Hari Terakhir

1056 Kata
"Jadi, bakal ada acara makan-makan, Yak?" Kali ini Bagas yang bertanya. Mendapatkan anggukan ringan sebagai jawaban. "Hehe …." Entah sebab apa. Namun, mereka memiliki niat yang kompak. "Numpang makan, dong, Yak." Harmoni serasi dan ketepatan nada yang pas. Tidak perlu diragukan lagi. Untuk masalah yang satu ini, teman-teman Arya memang sangat lihai. "Ya, gak tahu. Kok tanya saya? Kalau bunda buatnya dikit, gak bisa. Nanti ada Pakdhe Sules sama Andhika." Arya tidak berbohong. Dia benar-benar mengutarakan kemungkinannya. Karena porsi makan teman-teman laki-laki itu yang ada di atas rata-rata, sungguh tidak ada dalam bayang. Rafli dan Bagas adalah orang yang pertama kali menangguk secara serempak. "Arya bener." "Eh, betewe. Kok, Lo di sini, La?" Bagas mengganti topik. Ia tanyakan pada Billa. Bukan begitu. Hanya saja, warung kelontong pada rumah perempuan tersebut tutup. Keluarganya sedang ada acara ke luar kota. Jadi, Bagas sedikit heran, mengapa Billa ada di sini. "Gue gak ikut pergi," jawab Billa. Singkat. Hampir membuat Arya tertawa, atau lebih tepatnya menertawakan Bagas. "Ya udah, ayo. Ke rumah gue aja." Laki-laki itu pada akhirnya membuat kesimpulan. Daripada tidak tahu mau ngapain di sini, lebih baik dia mengajak teman-teman ke rumahnya. "Buat apa?" Begitulah respon yang Ayun berikan. "Gibah." Arya memasang raut wajah jengkel. "Ya, gak tahu, lah. Yang penting ayo ke rumah gue. Daripada cuma main kelereng." Laki-laki itu mengacak sedikit rambutnya. "Tapi, aku ingin main kelereng. Sebenarnya." Vanya berujar. Aduh, ni cewek. Arya berusaha untuk tersenyum. Ditambah, kala dirinya melihat Rafli yang tanpa sengaja ketahuan. Pria itu … menatap Vanya dengan pandangan dalam. Tak luput dengan senyum tipisnya yang muncul tertahan. Udah beda agama, masih aja punya rasa. Arya berusaha memaklumi. "Mainnya kapan-kapan aja, Van. Ini juga mau tak beresin." Akhirnya Bagas menjawab— seraya menundukkan badan untuk mengutip kelereng-kelereng ke dalam toples. Setelah tadi mendengar apa usul Arya. Kini, sekitar enam orang itu telah berada di halaman rumahnya Arya. Tiga laki-laki, dan tiga perempuan, yang sudah sangat akrab dan terkenal di kampung. Khususnya, rt 01. Sementara teman-temannya duduk-duduk santai di teras, Arya masuk ke rumahnya. Laki-laki itu berjalan ke arah dapur. Mendapati Dinda yang tengah duduk di kursi meja makan dengan mengiris dan menyiapkan bumbu masak. Dinda menoleh. "Wahyu udah dateng, Yak?" tanyanya. "Belum, Bun." Arya mengambil minum dari kulkas dan meneguknya singkat. Ia haus, sebenarnya. "eh, Bun." "Apa?" "Bunda masaknya banyak, gak?" "Maksudnya, Yak?" "Ya, gak apa-apa, sebenarnya. Tapi, kayaknya …. bagus kalau temen-temen Arya nanti ikut makan, Bun. Biar ramai." Laki-laki itu memberi usul. "Mau?" Dinda meletakkan pisaunya terlebih dahulu. Menjeda aktivitas. "ya, ga apa-apa, ya, Yak. Malah bagus. Tadi juga bunda udah minta beli bahan banyak sama Wahyu. Kalau temen-temen kamu mau ke sini, boleh aja. Bunda buat yang banyak," imbuh wanita itu— tersenyum. Arya ikut tersenyum. "Makasih, Bunda. Temen-temen Arya ada di depan, kok." Lantas, laki-laki itu langsung keluar rumah. Menghampiri teman-temannya, dan memberitahu bahwa mereka harus ikut acara makan-makan nanti. "Kok, gue jadi gak enak, Yak. Padahal, gue gak maksa, loh." Billa menyeletuk. Sementara Arya bermain ponsel setengah tak peduli. "Udah, gak apa-apa. Lagian, bunda memang lagi mau banget, kok. Kata bunda, malah bagus." "Arya," panggil Ayun tiba-tiba. Laki-laki itu mendongak. Mengalihkan pandang dari layar ponsel— ke wajah perempuan cantik berambut hitam-pirang terurai. "Apa?" "Boleh bantuin Tante Dinda?" Arya mengangguk. Kemudian kembali menatap ke arah ponselnya tak peduli. "Ya sana. Terserahmu." Tapi, benar. Karena setelah Arya mengatakannya, Ayun langsung izin masuk ke dalam. Disusul oleh Billa serta Vanya, yang juga akan ikut membantu Dinda memasak. Sementara, tak lama setelahnya, Andhika datang. Laki-laki itu memasuki halaman rumah dan memarkirkan motornya di bawah pohon. Ada banyak kantong plastik berukuran besar yang dirinya bawa. "Tak bantuin, ya, An." Bagas mengambil alih beberapa barang. Andhika mengangguk seraya tersenyum tipis. "Makasih." Keduanya— Andhika dan Bagas masuk ke dalam rumah. Mereka tampaknya ingin meletakkan belanjaan di dapur. Karena tak selang lama kemudian, keduanya sudah kembali lagi di teras. Bersama dengan Arya dan Rafli; yang keduanya asik bermain ponsel. Sedangkan di dalam dapur, semuanya sibuk. Satu wanita dan tiga perempuan melakukan tugasnya yang dibagi. Memasak beberapa hidangan, sesuai dengan instruksi Dinda. Jika seharusnya selesai dalam waktu tiga sampai empat jam, tetapi kini berbeda. Tidak ada dua jam saja, semuanya telah selesai. Semua makanan masih berada di alat masak masing-masing, dan terlihat jelas uapan asap panasnya. Ternyata, memang paling benar adalah melakukan sesuatu secara bersama-sama. "Enaknya punya tiga anak perempuan. Masak sebentar, langsung jadi." Dinda tersenyum, seraya mencuci tangannya pada wastafel. Kemudian mengelap bersih pada handuk kecil yang tersampir. Ayun, Billa, serat Vanya membalas dengan senyuman. Terkadang, mereka semua kagum akan Dinda. Wanita itu sudah memiliki putra kelas satu SMA, tetapi wajahnya masihlah cantik. Memiliki sopan santun dan gerakan lembut. "Buuuunn!" Suara Arya terdengar cukup kencang. Laki-laki itu kini berada di dalam dapur. "Apa, Yak?" "Pakdhe Sules udah dateng," ujarnya memberitahu. "Ya suruh masuk, to, yo. Masuk ke rumah." "Udah, Bun. Lagi duduk-duduk sama Andhika, Bagas, terus Rafli," balas Arya lagi. "Ya, sana. Ini, Pakdhe Sules buatin teh, gak usah pake gula. Bunda tak ke kamar dulu, habis masak-masak e." Wanita itu menitipkan permintaannnya. Kemudian langsung masuk menuju ke dalam kamar. Sedangkan, Arya sendiri jadi kebingungan. "Arya gak bisa buat teh, Bun," keluhnya. Namun, terlambat. Tentu saja. "Yuk?" "Apa?" "Buatin teh gak pake gula," pinta Arya. Ayun mengangguk. "Tapi, teh apa dulu? Celup atau bubuk?" Arya diam. Kemudian, laki-laki itu menggeleng. "Gak tahu. Terserahmu aja, Yuk." "Celup aja kalau gitu, Yuk. Yang gampang." Billa mengusulkan. Ya, sementara Arya hanya tinggal menunggu saja. Menunggu sampai akhirnya Ayun telah membuatkan segelas teh celup tanpa gula. "Sip. Thank you." Arya membawanya menuju ke ruang tamu. Di sana, laki-laki itu meletakkan gelas berisi teh pada meja. "Monggo, Pakdhe. Diminum rumiyen." "Oh? Lah, kok repot-repot, Lr." Pakdhe Sules tersenyum sangat ramah. Logat jawanya kental sekali terasa. Arya menggeleng seraya duduk pada salah satu kursi. "Mboten, Pakdhe. Mboten nopo-nopo. Yang buat juga bukan Arya." Tepat setelahnya, Dinda telah selesai. Wanita itu memberi salam pada Pakdhe Sules, kemudian duduk pada kursi yang digunakan Arya. Laki-laki itu sendiri memilih mengalah, dan cukup duduk di samping Rafli. Sama seperti biasanya. Dinda dan Pakdhe Sules membuka percakapan dengan menanyakan kabar. Kemudian, hal-hal lainnya. Entahlah, meski Arya dan yang lain tak mengerti, tetapi obrolan itu tampaknya terasa seru. Sampai Dinda mengatakan kalimat yang sudah sangat Arya tunggu. "Eh, lah. Teman-temen perempuanmu kok masih di dapur, Yak? Suruh ke sini, terus kita makan bareng-bareng. Kepiye, to."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN