Billa Boncengan

1598 Kata
"Ah, jadi gitu." Ayun memberikan responnya terhadap penjelasan panjang lebar yang baru saja Arya ceritakan. Sekarang, keduanya sedang duduk berdekatan dengan kursi yang berbeda. Tadi Arya yang mengambil kursinya untuk ia dekatkan di meja Ayun. "Nah, iya. Gitu, Yuk. Lo bisa bantu gue, gak? Bisa pasti." Suara laki-laki itu cukup memohon. Ayun mengangguk mengiyakan. "Bisa. Ini mudah, kok. Asal kamunya bener-bener gak salah." Arya mengangguk sekali lagi dengan mantap. Seakan caranya untuk menyakinkan; bahwa dirinya memang tidak bersalah. "Makasih, Yuk. Lo baik banget, deh." "Iya, iya. Sudah sana, Bu Guru hampir masuk kelas." Arya bangkit dari duduknya. Sekali lagi, dia menundukkan kepala dan mengucapkan kata 'terima kasih'. Rasa-rasanya kata itu tak bosan dia katakan. "Sudah, ah. Sana! Eh, bay the way, nama cewek yang dibully siapa?" Pertanyaan itu menghentikan langkah Arya yang hendak kembali ke mejanya. Sejak tadi dirinya bahkan belum menyebutkan nama yang menjadi korban. "Raina, kalau gak salah, Yuk. Gue lihat lewat nametag-nya soalnya." Laki-laki itu menjawab. Kemudian, pembicaraan selesai. Karena satu detik setelahnya, seorang guru masuk ke dalam kelas. Arya kembali duduk di bangkunya sendiri dengan rapi. Ia telah mempercayakan semua masalahnya kepada Ayun, yang merupakan salah satu murid kesayangan guru. Sudah pasti perempuan itu bisa mengatasinya. Ayunindya memiliki banyak kenalan di sekolah. Semua guru-guru selalu memandangnya dengan image yang 'baik dan sempurna'. Termasuk ke dalam siswi teladan SMA Merdeka. Jadi, Ayun adalah sosok yang akan dipercayai oleh semua orang. Mengalahkan Arya, yang pasti cukup sudah untuk melakukannya. Mengingat bahwa laki-laki itu selalu dicap sebagai 'siswa kakean polah'. Arya aktif, dia memiliki energi untuk bermain yang lebih. Ucapannya tidak kasar, tetapi terkesan santai. Tipe suaranya yang berat dan besar, membuat beberapa orang salah paham. Padahal, jika pada orang dewasa— Arya selalu menggunakan Basa Krama Jawa yang sopan. Terkadang orang-orang menganggapnya seperti berandalan. Meski, di SMA ini, tak pernah sekalipun Arya membuat temannya menangis atau marah sungguhan. Dia hanya terlalu aktif dan banyak tingkah. Tapi, bukan berarti Arya merupakan remaja nakal. Setelah sekolah usai, sama seperti biasanya. Arya dan kawan-kawan berjalan beriringan menuju ke rumah masing-masing. Suasana pedesaan yang masih asri. Keberadaan sekolah di tengah-tengah kampung, dan dekat lapangan. Melihat banyak warga yang melakukan pekerjaannya masing-masing. Terlebih, angin di siang yang hampir sore ini terasa segar berhembus. Rasanya seperti berada di pantai, 8tulah yang biasa anak-anak katakan. "Lo tadi sama si Ayuk, ngomongin apaan aja, Yak?" Gavin menolehkan kepalanya ke samping. Karena yang ditanyai berjalan tepat di dekatnya. "Gak ngomongin apa-apa." "Beneraaan?" Bagas menggoda dengan setengah mengikut lengan Arya. "Gaas ... lo 'kan tahu." Bagas yang mendengar hanya cengengesan. "Haha. Iya, iya, Yak," ucapnya kemudian. "Apaan e, Gas? Kasih tahu gue, lah." Gavin kepo. Arya menghela cukup panjang seraya masih melangkahkan kakinya. Dia ingin segera membersihkan tubuh, makan, dan tidur soalnya. "Gak apa-apa, Pin. Itu ... gue tadi cuma nemuin cewek dibully sama temen-temennya. Udah gue lerai dan takutin, sih. Ke Ayun tadi, cuma ngomongin tentang itu aja. Gue suruh dia bilang sama guru. Soalnya, 'kan, lo tahu lah, ya. Mana ada guru yang percaya sama orang kek gue. Apalagi kejadiannya gak ada guru yang lihat." Entah mengapa rentetan kalimat itu berubah menjadi keluhan. Menggerakkan salah satu lengan Gavin untuk merangkul bahu Arya. Laki-laki tinggi dan berbadan besar itu sungguh memiliki hati hangat. "Sabar, Bro. Samaan kita," ucapnya kemudian. Menyadari bahwa nasibnya yang memang sama. Rafli dan Bagas hanya terdiam dengan masih mengikuti ritme jalan. Rafli— terkenal dengan sifatnya yang disiplin. Itulah mengapa banyak guru-guru yang menyukainya. Terlebih, profesi ayah Rafli yang memang sudah level pro. Anak berada, yah, tak ada yang berani membuatnya merasa tidak nyaman di sekolah. Rafli bahkan memiliki kelas privat dengan para guru. Enak sekali, selalu mendapatkan bocoran apapun mengenai pembelajaran. Yah, guru-guru tentu dengan senang hati melakukannya. Mereka dibayar, lebih tinggi dari bayaran sekolah setiap bulan. Bagas— meski sikapnya memang begitu, dia adalah kesayangan banyak guru. Layaknya hidden primadona sekolah. Bagas tidak kaya, ia tinggal di rumah pakdhenya. Namun, laki-laki itu selalu mendapatkan nilai paling memuaskan. Sudah pasti, jika penilaian sudah tiba— ia akan mendapatkan peringkat pertama. Sama seperti di SMP. Image mengenai mereka baik. Tak seperti dengan Arya. Kakean polah, nilai pas-pasan, dan lain sebagainya. "Dah, lah, Bro. Gue pulang dulu. Sampe jumpa." Gavin melepaskan rangkulannya. Dia melambaikan tangan sebelum akhirnya berjalan pergi di belokan kanan. Diikuti oleh Bagas yang ikut pamit. Sedangkan Arya dan Rafli melanjutkan jalannya. Rumah kedua orang itu berdekatan. Sama-sama berada di ujung jalan buntu. Tak ada pembicaraan di antaranya. Si Rafli memang orang yang irit bicara. Makanya, tiap Arya bercanda— laki-laki itu sama sekali tak tertarik. "Goodbye, Raf." Bahkan saat Arya melambaikan tangannya saat hendak masuk ke halaman rumah. Rafli hanya mengangguk tanpa menjawab. Ah, sudahlah. Itu memang sudah biasa. Tak perlu heran lagi. Arya membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam. Sama seperti hari-hari biasanya, rumah sepi. Bundanya bekerja sebagai karyawan pabrik, sehingga setiap pulang sekolah; Arya mandiri. Ia membersihkan tubuh, berganti pakaian, kemudian makan siang dengan tenang. Karena bundanya telah menyiapkan banyak lauk pauk di atas meja makan. Setelahnya, Arya keluar rumah. Bosan, dan selalu tidak tahan bila harus berada di dalam rumah seharian. Tidak punya saudara, atau anggota keluarga lain. Tentu membuatnya kesepian sehingga ia mencari teman di depan g**g. Sengaja tidak mengampiri Rafli yang rumahnya lebih dekat. Karena laki-laki itu tadi mengatakan tidak bisa main. Dia harus belajar dan belajar oleh orang tuanya. Belum lagi mengikuti les-les tambahan. Jadi, seperti biasa. Target temannya adalah Bagas. Karena hanya dia yang rasa-rasanya kebanyakan nganggur. Palingan bantuin budhe sama pakdhe-nya dagang di pasar depan kampung. Yah, masih bisa diajak main. "Bagaaas! Kulon nuwun." Suara Arya cukup ia teriakan di halaman rumah pakdhe-nya Bagas yang asri. "Iyoo!" Suara dari dalam yang samar-samar mendekat menyahut. Kemudian pintu rumah sederhana itu terbuka. "Hari ini lo mau ngapain aja? Gue gak ada temen soalnya." Arya langsung to the point. Bagas menutup kembali pintu. Dia kemudian duduk pada salah satu kursi kayu di teras. Disusul oleh Arya yang duduk di kursi satunya pula. "Gak ngapa-ngapain, kok, Yak. Budhe sama Pakdhe biasa, di pasar. Aku suruh jagain rumah aja, katanya." Bagas bercerita. "Oh." Arya manggut-manggut. "Kalau Mas Jaka?" "Kerja, Yak. Mas Jaka biasa pulang malem. Sering lembur," jawab Bagas. Wajah laki-laki itu mendadak setengah muram, ia terdiam. "Hei, kenapa?" Arya menepuk bahu Bagas. "Enggak apa-apa." Begitulah jawaban yang Bagas berikan. "memang mau ngapain ini? Main kelereng? Sepak bola?" Kini tangan Arya sudah kembali ia tarik. Gantian wajahnya yang murung seraya menggeleng. "Ya, kagak, lah. Masa iya main kayak anak kecil begitu? Gue udah SMA, kali. Bentar lagi bisa kerja," ucapnya menyebalkan. "Tapi, biasanya kan lo main kelereng sama sepak bola." "Itu udah dulu. Sekarang, beda." Arya bersikukuh. "Dulu apanya. Satu bulan lalu aja belum ada." Mereka berbincang dengan bercanda. Duduk di masing-masing kursi kayu, teras rumah. Pelataran asri yang berupa pasir, dijatuhi oleh beberapa belimbing dan dedaunan. Itu menjadi pemandangan yang rasanya nyaman dilihat di siang-siang menjelang sore begini. Terlebih pepohonan yang melambai perlahan dengan gerakan angin sejuk. Ah, rasanya nyaman sekali jika bengong menatapnya. Suara sepeda motor cukup mewah mengalihkan perhatian Arya maupun Bagas. Keduanya serempak mengangkat kepala, dan menatap ke arah jalanan depan pelataran sana. Sebuah motor cukup mahal melewat. Seorang laki-laki seumuran tanpa helm adalah pengendaranya. Memboncengi seorang perempuan yang sangat familiar. Menggunakan celana jeans panjang, dengan baju lengan pendek bermodel kekinian. Rambutnya lurus terurai. Semburat warna pirang dan ujung-ujungnya yang kemerah-merahan menarik perhatian. "Lah. Billa, to?" Arya bergumam sendiri. Perempuan yang membonceng motor barusan adalah Billa, tetangga plus teman sekelasnya. "cowok yang boncengin Billa siapa? Lo tahu kagak, Gas?" Bagas menggeleng tak peduli. "Gak kenal aku," ucapnya secara jujur. Arya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Wah, gila .... Si Billa udah berani punya cowok. Gue yang lebih tua aja belom." "Gavin bilang, Billa emang biasa gitu," pungkas Bagas. "Lah, kalau lo, Gas?" Arya bercanda. Nadanya jelas sekali menahan tawa. Bagas anak baik. Dia adalah orang yang paling sopan, terlebih dengan orang-orang tua. Tentu saja, laki-laki itu belum memiliki cewek. Berbanding terbalik dengan Billa. "Enggak ada." Bagas menjawab. Arya hanya menepuk meja di sampingnya beberapa kali. Pelampiasan ketawa yang tak bisa ditahan. Kemudian kembali lagi menatap Bagas. Jika dilihat-lihat, temannya itu ganteng. Suaranya bahkan enak didengar karena cukup medok, tetapi gentle. Proporsi tubuhnya ideal karena tinggi. Kulitnya tan coklat yang enak dipandang. Gaya rambutnya sederhana seperti orang-orang umum. Namun, untuk Bagas rasanya spesial. Laki-laki itu ganteng, seperti yang baru saja Arya pikirkan. "Tak masuk dulu, ya. Lupa nyuguhin kamu, Yak." Bagas beranjak dari duduknya. Tinggi laki-laki itu lantas menjulang "Ya sana. Sing cepet." Begitulah balasan dari Arya. Dia tidak suka menolak hal yang menguntungkan. Apalagi di saat tak ada budhe atau pakdhenya Bagas. Cukup lama Arya menunggu sejak Bagas masuk kembali ke dalam rumah. Sampai akhirnya laki-laki itu keluar dan berdiri di dekat Arya. Membawa beberapa toples berisi camilan bikinan budhenya dan juga dua gelas teh hangat. Semuanya diletakkan di atas meja bundar yang menjadi pemisah antara dua kursi kayu. Bagas kembali duduk di kursinya. "Monggo, Yak." Arya mengangguk. Tanpa ragu ia mulai membuka toples dan mengambil isinya. Layaknya rumah sendiri. Ia terhibur dan santai, bersama dengan Bagas. "Eh, Gas. Kok, lo bisa pinter banget? Padahal les aja enggak. Sama Rafli, kayaknya lo itu yang paling gak sibuk. Lo belajarnya kapan sebenarnya, Gas?" Arya penasaran tanya. Seraya memasukkan emping ke dalam mulutnya. "Biasanya malem. Palingan di jam delapan atau sembilan ke atas," jawab Bagas. "Terus tidurnya kapan?" "Habis belajar. Belajarnya gak lama-lama juga. Siangnya kan punya banyak waktu buat istirahat. Lagipula, entar di sekolah juga belajar lagi, 'kan." Bagas memberitahu. Sementara Arya masih mengunyah emping seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Wah, hebat lo, Gas." Sebagai orang yang tidak pinter-pinter banget, ingin rasanya Arya meniru jejak sang kawan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN