Sejak banyak rumor akan kedekatan Arya dan Ayun, keduanya jadi semakin menjauh.
Bahkan bertemu tak lagi saling sapa. Meski terkadang sama seperti biasanya, Arya tetap akan selalu membagikan candaannya berupa kalimat-kalimat yang membuat kesal. Respon Ayun pun yah sama saja, tetapi dalam bentuk yang singkat. Kemudian tak ada lagi interaksi yang terjalin.
Tidak peduli. Hal itu tidak mengurangi bagaimana kehidupan sederhana Arya berjalan.
Dia sudah mendapatkan tempat les. Satu Minggu masuk lima kali, di jam 7 malam. Sebenarnya Arya sangat ingin membuat jadwal di siang hari. Hitung-hitung untuk mengurangi waktu kesepiannya di rumah yang selalu ditinggal bunda kerja.
Namun, ingat bahwa laki-laki itu memiliki kegiatan ekstrakurikuler yang harus diikuti.
"Hah! Capek banget jadi pelajar." Sebab itulah sekarang Arya mengeluh di kelasnya. Setelah jam pelajaran baru saja berakhir. Dan bel istirahat menyambut hangat.
Rasanya di bangku inilah laki-laki itu tersudut. Apalagi, sebentar lagi akhir dari semester pertama. Sebentar lagi pula Arya harus dapat memilih bidang keahliannya.
Ini masih lumayan. Karena beruntung bunda Arya bukan tipikal yang mengharuskan anaknya mendapat nilai bagus. Bundanya tidak pernah meminta, atau mengejar.
'Yang penting lulus.' Begitulah kata bunda.
Arya menatap ke sampingnya. "Gas— eh, lah dalah. Wes ilang lagi," ucap Arya melihat bangku sang kawan sudah kosong. Padahal baru ditinggal ngeluh sebentar, tetapi Bagasnya sudah keluar istirahat.
"Mo, Kusumo! Lo tahu Bagas ke mana kagak?" Arya bertanya pada temannya yang baru saja masuk kelas. Habis cuci tangan.
Kusumo menggelengkan kepalanya. "Gak, tuh. Tapi kalau kemarin gue lihatnya ada di perpus."
"Oke. Nuwun, Mo."
Berniat menyusul Bagas. Arya berdiri dari duduknya dan keluar kelas. Gak ada yang diajak main selain si kawan tersebut. Karena Rafli sedang sibuk-sibuknya belajar. Kalau udah begitu, gak bisa diganggu gugat.
Tapi, baru sampai depan kelas, Arya sudah merasa males.
Ya, udah lah. Ke perpus juga belajar. Masa gue ganggu, sih?
Laki-laki yang telah sadar tersebut berbalik arah ke samping. Lebih baik menuju taman yang biasanya digunakan tuk nongkrong. Teman-teman sekelasnya biasa pada di situ.
"Halo, Bro." Si Kevan namanya. Duduk bersandar di pohon mangga dengan gaya sok-sok.
Arya berjalan mendekat. Memilih duduk di beton yang melingkari kawasan pohon mangga bersama Reyhan.
"Tadi diajak gak mau," celetuk Reyhan.
"Tadi belum kepikiran." Begitulah alasan jujur yang Arya berikan.
"Bagas sama Rafli mana, Yak?" Kevan tanya seraya tak berhenti memakan ciki-ciki dua ribuan.
Arya mengangkat kedua bahunya. "Bagas ke perpus kayaknya. Kalau si Rafli belajar di kelas."
"Saingan nilai jadi semakin ketat," gumam Reyhan.
"Gue gak peduli. Bunda gue bilang, yang penting lulus aja."
Kevan meremas kemasan ciki-ciki yang telah habis. "Harusnya gue kemarin masuk SMK. Malah guenya masuk SMA yang jelas-jelas tambah mikir. Mana kapasitas ingatan gue tentang pelajaran dah mau penuh lagi."
Perkataan Kevan itu cukup benar bagi beberapa orang. Diperkuat lagi oleh Arya yang mengatakan, "masuk SMA, berarti masuk kuliah. Capek."
"Yak, tapi lo bener deketan sama Ayun?"
Tuh, kan. Suara sang salah satu teman membuat perasaan Arya langsung turun. Jelas sekali temannya tersebut bercanda. Karena sejak kemarin, Arya sudah sangat membantah akan rumor tersebut.
Bahkan mungkin Ayun juga melakukan hal yang sama.
"Dah, lah. Gue masuk kelas." Laki-laki itu berakhir berdiri dari duduknya. Meninggalkan teman-teman yang sempat mencegah dengan panik.
Hanya kembali ke kelas dengan memakan bekal buatan bundanya. Itulah yang dilakukan oleh Arya. Meski dirinya memang akhir-akhir ini rajin belajar, tetapi untuk di sekolah— tetap harus santai.
Kembali pelajaran, dan kemudian waktu pun kembali berjalan. Arya sampai tidak sadar bahwa ini saatnya untuk pulang.
Berjalan bersama teman-teman satu kampungnya. Termasuk Rafli, Bagas, dan Gavin. Reyhan tadi sempat ingin ikut, tetapi tidak jadi karena akan pulang terlambat. Katanya, sih, mau latihan basket.
"Hari ini rasanya lelah dan nyebelin banget." Arya berkeluh kesal di tengah-tengah perjalanan. Rasanya ingin balik badan dan mampir ke warung bakso dekat lapangan.
Gavin menepuk bahu Arya dan tertawa. "Iya, lo begitu karena dapet tugas berdua sama si Ayun, kan?"
Dengan cepat Arya menangkis tangan Gavin dari bahunya. Dia menyebikkan bibir kesal dan berdecak pelan. "Pin, lo ngerti kagak, sih? Gue sama Ayun tuh gak ada hubungan apa-apa. Gue ajak dia ke rumah buat ucapin makasih karena si Ayun pernah bantu. Jangan ungkit-ungkit lah, Pin."
Gavin terkekeh. "Iya, Yak. Iya."
"Palingan tugasnya 90% digarap sama Ayunindya," celetuk Rafli ikut nimbrung.
Arya tak peduli. "Ya, gak apa-apa. Lagian kalau begitu bisa dimanipulasi. Si gurunya juga gak killer. Tinggal di bawahnya kasih nama gue sama Ayun."
Gavin jadi cukup iri. "Wah, enak lo, Yak. Satu kerjaan sama Ayun. Lah, gue malah sama si Kevan," ungkap laki-laki itu. "kalau Rafli sama Billa, lo dapet sama siap, Gas? Gue tadi gak nyimak."
Bagas yang berjalan di paling ujung menjawab, "Zaidan."
"Ini lebih enak. Pinter ketemu pinter." Tak henti-hentinya Gavin kagum.
Zaidan— laki-laki berkacamata yang memang pintar. Sedangkan Bagas yang memang diam-diam menghanyutkan. Kedua orang itu namanya selalu bersanding di papan peringkat. Tidak heran.
"Entah apa yang bu guru pikirkan. Sampe-sampe yang pinter-pinter pun gabung jadi satu kelompok," komentar Arya.
Rafli yang berjalan seraya memainkan ponselnya menjawab, "palingan guru mau tahu. Gimana jadinya pinter digabung pinter. Saling berkompetisi apa kagak. Jawabannya kelihatan."
"Wah, mirip-mirip sama dijadiin eksperimen, dong?" Gavin terkagum.
"Ya elah, kagak gitu juga kali."
Di samping jalan, dua perempuan akrab berbonceng naik sepeda. Seperti biasanya, mereka akan selalu menggunakan sepeda Billa untuk berangkat dan pulang sekolah. Mana cara ngayuhnya nakutin, karena ada di tangan si sabuk hitam. Tentu, Ayun yang membonceng pun sudah terbiasa akan hal tersebut. Meski teriakannya cukup kencang seperti biasa.
"Si Ayun punya mobil, tapi kalau sekolah sama Billa." Gavin curhat tak habis pikir.
Keempat siswa itu melanjutkan jalannya menjadi lebih cepat. Sedangkan Arya mulai mengeluarkan ponsel dari saku celana. Iseng melihat ke arah aplikasi chatting.
Ayun sempat mengirimnya pesan. Ketika dibuka, berisi, [Kapan punya waktu senggang, Yak? Yang penting sebelum tanggal 9. Karena tanggal 9 paling enggak tugas udah jadi, jadi lebih enak waktunya.]
Iya, benar juga. Dirinya dan Ayun sekelompok berdua.
Terkadang terasa menyebalkan saat mendengar akan hal tersebut. Ayun itu suka mengatur dari kecil. Mentang-mentang kesayangan para guru.
Kalau Arya rame, perempuan tersebut selalu jadi yang pertama menyampaikannya kepada guru.
Namun, Arya tetap menjawab pesan tersebut meski sedikit tidak suka. [Langsung nanti? Atau Minggu sekalian.]
"Yak! Lo bener-bener ada apa-apa sama Ayun!?" Gavin mulutnya ….
"Kenapa, Pin?" Bagas menotice.
"Si Arya chattingan sama Ayun!"
"Parah," komentar Rafli.