Berdua

1027 Kata
Ayun memundurkan kepalanya cepat. Dia mengalihkan pandangan ke lain arah. "Kenapa?" "Gak apa-apa." Dia menjawab gugup. "i–ini. Kamu udah ngerti belum? Apa jangan-jangan kamu gak dengerin aku sejak tadi?" Ayun mengalihkan perhatian dengan menarik secarik kertas di meja dan juga buku paketnya. Arya mengangguk menanggapi. "Ngerti sih masih agak. Gue juga dengerin penjelasan Lo sejak tadi. Gak lihat apa gue serius banget natep lo?" Namun, Ayun mengabaikannya. "Ya udah. Aku jelasin lagi biar lebih jelas. Tapi, kayaknya kamu udah cukup ngerti. Apa aku kasih contoh soal? Nanti coba kamu kerjain sendiri." Arya mengangguk. "Kasih aja gue soal." Sesi pembelajaran yang sempat terhenti, mulai kembali berjalan. Ditemani oleh suara khas jam dinding yang berdetak tiap detiknya. "Lancar to gue?" Arya menyombongkan dirinya setelah beberapa kali berhasil mengerjakan soal. Ya, meskipun dengan bantuan Ayun pula. "Iya, iya. Di bab ini pelajarannya memang mudah. Cuma soalnya yang biasa dibuat ruwet-ruwet," balas Ayun seraya menyerahkan secarik kertas berupa soal-soal yang telah Arya kerjakan— dan dirinya koreksi. "Kasih nilai, dong. Masa enggak ada nilainya." Arya menyerahkan kembali kertas tersebut. Ayun menuliskan angka seratus yang kemudian dilingkari. Itu adalah nilainya untuk semua jawaban Arya. "Mirip anak esde," komentar Ayun kemudian. "Yok, makan dulu." Arya bangkit dari duduk bersilanya. Pegal juga bila lama-lama hanya terus duduk. Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya ke atas dan saling menyatu. Kemudian berjinjit layaknya sedang melakukan peregangan. Ayun menatap ke arah arloji di pergelangan tangan kirinya. Lima menit lagi, jam lima sore. Kira-kira masih ada sekitar 50 menit sebelum petang benar-benar usai. Sebuah batasan waktu kebanyakan rakyat kampung untuk berada di luar. "Gak ngerepotin?" Ayun bertanya ketika dirinya sudah ikut berdiri. Arya yang telah menyelesaikan waktu peregangannya, menoleh. Dia berjalan menuju ke arah dapur seraya mengatakan, "Gak ngerepotin. Bunda gue suka ninggalin banyak makanan." Tiba di ruang makan yang terhubung dengan dapur serta sebagainya. Arya menarik salah satu kursi dan duduk. Sementara Ayun yang ragu masih berdiri di dekatnya. "Kenapa? Gak usah malu." "Iya. Tapi, bukannya cuci tangan dulu?" "Gak usah, ribet." "Jorok." Ayun berdesis pelan. Arya menghentikan kegiatannya yang hampir membuka tudung saji. Laki-laki itu mendongak ke arah Ayun dan berdiri dari duduknya. "Nih, lihat, nih. Gue cuci tangan, cuci tangan." Nadanya menyebalkan saat mencuci kedua tangannya di wastafel. "gue gak suka, ya, dikatain jorok." Laki-laki itu menjulurkan lidah ke arah Ayun— sebelum akhirnya kembali duduk di kursi. "Kok marah? Ya maaf." Arya tidak peduli. Dirinya sibuk untuk menyiapkan beragam lauk pauk serta nasi putih pulen ke piringnya. Sedangkan Ayun yang baru saja mencuci piring, mulai duduk pada kursi tepat berhadapan dengan Arya. Perempuan itu ... masih malu-malu untuk bertindak mengambil makanan. Jadi, Arya lah yang berinisiatif untuk mengambilkannya. Ia mengambil satu piring lagi dan mengisi dengan nasi serta lauk pauknya. "Y–yak, udah. Kebanyakan." Karena Ayun mengatakannya, maka Arya mengurangi nasi di piring Ayun dan menaruh di piringnya. "Nih. Gak usah malu-nalu, makanya. Gak ada bunda gue juga," ucap Arya sinis. Laki-laki itu mulai memakan makanannya. Hah, rasanya sangat lezat. Setelah banyak waktu dia habiskan hanya untuk belajar. Rasanya begitu lega saat tenggorokan tersebut dilewati oleh nasi dicampur tempe goreng serta sambal teri. "Ini udah boleh makan?" tanya Ayun. Dengan masih menguyah Arya mengangguk. "O–oh, ya. Selamat makan." Meski ragu, tetapi dirinya berusaha untuk bersikap biasa. Mengambil sendok dan mulai memakan makanannya. Beragam, sebenarnya. Ada nasi, sambal campur teri yang lezat, tempe goreng, dan sayur capcay. Rasanya benar-benar enak ketika Ayun mencoba. Sampai-sampai ketika kedua ya sudah selesai makan, Ayun mencoba bertanya, "Masakan tante enak. Beliau pasti pintar banget masaknya, ya?" Kini keduanya telah kembali berada di ruang tamu. Duduk seraya memakan camilan. Tidak ada habisnya. Namun, Arya menggeleng. "Gak juga. Bunda pernah masak ikan tapi gak Mateng. Terus masak sayur asem tapi gak enak. Bundaku gak pinter masak. Tapi, bunda pinter bikin kue-kue sama camilan lain. Karena dulu juga pernah kerja catering. Cuma bagian snack aja." Arya menjelaskannya panjang lebar. Ayun seketika merasa heran. "Tapi, bukannya makanan tadi tante yang buat. Makanannya enak banget." "Ya memang bunda yang buat. Gue ceritain masakan bunda di jaman dulu. Kalau sekarang, udah enak. Bunda sering belajar sama tetangga, atau temen cateringnya." "Oh ...." Ayun mengangguk mengerti. "bilang aja gitu langsung. Biar akunya gak bingung." Arya terkekeh. "Betewe, makasih, ya, dah mau Dateng dan ngajarin gue. Gue ajak Lo ke sini juga buat mau makasih untuk yang kemarin-kemarin. Lo udah mau bela gue. Coba aja enggak. Bisa jadi tu cewek-cewek malah membalik kenyataan dan ngadu ke gurunya." "Gak, sih. Kalau keluargaku gak lagi ke rumah saudara, pasti aku gak ke sini." Ayun tertawa kecil. "Jadi di rumah lo sepi?" Ayun mengangguk. Kemudian kembali menatap ke arah arlojinya yang menunjukkan pukul lima sore lebih dua puluh menit. "Eh, Yak. Kalau begitu, aku pulang dulu, ya? Ini udah sore banget." Ayun bangkit dari duduknya. "Ya sana pulang aja. Gue anter sampe depan rumah." "Mau bawa oleh-oleh kagak?" "Gak usah." Keluar dari rumah. Arya berdiri di depan rumah. Berada di luar jangkauan halaman rumahnya, ada di tengah-tengah lurung. Sedangkan Ayun sudah mulai naik ke motornya. Perempuan itu langsung pergi begitu saja setelah melambaikan tangan kecil. Saat Arya hendak membalikkan badan, mata laki-laki itu menangkap sesuatu. "Ngapain lo?" Ia menatap ke arah Rafli yang berdiri tak jatuh darinya. Baru ingat bahwa, dekat rumahnya ini adalah rumah Rafli. Laki-laki tinggi itu setengah menahan senyumnya. Gayanya seolah-olah ingin meledek ke arah Arya. "Hayo, ngapa hayo? Bunda lo aja belum pulang." Ah, pengen gue apaan ini tetangga satu? "Ngapa lo? Masalah? Gue sama dia tuh cuma—" "Temaaaaan!" Seraya mengatakannya, Rafli langsung masuk ke rumahnya begitu saja. Meninggalkan Arya yang kesal sendiri. Ngeselin. Laki-laki itu membalikkan badannya. Namun, suara klakson motor ringan yang dikenalnya membuat tubuh laki-laki itu kembali berbalik. "Ngapain di jalan, Yak?" Bundanya yang baru saja pulang kerja memasukkan motor ke halaman rumah. Kemudian memarkirkannya. Arya berjalan mendekat. Salaman dengan Dinda setelah wanita itu turun dari motornya. "Gak apa-apa, Bun. Lagi pengen cari oksigen gratis yang lebih segar aja." Arya menjawab pertanyaan bundanya lalu. "Kamu ini, Yak, Yak." Setelah melepaskan kedua sapu tangannya, Dinda mulai mengacak-acak rambut sang putra yang tingginya menjulang. "Hehe. Masuk, Bun." "Makanannya habis?" "Habis tanpa sisa. Temen Arya ada yang Dateng soalnya. "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN