Acara makan-makan ini telah selesai, tepat pada jam 18.00.
Berlangsung dengan lancar, dengan suasana yang sangat harmonis dan akrab. Ditambah dengan semua masakan yang rasanya tak perlu lagi diragukan.
Semua orang menikmatinya. Entah itu Pakdhe Sules, Andhika, teman-teman Arya, atau bahkan laki-laki itu sendiri.
Lalu setelah berbincang santai sejenak, di malam hari ini— adalah waktu bagi Andhika dan Pakdhe Sules untuk pulang. Oleh karena itu, semuanya berada di halaman depan rumah Arya.
Mereka berpamitan dengan Pak Sules. Lalu Andhika satu-persatu berjabat tangan dengan teman-teman barunya, termasuk Arya— yang sudah ia anggap saudara. Mereka banyak mengucapkan kata-kata manis, yang hanya dapat dibalas Andhika dengan senyuman.
"Mampir ke sini lagi kapan-kapan, ya, An."
"Moga sehat, lancar terus."
"Jangan lupa kontak, An."
"Bakal kangen berat, nih."
Kata-kata dari teman-teman barunya itu memang manis. Mungkin, karena mereka baru saja memakan teh hangat.
Kini, Andhika menyalami tangan Dinda. Kemudian mencium punggung tangannya singkat dengan penuh rasa kesopanan. "Makasih, Budhe." Laki-laki itu berujar secara tulus. Sangat tulus, sampai suaranya terdengar seperti tercekat sesaat.
Dinda mengacak-acak rambut Andhika pelan, kemudian merapikannya kembali. Anak laki-laki itu mengangkat kepalanya, menatap ke arah Dinda. Nyatanya, Andhika terasa jauh lebih tinggi.
"Iyo, Le. Hati-hati, ya. Jaga kesehatannya. Makanannya dimakan, loh. Nginep di sini kapanpun, boleh," balas Dinda lembut. Andhika ini, sudah seperti putranya.
"Nggeh, Budhe. Makasih banyak." Andhika memeluk wanita ramah-tamah di hadapannya. Berakhir secara singkat, karena kemudian Pakdhe Sules ikut berpamitan.
Keduanya masuk ke dalam mobil. Kendaraan beroda empat itu sudah nyala mesinnya, dan mulai melaju pelan secara perlahan— meninggalkan area rumah Arya.
Andhika sempat menurunkan kaca mobil, dan menyapa. Hal itu membuat perpisahan singkat ini terasa indah.
Rasanya, baru kemarin Andhika mulai menginap di sini. Eh, sekarang sudah pulang saja. Arya juga sama. Rasanya baru kemarin laki-laki itu lahir. Tapi, nyatanya kini dia telah berumur 17 tahun.
Ternyata, benar. Waktu itu berjalan dengan sangat cepat. Ia tidak pernah berhenti, barang sedetik pun. Oleh karenanya, seseorang harus pintar mengelola waktu.
"Tante, Ayun bantu beresin, ya." Perempuan itu tak tega kala melihat Dinda harus membereskan semua bekas alat makannya.
Begitupula dengan Billa atau pun Vanya. Keduanya sama-sama ingin ikut membantu.
"Makasih, Cantik-cantik." Begitulah respon yang Dinda berikan, secara manis.
Sementara Arya, Bagas, dab Rafli hanya membantu seadanya.
Tak selang lama pun, semua hal yang harus dibereskan telah selesai. Teman-teman Arya juga telah pulang ke rumah mereka masing-masing, dengan dibawahi beberapa makanan oleh Dinda.
"Bunda." Arya memanggil. Kali ini, nadanya terkesan manja dan butuh perhatian.
Dinda yang tengah mencuci tangannya menoleh seraya mematikan kran. "Ya? Apa, Yak?"
Anak laki-laki bertubuh tinggi itu malah tersenyum. Ia menggeleng. "Enggak, hehe. Arya cuma manggil Bunda aja," ujarnya.
Dinda menggelengkan kepala dan kembali melanjutkan aktivitasnya. "Wes, lah. Kamu ini, Yak, Yak."
Terkadang, ada banyak hal yang ingin Arya katakan, ceritakan, dan bagikan. Hanya saja, entah mengapa tubuh laki-laki itu tidak melakukan yang seharusnya. Seolah dirinya tidak berani, atau pun malu.
Entah lah. Arya akan selalu merasa malu, pada Bunda-nya. Tidak tahu mengapa, tetapi itu sungguh terjadi pada dirinya.
Padahal, Dinda sendiri adalah bunda kandungnya. Keduanya sudah hidup bersama, bahkan sejak Arya berada di dalam kandungan, hingga kini. Sudah lebih dari 17 tahun.
Namun, entah mengapa laki-laki itu masih memiliki rasa malu, bila ingin mengatakan suatu hal yang serius.
Saat Arya ingin mengucapkan kata sayang, atau sebuah permintaan maaf pun, rasanya tidak bisa. Padahal, dia benar-benar sangat ingin mengatakannya. Laki-laki itu jadi frustasi dan memilih diam pada akhirnya.
***
Di sekolah pada waktu seperti ini, yang biasa dilakukan Arya dan teman-teman adalah berbincang. Atau mungkin lebih mirip dengan ngumpul bersama.
Sebenarnya, pembicaraan laki-laki tak kalah seru dengan apa yang dibicarakan perempuan. Pembicaraan laki-laki pun, jauh lebih beragam dan menarik.
Buktinya, awal mula perbincangan mereka adalah sebuah sinetron salah satu saluran televisi. Tapi, sekarang, mereka sudah sampai membahas mengenai bagaimana caranya menjadi orang kaya dan memiliki beragam mobil berbagai warna.
"Heran, gue. Kok bisa orang-orang sukses terus kaya?" Arya membagikan pikirannya. Sementara yang lain, mengangguk-anggukkan kepala. Kecuali dengan orang-orang yang dirasa memang keluarganya cukup 'berada'. Seperti Rafli, contohnya.
"Udah nasib, kali " Gavin pada akhirnya mengambil kesimpulan acaknya sendiri.
"Mungkin …?"
"Ada yang bilang, takdir gak bisa diubah."
"Tapi, 'kan, ada yang bisa diubah juga, Vin. Takdir ada dua, qada dan qodar. Ya, kalau kita usaha, mungkin keubah." Bagas memberikan pendapatnya.
"Kalau udah usaha terus, tapi juga enggak-enggak, gimana?"
Bagas mengangkat kedua bahunya kecil. "Kurang doa. Harus seimbang antara usaha dan doa."
Arya menepuk punggung teman kesayangannya. Ia bangga. "Bagus, Gas. Bagus." Laki-laki itu kemudian bangkit dari duduknya. "izin ke kamar mandi," ucapnya.
"Ya, sana. Ditinggal boleh? Aku mau ke kelas, soalnya." Rehan menimpali.
"Gue juga."
Pada akhirnya Arya mengangguk. Tak baik bagi dirinya terus memaksa kehendak orang lain. "Ya, sana. Ke kelas aja, gak apa-apa. Ntar gue juga nyusul." Laki-laki itu berjalan ke arah kamar mandi pada lantai bawah. Cukup jauh dengan kelas-kelas, sebenarnya.
Ia masuk pada kamar mandi laki-laki, dan keluar tiga menit setelahnya. Langkahnya terhenti kala mendengar sebuah benda yang sengaja dilempar, kemudian jatuh di lantai. Menimbulkan suara semacam piring pecah, tetapi bukan.
Ini dari kamar mandi perempuan?
Sebenarnya, Arya sama sekali tak berniat untuk masuk ke kamar mandi yang jelas lawan jenisnya. Namun, rasa penasaran laki-laki itu lebih mendahului pola pikir. Pada akhirnya ia masuk saja, berada di sebuah koridor kecil, dengan beberapa kamar mandi di samping kanan-kiri.
Samping kanannya. Suara itu tadi seperti berasal dari kamar mandi samping kanan Arya.
Pintunya cukup terbuka, dan mau tidak mau Arya mengintipnya. Setelah dirasa tak ada hal-hal yang menyangkut paut privasi, dirinya membuka pintu kamar mandi tersebut secara lebar-lebar.
Empat perempuan di dalamnya langsung terkejut. Raut wajah mereka pias, terlebih saat dalam posisi tertangkap seperti ini. Di mana tangan salah satu perempuan, menjambak rambut perempuan lain— yang terlihat berantakan.
Arya mengeluarkan ponsel dari sakunya. Kemudian secepat kilat memotret keadaan dalam kamar mandi tersebut. — hal yang tidak pernah perempuan-perempuan itu duga sebelumnya.
"Masih murid kelas 10, 'kan?" tanya Arya. Mungkin karena jarang bicara, dan sekalinya bicara, suara berat laki-laki itu sungguh membuat ketakutan. Terlebih tinggi tubuhnya yang bahkan tak sepantaran.
Pertanyaan Arya itu, sama sekali tak dijawab.
"Memang apa urusanmu?" Salah satu perempuan malah memprotesnya. Dengan suara yang ia tinggikan.