesal bocah itu melamarmu duluan sebelum aku melakukannya..”
Wops.. Dia mulai lagi. Aku tertawa kencang sedangkan dia tersenyum padaku. Pria ini benar-benar persis dengan suamiku. Apa mungkin Risey akan tetap seksi seperti ini 19 tahun kedepan. Aku ingin memiliki kesempatan untuk melihatnya.