Bertemu Bagas Secara Tak Sengaja

1056 Kata
Ayun sangat malu. Bayangkan bagaimana perasaan seseorang, ketika rahasianya dibongkar begitu saja. Maksudnya, rahasia yang selalu mengarah ke arah 'berduaan', lalu bocor pada seorang bunda lelaki itu sendiri. Terlebih, yang melakukan pembocoran itu adalah sahabat dekat. Wah, saat itu juga; Ayun rasanya ingin berlari keluar rumah. Pokoknya bersembunyi di mana saja, di mana orang-orang ini tidak melihat. Namun, sayangnya Ayun menyadari bahwa dia masihlah normal. Melakukan hal semacam plan yang dipikirkan kepalanya sudah pasti akan dianggap 'miring'. Perempuan itu hanya berusaha mengabaikannya saja. Selama acara belajar bersama pun, dia lebih banyak kalem. Yah, dia berbicara. Hanya sekedar menjelaskan materi dan sebagainya. Lalu menjawab apa yang Arya dan Billa tanyakan. Selain itu, tidak ada lagi. Sampai-sampai Billa telah berani menegurnya— secara lembut. "Lo masih marah, Yuk?" tanyanya. "bercanda tadi." Ayun ingin mengabaikan kekhawatiran itu. Namun, tidak bisa. Pada akhirnya dirinya menggeleng seraya menghembuskan napas ringan. "Masih, tapi gak terlalu." Setelah mengatakannya, Ayun memberikan senyuman sederhana. Baiklah. Jawaban itu memang tidak terlalu baik. Tapi, masih mendingan. "Maaf, ya." "Kalian kok romantis banget, siiih!" Arya duduk layaknya anak gadis di lantai. Mengibaskan tangan sekali dengan gerakan 'a lay'. Dia terlalu dramatis untuk ukuran seorang lelaki SMA. Bahkan suaranya yang biasa berat, berubah menjadi logat menyebalkan. Berakhir Arya yang diabaikan. Sementara Ayun dan Billa melanjutkan kegiatannya; belajar. Dengan Ayun yang melontarkan materi-materi penting seperti guru-guru les bahasa Inggris pada umumnya. Arya menghembuskan napas. Kembali seperti semula— layaknya tak ada adegan aneh yang pernah terjadi. Sesi belajar bahasa Inggris dengan Ayun sebagai mentor— berlanjut secara menyenangkan. Dua jam lebih rasanya berlalu dengan cepat. Oh, mungkin karena adanya banyak camilan dalam beberapa toples. Atau beberapa kali ketiga gelas mereka terus habis dan terisi ulang kembali. "Enak banget lo blasteran, Yuk," ungkap Billa seraya menghabiskan kembali segelas berisi es teh. "penilaian atau tugas gampang. Mau ngomong presentasi pun, gampang banget." Di belakang Ayun, Arya mengangguk setuju. Dirinya memikirkan hal yang sama. Sedangkan Ayun hanya menggeleng pelan. "Aku juga sama kayak kalian, harus belajar dulu baru bisa bahasa Inggris." "Kok?" Billa meletakkan gelasnya yang telah habis di atas meja. "Aku waktu kecil tinggal di Sumatera. Bahasa pertama yang aku gunakan itu Indonesia. Baru Bahasa Inggris. Ayah yang ngajarin." "Tetep aja." Billa menggerutu pelan. Yah, perempuan itu memang terlalu susah untuk dibilangin. "Yak!" "Apa?" Arya menjawab malas. Energinya telah terkuras untuk mendengarkan mentor Ayun serta mengerjakan beberapa soal pelatihan. "Lama gak liat lo sama si Rafli, terus Bagas. Napa?" Kemudian topik pembicaraan ini telah berubah. "Biasa. Mau akhir semester. Rafli sibuk. Terus, Bagas memang sibuk. Kan bantu di pasar." "Bagas udah lama jarang kelihatan," gumam Ayun. Arya ingin sekali mengangguk perkataan itu. Sementara Billa mengangkat kedua bahunya ringan. "Lah, di sekolah kan selalu ketemu." "Iya. Tapi, dia sekarang lebih ke menyendiri." Arya bangkit dari duduknya. "Kok dipikirin? Bagas kan murid terpintar di kelas. Wajar begitu." "Lo berdua kapan pulangnya?" Billa menoleh ke arah Ayun. "Sekarang aja, gimana?" Lalu hal itu disetujui dengan anggukan Ayun. Keduanya mulai beberes ringan. Sementara Ayun dan Billa berpamitan dengan Dinda, Arya menyibukkan diri untuk menata ulang ruangan. Mengembalikkan tata letak meja serta kursi seperti semula. Sebagai tuan rumah, Arya mengantar kedua tamunya hingga halaman depan. "Makasih ya, Yak." Billa berucap. Rasanya, Ayun ingin menjadi seperti sahabatnya itu. Pandai bergaul, entah itu laki-laki maupun perempuan. Tidak mudah canggung dengan siapa saja dan selalu menemukan topik menarik untuk diperbincangkan. Tidak salah lagi. Ayun saja sangat nyaman dengannya. "Hati-hati." Arya membalas. "Thanks, Yuk. Udah mau ngajarin. Lo kayaknya cocok aja deh kerja jadi mentor bahasa Inggris. Penjelasan lo bagus, gue suka." Hati Ayun mulai menghangat. Seperti ada mentari terang di pagi hari. Perasaan senang dan bangga yang tidak bisa dijelaskan. Rasa bahagia ketika mendapatkan sebuah pujian— karena dirinya endiri. Karena kemampuannya sendiri. Ayun mengangguk pelan. "Makasih," ucapnya. Sebelum akhirnya perempuan itu mulai menaiki motor Billa. Di bagian belakang. Karena sudah tentu Billa lah yang akan mengendarai kendaraan itu. Mana mungkin Ayun. Tidak perlu acara lambai-melambai. Motor yang dikendarai oleh Billa sudah melaju melalui jalan buntu kampung ini. Padahal, jaraknya hanya sekitar seratus meter menuju ke rumah Billa. Karena Ayun sempat mengatakan hendak mampir dulu, membeli apa yang tadi mamanya pinta. Rasanya Ayun sudah terbiasa dengan ini. Mau itu pakai sepeda atau motor. Perasaan saat kendaraan berhenti secara tiba-tiba setelah sampai di tempat tujuan— itu mengagetkan. Bahkan Ayun tak kuasa untuk tidak berteriak seraya tangan memukul bahu Billa. "Billaaa!" Setelahnya, Ayun menggerutu. "Hati-hati." Dengan perasaan lelah. Karena sepertinya, ini sudah sering terjadi. Dan sering pula Ayun memperingatkan. Billa mengangguk-angguk layaknya orang yang paham. "Iya, iya, Yuk. Udah sana, turun." Ayun menuju ke warung berukuran sederhana. Itu adalah warungnya Billa, berada tepat di samping rumahnya yang berlantai dua. Ayun sudah sering main ke sini. Sehingga membeli di warung pun tak lagi canggung. Kini keduanya duduk di depan rumah Billa. Tampak bersantai dengan beberapa jajanan yang ada di atas lantai teras. "Gimana kabarnya, La?" Ayun bertanya. Nadanya terdengar menyebalkan di telinga Billa. Meski tahu apa yang dimaksud, tetapi perempuan itu tetap membalas, "gimana kabarnya apa apanya?" "Hubungannya," jelas Ayun. "Ohh ...." "Biasa-biasa aja, lah." Baiklah. Dari raut wajahnya pun, dapat tertebak bahwa Billa memang orang yang sangat santai. Ayun jadi ingin memiliki sifat 'santai' itu. "Semoga lancar," imbuh Ayun dengan nada bercanda. Meskipun juga serius. Entah sudah berapa kali Billa berhubungan. Akhirnya juga semua sama. Ayun selalu bisa menebaknya. "Tugas santai yang dari guru gimana? Lo satu kelompok sama Arya, kan?" Billa mengalihkan topik. "Iya. Tapi ... belum selesai. Masih lama, jadi santai dulu." "Wah." Billa menggeleng-gelengkan kepalanya. "lo yang disiplin pun bisa tunda-tunda, ternyata." Ayun ingin menjawab. Namun, perhatiannya secara cepat menangkap seorang lelaki yang dirinya kenali. Baru saja berjalan dari dalam pekarangan rumah pakdhenya. Bagas keluar dengan pakaian santai. "Bagas!" Ayun memanggil. Seperti teman pada umumnya yang saling sapa. Bagas menyadarinya. Dia menatap ke arah teras rumah Billa. Kemudian tersenyum singkat seraya mengangguk. "Mau ke mana?" tanya Ayun dengan suara yang setengah ditinggikan. "Ke pasar." "Ohh ... ya." Ayun mengangguk. "sampai jumpa," ungkapnya kemudian dengan tangan yang melambai. Bagas membalasnya. Hanya saja, dia juga berjalan secara cepat. Mungkin terlalu sibuk. Pasar ada di depan gapura kampung, tetapi lebih menjorong atau berbelok ke kanan terus, dan masuk. Sebenarnya, cukup jauh jika ditempuh dengan ... berjalan kaki. "Semuanya sibuk, ya." Ayun menatap ke arah Billa. Tapi, perempuan itu hanya berdehem pelan. "Lo juga, kayaknya. Dah gak heran lagi." Kemudian Billa terdiam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN