Gender Adalah Salah Satu Masalah

1167 Kata
Wah, ngajak berantem ini cewek satu. Jujur, ingin rasanya Arya langsung menyerang perempuan dengan suara ketus itu. Namun, beruntung dirinya masih dapat berpikir sehat di saat yang seperti ini. Jika dirinya kehilangan kesadaran, maka ia juga yang akan terkena masalah. Arya memperhatikan perempuan dengan seragam berantakan, yang tadi sempat dijambak rambutnya oleh yang lain. Wajahnya sangat gugup dan ketakutan. Ya, pasti dia merasa asing dan tak tahu harus melakukan apa— pada situasi seperti ini. "Gak usah kekanak-kanakan. Mau gue laporin guru?" Arya mengancam. Tiga perempuan yang notabe-nya pembully itu merasa takut. Meski bukan satu kelas, tetapi mereka mengenal Arya. Laki-laki itu begitu terkenal di sekolah luas ini. Entah karena kepopulerannya, kelakuannya, atau hal-hal lain. Yang jelas adalah; Arya memiliki banyak teman dari kelas 10 hingga 12. Namun, terkadang perempuan memang memiliki ego yang tinggi. Wajar jika mereka dikatakan sebagai 'orang yang tak mau kalah dan akan selalu benar'. "Kekanak-kanakan? Lo yang cuma ikut campur, mending gak perlu banyak bicara." Dia— Tya— perempuan dengan rambut dikuncir kuda menuding wajah Arya menggunakan telunjuknya. Terkadang, Arya sangat membenci hal seperti ini. Ia tidak menyukai gender perempuan, bahkan hampir sejak kecil. Mereka hanya pandai dalam hal berbicara, dan berbicara. Seakan semua yang mereka katakan adalah benar. Arya tidak suka, saat ketika seperti ini, dirinya malah tetap diam. Perempuan memang seenaknya. Sungguh, laki-laki itu sangat ingin bermain fisik. Namun, semuanya diurungkan kala sadar bahwa lawannya 'perempuan'. Tidak, tidak. Awalnya pikiran Arya memang seperti itu. Tapi, entah hal apa yang langsung merasuki pola pikirnya. Tangannya secepat kilat mencengkram leher Tya dan memojokkannya pada dinding kamar mandi. Tatapan mata nyalang, dengan kedua bola mata gelap tajam. Arya kehilangan kesabarannya, laki-laki itu mampu membuat aura lapisan atmosfer terasa jauh lebih mencengkam. "Gue gak suka main-main," tekan Arya. Sungguh kalimatnya menyentak tubuh. Kemudian dirinya melepaskan cengkraman tangan dari leher Tya. Membiarkan perempuan yang sudah ketakutan itu untuk merasa sedikit tenang. Dua perempuan yang membully lainnya— Vellin dan Neyla— sudah pasti bergetar. Keduanya bahkan menahan napas sejak tadi, begitu pula dengan perempuan pendiam yang merupakan korban bully. Arya melempar tatapan ke arah perempuan yang telah memojok. Rambutnya cukup berantakan, dengan seragam juga setengah kumal. Ada beberapa yang basah, entah karena apa. Laki-laki itu menggenggam tangannya, dan menarik pelan untuk keluar dari kamar mandi. Kemudian mengajaknya masuk ke kamar mandi lain yang berbeda. Menutup pintu, tetapi tidak ia kunci. Dirinya melepaskan genggaman pada tangan perempuan itu. Arya terdiam beberapa saat, cukup aneh untuk memulai pembicaraan. "Rambut sama seragammu rapiin," titahnya kemudian. Perempuan itu mengangguk. Ia lantas merapikan rambut juga seragamnya. Yah, meski tidak akan bisa menjadi sangat rapi, tetapi setidaknya terlihat begitu normal. "Siapa namamu— oh, Raina, ya." Arya bergumam. Dirinya bertanya, tetapi menjawab sendiri setelah melihat sebuah barisan nama di seragam perempuan itu. Raina menganggukkan kepala pelan. Menyadari bahwa sebentar lagi pasti bell masuk, Arya menjadi teringat akan sesuatu. Ia tidak bisa terus berada di sini. Apalagi di bagian kamar mandi perempuan. "Jaga diri. Gue mau masuk kelas." Arya kemudian membuka pintu dan keluar dari kamar mandi. Ia berjalan cukup cepat untuk keluar dari area yang seharusnya didatangi 'perempuan'. Entahlah, tak mau peduli lagi dengan Raina yang dibully. Ataupun tiga pembully, yang mungkin saja sudah masuk ke kelas lebih dulu— setelah tadi langsung ditinggal Arya dan Raina. Arya masuk ke dalam kelasnya. Kemudian duduk sembarang pada kursinya, seakan tak beraturan. Hal yang membuat Bagas sebagai teman satu meja terpisah, kaget. Ia semakin heran pula, saat teman di sampingnya itu menghembuskan napas kasar. Seakan baru saja mendapati masalah yang membuatnya kelelahan. "Kenapa, Yak?" Bagas menyempatkan waktunya tuk bertanya. Namun, yang ditanya malah menggelengkan kepala seraya membenarkan duduk. Arya memilih untuk menelungkupkan kepalanya di atas meja. Kemudian menutupi dengan kedua tangan, ia memejamkan mata di dalamnya. Tidak, laki-laki itu tidak sedang tidur. Dirinya … sedang berpikir? Tiga perempuan tadi, menurutnya sangat tidak bisa dipercaya. Terlebih ketika ia tahu bagaimana sifat ketiganya yang tampak tak mau kalah. Biasanya, mereka hanya akan meminta perlindungan. Seperti pada … guru? Karena mereka perempuan, dan lawannya adalah Arya yang merupakan 'laki-laki'. Apalagi Arya dikenal sebagai siswa yang kelebihan energi, kebanyakan ulah, dan sebagainya. Sudah pasti. Bahkan tanpa adanya bukti, Arya akan tetap disalahkan. Beginilah. Sangat sulit menjadi laki-laki. Arya mengangkat kepalanya. Meremas rambut dan mengacak-acaknya kasar. Laki-laki itu ingin mengumpat, tetapi bunda yang tahu akan selalu memarahinya. Kasih tahu pake bukti foto Tya jambak Raina? Arya mulai berpikir. Namun, setelahnya sama saja. Ia menghembuskan napas lelah. Tidak akan mempan, sungguh. Dirinya bahkan sudah menyerah sebelum mencoba. Itu hanya foto. Kebanyakan guru akan selalu membela gender yang sama. Sangat langka bagi mereka dapat mempercayai murid laki-laki dengan mudah. Masalah pelik seperti ini mengapa harus dihadapi oleh Arya? "Yak, kenapa?" Pada akhirnya Bagas bertanya. Ia juga cukup terganggu saat beberapa kali teman di sampingnya menghembuskan napas. Seolah-olah masalah laki-laki itu sangat berat, seperti harus mengangkat gunung merapi. Arya menggeleng. "Geleng terus, geleeeng." Lama-lama Bagas juga semakin kesal dengan hal ini. Sedikit informasi. Bagas adalah laki-laki yang hampir tidak pernah menunjukkan kekesalannya. Jadi, saat ini, termasuk hal langka. Saat Bagas menepuk punggung Arya, dengan mengatakan, "Apa susahnya ngasih tahu, sih? Ngomong, dong, Yak!" Rafli yang duduk cukup dekat dengan Bagas, sampai merasa pangling. Tak pernah menyangka bahwa salah satu temannya tersebut dapat mengatakan kalimat secara … cukup prontal? Arya akhirnya menganggukkan kepala. Ia memutar kursi ke samping untuk menghadap Bagas. "Jadi, gini, Gas ...." Arya mulai menceritakannya. Nada normal. Tidak keras, ataupun lirih. Laki-laki itu menjelaskan semua peristiwa yang terjadi dari awal sampai akhir. Begitu juga dengan kekhawatirannya, mengenai bagaimana jika malah dirinya yang disalahkan? Mengingat bahwa jarang ada guru-guru yang mau mempercayai sikap Arya, hanya karena laki-laki itu yang cukup aktif tingkahnya. "Oh, jadi gitu ceritanya." Bagas menyimpulkan. Setelah tadi mendengarkan penjelasan temannya yang begitu runtut dari awal sampai akhir. Ia mengangguk-anggukkan kepala. "ya, ya. Gue ngerti," lanjutnya. Sekarang Arya merasa cukup lega. Membagi masalah dengan teman yang sangat dipercayai, ternyata tidak buruk juga. "Lo emang kayaknya bakal kalah, sih. Apalagi kalau gurunya perempuan," ucap Bagas kemudian. Ia tahu bahwa posisi Arya sangat sulit. Terkadang, gender memang akan menjadi masalahnya. "Nah, 'kan!" Arya senang ketika ada yang memahami posisinya. "Jadi, gue punya solusi, Yak," kata Bagas. Arya penasaran. "Apa?" "Kenapa gak ajak Ayun aja?" "Ayun? Ajak dia? Gunannya?" Bagas menghembuskan napas. "Ya, 'kan, Ayun itu primadona guru-guru. Dia beneran anak kesayangan di sekolah ini. Lagipula, bakal mudah kalau ada Ayun. Lawan Lo perempuan, jadi harus lawan pake perempuan juga, dong. Lo, 'kan, juga yakin gak salah." "Weh, bener Lo, Gas!" Arya bangkit dari kursi. Kepada dia tidak memikirkan hal ini sebelumnya? "Yang penting kalau Lo emang bener-bener gak salah aja," ucap Bagas. Arya menghiraukannya. Dirinya tidak salah. Ia malah yang sangat baik hati, mau membantu orang yang dibully secara sukarela. Laki-laki itu mencari keberadaan orang yang ia butuhkan. Di sana. Ada di sana, bersama teman-temannya. Tampak sedang asik mengobrol pada meja bagian pojok belakang. "Ayunindyaaaa!" Perempuan yang dipanggil itu mendongak. Tatapan matanya tepat tertuju ke arah Arya. Sementara di samping, Billa menghembuskan napas. "Acara apa lagi ini," gumamnya pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN