Chapter 5 Menengok Kerumah Suami-Part 2

2236 Kata
"Hazellyne-san.. ada anak kecil yang melihat. Kalau kau memang ibu mereka tolong jangan berbuat bodoh, ya" ujar Christina dengan nada riangnya seperti biasa. Si loli gila itu akhirnya menyingkir dariku. Matanya menatap lurus melihat mataku. "Aku akan terus mengawasimu" ujarnya. Astaga.. aku hanya bisa heran saja dengan wanita itu. Tapi tadi cukup menghibur juga. Aku jadi tertawa karena tingkah uniknya itu. "Bagaimana? Lucu bukan aksi tuan putri?" ujar Christina ikut tertawa. "Bibi baik-baik saja, kan?" tanya Hamish tampaknya khawatir dengan keadaanku. "Aku baik-baik saja" ujarku "Sudah kubilang jangan panggil dia bibi! Panggil Onee-chan!" peringat Christina. Anak-anak itu pastu kurang nyaman memanggilku seperti itu karena aku memang wanita yang sudah berumur. "Yuu-Niichaan dan Gion-Niichan memanggilnya Bagaimana?" tanya Hannah. "Nagai-san" jawab Yuuta dan Gion. "Kalau begitu aku juga akan memanggil Nagai-san!" ujar Hannah, "Apa boleh?" Dia bertanya kepadaku. "Hhmm bagaimana, ya? Kalau Hikari-san, Bagaimana?" tanyaku pada Hannah. "Oh, aku lebih suka Hikari-san!" ujar gadis itu. Dia menghampiriku lalu berbisik napas si kecil ini membuatku geli dan tertawa. Dia berkata, "Hikari-san semangat." "Hannah dan Hamish juga menunggu ayah dan Risu-Niichan agar segera pulang. Hikari-san boleh menunggu bersama kami. Hikari-san jangan bersedih lagi" ujar Hannah tersenyum padaku. Aku memeluk gadis kecil itu. Saat berjalan-jalan Christina menceritakan banyak hal tentangku kepada adik-adiknya. Dan si kembar tampak antusias mendengarkan dan mereka juga sangat berempati padaku. Karena hanya di beri jatah 100 Yen perorang mereka tidak segera memakan es krim yang mereka beli dan membaginya denganku. Risey juga pernah bercerita jika di kesal ayahnya punya hubungan dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya. Tapi dia juga sangat bahagia karena bisa merawat adik-adik yang lucu. Karena Risey juga lolicon dia sangat senang hidup dengan makhluk mungil imut seperti mereka. Melihat wajah imut anak-anak ini aku jadi berpikir apakah besok anak-anak yang kukandung juga akan seindah mereka? Aku jadi membayangkan suamiku yang sangat bahagia saat aku melahirkan anak untuknya. Bisa saja dia tidak tidur karena memandangi wajah anaknya seharian. Semoga saja masa depan yang kubayangkan ini benar-benar jadi kenyataan. Suara ketukan pintu membuyarkan imajinasi indahku. Ternyata itu Seichi adik sepupu Risey, "Semuanya! Makan malam sudah siap!" ujar Seichi. "Hai, Seichi-kun! Apa kabar?" tanyaku menyapa pemuda itu. "Wah, Ada Nagai-san!" dia menyapaku juga dengan sopan. Karena sudah sangat mengenal dengan saudara-saudara suamiku sebelumnya, tentunya aku juga mengenal Seichi dan keluarganya. Seichi juga seumuran dengan Gion. Aku juga masih ingat beberapa bulan yang lalu aku membantu ibu persalinan Ibu Seichi. Proses kelahirannya cukup tidak biasa karena si ibu terus mengganggam erat tangan putranya saat proses melahirkan hingga selesai. Si ibu bilang dia ingin anaknya melihat perjuangan keras ibunya melahirkan bayi agar tidak lagi menjadi anak durhaka. "Bagaimana kondisi ibu dan adikmu sekarang?" tanyaku. "Mereka sehat-sehat saja" ujar Seichi, "Kalau mau tahu Nagai-san harus ikut makan malam bersama kami." Kami pun segera berangkat bersama kerumah Seichi. Rumah itu bukan hanya rumah. Tapi juga toko roti yang cukup laris di daerah mereka. Di saat makan malam Nenek Miyainuichi dan ibu Seichi telah menata meja cafe agar bisa menampung semua makanan yang mereka masak. Banyak sekali menu yang di sajikan di meja kali ini. Apa mereka selalu menyiapkan makanan sebanyak ini tiap harinya? "Nagai-Sensei! Selamat atas pernikahannya!" ujar Nenek Miyainuichi memberikan pelukan kepadaku lalu mengecup kedua pipiku. "Terima kasih, Nenek!" ucapku. "Aku tidak bisa menyiapkan hadiah untuk pernikahan kalian dan hanya memasak makanan seadanya untuk merayakannya" ujar Nenek. Saat melihat betapa banyak menu yang di sajika aku tahu ini bukan menu seadanya. Mereka benar-benar menyiapkan menu ini untuk menyambut kedatanganku. Christina sebelumnya datang ketempat ini ketika mengajak anak-anak dan anjing mereka untuk jalan-jalan. Dia mengabari Nenek Miyainuchi jika aku sedang berkunjung kemari untuk menginap. Aku jadi merasa seperti di sambut oleh mertuaku sendiri... Padahal Mertuaku sungguhan sedang berada di Iran.. Sebenarnya Nenek Miyainuichi bukanlah ibu kandung ayah mertuaku Christian Kurosaki. Tetapi wanita ini adalah istri sah Sanada Kurosaki, ayah kandung Christian Kurosaki. Sebagai anak tiri Nenek Miyainuchi juga sangat menyayangi ayah mertuaku, bahkan bisa di bilang mengalahkan anaknya sendiri. Saking sayangnya sampai sekarang rumah mereka bersebelahan karena mereka memang tidak mau di pisahkan kesekian kalinya. Seperti yang kubahas sebelumnya Nenek Miyainuichi memiliki bisnis toko roti yang bisa di bilang cukup sukses. Dia tidak membuka cabang, tetapi roti yang mereka jual sangat terkenal. Apa lagi yang roti isi kare, aku benar-benar menyukai makanan itu. Mereka bahkan tidak pelit ilmu dan pernah mengajarkanku cara membuatnya. Aku juga pernah mempraktekkan resep mereka dan membaginya dengan orang-orang yang ada di rumah sakit, dan hasilnya sukses besar. Dalam mengelola bisnisnya Nenek Miyanuichi di bantu oleh menantunya, Mahiru Ayuzuka ibu kandung Seichi. Aku pernah dengar dari Risey jika Mahiru-san dulunya adalah mantan Shinobi. Dia memang wanita yang memiliki wajah yang sangat judes tetapi juga sangat cantik. Tetapi meskipun dia terlihat seperti itu, wanita ini sebenarnya sangat baik. Mahiru-san tampak sedang memangku putri kecilnya yang sedang memakan pinggiran roti yang di keringkan. Meskipun di kenal berwajah judes tetapi jika sedang meluangkan waktu dengan bayinya dia bisa berwajah konyol tanpa sungkan. Wanita ini sangat menyukai anak kecil. Dia juga ramah kepada Hannah dan Hamish. "Kau tahu aku cukup kesal Christian datang subuh-subuk memintaku mendekor kue tart. Ternyata untuk pernikahan putranya. Kalian menikah mendadak sekali. Jadi aku mendekor tart itu hanya dengan whip cream putih dan tulisannya hanya menggunakan lelehan coklat" ujar Mahiru-san. "Tapi dekorasinya cantik sekali. Aku sangat menyukainya. Rasanya juga sangat lezat" ujarku begitu berterima kasih. "Jadi, sejak kapan kau hamil?" bisik Mahiru-san kepadaku. Baiklah, aku sadar aku menikah terlalu terbu-buru. Pasti seperti inilah yang orang lain pikirkan jika mereka menjumpai kasus pernikahan sepertiku. "Ehmm.." aku berdeham sejenak, "Aku tidak hamil" bisikku padanya. "Kau tidak perlu sungkan" ujar Mahiru-san menepuk pahaku. "Berat badanku memang bertambah, tapi aku tidak hamil" ujarku membalas menepuk pahanya. "Kau serius?" Mahiru-san tampak tidak percaya. "Kami baru berhubungan..ehm..setelah menikah" ujarku sambil berdeham agak sungkan membahas hal ini saat banyak anak di bawah umur berkumpul. "Astaga, aku bersyukur bocah itu tidak meniru kelakuan orang tuanya. Hanya saja dia b******k sekali meninggalkan istri yang baru dia nikahi ke Iran" ujarnya membuatku tersenyum getir, "Tapi, kau tenang saja. Baik kau, aku bahkan Nenek sekalipun juga merasakan hal yang sama." Usai melahirkan Mahiru-san banyak bercerita kepadaku tentang kehidupannya. Kehamilan kedua yang dia hadapi begitu dekat dengan waktu primenopouse-nya. Dia harus mengasuh anaknya yang melewati masa pubertas, dan suaminya yang dulu pernah meninggalkannya selama lima belas tahun juga harus pergi lagi dari sisinya. Sebenarnya si suami tidak benar-benar pergi. Dia hanya bisa mengamati keluarganya dari jauh. Aku juga mengenal ayah Seichi, pria itu bernama Ken Kurosaki adik tiri dari ayah mertuaku. Karena dia bekerja di dunia underground dia harus berhati-hati agar musuh tidak mengincar keluarganya sebagai sandra. Tapi pria ini sebenarnya sangat merindukan anak dan istrinya. Dulu ketika aku masih jadi mahasiswa koas Christian-san sering mengajak Seichi dan Gion kerumah sakit. Di saat itulah Ken-san bisa bertemu Seichi dan bisa mengajak putranya bermain di rumah sakit itu. Kisah mereka ini membuatku tersentuh hingga sekarang. Meskipun sudah lima belas tahun tidak bertemu mereka juga ternyata masih saling mencintai dan akhirnya lahir Himawari Kurosaki anak kedua mereka. Lima belas tahun itu sangat lama. Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana perasaan cinta bisa berjalan begitu lama padahal mereka jarang sekali bertemu. Aku ingin tahu bagaimana mereka tetap bisa menjaga hubungan mereka dan juga saling setia satu sama lain. Aku saja tidak bertemu selama beberapa hari sudah merasa tersiksa seperti ini. Kau tidak salah meluangkan waktuku untuk berada disini dan belajar dari mereka untuk menyembuhkan keputus asaan yang kurasakan. "Ngomong-ngomong, si tuan putri tidak ikut makan?" tanya Mahiru-san. "Aku sudah mengajaknya. Tapi dia menolak" ujar Yuuta. "Kalau begitu bawakan beberapa roti isi kare untuknya" ujar Nenek Miyainuichi. Apa mungkin Hazellyne-san tidak ingin makan di tempat ini karena ada aku. Aku jadi merasa bersalah jika yang terjadi seperti itu. Padahal makan malam hari ini sangat lezat. Aku meminta beberapa lauk kepada nenek dan Mahiru-san setelah makan malam. Dan saat kembali aku menengok apa yang di lakukan wanita itu. Ternyata dia sedang melamun menatap langit. Dia tampak sedang merana menangis sendirian dalam lamunannya. Pipinya yang basah menempel di kusen jendela kamar. Dia pasti sangat merindukan Christian-san sehingga jadi sesedih itu. Tingkah gila nya hari ini mungkin juga karena alasan yang sama. Aku menghampirinya. Dia menatapku dengan wajah lemas. "Apa kau tidak lapar, Hazellyne-san?" tanyaku sambil menyibak rambut hazel yang menempel di pipinya. "Aku membawakan beberapa menu makan malam untukmu" ujarku. Dia menyedot hidungnya yang berair, "Kau tidak dendam padaku karena kejadian tadi?" tanyanya. "Tidak, aku mengerti perasaanmu. Aku juga merindukan suamiku yang sekarang sedang berjuang di sana dengan perasaan cemas. Aku juga sempat gila karena sangat merindukannya" ujarku. "Hmmhh.." bibir wanita ini bergetar dan air matanya kembali tumpah, "Aku benar-benar gila karena ini. Kenapa Tuan Christian-ku harus datang menyelamatkan wanita itu! Apa bagusnya wanita jalang itu sampai dia harus meninggalkanku disini.." Aku sadar mengapa wanita ini jadi sangat gila. Banyak pria setia di belahan dunia ini yang akan mencintainya sepenuh hati. Tapi dia justru terjebak rayuan pria flamboyan sehingga membuatnya sedepresi ini. Apa aku harus memberi komentar? Kurasa jangan dulu. Kita masih tidak sedekat itu. "Meskipun begitu jangan mengabaikan kesehatanmu. Kau bisa marah kepadanya saat dia pulang nanti jika kau punya banyak tenaga. Aku akan mengambilkan makanan untukmu" ujarku mengusap lengannya. Dia mengangguk menurut, "Terima kasih, Hikari-san" ucapnya. Saat seperti ini aku jadi melihat betapa manisnya wanita loli di saat dia sedang kondisi sadar. Aku mengambilkan makanan untuknya. Dan dia menghabiskan makanan itu dengan baik dan lalu pergi tidur. Yuuta tampaknya sedang melongok di balik pintu kamar. Sepertinya dia mengawasi sedari tadi. Karena kali ini kondisi tiap anggota keluarga menjadi tanggung jawabnya. Saat aku mengampirinya dia mengambil piring kotor yang kubawa. "Biar aku mencucinya. Terima kasih sudah membantu pekerjaanku" ujarnya. "Sama-sama" jawabku, "kau boleh minta bantuanku kapan saja" ujarku. "Mengurus rumah ini sangat merepotkan. Aku bahkan kewalahan menangani semua ini padahal kami sudah saling membagi tugas" ujar Yuuta. "Dimana yang lainnya?" tanyaku. "Mereka sedang di ruang tamu menonton film" ujar Yuuta, "Nagai-san, aku mendengar sebelumnya bahwa kau menghindari kontak dengan orang tuamu belakangan ini." Perkataan Yuuta membuat langkah kakiku terhenti. Dia memang pria yang sangat jeli. "Kau bisa menceritakan alasanmu kepadaku?" pintanya. "Hubunganku dengan orang tuaku baik-baik saja, kok" jawabku. "Nagai-san, sebenarnya aku yang memprovokasi kakakku untuk memberanikan dirinya agar bisa melamarmu" ujar Yuuta. "Yuuta-kun.." "Kakakku juga berpikir dia akan di tolak. Dia tahu jika keluarga kalian adalah keluarga yang sangat membenci orang-orang di dunia gelap seperti kami. Tapi lucunya kalian justru menikah dan bahkan mendapatkan restu juga dari orang tuamu. Aku yakin mereka memberikan restu karena berpikir kakakku akan mati" ujar Yuuta membuatku terdiam. Tubuhku bergetar. Isi kepalaku kembali kacau. Aku mengingat apa yang kukatakan kepada orang tuaku sebelumnya. Di malam itu saat aku mengatakan bahwa aku akan menikah Risey mereka memang memintaku untuk lebih memikirkan masa depanku. Aku benar-benar bersi keras saat itu. Aku yakin hanya Risey-lah masa depanku saat ini. Dan saat itu aku juga mengatakan firasat burukku saat itu. Dia melamarku karena dia akan pergi meninggalkanku. Dab saat itulah aku mendapatkan restu dari kedua orang tuaku. Dan aku mengingat perkataan ibuku saat itu. "Pulanglah, saat semuanya telah selesai.." Perkataan ibuku membuatku terngiang hingga saat ini. Aku yakin mereka berpikir jika Risey tidak akan kembali. Mereka akan meyakinkanku untuk meninggalkan suamiku. Banyak hal yang sudah mereka lakukan agar aku bisa melupakan Risey. Dan setelah aku menikahinya mereka pasti akan melakukan hal itu lagi. "Yuuta-kun.. jika kakakmu sudah pulang aku yang akan menjelaskan hal ini kepadanya" ujarku, "Dia pasti akan pulang, kan?" Yuuta menganggukan kepalanya, "Nagai-san. Jika saja kau tahu siapa kakakku sebenarnya apa kau akan masih sangat mencintainya?" ujarnya. "Apa yang kau katakan?" heranku, "Kau kira aku tidak tahu apapun! Aku tahu jika dia memiliki ibu yang menjadi tentara bayaran! Aku juga tahu jika kalian dari keluarga yakuza. Aku juga tahu jika keluarga kalian pengelola dalam organisasi gelap yang ada di rumah sakit. Tapi aku tetap tidak menyerah lagi kali ini. Aku sudah meyakinkan langkahku di jalan ini saat aku menikah dengan Risey!" ujarku. Yuuta menghelah napas panjang, "Sudah saatnya kau berpikir logis, Nagai-san. Dua minggu. Aku yakin kakakku akan kembali. Tapi dua minggu juga waktu untukmu agar memikirkan alasan apa yang bisa kau katakan agar kau bisa melarikan diri dari kakakku. Karena jika kau sudah dalam genggamannya dia tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja. Dan saat kau membuatnya merasa terancam sedikit saja dia tidak akan segan untuk membunuhmu atau mungkin keluargamu." Yuuta membuatku tersadar sepenuhnya. Banyak fakta yang belum kuketahui tentang Risey. Dan hal itu masih membuat jantungku berdegub kencang karena ketakutan. Sejak aku mengenal Risey aku tahu jika tak ada yang beres darinya. Di balik wajahnya yang polos aku tahu jika ada sisi lain yang berbanding terbalik dari citranya saat ini. Karena aku tahu, baik senior di kampus yang sering merudungku, dosen yang melakukan pelecehan seksual kepadaku, mantan pacar yang melakukan KDRT kepadaku.. tak ada satupun dari mereka yang pernah menampakkan wajah lagi di hadapanku. Aku pernah melihat wajah mengerikan itu sebelumnya. Saat dia menghabisi seseorang di sebuah gang sempit. Aku memang tak pernah melihat jelas sosoknya melakukan hal itu karena dia memakai pakaian serba hitam dan juga dia pergi begitu cepat. Dia bahkan pergi membawa korbannya. Dan saat dia kembali berhadapan denganku dia kembali dengan sosok pria manis yang suci tanpa dosa. Meski tidak memiliki bukti jelas aku tahu persis jika pria yang kulihat itu adalah dia. Dan kali ini Yuuta akan menceritakan semua yang dia janjikan kepadaku sebelumnya. Sisi lain dari suamiku yang telah di simpannya saat berada di sisiku. Apakah aku masih bisa mencintainya meskipun sudah mengetahui semuanya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN