Ayunindya Puteri Genendra. Dia adalah orang Sumatera yang memiliki darah Inggris. Didapat dari ayahnya yang merupakan blasteran Indonesia-Inggris.
Di usia yang ke-6 tahun, Ayun dan keluarganya memilih pindah ke Yogyakarta. Alasan awal karena hanya sekedar mudik ke rumah orangtua mamanya Ayun. Namun, ternyata terasa jauh lebih nyaman. Sehingga memutuskan untuk menetap di tempat ini.
Sementara orangtua dari ayah Ayun, sejak dulu menatap di Inggris. Mereka akan berkunjung ke Indonesia sesering mungkin.
Karena itulah. Sudah pasti setiap pelajaran Bahasa Inggris— Ayun lah yang paling menonjol. Hampir semua penilaian Bahasa Inggrisnya mendapat nilai sempurna.
Tak heran pula bagaimana proporsi tubuhnya yang tinggi. Dengan rambut sedikit pirang indah.
Jika rumah yang paling mahal di kampung ini adalah rumah Rafli. Maka, yang kedua adalah rumah Ayun. Entahlah, mungkin karena sudah dibuat sejak lama di saat hal-hal masih murah.
Rumah luas dan panjang itu merupakan rumah joglo modern. Menggunakan kayu jati yang selalu ayah Ayun rawat dengan baik. Dengan halaman luas yang terus memberikan kesejukan. Bernuansa coklat alami yang nyaman ditempati.
"Nenek, Mama, Ayun mau main dulu, ya. Ini hari Minggu." Ayun sudah berpenampilan rapi berdiri di ruang keluarga. Luas dengan kursi kayu jati serta sofa modern, ditemani oleh televisi jumbo.
Nenek dan mamanya baru saja ke pasar, mereka terlihat menghitung belanjaan. Tapi, menoleh saat mendengar suara perempuan lembut itu.
"Ke mana, Ayun?" Mamanya bertanya meski dengan suara medok Jawa. Wanita lemah lembut dengan kerudung tersebut memiliki senyum tenang.
Oh, kali ini Ayun terdiam bingung. Dia ingin ke rumah Arya lagi. Keduanya ingin belajar Bahasa Inggris bersama. Kali ini diikuti pula oleh Billa yang juga ingin belajar.
Namun, jika dirinya jujur; sudah pasti tidak boleh. Keluarganya adalah orang-orang yang selalu protektif terhadap Ayun. Hal itu tentu saja menganggu aktivitasnya yang terkadang ingin bermain seperti yang lain.
"Ayun sama Billa mau belajar bersama, Mama."
Ayun tidak sepenuhnya bohong. Itu tak terlalu salah, bukan?
"Di mana, Nduk? Ayun?" Kini giliran neneknya yang menanyai. Ia tampak tengah menjahit baju secara manual. Di meja sampingnya sudah ada kerudung langsungan, yang biasa wanita lansia itu pakai kala ada tamu yang datang.
Em … tidak.
Ayun sangat jarang berbohong. Rasanya sulit baginya untuk melakukan sebuah dusta kembali..
Tapi, entah mengapa lagi dan lagi. Ayun menjawabnya secara melenceng. "Di rumah Billa, Nek."
"Oh, Yo, wes. Sing hati-hati, ya."
Ayun mengangguk dan tersenyum pada neneknya.
Saat perempuan tersebut berada di dekat pintu utama, suara mamanya menghentikan.
"Ayun mau ke rumahnya Billa, kan?"
Ayun membalikan badannya. Berusaha mengangguk mantap meski gugup terasa. "Iya, Ma."
"Nanti pulangnya tolong sekalian belikan butter, ya."
"Oh, ya, Ma."
"Mau mama ambilkan uang? Pakai uang mama atau kamu saja?"
Ayun menggelengkan kepala. "Pakai uang Ayun saja, Ma. Aku bawa."
"Sudah dulu, Mama."
"Hati-hati, Nak."
Ayun keluar dari rumahnya. Menjumpai teras beralas kayu yang luas dan rindang dengan genting kokoh. Beberapa pepohonan di taman di samping kiri dan kanan.
Saat turun dari teras rumah, Ayun menjumpai kakeknya. Sedang menyapu halaman dengan sapu lidi. Dia tampak sehat dan ramah-tamah.
"Kakek."
"Oh, Ayun."
"Ayun mau belajar sama Billa, ya."
"Ndak bawa makanan?" tanya kakeknya. "mbok, yo, bawa. Biar bisa dimakan bareng-bareng."
"Enggak perlu, Kek. Ayun pamit, ya. Bye …."
Perempuan cantik itu melambaikan tangannya sebelum berjalan pergi keluar dari halaman rumah.
"Ndak naik sepedaaa?" Dari belakang suara itu masih terdengar, kakeknya.
Ayun menoleh sebentar. Menggelengkan kepalanya. "Gak perlu, Kakek." Kemudian kembali berjalan cepat.
Tiba di rumah Arya, entah mengapa Ayun menjadi yang terakhir. Karena sudah ada Billa yang duduk di ruang tamu. Sangat aneh karena perempuan berdarah Bali itu biasanya terlambat.
Arya baru saja keluar dari dalam kamarnya. Sudah menemukan Billa dan Ayun duduk di sofa— ruang tamu.
Ayun, sih, sudah ketebak. Dia perempuan kalem nan lembut yang hanya sekali keras ke padanya.
Lalu, Billa. Yah, dirinya sedang memangku sebuah toples berisi kue kastengel dan memakannya lahap. Mirip seperti sedang berada di rumahnya sendiri.
"Belajarnya di teras rumah gue aja. Di teras lebih luas soalnya. Sejuk juga." Arya duduk di kursi sebelah Billa. Meraih dua buah kastengel yang ada di pangkuan perempuan itu.
"Kenapa gak di dalam aja?"
Pertanyaan dari Ayun lantas membuat Billa menolehkan kepalanya. Menatap tajam dengan berkata, "wah, jangan sembarangan, Yuk. Masa iya di dalam rumah ada cewe dua cowo satu."
"Bukan begitu …." Ayun menggelengkan kepalanya. "maksudku … di luar kurang nyaman. Takut dilihat banyak orang."
"Introvert sih, lo!" Billa melanjutkan makannya.
"Kalau mau di dalam juga gak apa-apa. Ini kursi-kursi sama mejanya bisa dipindah ke sudut ruangan. Biar luas. Lagian, cuma nambah satu orang— si Billa. Kemarin gue sama Ayun berdua di sini aja kagak apa-apa—"
"Yak—"
"Heh!? Lo berduaan sama Ayun di sini? Di rumah lo? Cuma berduaa?" Wah, sebuah hal yang menegangkan saat Billa mau menaruh toples kastengel kembali di meja. Perempuan itu kini menjadi heboh tidak terkendali. "wah. Ternyata rumornya bener. Gue kira kagak." Dia menggeleng-geoengkan kepalanya— tidak habis pikir.
"Santai aja kali," desis Arya tak suka.
Sementara, Ayun mengalihkan wajahnya. Dengan tangan yang terulur untuk mencubit kencang lengan Billa.
"Auww! Apaan, sih, Yuk?" Billa menolehkan kepalanya. "sakit, loh."
"Jangan heboh begitu, makanya." Ayun memperingatkan. Meski terkesan tenang, tetapi suaranya benar-benar dalam. Seolah ia memang serius dengan apa yang dikatakannya.
Beberapa detik setelahnya, pintu rumah terbuka. Dinda— bundanya Arya yang cantik masuk.
"Oh, ada Billa sama Ayunindya. Mau ngapain, Yak?" Dinda bertanya pada putranya.
"Mau belajar, lah, Bun. Si Ayun level Bahasa Inggrisnya gak usah ditanya. Bunda pasti mau kan putramu ini dapat nilai tinggi." Laki-laki itu berdiri dari duduknya. Mendekat ke arah bundanya terlebih dahulu. "tak bantu taruh belanjaannya di dapur, Bun," ucapnya yang telah mengambil semua kantong belanjaan Dinda. Berjalan ke belakang dan datang kembali beberapa menit setelahnya.
"Di mana belajarnya, Yak?"
"Di sini, Bunda." Laki-laki itu sudah siap. Menarik meja ke sudut ruangan. Berserta dengan kursi-kursinya. Tak lupa sebelum hal itu, ia menyuruh agar Billa dan Ayun berdiri terlebih dahulu.
Kini, ruang tamu menjadi lebih luas. Hanya sebuah karpet berukuran sedang di tengah-tengahnya.
Billa berada di dekat Dinda.
"Tante," panggil perempuan itu.
"Ya, Billa?"
"Arya sama Ayun pernah belajar di rumah ini, cuma berduaan."
Oke.
Entah mengapa Ayun harus memiliki teman seperti Billa.