Gak Punya

1062 Kata
“Mau kenalan?” tawar Arya untuk yang kedua kalinya. Masih sama seperti sebelumnya, mereka sedang menikmati bakso dan mie ayam di warung terkenal kampung ini. Duduk melingkari meja seraya berbincang-bincang dengan sesama. Bedanya, meja laki-laki dan perempuan yg terpisah secara berbeda. Andhika menggelengkan kepalanya. “Enggak usah, Yak.” Pasti, jawaban laki-laki itu sudah bisa ditebak. “Yang tadi pertama kali ngampirin ke sini itu, Billa. Qistian Salsabilla. Anaknya asik.” Meski tidak diminta, tetapi Arya tetap mengenalkannya satu-persatu. “Yang ceweknya ceplas-ceplos.” Bagas mengimbuhi. “Kalau yang paling kalem dan tinggi, Vanya Nathallia Laura. Apik-an dia mah.” Arya berujar lagi. “Terus ... itu Ayunindya Putri Genendra. Kerjaannya gangguin orang. Karena dia wakil ketua kelas, sukanya ngatur-atur. Padahal ketua kelas aja gak begitu.” Nada laki-laki itu penuh sindiran. Dia bisa saja ikut kompetisi menyindir bersama ibu-ibu tetangga. Meski tak akan mendapatkan juara pertama. Andhika berusaha tersenyum dan mengangguk. “Y–ya, ngerti. Makasih, Yak.” “Santaaai.” Begitulah jawaban Arya dengan penuh sikap bangga. “Dia bilangnya gak usah dikenalin. Tapi, masih aja dikenalin. Dasar pemaksaan,” celetuk Rafli. Arya meletakkan sendoknya di mangkok. “Akhir-akhir ini gue orangnya sensi, Raf.” *** Senang rasanya di hari ini. Menikmati makan bakso dan mie ayam, yang ditambah oleh segelas es teh. Mereka juga duduk berbincang sebentar di cakruk, dekat sawah. Sorenya, dilanjut dengan bermain sepak bola beregu di lapangan kampung. Lebih dari 15 orang ikut bermain, menjadikannya jauh lebih menyenangkan. Tidak ada peraturan jumlah pemain, dan sebagainya. Permainan sepak bola beregu bebas, yang masih menggunakan sedikit peraturan dasar. Diakhiri dengan masing-masing anak yang mulai pulang ke rumah. Karena sore yang sudah menjelang malam, serta ditandai dengan firasat mengatakan akan segera adzan Magrib. Arya dan Andhika pulang ke rumah dalam keadaan baju kotor, keringetan, dan belepotan. Dinda yang pulang kerja lebih dulu, merasa lelah. Menyempatkan diri seperti biasa dengan mengingatkan dab menasihati panjang lebar. Sama seperti yang biasa dia lakukan kepala Arya tiap pulang dalam keadaan baju kotor. “Udah gedhe, main kok baju sama awak (tubuh) masih belepotan gini.* Dinda mengakhiri sesi curahan hatinya, yang jika dipaparkan akan sangat panjang. Ketiga orang tersebut masih berada di teras depan rumah. Mana mungkin akan menasihati di dalam rumah, dengan keadaan Arya dan Andhika yang seperti ini? “Bu–budhe, nanti biar bajunya Andhika cuci sendiri aja.” Andhika mengeluarkan pendapatnya, setelah dirasa situasi cukup tenang. Meskipun sebelum ini pun, laki-laki itu sudah memiliki niatan untuk mencuci semua pakaiannya sendiri. “Loh, kok? Ya, gak usah, Wahyu. Wong arep dicuci budhe. Budhe ki Cuma bilang kalau main rasah tekan kotor-kotor. Apa meneh sampe mau Magrib begini,” ujar Dinda menjelaskan. Andhika mengangguk, rasanya canggung. “Y-ya, Budhe.” “Wes, sana! Masuk, terus mandi. Pakaiannya taruh ke keranjang dekat mesin cuci,” perintah Dinda kemudian. Arya dan Andhika menyanggupi. Keduanya berjalan mendahului Dinda dan membuka pintu rumah. Sebelum masuk, Dinda juga sempat menasihati. “Jalannya jinjit, ya.’ “Iya, Bund.” “Nggeh, Budhe.” Di dalam rumah, yang pertama kali mandi adalah Andhika. Karena hanya ada satu bilik kamar mandi. Awalnya, Arya memberikan usul untuk keduanya langsung mendi bersama saja. Dengan alasan agar cepat selesai dan tidak perlu menunggu. Namun, tentu saja Andhika langsung menolak. Keduanya bahkan sempat berdebat panjang. Sampai akhirnya Arya menyarankan agar Andhika dulu yang menggunakan kamar mandi. Pertama, laki-laki itu kembali menolak. Andhika tidak merasa nyaman saat malah dirinya diutamakan, padahal rumah ini adalah rumahnya Arya. Tapi, di akhir menurut juga. Memilih mengalah, daripada sampai larut malam keduanya belum mandi-mandi. Tubuh segar, pakaian rumah nyaman, rambut tertata, parfum yang harum. Setelah sangat lama, Arya dan Andhika benar-benar telah tampil nyaman. Keduanya sempat menjalankan sholat Magrib dan Isya lebih dulu. Baru kemudian saat ini, mereka duduk pada kursi yang mengelilingi meja makan sederhana. Dinda sudah menyiapkan makan malam. Ya, sederhana tetapi rasanya tidak perlu diragukan. Baru tinggal sebentar, Andhika sudah merasa lezat dengan liwetan nasi pulen bundanya Arya. Malam ini, ada sayur kangkung, sambal, tempe tahu goreng, dan ikan gereh. Semuanya tersaji apik di atas meja. “Kok, banyak banget, Bun?” tanya Arya yang telah mendudukkan diri di kursi. Karena biasanya, untuk makan malam; Dinda hanya menyiapkan sedikit. Sebab hanya sekali, dan jika disimpan untuk pagi terasa kurang enak. Sedangkan Arya ataupun Dinda jarang makan tengah malam. “Ini ikan gerehnya banyak, soalnya dari Bu Imah. Bu Imah, ‘kan, buka angkringan, tho. Nah, gereh yang buat nasi sambelnya masih banyak, jadi dikasih ke bunda. Buat makan malam, katanya,” jelas Dinda. “Kapan ngasihnya, Bun?” Arya kembali bertanya seraya mengambil nasi dan menata di atas piringnya sendiri. “Tadi, pas kamu lagi mandi, Yak.” “Ohh ....” Dinda menatap ke arah Andhika. “Wahyu, ayo. Makan, Nak.” Kemudian kembali melanjutkan, “mau budhe ambilin nasinya?” Secara cepat laki-laki itu menggeleng. “Mboten, Budhe. Aku ambil sendiri aja, makasih.” Usai acara makan malam selesai, seharusnya menjadi saat di mana Arya dan Andhika tidur nyenyak. Karena hari yang mulai malam. Hanya saja, keduanya malah belum tidur sama sekali. Mereka di kamar, dengan kegiatannya masing-masing yang satu serasi. Maklum saja. Arya belum pernah memiliki teman laki-laki yang menginap di kamarnya. Atau begitu juga dengan Andhika. Jadi, ketika keduanya sadar bahwa mereka adalah teman; itu menyenangkan. Mengobrol bersama sepanjang malam, dengan berbagai topik berbeda dari keduanya. “Lo bener nangkap maling, Yak?” Andhika serius untuk bertanya. Setelah mendengar cerita aksi menegangkan dari laki-laki yang duduk di kursi dekat meja belajar itu. Rasanya tampak nyata, tetapi juga tidak yakin. Arya mengangguk tak kalah serius. “Ya, bener, lah, Dik. Coba besok Lo tanya sama temen-temen gue langsung. Kayak Bagas sama Rafli.” Dia menunjukkan wajah bangga. “hebat banget gue,” pujinya pada dirinya sendiri. Andhika menganggukkan kepalanya. “Tapi, menurut gue ... lebih hebat Billa? Dia kunci utama biar malingnya bisa ketangkap.” Arya terpaksa mengangguk. Ya, sebenernya juga benar. “Gak salah. Billa sabuk hitam. Bapaknya aja udah jago,” ujarnya. Andhika hanya diam mendengarkan. Sementara, Arya kembali berucap, “sebenernya gue juga pengen jadi sabuk hitam. Cuma, gak ada yang ngajarin. Gak ada bapak yang ngajarin.” Laki-laki itu sekarang sudah duduk menghadapkan diri ke arah Andhika yang duduk di atas kasur. Ah ... Andhika tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, entah mengapa laki-laki itu menjawabnya, meski tak ingin. "Gapapa. Aku juga gak punya bapak. Apalagi ibu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN