Setelah mendapatkan motivasi dari Bagas, sekarang semuanya berubah. Arya menjadi lebih semangat untuk belajar. Bahkan, tiap malam dirinya akan mengusahakan untuk tetap duduk di depan meja belajar selama 1 jam. Atau terkadang sore sehabis sholat Ashar.
Bunda yang menyadari perubahan sang putra, berniat akan mendaftarkan ke kelas bimbel dekat supermarket, di jalan raya. Tampaknya usaha Arya harus wanita itu apresiasi. Terlebih si Arya memang orangnya susah diajak belajar atau serius. Dia terlalu suka bercanda seraya bersantai.
Di tengah waktunya membaca buku paket, Arya berhenti. Laki-laki itu meletakkan bolpoin di atas meja dan mendongak.
"Perasaan gue udah belajar, tapi kok rasa-rasanya belum pinter." Arya bermonolog. Sangat heran dengan daya pembelajarannya yang satu ini.
Padahal, belum ada satu Minggu dirinya rajin.
Arya meraih ponselnya yang sengaja ia matikan. Tak tahan dia kembali menyalakan dan memainkannya. Berhenti pada sebuah kontak sang kawan— Bagas.
Akhir-akhir ini, temannya itu cukup sibuk. Dirinya selalu pergi ke pasar untuk ikut berdagang. Namun, jika Arya hendak mengajaknya main, pasti Bagas setujui. Padahal tampaknya anak itu memang banyak pekerjaan.
Oleh sebab itu, jarang setelahnya Arya menganggu Bagas.
Sudah cukup lama sejak terakhir kali mengunjungi rumahnya.
Tak ada Bagas, rasa-rasanya sepi. Padahal tiap sekolah, juga akan bertemu. Namun, tetap saja. Entah apa anak itu yang mulai jarang berbicara, dan hal-hal lainnya.
Ah, ya. Bagas memang akhir-akhir ini tidak bergabung dengan anak-anak satu tongkrongan di sekolah. Dia lebih banyak menghabiskan waktu istirahat— yang entah ke mana. Hanya di jam pelajaran dan pulang sekolah saja, Arya dapat berbincang dengan laki-laki itu.
"Chat kagak, ya? Takut masih sibuk." Arya bergumam sendiri. Jemari-jemarinya mengetuk-ngetuk pelan meja. Berpikir keras, hingga memilih untuk menyerah. "udahlah, kasian gue. Palingan masih sibuk," lanjutnya seraya menghela napas pelan.
Ini masih sore. Hampir jam empat sore, jika melihat dari wallpaper depan ponselnya Arya.
Kedua mata itu kembali fokus ke arah layar ponsel. Pandangannya terhenti untuk yang kedua kali. Yang ini, menatap ke arah kontak dengan bertuliskan nama 'Ayunindya'.
"Lumayan pinter lah ini cewek." Arya bergumam.
Sungguh, laki-laki itu sedang dalam masa semangat belajar. Rasanya mengebu dan membara layaknya api kemerdekaan.
Jika saat ini disia-siakan, belum tentu dirinya nanti dapat se-semangat ini untuk belajar. Belum tentu pula ada hari esok yang lebih cerah.
Akhirnya Arya mengambil keputusan. Dirinya mengirim sebuah pesan ke kontak Ayun.
[Yuk, ada waktu, gak? Kalau ada, ke rumah gue, gih. Ini ada pelajaran yang sulit, gue mau tanya-tanya langsung soalnya.]
Beberapa menit setelahnya, pesan tersebut tampak telah terbaca. Tapi, belum dibalas-balas juga. Sampai membuat Arya berdecak kesal. Jangan-jangan memang gak mau bales.
Baru saja Arya ingin menaruh ponselnya. Tapi, penglihatannya menemukan sebuah pesan baru— balasan dari Ayun.
[Tanya lewat gini aja bisa, Yak. Kamu foto aja soalnya.]
Lama Arya menunggu, ternyata balasannya berupa penolakan halus.
Arya jadi cukup kesal sendiri.
[Ini pembahasan, Yuk. Bukan soal. Lo kesini aja, dah. Biar gak ribet. Rumah juga gak jauh-jauh amat.]
Senyum laki-laki itu mengambang saat Ayun membalas pesan terbarunya.
[Iya.]
Seperti yang dikatakan pada pesan, rumah Arya dan Ayun tidak jauh-jauh banget. Oleh karena itu, Arya langsung bersiap. Seperti camilan, makanan, dan beberapa minuman dirinya taruh di atas meja ruang tamu.
Arya memanggil Ayun juga sebenarnya— sekaligus untuk mengucapkan kata terima kasih.
Berkat perempuan itu, Arya jadi terhindar dari masalah. Setelah Ayun memberi tahu kejadian yang sebenarnya secara runtut kepada guru-guru, mereka kemudian percaya. Lantas tiga pembully Raina dipanggil untuk diinterogasi lebih lanjut. Dengan sebelumnya Raina terlebih dahulu.
Ya, semuanya berpihak kepada Arya serta Ayun. Karena memang Raina orang yang susah bergaul. Setelah cukup lama, ketiga pembully juga mengaku pula. Ditambah beberapa saksi dan teman-teman yang memang merasakannya.
Tiga anak perempuan itu berakhir untuk diberi hukuman. Karena selama dibully, Raina tidak mengalami luka yang sangat serius. Beberapa kali cidera dan terluka. Terutama mental.
Hanya saja, tetap masih menimbulkan bekas luka pada Raina; entah itu secara fisik maupun psikologis.
Paling menyenangkan, adalah Arya benar-benar tak lagi terlibat. Dirinya bahkan sempat mendapatkan pujian dari salah satu guru.
Terharu sekali ketika mengingatnya.
Setelah menyiapkan semuanya, barulah Arya mandi. Dia bukanlah orang yang akan betah berjam-jam di dalam kamar mandi. Sehingga, hanya perlu waktu tak sampai 20 menit, laki-laki itu sudah keluar dari dalam.
Berpakaian santai hanya dengan mengenakan kaos putih polos dan celana training hitam. Arya mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
Tapi, terhenti saat pintunya terketuk beberapa kali. Lekas laki-laki itu meletakkan handuknya di atas sofa ruang tamu. Kemudian membuka pintu rumah.
"Kok lama banget?" Ayun yang berdiri di hadapannya kini— menodongkan pertanyaan.
"Lama apanya? Emang dari kapan lo kesini?"
"Dari lima belas menit lalu. Aku juga udah beberapa kali chat kamu, tapi gak dijawab-jawab." Penjelasan lanjut dari Ayun lantas membuat Arya tersadar.
Saat Ayun datang, ternyata dirinya sedang mandi.
"G–gue lagi mandi. Ya kagak denger, lah."
Ayun hanya mengiyakan. Aroma sabun yang harum benar-benar merasuki indera penciumannya.
"Masuk, gih." Arya masuk ke dalam. Memberikan akses bagi perempuan tersebut untuk ikut masuk.
"Duduk aja. Gue ambil buku dulu." Arya hendak menuju kamarnya. Namun, suara Ayun mencegah.
"Ini. Handuknya sekalian dibawa." Ayun menatap ke arah sebuah handuk putih kecil yang terletak begitu saja di salah satu ujung sofa. Mana masih basah, sudah pasti baru saja terpakai.
Arya mengambilnya dan berjalan pergi ke kamar.
Tak berselang lama, laki-laki itu kembali datang dengan tatanan rambut habis keramas yang lebih rapi. Dia meletakkan beberapa buku dan juga alat tulis di atas meja ruang tamu; yang cukup lebar. Seraya menyingkirkan beberapa camilan dan minuman yang dirinya ganti untuk ditaruh pada kursi kosong.
Arya duduk bersila pada karpet yang juga menjadi alas meja. Laki-laki itu tampaknya sudah sangat siap belajar.
Dirinya mendongak. Menatap ke arah Ayun yang duduk di sofa. Perempuan itu mengenakan baju biru berlengan pendek dengan model modern serta celana putih polos. Rambutnya yang terkadang terlihat pirang itu dikuncir kuda. Dengan poni samping yang menawan. Dihiasi oleh jepitan panjang berwarna biru.
Ayun meletakkan tas selempang kecilnya ke atas sofa di samping. "Aku ... duduk di karpetnya aja. Gak enak," ucapnya jujur.
Arya mengangkat kedua bahu pelan kala mendengarnya. "Ya, sana. Gak ada yang ngelarang."
"Mana yang sulit?" Ayun bertanya saat dirinya sudah mulai ikut duduk di karpet dengan menekuk kedua lututnya.
Sementara Arya membuka sebuah buku paket dan menghadapkannya pada Ayun. "Ini, yang pembelajaran bab dua. Gue gak tahu caranya, beneran. Susah banget. Cari di internet malah gak ngerti-ngerti."
"Oh. Ini memang sudah. Tapi, kalau udah tahu konsep dan caranya, mudah."
"Ya, makanya itu. Gue gak tahu cara sama konsepnya."
Ayun mengabaikan. Dirinya lebih memilih mengambil sobekan kertas di bagian tengah buku. Kemudian meraih pensil dan mulai menuliskan beberapa huruf yang biasa anak-anak pintar tuliskan.
Setelahnya, Ayun menerangkan. Perempuan itu menjelaskan banyak hal seraya tangannya sibuk menulis pada kertas.
"Kamu pakai cara ini aja, karena paling umum. Salah siapa belajarnya kecepetan, padahal belum diajarin di sekolah. Nanti juga sama Pak Herdi dijelasin— ah." Detak jantung Ayun berdebar kencang saat dirinya menoleh. Mendapati Arya yang terdiam menatap ke arahnya secara serius.
Laki-laki itu sejak tadi menatapnya ....
Tapi, sopankah dengan jarak yang sedekat ini?