Mau bagaimanapun juga, dia adalah Ayun. Perempuan disiplin yang hobinya memerintah Arya. Terbiasa menjadi wakil ketua kelas, membuatnya keras terhadap teman-teman. Tidak. Tapi, yang ini keras dengan alasan tepat.
"Makan? Mau makan? Kamu aja gak bantu apa-apa." Ayun menyindir. Begitu mendengar Arya mengatakan 'lapar', entah mengapa perasaannya menjadi kesal.
"Gue tadi bantuin request. Mana habis jalan dari tadi buat ke sini. Haus gue. Minimal kasih minuman, lah." Sebenarnya tak berhak baginya untuk protes. Tapi, ini sekali-kali.
Ayun memandang ke arah Arya. Laki-laki itu sudah menyita waktunya.
"Cuma duduk-duduk senderan kok haus."
Arya yang duduk bersandar pada pilar joglo— langsung menegakkan punggungnya. "Gue haus. Makanya itu cuma duduk-duduk senderan."
"Alasan," gumam Ayun seraya mulai memperhatikan ke arah laptopnya kembali. Dia sibuk mencari-cari informasi, kemudian menulis di buku kertas catatannya.
Arya menghela napas. "Terserahlah."
"Nanti aja. Ini belum ada 15 menit kamunya sampai. Habis semua kerangka tugasnya selesai." Ayun memberikan pilihannya.
Arya mengangguk pelan. "Hmm …." Lekas dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Yah, ini adalah saat yang tepat untuk mengisi kekosongan dengan bermain gadget.
Keadaan sekitar yang rasanya damai. Angin rasanya berhembus pelan layaknya kawan. Berada di teras joglo yang tidak terpakai. Dengan keramik putih dingin yang telah dipasang. Digelari kloso hangat dan nyaman untuk belajar maupun bersantai.
Tempat ini memang cukup sepi. Karena di menjelang sore seperti ini, orang-orang lebih memilih berada di rumah. Umbah-umbah, tidur, dan nonton tv. Mungkin hanya sekedar mengantar bekal atau hal-hal lain di sawah, pasar, dan sebagainya. Ada berbagai macam profesi di kampung ini.
Terkadang, beberapa kali Ayun meminta saran dari Arya. Namun, seperti biasa laki-laki itu akan memberikan pilihan random. Dia sangat santai, tetapi memang semua jawaban serta pilihannya cukup menarik.
"Bagus juga semua pilihanmu. Walaupun random." Ayun memperhatikan lagi catatan kerangka tugas di bukunya. Baru saja selesai ditulis dengan tulisan tangan yang rapi.
Kini Arya meletakkan ponselnya. Laki-laki itu tersenyum bangga dengan ibu jari yang menoel hidungnya sendiri. "Ya jelas, dong. Kok baru tahu."
"Ini kerangka tugasnya sudah selesai. Ada yang mau diubah, gak,.Yak? Aku juga udah buat jadwal-jadwalnya. Entah itu jadwal komunikasi sama narasumber, interviewnya, dan lain-lain," jelas Ayun seraya menyerahkan buku catatannya.
Arya sih sebenarnya tidak mau untuk mengoreksi semacam ini. Dirinya tidak pintar-pintar sampai harus dimintai pendapat. Rasanya juga malas, karena pasti yang dilakukan Ayun sudah baik.
Namun, Arya tetap membaca semua kerangka tugas yang perempuan itu tulis. Selayaknya sadar bahwa dirinya juga memiliki tanggung jawab akan hal ini. Malah tidak enak bila Arya tidak membantu apa-apa.
"Ini dialognya lebih baik diganti, deh. Karena nanti ngusung tentang culture juga. Tukang becak yang mau diinterview kan juga orang Jogja. Mana kebanyakan umurnya udah sepuh. Jadi lebih baik dialognya pakai bahasa yang lebih mudah dimengerti. Ini Lo nulisnya terlalu formal dan kaku," terang laki-laki itu serius. Dengan menunjukkan bagian-bagian mana saja yang perlu untuk direvisi.
"Oh, oke-oke. Ngerti." Ayun menulis cepat semua yang Arya katakan di catatan mininya.
Laki-lakiitu malah menatap heran. "Gak usah ditulis juga, kali."
"Biar gak lupa."
"Jangan terlalu disiplin, lah. Jadi insecure gue," balas Arya. "oh, ya. Emang gak apa-apa lo siapin semuanya? Padahal nentuin tukang becak mana yang mau diinterview aja belum."
Ayun terdiam. Tapi kemudian menggeleng seraya meletakkan catatan mininya ke dalam tas. "Gak apa-apa. Itu bukan masalah," ucapnya.
Yah, memang bukan masalah. Tugas ini adalah tugas santai. Bahkan dikumpulkan setengah tahun kemudian juga tidak apa-apa. Bu gurunya bilang, agar murid-murid punya kerjaan.
"Jadi gak, Yak?"
Arya yang selesai melipat kembali meja belajarnya menoleh. "Apa?"
"Katanya haus?"
Laki-lakinya itu tersenyum kecil. "Iya. Mau beli di mana emangnya?"
"Tempat Mbak Nora? Di sana jualan tempura, dan makanan anak-anak kecil."
Arya berdiri seraya membawa ponselnya. "Lo ikut kagak?"
"Enggak. Aku bawa laptop, Yak. Gak bisa ditinggal," ucap perempuan yang duduk mendongak. "lagipula, Mbak Nora cuma di ujung sana. Gak sampai 60 meter."
Arya mengangguk mengerti. Laki-laki yang telah memakai sandalnya tersebut berjalan ke arah utara sana. Di sekumpulan rumah yang berjajar. Ayun dapat melihat dari sini.
"Non Ayun. Lagi ngapain, Non?" Seorang wanita paruh baya berjalan tak jauh dari teras joglo. Suaranya amat medok nan khas. Membawa kantong plastik hitam di tangannya..
Ayun lantas mengangguk sangat ramah. "Belajar, Bu."
"Oh, yo. Sing pinter, nggeh, Non. Ibu duluan."
Ayun menganggukkan kepalanya sekali lagi. "Nggeh, Bu."
Wanita yang baru saja kembali berjalan itu merupakan salah satu tetangga rumah Ayun. Entahlah, mungkin baru saja belanja di warung kelontong.
Sementara, di warung Mbak Nora. Arya telah mendapatkan semua yang dirinya mau. Tiga plastik berukuran besar berisi beragam tempura dengan saus serta kecapnya. Lalu dua cup pop ice coklat, dan beberapa jajanan lain yang dibeli. Sudah dimasukkan jadi satu ke dalam tas kresek putih.
"Borong, nih, Yak. Sama siapa?" tanya Mbak Nora setelah memberikan uang kembalian.
"Cuma sama si Ayun, kok, Mbak."
"Ayunindya? Widihhh … ternyata meski sering bertengkar, kalian berdua itu diam-diam—"
"Apaan to, Mbak? Cuma belajar kelompok, kok." Arya memotong sinis. Selalu tidak suka bila ada yang membicarakan tentang ya dan Ayun. Rasanya kesal.
"Iyo, iyo." Mbak Nora tertawa ringan.
"Wes, ya, Mbak. Makasih." Arya membalikan badannya. Sempat mendengar bahwa Mbak Nora menjawab 'sama-sama, Yak.'
Jalan laki-laki itu berhenti saat mendapati seorang perempuan tak jauh darinya; yang menatap ke arahnya. Sepertinya batu saja.
"Oh? Raina?"
Perempuan tersebut mengangguk dalam. Tampaknya dia juga ingin ke warung Mbak Nora. Tapi menunggu Arya terlebih dahulu.
Kepala Raina mendongak menatap ke arah Arya. Sudut bibir perempuan itu terangkat hingga membentuk senyuman. "Aku duluan, ya. Terima kasih untuk waktu itu." Raina berjalan melenggang menuju ke warung Mbak Nora kemudian.
Sedangkan Arya hanya terdiam. Sulit mencernanya. Laki-laki itu kembali menatap ke depan dan berjalan. Meski pikirannya ke mana-mana.
Arya belum pernah mendengar Raina bicara padanya selama itu. Apalagi melihat senyumnya, yang belum pernah dilihat pula.
Rasanya berbeda saja dari Raina yang dirinya lihat di sekolah.
Ya kagak apa. Yang ini lebih baik. Arya berbicara dalam hati. Dengan pikiran yang mengatakan, ternyata rumahnya ada di sini.
"Yak? Kok melamun?"
Suara itu menyadarkannya. Dengan keras Arya menggelengkan kepala. Oh, ternyata memang dirinya benar-benar melamun.
Tanpa sadar sudah sampai di teras joglo.
"Gak apa. Nih, buat elu. Makan dulu." Arya naik ke teras joglo. Meletakkan tas kresek tersebut dan membuka isinya. Memberikan jatahnya dan Ayun.
"Hah? Beneran?"
Sayangnya, Ayun sama sekali tidak percaya dengannya. Padahal, apakah wajah Arya segitunya di mata perempuan itu? Perasaan tak ada mirip-miripnya Arya dengan pembohong.
"Ya beneran, lah. Kalau kagak mau ya udah. Tinggal balikin," jawab Arya menjadi kesal.
Ayun tertawa. "Kukira kamu cuma bercanda," ucapnya seraya meminum pop ice dengan sedotan yang telah dirinya pasang.
Arya mencebikkan bibirnya masih kesal. Kembali duduk bersandar di pilar joglo seperti semula.
"Ini tempuranya masih satu. Untuk siapa?" tanya Ayun di sela-sela waktu istirahatnya.
"Buat bunda."
"Ohh …." Perempuan itu mengangguk mengerti. "habis ini pulang, gimana? Yang lain bisa dikerjain besok-besok."
"Oke. Gak apa-apa. Malah bagus."
"Thank you buat hari ini, Yak."
"Gue yang makasih."