Berita itu menyebar. Menyebar dengan sangat cepat layaknya angin berhembus.
Ketika menapakkan kaki di halaman sekolah, riuh-riuh serta suara bisikan terus samar-samar hadir. Tapi, Arya lebih memilih untuk mengabaikannya. Laki-laki itu hanya berangkat sekolah bersama Gavin.
Bagas katanya akan menyusul, dan Rafli sudah lebih dulu berangkat sekolah.
Jadilah hanya Arya dan Gavin berdua yang berangkat ke sekolah bersama.
Gavin memasukkan kedua tangannya ke saku celana— kedua sisi. Seraya berjalan damage, kepalanya dia dekatkan ke arah Arya. "Yak, Yak. Kok kayaknya ada yang aneh. Apa cuma perasaan gue aja kali, ya?"
"Gak tahu. Gue juga enggak tahu." Arya menjawabnya cuek.
"Ah, lo! Gak asik," desis Gavin yang mengalihkan pandangannya. Laki-laki itu sebenarnya cukup heran. Apa mungkin orang-orang mulai sadar akan ketampanannya?
Tapi, tidak. Tidak boleh sombong di awal terlebih dahulu. Itu lah yang Gavin pikirkan.
Masuk ke koridor sekolah. Suasana yang masih pagi membuat tempat ini terasa cukup sepi. Meski tidak sepi-sepi amat.
"Yak!" Seorang perempuan berseragam yang sama mendekat ke arah Arya. Rambut hitam lurus itu terurai dengan sepasang jepit di samping kanan dan kiri. "Lo beneran pacaran sama Ayunindya?"
Arya menghentikan langkahnya, diikuti oleh Gavin.
"Gak," jawab Arya cuek. "dah sana. Minggir," imbuhnya kemudian.
Perempuan bernama Arin lantas mencebikkan bibir kesal. "Kok lo gitu, sih?"
"Apanya?"
"Cuek. Ngomongnya gak sopan lagi."
Arya memutar kedua bola matanya. Berusaha untuk sabar dalam hal menjengkelkan ini. "Gak sopan dari mananya?"
Arin menunjukkan wajah marahnya. Dengan perasaan kesal dirinya mengatakan, "Ah, elo!"
"Dah, ah. Gue mau ke kelas," ucap Arya berjalan pergi melewati Arin. Tampaknya lelah dengan semua hal yang perempuan kelas sebelah lakukan padanya. Ini bukan kali pertama.
Dari belakang, Gavin menyusul Arya. Tubuh tegap tersebut membuatnya dapat dengan mudah menjangkau dan kembali menyamakan langkah dengan sang kawan.
"Kayaknya tadi emang pada ngomongin lo, Yak. Gue kira ngomongin gue," kata Gavin.
Arya tak memedulikannya. Meski kemudian dirinya membalas kesal, "kerjaan Rafli nih pasti."
Namun, meski pun begitu; anehnya adalah Arya tetap tidak bisa marah. Laki-laki itu kesal, menunjukkannya. Tapi, tidak dengan kemarahan yang dapat menjalin kontak fisik. Sama sekali tidak dirinya tunjukan.
Mau bagaimanapun, Rafli merupakan teman serta tetangganya. Tampaknya sudah sejak kecil keduanya akrab.
Jadi, menunjukkan marah yang sangat sebenarnya pada Rafli; itu sulit.
Masuk ke dalam kelas dengan raut wajah seperti itu pun, tidak akan terlalu membuat teman-teman sekelas heboh atau ketakutan. Kebanyakan juga mengetahui, bahwa Rafli dan Arya memang dekat.
Waktu kecil memang pernah adu fisik. Namun, ketika semakin dewasa— hal itu telah hilang. Berganti dengan saling marahan atau menunjukkan kekesalan jika ada masalah. Ah, itu sudah biasa.
Arya menarik kursinya dan duduk. Laki-laki itu tak mau bila harus menatap ke seluruh kelas— yang mungkin sudah ada Ayun. Dia selalu berangkat awal, soalnya.
Bukan apa. Hanya ... gak tau mau respon atau kasih reaksi seperti apa.
Rafli menarik kursinya untuk didekatkan ke meja Arya. Laki-laki itu terus menahan tawa sejak tadi— mengingat bahwa dirinya tidak suka menunjukkan hal tersebut.
"Heh. Kenapa, Yak?"
Arya menghela napas kesal. "Masih aja lo nanya."
Rafli tidak bisa menahan tawanya. Dirinya tertawa puas. Sedangkan Arya langsung memilih menelungkupkan kepalanya di atas meja. Dengan kedua tangan yang melingkari di atas kepalanya. Kesal? Tentu saja.
Cuma, Arya bisa apa? Laki-laki itu berusaha sabar sebab tahu marah-marah tak akan berguna.
"Maaf, maaf." Akhirnya Rafli minta maaf. Dia menatap ke arah Arya yang sama sekali tak berniat mendongakkan kepalanya. Ukuran tangan pun belum juga dibalas. "Aku ttadi cuma cerita dikit sama temen. Malah disebar-sebarin. Salahku, deh. Maaf."
Hening. Tak ada siapapun yang menjawab. Sampai-sampai Rafli tidak mau jika harus menjulurkan tangan tanpa dibalas seperti ini. Laki-laki itu menghela, "Yak. Maaf," ucapnya lagi.
Arya mendongakkan kepalanya. Wajah laki-laki itu kini terlihat. Kedua matanya hanya menatap ke arah tangan Rafli yang menjulur di depannya.
"Hem." Dirinya menyambar juluran tangan tersebut dan melepaskannya secepat kilat. "udah."
"Terserahmu," balas Rafli kesal seraya menarik kembali tangannya. Kemudian laki-laki itu menoleh ke kanan dan kiri. "Bagas mana?"
Arya mengedikkan kedua bahunya. "Tadi waktu gue sama Gavin ampiri, dia bilangnya mau nyusul. Akhir-akhir ini juga begitu," jawab Arya seadanya.
Rafli mengangguk. Mulai bangkit dari duduk. "Oh, ya udah." Dia menarik kursi ke tempatnya kembali. Mulai duduk rapi seraya mulai mengeluarkan buku-buku. Masih ada beberapa waktu baginya untuk belajar, sebelum pelajaran hari ini dimulai.
Arya mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Punggung laki-laki tersebut dirinya sandarkan pada kursi, santai di tengah-tengah orang yang samar-samar menggosipkan mengenai dirinya.
Biasa, siswa populer.
Di aplikasi chat, banyak sekali pesan yang masuk. Sebagian besar dari teman-teman SMA-nya, atau bahkan ada teman-teman SMP yang mengirim pesan pada Arya.
Dirinya mengerutkan dahi sambil membuka salah satu pesan. Dikirim dari seorang perempuan yang pernah satu kelas di masa SMP. Katakan saja Reva yang memilih masuk SMK.
Isinya adalah, [Arya, rumornya kamu sama Ayunindya deketan, ya? Atau pacaran? Gak tunangan, 'kan?]
Eh, ini bocah ngapain, sih?
Sudah bisa ditebak. Berarti nomor Arya yang tiba-tiba mendapatkan serangan chat, karena hal ini. Mereka mengirim pesan dengan arti yang sama, pasti.
Arya membalas pesan dari Reva secara cepat. [Gak.]
Kemudian mematikan ponsel tersebut.
Wajahnya mendongak. Menangkap ke arah Ayun yang sedang berjalan ke mejanya di depan sana.
Sayangnya, ternyata Ayun juga mendapati keberadaan Arya.
Jadilah sebagai sebuah acara tatapan mata keduanya tanpa disengaja. Hanya sebentar, karena satu detik setelahnya mereka langsung mengalihkan perhatian. Berpura-pura tidak tahu atau bahkan tidak kenal.
Hendak bel masuk, Bagas sudah berada di dalam kelas. Baru saja laki-laki itu datang dengan deru napas memburu. Sampai-sampai Arya menanyai apakah temannya itu baru saja berlari.
Tapi, Bagas menjawabnya dengan, "Gak apa-apa, Yak."
Seorang perempuan dari belakang menepuk punggung Arya. Sudah pasti, Billa. Perempuan itu yang paling berani dan berbeda dari siswi lainnya di kelas ini.
"Gue gak percaya kalau lo beneran pacaran sama si Ayun," bisik Billa di dekat telinga Arya.
Arya memundurkan kepalanya. Menunjukkan raut wajah tak suka. "Ya kagak, lah."
Yang paling tidak suka adalah; saat Billa meresponnya dengan kekehan. "Iya, iya. Gue ngerti banget, kok. Tenang aja, Yak."
Siapapun yang berteman dengan Arya dari SD atau SMP. Hampir semuanya tahu bahwa Arya dan Ayun tidak pernah dekat serta akur. Keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang.
Arya terlalu santai, Ayun tidak menyukai orang yang sangat santai. Arya sangat pengganggu, dan Ayun sangat tidak suka akan hal tersebut.
Banyak sekali hal yang membuat keduanya seperti musuh. Itulah mengapa, mendapati keduanya akur bersama tanpa adanya adu mulut selama 3 hari, adalah sesuatu yang sangat langka.
Arya tersenyum tipis. "Lo naik motor sama siapa hari-hari kemarin?"
Apa yang Arya duga benar. Karena setelahnya, Billa langsung memasang ekspresi tidak suka. "Apaan? Gak sama siap-siapa."
"Gak sama siapa apanya? Gue aja lihat lo, kok." Arya semakin senang mengganggu Billa.
Perempuan itu berdesis malas. Dengan kesal dirinya langsung membalikkan badan dan berjalan menuju mejanya. "Gue jalan sama banyak orang! Ya kagak inget, lah." Dirinya sempat terus berkilah.