Jangan Terus Mendongak

1014 Kata
Arya terdiam. Kata-kata Andhika barusan itu … sungguhan? Kenapa Arya tidak tahu? Tidak. Bagaimana bisa ia mengeluhkan masalahnya, pada orang yang jauh lebih memiliki masalah? "O–oh … maaf, Dik." Arya menyesal pada akhirnya. Laki-laki yang selalu bertingkah itu, kini menundukkan kepalanya. Tak berani menatap Andhika, saking merasa malu. Namun, Andhika sendiri malah tertawa. "Santai, Yak. Gak apa-apa," ujarnya menenangkan. "kayak punya masalah besar aja." Sekarang Arya mengangkat kepalanya. Mulai berani tuk menatap ke arah Andhika. "Beneran gapapa, 'kan? Gue gak tahu, Dik. Bener." Andhika menggeleng. "Gak apa-apa. Lagi pula, orang tua gue emang gak ada. Dari lahir mereka udah cerai, sih. Bapak gak tahu ke mana, gue dirawat sama ibu gue? Tapi, gak sampe empat bulan juga sama aja. Ibu gue ikut pergi gak tahu ke mana, dan nitipin ke … yah, Pakdhe." Saat Andhika menceritakan pengalamannya, saat itulah Arya merasa dadanya sesak. Sejak lahir tak pernah melihat wajah ayahnya. Lalu, di umur yang belum genap 1 tahun, ibunya ikut pergi entah ke mana. Sedangkan kemudian bayi yang masih kecil dititipkan pada orang lain. Itu artinya, Andhika bahkan tak pernah ingat akan wajah kedua orang tuanya. Laki-laki itu terlihat santai. Meski bisa saja di hatinya rasa sakit cukup terasa. "Yah, itu juga Pakdhe yang bilang setelah gue minta-minta sejak kecil, haha." Andhika tersenyum lebar. Lantas membuat Arya mengikuti senyum itu secara canggung. "Kalau gue, cuma gak pernah tahu bapak gue, sih. Dari dalam kandungan." Arya ikut menambahkan. Terasa sangat tidak enak ketika orang lain menceritakan kesedihannya, dan Arya tak melakukan hal itu. Dia ingin, agar Andhika tak sendiri. Arya ingin, Andhika tahu bahwa ada teman baginya. "Dahlah, gak penting, sih, bicara yang begitu," putus Andhika pada akhirnya. Laki-laki itu mulai merebahkan diri di atas kasur. "masih ada yang di bawah kita hidupnya, Yak. Disyukuri aja. Sapa tahu nikmatnya ditambah." Arya mengangguk setuju. Dirinya bangkit dari duduk dan ikut merebahkan diri di kasur, dengan Andhika di sampingnya. "Capek lihat yang ada di atas terus. Padahal, masih ada yang di bawah." "Eh, betewe …." "Apa?" Sekarang, Arya menolehkan kepalanya ke samping. Tepat menatap pada Andhika yang berbaring di dekatnya. "Lo cocok sama Ayunindya." Tidak tahu kerasukan setan jenis apa. Tapi, setelahnya— Arya langsung berdiri di atas kasur. Dirinya mulai menjatuhkan diri, dan mengunci tubuh Andhika yang berbaring layaknya pegulat. Sementara Andhika sendiri berusaha untuk melawan atau melepaskan diri. Padahal, ia tadi hanya mengatakan bahwa 'Arya dan Ayunindya cocok'. Apakah wajar hal itu sampai membuat Arya menyerangnya secara luar biasa? "Lo bener-bener sensi, Yak!" Andhika berteriak frustasi seraya masih berusaha melepaskan diri. *** Sudah lama sejak Andhika mulai menginap di rumah Arya. Mungkin, dapat dikatakan sekitar hampir 2 minggu lamanya. Sekolah? Di sekolahnya, terjadi libur selama 1 minggu. Karena sedang terjadi pembersihan sekolah bersama, setelah sebuah angin kencang cukup kuat menghantam. Lalu untuk beberapa hari liburnya yang lain, Andhika meminta izin. Laki-laki itu memang dikatakan jarang berangkat sekolah. Yah, Arya tentu memaklumi. Banyak orang yang seperti itu, karena masalah hidup sang anak yang terlalu berlebihan. Jadi, Arya akan memberikan doa yang terbaik saja untuk laki-laki yang telah menjadi temannya tersebut. Ini adalah hari terakhir, Andhika di rumah Arya. Sesuai yang dikatakan Pakdhe Sules. Beliau akan menjemput Andhika nanti sore ini, seperti pada saat berkunjung. Jadi, sebenarnya masih ada waktu lagi. Karena ini jam setelah pulang sekolah, masih satu siang. Dinda tengah sibuk di dapur. Wanita itu ingin membuat banyak oleh-oleh, yang nantinya bisa dibawa Andhika ke rumahnya. Berupa camilan, kue, dan makanan ringan lain. Juga beberapa makanan, yang Dinda niatkan untuk makan bersama, ketika nanti Pakdhe menjemput Andhika. Oleh karena itu, Andhika tidak ada di rumah saat ini. Dia pergi menggunakan motor untuk membeli beberapa bahan yang tidak ada atau kelupaan. Karena warung kelontong kampung milik orang tua Billa sedang tutup, maka Andhika pergi ke kota. Yah, mungkin pada supermarket tersohor seperti yang Dinda katakan. Karena menurut wanita itu, harganya akan lebih murah. Terlebih ini hari Jum'at, di mana biasanya akan ada banyak diskon. "Yak, yak. Kok gak kayak Andhika, tho? Anaknya baik. Kamu tak suruh beli ini itu aja, malah dia yang mau." Dinda mengeluh seraya masih menguleni adonan kue. Arya menghembuskan napas pelan. "Arya pamit main, ya, Buuun!" Ia berdiri dari kursi dan memilih keluar dari rumah. Meski dari dalam, terdengar suara bundanya yang terasa marah. Seraya menggunakan sandal jepit, Arya mulai berpikir. Kemudian berlari cepat ke arah rumah sebelah. "Rafliiii, ayo dolaaaan …." Lima detik, sepuluh detik, lima belas detik. Tak ada tanda-tanda adanya anak itu di rumah. Namun, sebelum Arya berbalik, pahar dibuka. Bukan Rafli, melainkan malah mamanya. "Eh? Raflinya maen, Nak. Sama Bagas." Arya langsung menundukkan kepala. Kemudian menyalimi tangan mamanya Rafli. "Oh, nggeh. Makasih, Budhe." Kemudian pria itu membalikkan badannya. Berlari cepat ke arah pertigaan kampung, sama seperti tempat di mana ia dan kawan-kawan menangkap maling. Arya menuju ke rumah Bagas. Di sana, halaman yang luas tampak begitu asli. Dengan rumah sederhana yang hangat. Sudah terlihat adanya Rafli serta Bagas yang duduk pada kursi, samping rumah Bagas. Arya berjalan menghampiri. Mereka baru saja santai sebentar setelah tadi bermain kelereng. Arya tahu itu, karena melihat susunan kelereng yang ada di tanah. "Hei, yo!" Bagas yang kali pertama menyapa. "Ngapain?" Sungguh, yang Rafli pertama kali katakan tak masuk akal. Dia terlalu to the point. "Ya ikut main, lah." Arya menjawabnya kesal. "Udah SMA, tapi masih kayak SD. Mainannya kelereng." Billa ikut ke dalam pembicaraan. Perempuan itu masuk ke pelataran rumah Bagas, dan kini berdiri di samping Arya. "Harusnya mikirin kerja atau masuk jurusan apa," imbuh Ayun. Ah, bener-bener. Geng perempuan itu memang tidak akan lengkap ketika member hanya Billa saja. "Tapi, aku suka main kelereng. Boleh ikut?" Vanya meminta izin secara lembut. Ah, ya. Pantas saja Rafli sulit berpaling dari perempuan pemilik suara selembut kapas putih. Paras menawan bagaikan berada di taman bunga. Arya berdehem. "Mainan kelerengnya udah selesai, Van." "Oh, begitu? Sayang benget. Kapan-kapan aja, deh." Vanya memaklumi. "Eh, lah. Terus si Andhika ke mana? Kok, lo sendiri, Yak?" Bagas sudah bangkit dari duduknya. Sementara Rafli mengangkat kedua bahu kecil. "Lagi beliin bunda bahan makanan. Nanti sore Andhika dijemput buat pulang ke rumahnya." "Bakal ada perpisahan, dong." Billa berasumsi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN