Chapter 4 Menengok Kerumah Suami - Part 1

3427 Kata
Kaku seperti tubuh tanpa jiwa. Sudah berapa lama aku meringkuk di sudut kamarku. Terbaring di atas lantai yang dingin. Di penuhi kecurigaan. Di penuhi ke khawatiran. Dan juga penyesalan. Ya, menyesal. Aku menyesal tidak mampu melarang Risey pergi. Aku menyesal bersikap sok bijak, sok keren, sok tabah. Seharusnya aku mendengarkan apa yang kuteriakan dalam hatiku. Aku tidak ingin dia pergi. Jika dia harus pergi kenapa harus ke negara seperti Iran. Negara yang masih berkonflik karena perang saudara. Apa dia bisa selamat? Ibunya saja yang seorang tentara bayaran profesional bisa terjebak di sana. Apalagi dia? Kamarku ramai dengan bunyi dering ponselku. Mungkin dari keluargaku atau kolega. Aku tidak pernah mengangkat satupun panggilan maupun membalas pesan. Aku juga mendengar suara orang mengetuk pintu apartemenku. Tapi aku tak menjawab siapapun. Tiap malam air mataku tak habis-habisnya berlinang. Menangis karena pikiran-pikiran burukku terus menghantuiku dan bergumam sendiri untuk menyangkalnya. Jika seseorang tahu aku pasti sudah di bilang gila. Mungkin aku sudah benar-benar gila sekarang. Frustasi karena tidak mampu untuk melakukan apapun untuk bangkit dari keterpurukanku. Gila karena tak mampu bangkit menetralkan pikiran-pikiran burukku. Dua hari aku merasakan rasa frustasi seperti itu. Hingga muncul rasa hening dalam diriku. Zen. Aku berada di puncak ketenangan. Air mataku sudah kering. Berhari-hari aku terbaring tanpa makan dan tidur. Wajahku terasa lengket tetapi berdebu. aku bangkit dan akhirnya membasuh tubuhku. Aku terasa berada di awang-awang. Pikiranku terasa kosong. Air seperti membasuh semua isi otakku. Keresahanku seakan sirna meskipun luka di hati masih tersisa. Aku memulai langkah sebagai manusia kembali. Berganti pakaian bersih dan memasak untuk diriku sendiri. Mengisi perutku dan membaca pesan yang menumpuk di ponselku. k****a pesan-pesan itu sekilas. Aku mencari kabar yang sangat penting. Tapi kabar penting itu tidak ada. Aku juga mengecek apakah Risey membalas pesan yang kukirimkan padanya. Apakah dia sampai dengan selamat? Tapi jangankan membalas. Sejak dia menghilang dari hadapanku aku sudah tidak dapat menghubunginya sama sekali. Banyak kolegaku yang bertanya keberadaanku yang menghilang belakangan ini. Ada yang bertanya kondisiku dan menawarkan diri mereka sebagai tempat curhat. Dan ada yang mengingatkan jika pekerjaanku juga sudah menumpuk di rumah sakit, ya pasti dari suster Himari. Ada juga dari ibuku yang memintaku segera menghubunginya. Ibuku rutin menelponku meskipun berhari-hari aku tak sanggup membalasnya. Hingga ada pesan dari Yuuta, adik Risey yang membuatku kembali menegang. Aku berharap ini bukan berita duka atau apapun.. Sambil berdoa memejamkan mata rapat. Kubuka mataku perlahan dan membaca pesan itu. Dia menulis, Jika kondisimu sudah baik kumohon temuilah aku, Nagai-san. Ada banyak hal yang harus kau ketahui tentang Risu-Niichan. Yuuta Kurosaki Pesan ini membuatku tersadar. Benar. Aku belum tahu seluk beluk keluarga suami yang kunikahi. Banyak yang harus aku lakukan. Bukan waktunya untuk bermalas-malasan karena alasan sedih. Sudah waktunya aku untuk bekerja kembali. Saat aku memunculkan diri di kantor semua orang tampak terperangah. Mereka memandangiku, bergunjing dan membuatku sangat tidak nyaman. Aku tahu betapa menggenaskannya aku di mata mereka. Barusan menikah sudah di tinggal suami tanpa tahu kabar jelasnya bagaimana. "Oi, sapi! Kau masih hidup rupanya" ujar si kakak bodoh Mitsu. "Oh, rupanya kau menggantikanku" ujarku dengan nada datar. Ya, mana mungkin ayahku akan terus menggantikanku berjaga di ruang bersalin. Pasti ujung-ujungnya si bodoh ini yang di suruh. "Ibu sangat mengkhawatirkan mu! Kenapa kau tidak membuka pintu rumah saat kami datang?!" omel Mistu. Suster Himari juga tampak heran melihatku yang muncul untuk bekerja. Dia menghampiriku lalu memberikan pelukan. "Sensei! Kau tidak perlu memaksakan diri untuk bekerja jika belum pulih! Bagaimana kau bisa sepucat ini? Ugh.. dokterku yang cantik.." rengek suster Himari. "Mau bagaimana lagi aku harus mencari uang" ujarku dengan nada datar, "kau kan yang mengirim pesan kalau pekerjaan menumpuk?" tanyaku. "Senseeiiii!" pekik suster Himari. Mitsu hanya menghelah napas berat,"Hah, sudahlah! Yang penting aku tak lagi repot-repot berjaga di ruang bersalin" ujarnya. Aku mendengar ada yang mengetuk pintu ruangan kami. Mungkin ada pasien yang ingin cek up. "Iya, silahkan masuk.." ujarku langsung ke mode kerja. Ketika aku melirik kearah pintu bukan pasien yang kulihat. Sudah banyak rekan kerja sesama dokter yang datang. Mereka berada berbaris di depan pintu. Begitu di persilahkan masuk, mereka datang memberi ucapan selamat dan memberikan support kepadaku. Mereka mendoakan kepulangan suamiku dan memberikan semangat agar aku tetap tabah. Banyak juga yang memberi bingkisan berupa makanan untuk menghiburku. Aku masih membisu di tempat. Terdiam karena masih terheran. Aku tidak menyangka banyak orang yang sangat peduli kepadaku. Air mataku kembali meleleh. Aku sudah menghabiskan waktuku untuk menangis berhari-hari sehingga kelopak mataku terasa panas. Yuuta dan Christina muncul menjadi orang yang terakhir. Mereka memberikan pelukan untukku. Aku yakin saat ini mereka tidak kalah khawatirnya sama sepertiku. Tidak hanya kakak. Ayah mereka juga ikut mendampingi ke Iran. Keberadaan mereka membuatku sadar jika aku tidak melalui hal ini sendirian. Di jam istirahat siang kami bertiga meluangkan waktu bersama untuk mengobrol. Sambil menghabiskan makanan hadiah dari para rekan kerjaku. Yuuta menjelaskan jika kakaknya sebelumnya sudah merencanakan keberangkatannya ke Iran jauh-jauh hari. Sejak dia hilang kontak dengan ibunya sebulan yang lalu, Risey sudah mulai untuk menyiapkan segala kebutuhannya. Tapi dia merasa tidak percaya diri tiba-tiba. Dan bilang kepada adiknya jika suatu saat mungkin dia tidak akan kembali. Dia juga memberikan wasiat kepada setiap anggota keluarganya. "Meskipun ganjil memang baru pertama kali ini, Risu-Niichan menulis email seperti itu" ujar Christina lalu menunjukan pesan terakhir kakaknya yang dia simpan di ponselnya. Isinya cukup membingungkan. Jangan menunjukan nomor ini kepada siapapun! Hanya kau yang boleh mengetahuinya! Key: XxXw567Thj "Lucukan! Seperti kode registrasi saat mendaftar aplikasi. Aku kira otak Risu-Niichan sedang kena bug. Tapi ternyata ini pesan terakhirnya. Bahkan Yuuta-Niichan dan Gion-kun dapat pesan serupa dengan nomor sandi yang berbeda. Dia pasti memberikan sandi kartu ATM nya!" ujar Christina. "Tentu saja tidak mungkin" ujar Yuuta dengan culasnya, "Risu-Niichan sudah sering berkunjung ke medan perang bersama ibunya. Dia pasti akan pulang sekitar seminggu atau dua minggu." Dua minggu. Semoga saja prediksi Yuuta benar. Melewatkan waktu dua minggu sambil bekerja pasti tidak akan terasa saking sibuknya. Hanya saja jika dia sempat mengirim pesan kepada adiknya. Kenapa dia tidak membalas pesanku sama sekali? "Apa kakak kalian membawa ponsel di saat seperti ini? Aku kesulitan menghubunginya semenjak dia pergi" ujarku. "Dia memang tidak pernah membawa ponselnya saat pergi untuk hal seperti itu. Karena dia memasuki daerah berbasis militer ketat secara diam-diam" ujar Yuuta. Begitu rupanya, "Yuuta-kun.. banyak hal yang sebenarnya ingin kutanyakan.." "Tenang saja aku juga sudah menjanjikannya, kok" ujar Yuuta tersenyum simpul. "Heeh.. mencurigakan. Tiba-tiba menyimpan rahasia di belakangku" geram Christina menusuk telunjuknya ke pipi Yuuta. "Ini bukan rahasia. Hanya saja masalah seperti ini otakmu tidak akan sampai" jelas Yuuta membuat adiknya berang. "Setelah pulang kerja bagaimana kalau Nagai-san berkunjung kerumah kami?" ujar Yuuta. Aku mengangguk setuju, "Bagaimana kalau kita menyiapkan makan malam bersama juga?" saranku. "Kalau makan malam sepertinya nenek Miyainuichi sudah menyediakannya" ujar Yuuta. "Tapi sekali-kali aku juga ingin mencicipi masakan Onee-chan!" ujar Christina. "Jangan merepotkan dia" tegur Yuuta. "Hmmphh.." pipi Christina menggembung begitu lucu saat dia sedang kesal. Berkat mereka aku mulai bisa tertawa sekarang. Ini jauh lebih baik daripada melalui kesedihan sendirian. Meskipun aku masih merasa gelisah aku tidak boleh terus menerus larut di dalamnya. Si bodoh Mistu masih membantuku di ruang bersalin. Ada beberapa pasien yang melahirkan normal hari ini dan ada juga yang menjadwal untuk oprasi caesar. Dan si kakak bodoh itu selalu berada di sisiku. Membuntutiku hingga membuatku risih. "Kau tidak ingin segera kembali ke bagian urologi?" tanyaku setelah kembali mengecek kondisi pasien yang rawat jalan. "Ayah dan ibu memintaku untuk mengawasimu" jawabnya. "Asal kau tahu banyak ibu hamil yang tidak nyaman dengan keberadaan orang m***m sepertimu" ujarku. "Dasar adik sialan" geramnya kepadaku, "ibu benar-benar cemas dengan kondisimu" ujarnya padaku. Aku juga tahu orang tuaku pasti yang paling cemas di saat seperti ini. Tapi aku tak ingin bertemu mereka sekarang. Aku benar-benar tidak siap mental. "Sebaiknya.." "Diam!" aku langsung memotong omongan. "Kau ini!" geram Mitsu, "Seharunya kau.." "Diam! Jangan menceramahiku! Kalau kau berani bicara aku akan menjahit mulutmu!" seruku histeris. "Oi, Hikari! Tenanglah.." ujar Mistu mengguncang tubuhku. Dia menghelah napas berat, "Aku mengerti. Baik. Aku juga tidak akan menceramahimu sekarang. Tapi setidaknya berpikirlah logis. Tidak peduli seberapa lama kau berteman dengannya, seberapa baik keluarganya kepadamu dan seberapa tulusnya dia kepadamu. Kau sadar orang kau nikahi itu siapa!" Iya.. aku sebenarnya sadar. Aku tidak bodoh. Aku tahu jika sebelumnya ayah bercerita kepadaku tentang campur tangan organisasi gelap yang ada di rumah sakit tempat kami bekerja. Aku tahu jika keluarga suamiku bukan dari latar belakang keluarga baik-baik. Mereka bekerja di dunia underground. Mereka melakukan tindakan kriminal. Mereka juga membuka lahan bisnis ilegal di rumah sakit. Tapi mereka tidak pernah berbuat buruk di hadapanku. Aku sudah mengenal Risey sangat lama. Kami sudah saling mengenal saat kami masih di bangku kuliah. Selama aku mengenalnya dia hanya pria polos yang suka makhluk imut. Dia juga sangat naif dan mudah terbawa perasaan. Meskipun begitu dia tak pernah mengabaikan persahabatan yang dia bina bersama denganku. Dia orang yang hadir saat aku susah. Dia orang yang pertama menolongku saat aku benar-benar membutuhkan. Jika dia sebaik itu bagaimana caranya aku bisa terhindar dari rasa suka kepadanya. Dan lagi dia juga menyimpan perasaan yang tulus kepadaku. "Setidaknya bicaralah kepada ayah dan ibu" ujar Mitsu, "Apa salahnya, sih? Mereka juga tidak melarang pernikahanmu. Tapi bukan salah mereka juga kalau mereka merasa khawatir." "Ya.. tentu pada akhirnya mereka tidak melarang. Aku juga tahu itu. Mereka bahkan menyiapkan acara pernikahan dan membereskan apartemenku. Tapi aku butuh waktu untuk mempersiapkan diri" jelasku. "Sampai kapan?" tanya Mitsu. "Sampai suamiku kembali" ujarku. "Jika dia tidak kembali?" Pertanyaan Mitsu membuat bibirku bergetar, "Dia pasti kembali.. Aku yakin itu" ujarku. Aku tak peduli lagi jika di pandang sebagai wanita yang bodoh. Risey sudah berjanji akan kembali kepadaku. Aku tidak boleh meragukannya atau aku akan kehilangannya. "Baiklah kalau begitu" ujar Mitsu. Dia tidak lagi memperdebatkannya, "Apa kau ingin ku antar pulang nanti sore?" "Aku akan pulang bersama adik-adik suamiku nanti" jawabku. Saat jam pulang, Yuuta dan Christina datang keruang bersalin. Aku sudah bersiap untuk pulang tapi masih menunggu dokter shift setelahku datang terlebih dahulu. Kakakku langsung segera pulang saat Yuuta dan Christina datang. Di saat itu kami jadi melewatkan waktu untuk berbincang lagi. Di saat kami sedang seru mengobrol tiba-tiba kami terdiam karena tivi di ruang bersalin mengabarkan kalau ada serangan udara lagi di wilayah konflik Iran. Yuuta segera mencabut kabel tivi tersebut. "Aku sudah muak dengan tivi dua hari ini" ujar Yuuta. Bibir Christina bergetar. Gadis ini berusaha untuk menahan dirinya agar tidak menangis. Melihat kekhawatiran Christina saat ini membuatku teringat akan Risey lagi. Aku tidak boleh terbawa! Aku sudah bertekad untuk tidak memunculkan pikiran buruk itu lagi. Aku menggenggam tangannya. "Christina.. bagaimana dengan laporan koas mu? Apa berjalan lancar?" tanyaku. "Semuanya kacau. Jujur aku kurang konsentrasi saat mengerjakannya" ujar Christina dengan senyumnya yang kaku. "Bagaimana kalau aku juga membantumu hari ini. Aku akan menginap" ujarku. "Benarkah?" dan kali ini mood Christina membaik, "tapi rumah kami cukup sempit sekarang. Apalagi kamarku.." ujar Christina lagi. "Bukannya kalian tinggal bertiga saja sekarang?" "Sebenarnya.." Yuuta dan Christina saling melempar pandangan. Keduanya menghelah napas berat. Saat aku datang kerumah mereka aku langsung mengerti. Mereka tidak lagi hanya bertiga di rumah itu. Karena tidak mungkin seorang dokter, mahasiswi kedokteran dan murid SMA kelas tiga bermain lego dan bahkan semua legonya berserakan di lantai. Sepertinya ada penghuni baru di rumah ini yang aku sama sekali belum pernah kenal dengan mereka. Sebelumnya Risey pernah curhat kepadaku kalau tiba-tiba ada seorang wanita keturunan bangsawan Eropa datang kerumah mereka membawa sepasang anak kembar. Wanita itu bilang jika anak-anak itu adalah hasil perbuatannya dengan ayah mereka. Kejadian ini membuat seluruh penjuru rumah menjadi gempar. Kali ini aku bertemu dengan para penghuni baru itu. Adik-adik baru suamiku yang imut. Mereka punya ciri khas seperti anak-anak Christian Kurosaki pada umumnya. Berambut merah dan matanya beriris hijau. Kira-kira mereka berusia masih lima tahun. Yang satu seorang anak gadis bernama Hannah dan yang satu lagi anak laki-laki bernama Hamish. Gion si anak nomor empat tampak sangat kerepotan. Dia bahkan belum berganti pakaian karena masih memakai seragamnya. Dia berjongkok memungut mainan yang berserakan di lantai. Ketiaknya mengapit sapu dan dia menyelikan lap di saku celananya. "Hamish-kun! Jangan lari! Mango jangan mengejarnya!" Gion juga berteriak terus tiada henti. Prang! Suara barang pecah hancur mengiringi. "Hiyyaaa! Itu pot bunga milik ayah! Hati-hati menjauh dari sana!" Mood Yuuta dan Christina turun seketika melihat situasi rumah mereka. Jadi begini situasi keluarga yang memiliki anak. "Kami pulang!" seru Yuuta dan Christina. Wajah Gion tampak sangat berseri. Akhirnya datang bala bantuan. "Yuu-Niichaan, Tina-Neechan!" seru anak-anak kembar itu ikut menyambut kedatangan kakak-kakak mereka. "Astaga, rumahnya berantakan sekali! Siapa yang membuatnya seperti ini?" tanya Christina dengan nada riangnya. "Aku!" kedua anak kembar itu menjawab dengan sangat polos. "Kalian ini. Bukannya tadi pagi sudah berjanji untuk menjadi anak baik?" tegur Yuuta di sahut oleh tawa polos dari anak-anak kecil itu. "Bisakah ada yang mengajak mereka dan Mango bermain di luar. Aku juga butuh orang untuk membereskan rumah" ujar Gion menghampiri kami. Dia cukup terkejut saat memandangku karena baru menyadari kehadiranku. "Eh, Nagai-san? Selamat sore" dia menyapaku. "Selamat sore juga. Hari yang melelahkan ya, Gion. Padahal kau juga harus mempersiapkan ujian akhir" ujarku. "Alee.. Hyun Yi-san? Kenapa kelihatannya wajahnya berbeda?" ujar si gadis kecil bernama Hannah saat melirikku. "Dia memang bukan ibuku. Makanya wajahnya tidak mirip" ujar Gion kepada Hannah, "Kalian harus sopan kepadanya. Dia Hikari Nagai-san istri Risu-Niichan" jelas Gion, "Ayo ucapkan salam.." "Salam kenal" anak-anak itu menyapa dengan manis. "Salam kenal juga, Hannah-chan, Hamish-kun.." jawabku. Mereka mengamatiku dengan seksama, "Bibi sudah mengenal kami sebelumnya?" Bi-Bibii?? Aku benar-benar shock mendengarnya. Apa aku terlihat setua itu? Christina menegur mereka, "Kalian ini! Panggil dia Nee-Chan! Bukan bibi.." "Sudahlah Christina. Risey pernah bercerita kalau ibu mereka seumuran dengan Yuuta-kun, bukan? Aku memang sudah tua" ujarku. Wajah Yuuta, Christina dan Gion jadi terlihat sangat sungkan kepadaku. "Maafkan kami!" ucap mereka bersamaan. Kenapa juga mereka harus minta maaf? "Oh ya.. Ngomong-ngomong kemana si tuan putri itu?" tanya Yuuta. "Dia langsung pergi mandi saat aku selesai menyiapkan air hangat untuk si kembar" Gion bercerita dengan amat murka. "Ah, sialan yang satu itu. Kau matikan saja lampu kamar mandinya" ujar Yuuta ikut kesal. "Sudah kulakukan!" ujar Gion terlihat bangga. "Kalian ini... Berhenti mengusilinya" ujar Christina, "Aku akan mengajak bocah-bocah ini dan Mango jalan-jalan. Jadi.." tangan Christina menengadah di depan wajah Yuuta, "uang saku, Yuu-Niichan." "Kalian hanya jalan-jalan, kan?" ujar Yuuta menyangkal. "Jangan remehkan jalan-jalan kali ini!!" Christina memulai dalihnya, "Mengajak jalan-jalan dua anak kecil dan anjing itu merepotkan. Bagaimana kalau ada apa-apa di jalan? Bagaimana kalau ada es krim yang enak di seven eleven? Kita harus membelinya! Gion-kun pasti ingin makan es krim setelah dia berusaha keras menjaga anak-anak seharian di rumah. Sebagai anggota keluar tertua saat ini kau yang seharusnya bertanggung jawab memberikan uang saku. Jadi mohon bantuannya!" Yuuta menghelah napas panjang lalu mengeluarkan dompetnya lalu memberikan sekeping 500 Yen. "Hanya 100 Yen per orang" ujarnya. "Kau pelit sekali" ujar Christina. "Cepat pergi atau kuambil lagi uang itu" ancaman Yuuta begitu manjur membuat Christina segera pergi. Yuuta melirikku dan lalu membungkukan badannya, "Maaf, Nagai-san.. bukannya segera mempersilahkanmu duduk kita malah sibuk berdebat disini.." "Aku bukan tamu lagi di tempat ini. Sekarang aku kakak iparmu. Baiklah! Ayo segera bersihkan ruangan ini. Sebentar lagi sudah masuk jam makan malam" ujarku mengambil sapu yang menyelip di ketiak Gion. "Eh, Nagai-san! Tidak perlu repot-repot.." seru Gion dan Yuuta. Aku mengabaikan mereka dan mulai memungut mainan sambil menyapu lantai. Aku juga merapihkan pecahan pot dan tanaman yang terguling. Yuuta dan Gion yang awalnya sungkan membiarkanku bekerja merapikan rumah kini mereka tak lagi menghentikanku dan ikut merapikan penjuru rumah mereka hingga tampak sangat rapi. Pekerjaan kami masih berlanjut dengan mengangkat cucian dan dan juga melipatnya. Aku masing ingat saat pertama kali aku berkunjung kerumah ini. Tinggal bersama ayah tunggal membuat empat anaknya harus membantu pekerjaan rumah tangga. Mereka begitu tampak rukun dan bekerja sama mengerjakan semua tugas rumah tangga hingga selesai. Biasanya setelah pekerjaan mereka selesai ayah mereka akan memesan makanan enak untuk menyenangkan hati anak-anaknya. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang di miliki oleh keluarga ini, Risey mengaku merasa sangat bahagia bisa tumbuh bersama ayah dan juga adik-adiknya. Saat memilah-milah pakaian aku menemukan kemeja flanel Pink milik Risey. Kemeja ini memang sering dia pakai. Tapi bagiku pakaian ini adalah saksi bisu pertemuan pertama kami. Meskipun di beri pewangi aroma Risey yang khas masih tercium dari pakaian ini. "Kalau mau di bawa pulang juga tidak apa-apa" ujar Yuuta memergokiku yang sedang menciumi kemeja Kakaknya. "Jangan membuatku terprovokasi" ujarku lalu melihat pakaian itu dengan wajah memerah. "Jadi begini ya yang di rasakan para gadis jaman Taisho saat di tinggal berperang oleh suami yang baru mereka nikahi.." ujar Gion. "Kenapa mendadak jadi membahas gadis zaman Taisho?" heran Yuuta. "Gara-gara manga sedih yang sedang kuikuti animenya tayang dua minggu ini" ujar Gion. "Kau masih menonton anime meskipun sibuk persiapan ujian" heran Yuuta. "Aku hanya bisa mengikuti satu judul. Aku bahkan tidak bisa mengikuti drama korea yang sudah kutunggu setelah nonton triler nya tahun kemarin! Aku juga tidak bisa datang ke tur konser boy band K-Pop favoritku! Apa seperlu itu keluarga kita masuk jurusan kedokteran?" geram Gion. "Tidak ada yang memaksamu, kok" ujar Yuuta. "Tapi Tina mengolokku bodoh karena tidak bisa masuk jurusan kedokteran!" rengek Gion. "Sepeduli itu kau dengan omongan orang" ujar Yuuta. "Tapi masalahnya kalian semua masuk jurusan kedokteran!" geram Gion. "Sebenarnya setiap anggota keluarga kita punya motivasi aneh saat masuk jurusan kedokteran. Ayah masuk jurusan itu supaya bisa PDKT dengan gadis cantik, Risu-Niichan sengaja masuk agar dia bisa menyusup kedaerah konflik sebagai tenaga medis.." penjelasan Yuuta membuatku sangat heran. Ternyata Risey memang sebegitu inginnya menyusup kedaerah konflik, "Aku masuk karena tidak punya tujuan jelas, Tina masuk karena ikut-ikutan" "Saranku lebih baik kau tidak perlu mendengarkannya" ujarku, "Aku juga dulu merasakan nasib yang sama denganmu. Dulu aku pernah di terima di jurusan Teknik Informatika tapi karena mendengarkan ejekan kakakku aku jadi tidak memasuki jurusan itu dan ikut ujian tahun depan untuk masuk jurusan kedokteran. Jujur aku menyesal sekali sampai sekarang. Aku yang dulu sok membuktikan diri kalau aku pintar, malah jadi terlihat bodoh karena termakan omongan orang" ujarku. "Sudah ada contoh konkretnya. Lalu apa kau ingin masuk kedaftar keluarga kita yang masuk jurusan kedokteran karena alasan yang tidak jelas" ujar Yuuta. "Sepertinya ibuku juga mendukungku untuk masuk kedokteran. Dia ingin aku mewarisi bisnis pengobatan akupunktur miliknya" ujar Gion menghelah napas berat, "padahal aku ingin debut kekorea menjadi idol K-Pop!" "Kurasa debut Idol jauh lebih menjanjikan ketimbang menjadi dokter" ujarku. "Benarkah?" Gion jadi sangat termotivasi. Kami mengobrol dengan begitu serunya sambil melipat baju. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang mengawasiku dengan tatapan mengerikan. Tidak.. sebenarnya aku sudah merasakan hawa suram ini sejak tadi. Hanya saja kali ini entah kenapa makin buruk. Saat aku mengambil pakaian lagi untuk aku merasa ada yang menampar keras tanganku. "Beraninya.." si penampar mencelaku, "beraninya kau memegang sebarangan benda itu. Dasar wanita tidak tahu malu!" Akhirnya orang yang di benci di rumah ini muncul. Dia wanita bertubuh mungil memiliki rambut berwarna Hazel. Dia memiliki mata biru yang cerah dan kulit putih dengan rona peach. Kecantikannya bak sosok yang keluar dari buku dongeng. Sialan kenapa orang ini bisa mirip seperti tokoh utama manhwa korea yang sedang Risey sukai. "Apa kau tidak tahu itu celana dalam suamiku? Kau kira kau pantas menyentuhnya! Aku yakin kau pasti cari kesempatan untuk mencuri celana dalam itukan!" ujar wanita itu mengambil kain yang kupegang tadi, "kau pasti akan menyimpannya dan menciuminya saat sedang sendirian, kan?? Iyakan??" ujarnya menatapku dengan mata nanar. "Oi, Hazelnut!" seru Yuuta. "Namaku Hazellyne!" serunya. "Aku tidak peduli entah kau mau marah atau apa. Kalau kau tidak berniat untuk membantu pekerjaan kami sekarang.." nada suara Yuuta mendadak menjadi seram, "..apa lebih baik aku menguncimu saja di kamar dengan lampu padam supaya kau bisa menciumi celana dalam ayah sampai kau puas? Hah?" "Benarinya kau berbuat seperti itu pada ibu tirimu! Aku akan mengadukannya pada Tuan Christian-ku Sayang agar menghukum anak durhaka sepertimu!" ujar Hazellyne mengancam Yuuta. Yuuta dan Hazellyne saling melempar tatapan berkilat. Mereka memalingkan muka karena kesal dengan perilaku satu sama lain. Sepertinya hubungan si ibu tiri loli dengan anak tirinya memang sangat tidak baik. "Nagai-san membantu kami membereskan rumah. Dia baik sekali bak ibu peri yang membantu Cinderella yang di siksa ibu tiri yang jahat" ujar Gion. "Oohh.." Hazellyne kembali menatapku lekat-lekat, "Kalian buta, ya? Wanita m***m jelek seperti ini kalian bilang ibu peri?" Aduh si loli ini. Kenapa juga dia harus bikin masalah juga denganku? "Aduh jelek katanya? Aku tidak seharusnya marah hanya dengan olok-olok kacang seperti itu" ujarku sok cool. "Aku pulang!" Seru Christina dan adik-adik kembarnya di susul lolongan si Mango. "Apa yang terjadi?" tanya Christina heran saat melihat pergelutan kami. Kira-kira apa yang akan terjadi lagi? Akan di lanjutkan di part ke2
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN