Oleh-Oleh Diantar Riana

1096 Kata
Semuanya sibuk belajar. Terlebih kini sudah hampir akhir dari semester pertama. SMA merupakan saat-saat yang cukup berat. Tak seperti SMP yang rasanya, masih memiliki waktu senggang. Oleh sebab itu, jarang lagi bagi Arya bermain. Jika biasanya di sore seperti ini dirinya akan ke lapangan dan bermain sepak bola. Atau memancing ikan, dan bahkan ngumpul bersama teman-teman lelaki sebayanya. Kali ini, Arya masih berada di dalam kamar tidurnya. Tepatnya, laki-laki itu sedang duduk di kursi menghadap ke arah meja belajar. Sedang berkutat dengan banyak buku catatan serta buku-buku yang akhir-akhir ini bundanya beli. Semuanya merupakan buku pelajaran. Sejak pulang sekolah tadi, target Arya adalah selesai mempelajari dua mata pelajaran penting. Di malam hari nanti, baru dilanjut mata pelajaran lainnya. Begitulah. Ia mendapatkan tips ini dari teman-teman yang pernah ditanyainya. Sebenarnya lelah. Iya, sangat lelah bagi Arya melakukan hal ini setiap harinya. Tapi, laki-laki itu jauh lebih lelah jika semua nilainya berada di bawah. Awalnya memang santai dengan semua itu. Dirinya tidak peduli apapun. Namun, lama-kelamaan rasanya berubah. Entah sejak kapan Arya memiliki tekad ini. Ini jauh lebih lumayan. Laki-laki itu mulai terbiasa dengan kegiatan 'belajarnya' yang mulai dibiasakan. Kelas-kelas les juga selalu diikutinya. Mengingat bahwa SMA Merdeka lebih mengutamakan nilai akademik daripada nilai ekstrakurikuler. Arya meletakkan pensilnya. Melirik ke arah jam dinding di sudut kamar. Sudah jam lima sore, bahkan rasanya waktu berjalan sangat cepat. Satu hari tak cukup baginya untuk melakukan aktivitas. Arya memang serakah. Arya mengeluarkan ponselnya dari dalam laci meja belajar. Sengaja ia taruh di sana agar dapat mengurangi hal-hal yang membuatnya menunda belajar. Laki-laki memainkan ponselnya. Mendapati notifikasi chat yang baru saja Ayun kirim. Isinya, [Arya. Ini sudah hampir akhir semester satu. Dan … tugas yang kelompok kita belum selesai sama sekali. Bahkan belum interview. Takutnya nanti gak kekejar. Gimana kalau sempatin waktu buat ngerjain hal ini? Biar liburan semester nanti bisa punya waktu kosong.] Pesan yang dikirim Ayun ada benarnya. Liburan semester yang ditunggu-tunggu. Arya bisa istirahat dan melakukan banyak hal sesukanya. Terasa nyaman, dan pasti tidak suka bila liburan yang dinanti itu diganggu tugas. Oleh karena itu, Arya menyetujuinya. Dia membalas pesan Ayun dengan maksud setuju. Arya menaruh kembali ponsel di atas mejanya. Menghela napas cukup panjang. "Capek banget jadi pelajar. Pengen naik status jadi pekerja aja," ujarnya lirih. "pelajar dapat tekanan. Kalau pekerja dapat gaji." Membicarakan hal itu, Arya terdiam. Dirinya jadi ingat sebuah hal. Bundanya bekerja sendiri. Arya bahkan tidak tahu bagaimana suasana atau kegiatan bundanya ketika bekerja. Yang dirinya tahu, adalah bundanya yang kerja pada sebuah pabrik dan dibayar setiap Minggu. Dinda juga membuka pesanan kue-kue ataupun snack. Bundanya belum berani membuka catering makanan. Masih khawatir bahwa masakannya tidak enak. Padahal, Arya dan teman-temannya selalu suka dengan masakan Dinda. Arya jarang memikirkan bundanya. Akhir-akhir ini dia sibuk. Padahal, setiap sebelum tidur Arya akan memikirkan mengenai bundanya. Memikirkan secara diam-diam. Bunda kerja sendiri. Kapan gue bisa bantu? Arya mengusap wajahnya kasar. Terkadang merasa gagal sebagai seorang anak. Saat ini pun, bundanya belum pulang. Mungkin sebentar lagi. Lalu setelah pulang, beliau juga harus membuat kue sesuai pesanan. Saat Arya hendak menutup bukunya, kegiatan itu terganggu. Oleh suara ketukan pintu yang cukup nyaring. Dirinya berdecak pelan. Bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke ruang tamu. Di sanalah ia membuka pintu yang kini suara ketukannya mulai mereda. Begitu pintu ditarik, Arya dapat melihat seorang perempuan. Cantik, lebih tinggi dari Billa. Kulit yang seputih s**u dan rambut tergerai indah. Perempuan itu tersenyum lembut ke arah Arya. "O–oh …." "Ada apa?" lanjut Arya. Menyadari bahwa cukup lama dirinya mendiamkan Raina. "Mau masuk dulu?" tawarnya kemudian. Merasa tidak nyaman membiarkan seorang perempuan hanya berdiri di teras rumahnya. Raina menggeleng. "E–enggak perlu. Ini … aku cuma mau kasih ini." Dia menjulurkan sebuah paperbag yang entah apa isinya. Namun, laki-laki itu tetap menerima. Hingga paperbag itu telah berganti pemilik. "Mbakku baru aja pulang dari Bali. Bawa oleh-oleh, yang ini untuk kamu." Oh, Arya mengangguk. Pertanyaan yang ingin dia ajukan telah lebih dulu dijawab. "Makasih." Raina mengangguk. "Gak mau … masuk dulu?" Kali ini perempuan di hadapan Arya menggeleng pelan. Seraya tersenyum menenangkan. "E–enggak dulu. Aku juga mau bagi ke yang lain," ungkapnya. Arya menatap ke arah beberapa paperbag yang memang Raina bawa. Dirinya kemudian mengerti. "Sip. Makasih sekali lagi, ya." Setelah mengangguk, Raina lantas pergi. Entahlah, mungkin ke tempat Rafli. Membagikan oleh-oleh yang sama. Sedangkan Arya kembali masuk ke dalam rumahnya. Meski bahkan tidak tahu siapa mbaknya Raina pun, tidak apa. Oh, Arya bahkan tidak tahu sama sekali bahwa perempuan itu memiliki kakak. Arya biasanya akan meletakkan pemberian tetangga di atas meja makan. Lalu menunggu bundanya pulang, biar langsung dibuka bundanya sendiri. Namun, kali ini Arya mencoba untuk mengintip isi dari paperbag. Lalu mengeluarkan beberapa oleh-oleh berupa camilan dan minuman dari dalamnya. Juga ada sebuah topi, atau entahlah— semacam hiasan kepala. Lalu cendera mata, yang sudah dipastikan akan digunakan bundanya. Masa Arya yang laki-laki gentle ini memakai perhiasan? "Apaan, nih?" Arya mengeluarkan sebuah kotak. Berukuran sederhana dengan bahan plastik mirip kaca. Begitu dibuka, ternyata isinya adanya manik-manik. Beragam. Ada benang karetnya pula. Semacam perlengkapan untuk membuat perhiasan bertali. "Enak kali kreasi, buat gelang." Laki-laki itu bergumam pelan. Tapi, kemudian menggeleng. "gak, ah. Gue laki." Meskipun begitu, Arya tetap berubah pikiran. Kali saja hobi baru, berkreasi. Sepertinya dia akan membuat gelang atau kalung untuk Raina. Sebagai bahan ucapan terima kasih. Atau untuk mbaknya, yang telah memberikan oleh-oleh. Mungkin juga kedua-duanya. Arya membereskan kembali sebuah oleh-oleh yang dirinya keluarkan. Setelah rapi, barulah dia kembali ke kamarnya. Mendapati ponsel dengan layar menyala. Yang artinya, terdapat notifikasi pesan masuk. Jarang memang. Karena sembilan puluh persen kontak Arya dirinya bisukan, seolah tidak peduli. Kecuali jika memang gawat, mereka pasti akan menelepon. Lagipula, ponselnya ini tidak ada kontak anggota keluarga. Karena memang … bahkan Arya tidak tahu siapa saja. Oh, lupakan. Laki-laki itu melihat notifikasi pesan dari Ayunindya. Sebelumnya, kontak telah dibisukan. Tapi karena Ayun satu kelompok dengannya, maka dari itu dia bunyikan notifikasi. Pesan dari Ayun berisi protes. [Yak! Iya, tapi jadinya kapan? Tentukan. Masa aku terus? Dan, dimulai dari mana dulu?] Arya bahkan tidak tahu mengenai tugasnya sama sekali. Dia lupa. Sehingga hanya membalas, [Gue ikut lo. Nurut aja.] Lalu, balasan pesan dengan cepat muncul. Kali ini tampaknya menggambarkan bahwa Ayun jauh lebih kesal. [Aryaaaa. Kapan ketemunya? Hari apa dan jam berapa? Tapi, diskusikan dulu. Ini fiks mau tentang pengemudi becak? Gak akan diubah, kan? Lalu, buat dulu jadwalnya.] Setelah membaca pesan itu, Arya mulai mengacak-acak rambutnya. Pusing. [Terserah lo. Gue ngikut aja.] Setelahnya Arya meletakkan ponsel di atas meja. Membereskan buku-bukunya dan langsung terjun ke atas kasur. Tak peduli meski layar ponselnya menyala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN