Seperti yang Arya duga. Ayun menjawab bahwa dirinya lebih memilih langsung mengerjakan— pulang sekolah hari ini saja. Sesuai kepribadiannya yang selalu disiplin. Ayun biasa mengerjakan sesuatu di awal, dia tidak suka dengan yang namanya 'menunda'.
Karena itulah Arya langsung membersihkan diri dan berganti baju. Buru-buru untuk makan makanan yang telah bundanya siapkan. Arya tidak bisa belajar dengan perut kosong.
Laki-laki itu melakukan aktivitasnya dengan cepat. Mengingat bahwa Ayun adalah seseorang yang disiplin akan waktu. Lebih baik berangkat awal, daripada datang-datang langsung disembur panjang lebar.
Arya punya sepeda gunung. Tapi, entah mengapa malas menggunakannya. Ingin naik motor, tetapi motor di rumahnya hanya ada satu. Itupun digunakan oleh bunda bekerja.
Jadilah Arya memilih untuk berjalan kaki. Ponsel sudah siap, uang sudah siap, meja belajar lipat siap, dan rumah pun telah dirinya kunci. Aman.
Kali ini Ayun dan Arya akan ketemuan di belakang TK yang ada di kampung. Di sana ada sebuah teras joglo cukup luas yang baru-baru ini tak terpakai.
Seperti yang diduga. Tempatnya rindang dengan pohon-pohon besar di sekitarnya. Teras joglo tersebut ada di samping sebuah pelataran tanah.
Meski tanah, tetapi debu tidak banyak berhembus.
Rasanya adem. Karena berada di belakang tembok TK.
Seperti yang Arya pikirkan pula. Ayun sudah lebih dulu datang. Perempuan dengan pakaian santai tetapi elegan tersebut duduk sopan di teras joglo. Dengan tas yang dirinya letakkan di samping kanan.
Arya berjalan mendekat. Menaruh meja belajar lipat di teras joglo.
"Dah dari tadi?" Arya mulai menapaki teras dan duduk bersandar pada salah satu pilar joglo. Rasanya sejuk sekali angin di sini.
Ayun menggeleng. "Gak. Baru aja, sebenarnya. Eh, terus … kok bawa meja belajar lipat begini?"
Karena Ayun, sekarang arah pandangan Arya juga menatap ke hal yang sama.
"Ya, buat nulis, lah. Lo harusnya terima kasih ke gue, Yuk. Mau apa Lo nulis sambil punggungnya nekuk? Mana di sini kagak ada meja. Jadi gue bawa aja ini meja belajar lipat." Entah mengapa, tetapi perkataan Arya ada benarnya juga.
"Ini punya kamu?"
Arya mengangguk. "Ya, iyalah. Gue gak punya saudara."
"Ah, masih awet ternyata."
"Plastiknya baru aja gue buka." Arya berkata jujur.
Lalu pembicaraan itu berakhir. Karena Arya melanjutkan, "Dah, lah. Ayok. Tugasnya apaan?"
"Hah? Tugasnya apaan?" Ayun mengulangi kalimat dari Arya. Tak habis pikir apa saja yang ada di pikiran laki-laki itu. "kamu gak dengerin guru? Jelas-jelas disuruh interview, dan buat rangkumannya."
"Interview apaan?"
"Salah satu pekerjaan, Yaak." Ayun memutar kedua bola matanya pelan. Sangat tidak suka bila harus menjelaskan ke arah laki-laki itu secara berkali-kali.
"Oohh, oke, oke." Arya mengangguk mengerti. "betewe, kenapa gak ke lapangan atau gubuk aja yang deket? Di sini cukup jauh, mana dah lama gak ke mari."
Jujur saja, inilah yang membuat laki-laki itu sejak tadi kesal. Bayangkan. Dirinya tadi hanya berjalan kaki dari rumah hingga ke sini yang dapat dikatakan ada di ujung RT. Meski tidak jauh-jauh banget, tetapi tetap saja capek.
"Gue ke sini cuma pake sendal. Capek, ngerti gak?" Tak kuasa Arya untuk mengatakan keluh kesahnya. Tampaknya hal ini penting agar Ayun tahu. Minimal.
Ayun menunjukkan wajah cukup terkejutnya. Dia jadi sedikit menunjukkan perasaan iba. Yah, untunglah Ayun ke sini naik sepeda. Lebih mudah.
"Biar gak ada banyak orang yang lihat," jawab Ayun. Gubuk dan lapangan itu tempat yang sering dilalui orang. Apalagi dekat dengan sekolah. Bahkan dekat dengan rumah Bagas pula. Yang kemarin-kemarin saja rumornya masih samar-samar tersebar. Apalagi jika ada yang pergoki lagi. Entah akan seheboh apa kejadiannya.
"Kenapa kamu gak pakai sepeda? Kamu kan punya." Ayun kemudian melanjutkan.
"Males." Jawaban yang memang tipikal kaki-kaki bernama Arya Pratama. "lo juga kenapa gak pake mobil atau motor? Kan, lo punya."
Ayun menggeleng. "Aku gak bisa naik keduanya."
Ah, hal itu langsung membuat Arya tertawa. Alasan yang … lucu bagi remaja seumuran Ayunindya. Anak-anak yang baru lulus SD di kampung ini pun, sudah pada pintar naik motor. Kebanyakan menggunakan hal tersebut untuk membantu orang tuanya bekerja. Begitulah.
"Sayang banget mobil sama motor di rumah lo cuma dianggurin."
Ayun mengiyakan. "Ini jadinya gimana?" Perempuan yang telah mengeluarkan semua alat-alat tulisnya mulai memulai pekerjaan. Meja belajar lipat yang dibawa Arya juga telah dirinya gunakan.
Sementara Arya masih bersandar di pilar joglo. "Entahlah, Yuk. Tiba-tiba gue males," ucapnya yang langsung dilempari tip-ex.
Ayun tidak suka kata-kata itu. Dalam hati mengatakan, mengapa dirinya harus satu kelompok dengan Arya? Dengan laki-laki yang rasanya susah diajak bekerja sama.
"Aku kerjain sendiri aja kalau gitu," desis Ayun kesal.
Arya mengangkat kecil kedua bahunya. "Ya gak apa-apa. Makasih."
Ayun menghela napas. "Yang bener aja kamu, Yak."
"Lah, gimana? Katanya lo yang mau ngerjain sendiri?" Arya jadi bingung. Emosi perempuan memang cepat sekali berubah.
"Paling gak kamu bantuin nentuin pekerjaan mana yang dipilih."
"Tinggal pilih pedagang di pasar. Pakdhe sama budhenya Bagas kan bisa diajak interview," jawab Arya tenang.
"Tapi bisa aja dipakai sama Bagas dan Zaidan sendiri. Lagipula, aku pernah dengar ada yang mau pilih itu juga, Yak," ucap Ayun.
"Pekerja pabrik. Bunda gue bisa diajak interview."
"Kelas sebelah kemarin, katanya ada yang pakai pekerja pabrik. Mereka gurunya juga sama sama kita. Cari yang anti-mainstream, Yak." Ayun memberikan saran.
"Presiden?"
Ayun menghela napas pelan. "Yang bener, Yaak."
"Gue udah bener ini."
"Selain itu?"
"Entahlah. Kayaknya gue males mikir."
Jika boleh jujur. Maka Ayun akan mengatakan bahwa dirinya sangat dan sangat kesal dengan Arya. Dia sudah menyempatkan waktu, laku ketika datang bahkan ide pun belum tercapai.
Rasanya menyesal Ayun satu kelompok dengan Arya.
"Tukang becak aja. Gimana?"
Ayun menatapnya curiga. Terkadang ide dari laki-laki itu memang aneh. Semacam dirinya memang tidak semangat dan hanya asal-asalan.
"Ya elah. Ngomong serius aja dikira bercanda," lanjut Arya malas.
"Kalau tukang becak, harus ke Malioboro berarti?"
Arya mengangguk menanggapi. Ini Yogyakarta, dekat dengan Malioboro, alun-alun, bahkan keraton. Naik motor pun sampai.
"Oh, okay. Jadi, beneran tukang becak?" Ayun bertanya sekali lagi hanya untuk sekedar memastikan.
Arya mengangguk.
"Oke. Aku cari-cari tentang itu dulu." Perempuan itu sudah siap dengan laptopnya. Ternyata meja belajar lipat Arya sangat berguna.
Cukup lama Ayun sibuk dengan layar laptopnya. Sementara Arya sudah menelentangkan badannya di teras joglo yang terbuat dari keramik. Merasakan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Bahkan membuat rambutnya berantakan.
"Yuk. Ayuk." Arya memanggil di tengah-tengah santainya.
"Apa?" Perempuan itu masih fokus dengan laptop.
Arya tersenyum tipis. "Gue laper."