Saat keluar dari rumah sakit, matahari terasa begitu terik. Tak terasa sudah siang hari. Saat perjalanan pulang bersama dengan suamiku aku menyempatkan diri membeli pembersih lantai dan spray pengharum ruangan. Kamarku begitu kotor. Sesampainya disana aku akan meminta Risey menunggu diluar terlebih dahulu sampai seisi kamarku bersih.
Saat membuka pintu apartemenku aku mencium aroma bunga. Seisi apartemenku yang hancur menjadi rapi seperti disihir. Tempat cucian piringku tampak mengkilap dan piring-piring bersihnya tertata di rak. Bajuku yang berserakan menghilang. Buntelan plastik besar-besar berisi sampah telah lenyap. Tatami juga terlihat bersih dan wangi. Ada beberapa kardus makanan fast food di meja makanku juga kelasku diisi berbagai makanan fermentasi, sayur, telur dan daging. Di pintu kulkas ada memo yang menempel.
Meskipun ada makanan tetapi memasaklah untuk suamimu.
Ibu
Jadi terlihat jelas sekali siapa yang tiba-tiba masuk ketempatku dan membereskan apartemenku yang hancur. Aku jadi ingin menangis terharu atas pengorbanan mulia kedua orang tuaku.
Risey masuk kedalam sembari melepas sepatu kulitnya. Dia menatapku sambil tersenyum. Aku membalas senyum itu dengan rasa canggung. Ini masih siang hari. Apa dia ingin membuat anak sekarang? Tentu saja iya, dasar bodoh!
“Risey, apa kau lapar? Kebetulan disini ada banyak makanan" ujarku.
Dia tersenyum simpul sambil mengangkat kedua alisnya.
“Atau kau mau menonton tivi?” tanyaku lagi.
Kali ini dia tertawa.
“Atau kau mau mandi dulu! Tunggu sebentar aku akan mengecek kamar mandinya..” yang karena kami menikah semendadak ini aku belum mengecek apakah sabun dan keperluan lainnya masih tersedia. Saat aku cek semua sudah terisi penuh. Ibuku memang sangat hebat sampai memperhatikan yang seperti ini.
“Emm.. Senpai..” suara Risey yang tiba-tiba muncul di belakangnya membuatku terlonjak kaget.
“R..Risey” Aku jadi tergagap.
Dia menatapku dengan mata hijau menawannya itu. Dari raut wajahnya saja aku bisa menangkap apa yang dia maksudkan. Jantungku berdegub kencang. Aku mengambil handuk lalu melemparkan kewajahnya.
“Lebih baik kau mandi dulu!” ujarku mendorongnya ke kamar mandi lalu menutup pintunya dengan kencang.
“Senpai!” dia berseru dari dalam kamar mandi.
Aku pura-pura tidak mendengarnya. Jantungku masih berdegub kencang tak terkendali. Kira-kira apa yang harus disiapkan terlebih dahulu? Tempat tidur.
Ohh.. Ibuku.. sekarang aku melihat ibuku telah menyiapkanya, dia membeber futon dan menyiapkan dua bantal diatasnya.
Entah mengapa aku begitu secemas ini. Jantungku masih belum tenang karena membayangkan berbagai hal m***m. Aku melihat diriku di cermin dan merasa kaget. Sejak kapan aku bisa segemuk ini? Lemak di lengan, perut dan pahaku menumpuk! Apa aku harus menunjukan tubuh memuakan ini pada Risey?
Aku mendengar suara air mengalir dari kamar mandi. Betapa bodohnya aku, disaat suamiku ingin bicara aku malah memaksanya mandi. Besok dia akan pergi ke Iran dan tidak mungkin aku membiarkannya begitu saja hanya karena rasa panik.
Aku kembali menata diri. Melepas ikat rambutku. Membuka pakaianku dan menutupinya dengan handuk. Risey tidak mengunci pintu kamar mandi sehingga aku bisa masuk begitu saja. Dia sedang duduk di kursi kecil sambil menyampo rambut merahnya. Tubuhnya begitu kekar begitu terang dilapisi kulitnya yang putih pucat. Dia tampak sangat sempurna. Tiba-tiba saja dia menoleh ke arahku. Kami saling bertatapan tak berkata apa-apa dalam waktu yang lama. Anehnya kakiku begitu sulit gerakan. Aku berjalan perlahan menghampirinya.
“Mau ku bantu menggosok punggungmu?” tanyaku dengan wajah yang terasa memanas.
Dia diam dengan wajah merah merona. Perlahan dia mengangguk. Lalu menghadap kedepan memunggungiku. Aku rasa tak hanya aku yang merasa gugup. Saat mengambil scrub tanganku sampai bergetar. Dia diam tak bergerak saat aku menyentuhnya. Tubuhnya serasa kaku saat aku menggosok kulit putihnya.
Meskipun memiliki kulit seputih porselin tetapi aku bisa dengan jelas melihat bekas-bekas sayatan yang sudah sembuh dikulit itu. Aku sempat mengingat dia datang kerumah sakit dengan mandi darah. Punggungnya di tikam berkali-kali oleh seseorang tanpa ampun. Dan kali ini luka-luka itu sudah sembuh dan nyaris tak terlihat. Aku juga bisa melihat jelas bekas jahitan di pinggangnya. Aku masih ingat dulu aku yang menjahit luka yang mengerikan itu. Kali ini jahitannya sudah seperti garis putih timbul yang warnanya sama dengan kulitnya.
Aku mengingat hari itu adalah awal dimana aku menyerah untuk memilikinya. Aku mengetahui kenyataan tentang dia yang sesungguhnya. Tentang keluarganya. Semua kudengar dari cerita orang-orang di rumah sakit.
Masih membekas diingatkannya betapa suramnya hari-hari itu. Dia masih terbujur kaku tak sadarkan diri. Sehari-hari aku datang merawat luka-lukanya. Menatap wajahnya. Dengan hati yang pilu aku berbisik di telinganya.
“Ya Tuhan, aku tak mau apapun lagi. Aku hanya ingin dia hidup.”
Sebagaimana bekas jahitan yang dulu ku buat ingatan ku juga masih segar akan hal itu. Dan kali ini dia masih hidup hingga menjadi suamiku. Aku baru sadar menggosok bahunya membutuhkan waktu yang lama. Bahunya benar-benar lebar dan berotot. Dia memiliki tulang padat yang menonjol.
“Senpai.. sudah cukup" dia tiba-tiba berbicara, “sekarang.. bergantian..”
“Kau ingin menggosok punggungku?” tanyaku.
Dia mengangguk. Kali ini aku duduk di kursi yang telah dia duduki. Entah kenapa pantatku terasa hangat saat menyentuh kursi itu. Dia mulai menyibakan rambutku dan menggosok punggungku perlahan. Tiba-tiba saja pikiran jahil muncul. Dengan sengaja aku membuka handuk dan mengambil sabun untuk membersihkan tubuh bagian depanku. Saat aku menggosok tubuh bagian depanku dengan busa sabun aku merasa tangannya berhenti menggosok punggungku. Ketika aku menoleh padanya dia buru-buru memalingkan muka dariku. Dengan jelas aku melihat telinganya merah merekah. Begitupun aku sendiri juga merasa malu. Tapi perlahan menggosok badanku.
“Senpai.. Aku mau membilas tubuhku dulu" ujarnya.
“Iya, baiklah" ujarku. Saat menoleh padanya, dia berdiri. Ketika itu aku melihat handuk yang menutup bagian privatnya menggantung seperti saat sedang di sampirkan di gagang pintu. Mulutku tanpa sadar menganga. Seketika wajahku terasa panas. Dia berdiri membilas tubuhnya yang penuh sabun dengan air shower.
Aku melihatnya melirik dari sudut matanya. Aku bangkit berdiri disisinya membasuh tubuhku dengan air shower. Aku tahu saat ini dia tidak berhenti menatapku. Dia kembali bersuara..
“Se.. Senpai..”
“Risey. Sampai kapan kau mau memanggilku Senpai? Kau Sudah tahu nama istrimu, kan?”
Dia memalingkan wajah saat aku tegur. Perlahan dia mengangguk.
“Lalu siapa nama istrimu, Risey?” tanyaku.
“Hikari Nagai” jawabnya.
“Hi.Ka.Ri..” ucapku, “panggil aku Hikari..”
“Hikari" dia menyebut namaku.
Kakiku berjinjit menarik rahangnya dan mengecup bibirnya dengan lembut.
“Iya, sayangku" ucapku.
Risey menarik lenganku. Memelukku erat dan melumat bibirku dengan brutal. Kami terus berciuman tanpa henti. Tangannya melingkari pinggangku. Dia mengangkat tubuhku menyadarkannya di tembok yang licin. Aku menjerit saat dia mulai goyah dan hampir terpeleset. Kakiku melingkari pinggangnya erat. Begitu juga tanganku merengkuh lehernya begitu kencang. Saat sadar aku membuat wajahnya terbenam dalam dekapanku. Dia menatapku dengan mata lemas menggoda. Bibirnya menelusuriku, mengecup tiap jengkal kulitku dan menghisapnya. Rasa geli dan ngilu membuatku menjerit perlahan.
“Hikari..” Dia menatapku lagi.
“Ehmm.. kita lanjutkan ditempat tidur" ujarku mengusap wajahnya yang basah.
Dia menggendongku keluar dari kamar mandi. Membaringkan tubuhku diatas kasur. Kami kembali berciuman. Dia mengecup bibirku, leher, d**a, pusar dan terakhir dia mengecup bagian tubuhku yang tersensual tanpa rasa ragu. Aku benar-benar terkejut. Tapi dia tidak berhenti mengecup. Dia menghisapku. Memasukan lidahnya kedalam. Pikiranku serasa melayang.
Dia menggapai bagian sensitif lainnya dan makin merangsangku. Tubuhku begitu lemas dan panas. Dengan merangsang di berbagai area sensitif ku dia membuatku mencapai klimaks. Melihat wajahnya yang penuh cairan membuatku sangat malu. Dia menyesap menjilat cairan di sekitar bibirnya. Aku menggapai tissue dan mengelap wajahnya.
“Itu bukan makanan" kataku membuatnya tertawa.
Sekarang aku merasakan tangannya meremas pahaku. Jarinya yang panjang berada di tengah dan masuk kedalam.
“Oh.. Risey!” saat melenguh jari -Jarinya masuk lebih dalam lalu bergerak di dalamnya. Tubuhku menggeliat hebat. Semua yang ada di dalam sana rasanya seperti tumpah keluar. Seluruh tubuhku terasa bergetar.
Dia kembali mendekat membuka lebar kedua pahaku. Lalu mendorong masuk perlahan. Bagian dalam diriku terasa penuh. Nafasku begitu sesak. Dia kembali mendorong masuk lebih dalam. Hingga bisa memasukan semuanya kedalam diriku. Kami tidak bergerak. Dia terlihat merintih saat aku mengapit rapat pinggangnya dengan kakiku.
“Hikari..” Dia berbisik dengan terengah-dengan, “..Kau baik-baik saja..?” tanyanya.
Aku mengangguk, “mulailah perlahan..”
Dia mengangguk. Lalu menggerakkan pinggangnya dengan pelan dan berhati-hati. Baru kali ini aku merasakan rangsangan langsung dari dalam tanpa kondom. Tiap gerakannya membuat gesekan kasar yang membuat tubuhku gemetaran.
Tanganku merengkuh lehernya yang basah berkeringat. Hingga saat aku hampir klimaks aku merasa semprotan kuat didalam sana. Apakah sudah selesai? Ternyata tidak. Aku tahu didalam sana masih mengeras dan besar.
“Hikari..” Dia menatapku. Dia ingin tetap melanjutkannya.
“Baiklah..” ujarku.
Dia menusuk lebih dalam dan bergerak lebih cepat. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang dia inginkan. Dibiarkan dia menjadi makin liar. Tapi anehnya dia juga membangkitkan gairahku. Kami mulai berganti posisi. Merasakan kenikmatan yang berbeda. Berkali-kali dia membuatku gila dengan tiap gerakan dan sentuhannya. Sampai-sampai tubuh kami terbaring lemas.
Dia menghempaskan tubuhnya terbaring tengkurap disisiku. Napas kami saling tersengal-sengal. Futon yang ibuku siapkan basah karena keringat kami dan juga cairan darinya yang keluar saat aku bergerak sedikit. Saat aku duduk aku seperti menggulingkan gelas yang terisi penuh oleh s**u. Semua tumpah membasahi pahaku dan futon ini. Aku sedikit melakukan stretching membenarkan posisi pinggang ku yang ngilu. Lalu menempatkan posisi tidur yang nyaman. Dia menumpukan tangannya padaku. Mengusap wajahku.
Aku mendekat mengecup bibirnya dan memberinya pelukan. Ku usap kepalanya dengan lembut hingga dia tertidur lelap. Saat menatap wajahnya yang damai dan mempesona saat tertidur kelopak matanya tertutup dengan ringannya dan langsung tertidur pulas.
Aku terbangun jam lima sore. Risey masih mendengkur di dekapanku. Baru hari ini dia bisa merasakan istirahat setelah bekerja tanpa henti di rumah sakit selama berhari-hari. Baru kali ini dia bisa tertidur lebih dari dua jam. Padahal besok dia berencana untuk melakukan serangan gerilya di malam hari. Aku bergerak perlahan menjauh darinya berusaha membuatnya tak terbangun.
Setelah itu beranjak ke kamar mandi membersihkan seluruh tubuhku. Setelah berganti baju aku membuka ayam goreng yang ibuku tinggalkan di dapur. Berhubung kulit luarnya tidak krispi lagi aku memanaskan makanan itu kembali dan membuat lumuran saus pedas sendiri. Tak lupa aku mencuci beras dan menanak nasi. Setelah semua makanan siap aku menyajikan makanan di meja dan menyantapnya bersama dengan takuan yang ibu taruh di dalam kulkas.
Risey masih belum bangun meskipun aku menyalakan tivi saat makan malam. Wajahnya yang damai saat tertidur begitu imut. Hingga jam tujuh malam dia baru mengerjapkan matanya menatapku yang sedang menyesap tulang ayam sambil menonton televisi. Dia mengerang saat melakukan stretching.
“Sudah bangun?” tanyaku tersenyum saat dia menatapku.
Dia duduk mengucek matanya sambil menguap lebar.
“Aku sudah menyiapkan celana training ku yang kebesaran untukmu. Kau boleh memakainya" ujarku. Menunjuk celana traning yang ada di samping futon. “Maaf aku tidak punya baju atasan yang cukup untukmu" tambahku.
“Tidak apa-apa..” jawabnya sembari memakai celana ku. Saat dia berdiri mengenakan celana ku aku langsung membekap mulutku menahan tawa. Betapa ketat dan cingkrang nya celana itu saat dia gunakan.
“Dimana pakaianku?” tanyanya.
“Sepertinya masih tergantung di kamar mandi. Mau aku cucikan?” tanyaku.
“Biar aku saja" jawabnya lalu beranjak ke kamar mandi.
Setelah menaruh pakaiannya kemesin cuci dia menghampiriku duduk di belakangnya dan mendekapku dengan erat. Aku menoleh kebelakang mengecup bibirnya. Dia membalas ciumanku dengan begitu intens hingga saat dia melepaskan bibirnya dia berkata.
“Hmm.. Rasa ayam saus pedas..”
Kami tertawa bersama. Aku mencuilkan sepotong daging dan kulit. Lalu kemasukan kedalam mulutnya. Dia mengunyah lalu menghisap jariku yang masih tersisa saus. Lidah licinnya terasa oleh jemariku membuatku bergidik geli.
“Kau mau makan malam?” tanyaku, “Aku tadi memasak nasi.”
Dia menganggukan kepalanya. Aku berdiri menyiapkan semangkuk nasi untuknya. Saat makan dia menghabiskan tiga mangkuk nasi. Belakangan ini dia memang jarang makan karena sibuk. Bukan hanya dia aku sendiri juga sering sekali melalaikan makan. Dan tanpa terasa sekotak ayam goreng yang baru kupanaskan habis dalam sekejap.
Setelah membersihkan bekas makanan kami. Aku bersantai lagi dalam pangkuan Risey sambil menonton televisi. Dia merengkuh dan menyandarkan dagunya di bahuku. Betapa tenang dan nyaman nya. Saking nyamannya aku mendengar suara dengkurannya begitu dekat dengan telingaku.
“Kau boleh tidur lagi kalau kau mau" ujarku menepuk pipinya.
“Aku tidak mengantuk, kok. Sehari-hari aku tidur tidak pernah lebih dari dua jam.. hoaaamm” dia menguap lebar.
“Tidurlah. Sikat gigimu dulu. Syukur kalau kau mau mandi"
Wajahnya tiba-tiba berbinar-binar, “Hikari, ayo mandi" dia mengajakku dengan nada manja.
“Kau mandi lah sendiri. Aku sudah mandi" ujarku acuh.
Dia terdiam menatapku dengan wajah cemberut yang imut.
“Temani aku mandi" dia kembali merayu sambil menggosokan wajahnya kebahuku.
Tangannya masuk kedalam hoddie ku dan memeras perutku.
“Risey!” aku pura-pura jengkel.
Kali ini dia mulai lancang membuka pengait bra ku dan tangannya maju kedepan mencubiti ku.
“Ah.. Risey.. Kau ini! Aahh..!” dia menjilat menghisap daun telingaku.
“Eh.. hentikan! Aahh..” sekarang tangannya menyelinap dalam celana dalamku. Kedua jarinya masuk kedalam menggoda ku dengan brutal. Dia tak berhenti sampai aku klimaks. Lalu berbisik ketelingaku.
“Sekarang bagian ini jadi kotor. Kau harus mandi.”
Mengapa dia begitu menggemaskan.. kutangkap wajahnya dengan kedua tanganku dan menghujani bibirnya dengan ribuan kecupan.
Dia mengangkatku ke kamar mandi dan mengulang kembali apa yang kami lakukan tadi siang. Dari awal hingga akhir.
“Risey.. meskipun mau dihisap bagaimanapun tak akan ada minuman yang keluar" ujarku saat Risey berperilaku manja kepadaku. Dia tidak pernah bosan melakukan itu. Wajahnya selalu menempel di dadaku. Meski aku bergurau seperti itu dia tampak acuh. Aku tertawa mengusap kepalanya.
“Dasar bayi" ujarku memeluknya erat.
“Hikari selama ini tidak pernah sadar. Sebenarnya aku tidak suka melihat orang lain memandangmu dengan tatapan m***m" ujarnya mengembungkan pipinya.
“Memangnya aku sengaja berbuat hal seperti itu? Kau pernah melihat aku sengaja memperlihatkannya pada orang-orang?”
“Tapi kau pernah memperlihatkan nya pada mantan pacar mu, kan?” dia menatapku tajam.
“Lalu kau cemburu?” tanyaku.
“Tidak, kok.. lagi pula semua ini milikku sekarang” dia memelukku erat dengan menggemaskan.
“Aku masih berpikir kalau aku bermimpi" ujarnya.
“Aku juga berpikir begitu.”
Dia tersenyum lalu mengecup bibirku.
“Oh iya.. Aku hampir lupa..” Dia bangkit berdiri mengambil sesuatu dari coat abu-abunya.
Dia duduk di sisiku lalu memberikan kotak kecil yang di bungkus kado. Aku buru-buru membukanya. Ternyata dia memberikan sepasang cincin pernikahan.
“Kapan kau membelinya?” tanyaku heran.
“Kemarin saat kau tidur" jawabnya.
“Bukannya itu sudah jam 10 malam?”
“Ya.. Beruntungnya masih ada toko yang buka di Shinjuku.. Saat mereka mau tutup aku langsung menerobos masuk dan memohon-mohon pada menajer tokonya.”
Cerita tentang pengorbanannya yang manis itu membuatku sangat tersentuh. Aku mengambil cincin laki-laki dan memasangkan cincin itu di jarinya. Dia mengambil cincin perempuan dan memasangkannya dijariku.
“Bagaimana kau bisa tahu ukuran jariku?” tanyaku.
“Aku meminta nona penjaga toko untuk mencobanya setelah itu aku memilih yang ukurannya agak besar. Aku takut tidak muat. Tapi syukurlah..”
“Ya”, aku memandang jariku yang terpasang cincin, “Ada juga cara seperti itu untuk mencarinya..”
Aku menyandarkan kepalaku di lengannya. Dia mendekapku dan mengecup pipiku.
“Hikari..” Dia berbisik kepadaku, “terima kasih sudah mencintaiku selama ini.”
Aku menggelengkan kepalaku, “tidak. Aku yang harus berterima kasih karena kau telah membalas cintaku. Yang selama ini kukira hanya bertepuk sebelah tangan..” ujarku membelai wajahnya.
Dia kembali mengecup bibirku merebahkan tubuhku diatas futon. Dan kami melakukannya lagi sampai kami merasa lelah dan terlelap dimalam hari.
Risey memelukku erat dari belakang saat sedang memasak telur. Aku tak tahu kalau dia sudah bangun. Dia menghujani pipiku dengan ciuman sampai aku bergidik geli.
“Kenapa Hikari selalu bangun lebih awal dariku?” dia begitu heran.
Yang jelas jawabannya aku tak pernah nekat tidur kurang dari dua jam sehari. Aku bisa bangun lebih awal dengan tubuh yang lebih segar.
“Apa yang bisa aku bantu?” tanyanya.
“Sebenarnya makanannya sudah matang. Sikat gigimu dulu dan aku sudah menyetrika pakaianmu disana" ujarku menunjuk kemeja dan celana yang sudah kugantung di hanger.
Baik aku maupun Risey sekalipun merasa berat menghadapi kenyataan jika hari ini adalah hari kami akan berpisah. Tinggal menunggu beberapa jam dia akan berangkat ke Iran.
Aku menyiapkan sarapan di meja sembari dia berpakaian rapi. Dia duduk di sisiku tanpa banyak bicara. Tangannya bergetar saat memegang sumpit. Kesedihan yang dia rasakan membuatnya tak berselera makan.
“Risey, aku tidak mungkin bisa melahirkan anakmu, loh" aku membuat celetukan yang membuatnya terhenyak.
“Kau tiba-tiba ingin aku melahirkan anak tapi tak menanyakan kapan hari subur ku. Lalu sehari meniduriku dan pergi begitu saja. Siapa yang bisa hamil dengan cara seperti itu? Kau kira ini drama?”
Dia tampak merasa kesal pada dirinya sendiri, “kau benar..” jawabnya seakan menahan tangis.
“Kau ini dokter masa hal seperti itu tidak tahu.. hahahahaha" aku tertawa terbahak-bahak.
Dia terdiam dengan wajah malu.
“Jadi.. kembalilah dengan selamat. Tidak.. minimal kembalilah hidup-hidup walaupun seburuk apapun kondisinya. Aku akan menerimamu. Aku tetap disini menunggumu” ujarku menggenggam tangannya.
“Berjanjilah kau akan kembali padaku. Kelak aku akan menepati janjiku untuk melahirkan anakmu" air mataku kembali berlinang.
“Hikari..”
Dia memelukku erat dan air mata kami kembali tumpah ruah membanjiri wajah kami.
Dan setelah menghabiskan sarapan pagi kami. Dia membantuku mencuci piring. Lalu pergi berpamitan dengan memberikan ciuman di depan pintu. Dia menempelkan dahinya kepadaku matanya terpejam rapat selama beberapa detik. Setelah itu dia menjauh melambaikan tangannya padaku dan pergi. Aku terus menatapnya sambil bersandar di kusen pintu hingga dia tak terlihat lagi dihadapanku. Tanganku saling menggenggam erat dan kembali berdoa seperti waktu itu.
“Ya Tuhan. Selamatkan lah dia. Dan kembalikan dia kepadaku..”