Kenalkan, Andhika

1118 Kata
“Nak-anak! Yok, makan dulu, gih!” Dinda telah menyiapkan semuanya di meja makan. Dari nasi, lauk pauk, hingga sayurannya. Tak lupa dengan dua gelas s**u putih hangat, dan segelas teh panas. “Yak, ayo, tho! Wahyu juga diajak!” “Iyaaa, Buun!” Sahutan dari kamar ujung terdengar keras hingga dapur. Selanjutnya, dua anak laki-laki tinggi sudah hadir di meja makan. Bahkan keduanya telah duduk di kursi masing-masing. Menatap beberapa hidangan di hadapannya. Masih ada uap yang mengepul dari piring-piring. Dinda baru saja memasak semuanya. Dinda ikut duduk pada sebuah kursi. "Nah, dimakan. Wahyu suka ayam bacem, gak?" Tatapan lembutnya terarah pada Wahyu. Anak laki-laki yang sejak tadi jarang mengeluarkan suara. Wahyu mengangguk. "Kok, Bunda panggil Wahyu, sih? Panggil Andhika, dong. Lebih keren." Arya memberikan protes sesudah mengambil nasi ke piringnya. "Gak mau. Bunda sukanya manggil 'Wahyu'. Gapapa, to, Nak?" Wahyu mengangguk. Oke, sepertinya namanya harus diganti menjadi Andhika. Karena Arya sebagai tokoh utama; lebih menyukainya. "An, makan. Ayo," tegur Arya. "Nih, Budhe ambilin, ya." Dinda memilih mengambilkan makanan untuk Andhika. Meski anak itu sempat mengatakan akan mengambilnya sendiri. Tapi, terlanjur. Dinda sudah lebih dulu mengambilkannya. Memberikan dua entong nasi, ayam bacem, oseng-oseng kangkung, dan kerupuk. "Makasih, Budhe." Andhika menerimanya dan menaruh di depan meja. Setelah tadi cuci tangan, anak itu mulai memakan masakan Dinda. "Gak pakai sambal?" Arya bertanya. Andhika menggeleng. "Gak suka sambel," ucapnya. Acara makan malam selesai hanya dalam waktu setengah jam. Andhika tadi sempat ingin membantu Dinda mencuci, tetapi wanita itu malah menolak. 'Wes, sana. Main sama Arya di kamar aja. Arya aja gak pernah nyuci piring, kok, Wahyu malah mau.' 'Buund! Arya juga pernah nyuci piring, Bunda aja yang malah gak lihat.' "Punya nomor w******p, gak, An?" Arya bertanya setelah duduk di kursi dekat meja belajarnya. Menghadap ke arah Andhika; yang kini mendudukkan diri di sisi ranjang. Anak laki-laki itu mengangguk. "Boleh minta?" Andhika mengangguk, lagi. Kemudian mengeluarkan benda pipih cukup baru dari saku celananya. "Ini, salin sendiri aja," ujarnya seraya menyerahkan ponsel kepada Arya. Arya yang menerimanya menganggukkan kepala. Menyalin nomor dan mencoba balas pesan, setelahnya barulah ia kembalikan lagi pada sang pemilik. "Lo sekolah di mana, An? Kayaknya kita seumuran." Andhika mengangkat kedua bahu kecil. "SMK, baru awalan kemarin." "Oh, kita seumuran berarti." Andhika mengangguk, lagi. "Ngomong, dong, An. Lo bukan artis," keluh Arya. Andhika menatap ke depan. Memberikan pandangan tak mengerti. "Ngomong apa?" "Y–ya … apa, kek. Gitu." "Gitu?" Arya jadi pusing sendiri. Laki-laki itu memilih untuk mengganti topik. "Yaudah, lah. Oh, ya, besok tanggal merah, 'kan?" Andhika mengangguk. "Mau gue kenalin ke temen-temen gue, gak? Itung-itung sosialisasi. Biar nambah suara kalau ikut capres." Andhika terlihat ragu. "Terserah Lo aja," ucapnya. Arya bangkit dari duduknya. Langsung merebahkan diri di kasur. "Yaudah. Yok, tidur. Dah malem ini." Kini tubuhnya ia balik. Menghadap ke langit-langit kamar. Andhika yang masih duduk di tepi kasur, berdehem pelan. Kemudian ikut merebahkan diri di samping Arya. Tidak nyaman menginap di rumah orang lain untuk pertama kalinya. Tapi, Arya selalu berusaha membuat dirinya merasa nyaman. *** Seperti apa yang telah Arya katakan. Laki-laki itu sungguh melakukannya. Memperkenalkan Andhika pada teman-teman satu sepermainan. Teman kecil, teman sekolah, teman rumah. Ya, pada dasarnya rumah mereka memang dekat-dekat. "Oh, Yak. Bawa temen baru?" tanya Gavin.. Arya menganggukkan kepalanya. Menepuk kursi di samping, agar Andhika ikut duduk. Seperti biasanya, atau mungkin kadang-kadang. Selain cakruk dan lapangan, tempat untuk berkumpul juga ada di warung bakso & mie ayam. Yah, itung-itung sambil menikmati hari libur dan makan-makan. Lagipula, penjual yang merupakan tetangga sangat dan sangat baik. Tak jarang beliau memberikan minuman gratis, alias gak perlu bayar. "Iya. Kenalan, nih." Arya menatap ke arah Andhika, semacam kode. Untungnya, laki-laki itu mengerti. Ia menganggukkan kepala tenang. "Andhika. Salam kenal," ujarnya memperkenalkan diri. "Andhika?" "Wah, asik, nih." "Santai aja, An. Kita gak gigit." "Kenalin, nih. Gue Gavin." Acara perkenalan itu dimulai. Ditutup dengan Mas-mas yang seperti biasa membawakan nampan berisi pesanan. Menata beberapa mangkok bakso dan mie ayam di atas meja. Tak lupa dengan jejeran gelas berisi es teh atau es jeruk. "Kenalin nama lengkap, An. Masa nama panggilan aja," saran Rehan. Andhika hanya mengangguk pelan. "Wahyu Andhika Kusuma." "Wuishhh … keren, An. Gue Muhammad Bagas Cakrawala. Panggil Bagas aja," timpal Bagas. Sebelum akhirnya ia mulai menyedot es tehnya melalui sedotan. "Ya, … Bagas." Andhika menjawab ragu. Kemudian melirik ke arah Rafli sekilas. Dia adalah orang yang sejak tadi begitu irit bicara. "Gapapa, orangnya emang gitu, An. Mungkin belum move on sama si Vanya," kata Arya santai. "Diem, Yak." "Iya, Raf." Setelahnya, Rafli memilih untuk memasukkan ponsel ke saku celana. Kemudian menatap ke arah Andhika. Berusaha bersikap ramah. "Rafli Nur Ramadhan. Rafli aja, gapapa," ucapnya. Andhika mengangguk seraya tersenyum. "Eh, ngapain ini? Ngumpul-ngumpul tapi gak ngajak." Suara cukup cempreng membuat telinga sakit tiba. Dia Billa, datang dan kini berdiri di dekat meja berisi banyak makanan. Menatap ke atah teman-temannya, yang semua adalah lelaki. "Kenapa harus ngajak Lo?" Bagas bertanya tidak peduli. Seraya masih tetap memakan mie ayamnya. "Lo mau cari gara-gara?" Setelahnya, Bagas diam. Masih tidak peduli. Meski dalam hati juga merasa komat-kamit. Ya, Billa bahkan masih terlihat kuat setelah kejadian itu. "Mau ikut, emang?" Kali ini Rehan yang bertanya. Mendongak menatap perempuan cantik kelahiran Bali tersebut. Billa menggeleng. "Enggak, sih. Gue udah ada parter. Noh, si Ayuk sama Vanya." Di ujung meja sana, sudah ada dua perempuan yang duduk. Tampak saling mengobrol, sambil menunggu pesanan dibuatkan. "Yaudah, makan, ya, makan aja. Ngapain harus ke sini?" Bagas menyindir. Billa berbalik. Bergumam sendiri. "Suka banget tu laki cari masalah." Setelahnya, perempuan itu benar-benar bergabung dengan dua teman yang lain. Yah, mereka satu geng. Masih gedhe, masih sukaa aja main begituan. "Lo mau kenalan sama tu ciwi-ciwi?" Arya langsung menuduh Andhika. Oke. Andhika yang mendengarnya pun langsung tersedak. Laki-laki itu sama sekali tak melakukan apapun. Sejak tadi, dirinya mendengarkan dan hanya makan baksonya saja. Tapi, mengapa langsung mendapat tuduhan secara tiba-tiba? Ia menatap ke arah Arya. Ini seram, sungguh. Arya bahkan hampir yakin bahwa Andhika sedang dimasuki sesuatu. "Gak usah ngaco," ucap Andhika pada akhirnya. Kesal? Iya. Sebab salah seorang perempuan itu mendengar ucapan Arya. 'Kan, bisa saja langsung diartikan secara berbeda. Padahal ini adalah kali pertama Andhika bertemu. Apa iya sudah harus dapat skandal? "Bill, yang di samping Arya, siapa?" Ayu bertanya. Billa yang baru saja duduk, mengangkat kedua bahunya kecil. "Gue juga gak tahu. Tapi, namanya Andhika. Wahyu Andhika Kusuma." "Kok, bisa tahu—" "Gue nguping, Van." "Oh." "Tapi, kayaknya dia ganteng, 'kan?" "Kalau ganteng, lebih ke Rafli, mungkin." "But, bukannya Rehan yang paling ganteng?" "Eh, tapi serius. Laki baru itu ganteng. Beneran." "Gue tahu mereka gibah. Tapi, gibahnya ya, jangan sampe kedengeran!" Arya frustasi. Sungguh. Andhika menundukkan kepala. Telinga laki-laki itu mulai memerah. Termasuk, dengan yang lainnya. Mungkin jauh lebih parah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN